Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[38] Air Mata


__ADS_3

"Kau serius, kau tidak bercanda?" tanya Masaya tak percaya.


Dokter Shigeru menggeleng. "Aku serius. Aku juga tak percaya hal ini. Padahal kau sudah menjalani operasi tapi tumor itu tetap tumbuh dan mengganas hingga menjadi kanker ... maafkan aku ... aku telat menyadarinya." Suara dokter Shigeru semakin kecil.


Masaya merasa persendian ototnya dilepas satu persatu. Dia bahkan seperti tak menginjak tanah begitu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter Shigeru. Pikirannya kacau. Buntu.


Rasa frustrasi dan keputusasaan langsung menyelimuti hatinya.


Semua sudah berakhir hanya kanker otak stadium tiga. Satu nama penyakit yang mampu meruntuhkan semua semangat dan kebahagiaannya.


Suara tangisnya tak terdengar keras, hanya isakan seperti anak kecil yang terdengar. Semuanya berputar kembali dalam benaknya.


Kanker otak? Benarkah aku menderita penyakit itu? Tapi kenapa? Masaya sesegukan di balkon rumah sakit. Hari ini adalah hari yang sangat


menyakitkan. Padahal dia berharap bisa sembuh total setelah menjalani operasi tapi kini ... kanker itu merusak kebahagiaannya. Masaya menghapus air matanya.


"Masaya," Terdengar suara dokter jangkung itu memanggilnya dari belakang. Rupanya, sang sahabat itu terus mengikuti Masaya sejak dia


keluar dari ruangannya.


"Jika sudah stadium tiga, berapa lama waktu yang aku punya?" tanyanya hambar sambil menatap langit.


"Tak kurang dari empat bulan."


Masaya kembali terkejut. "Secepat itukah?" Dokter Shigeru bungkam, "padahal aku baru melihat putraku bisa bermain bola. Dia baru berusia tiga tahun. Haruskah dia kehilangan ayahnya empat bulan lagi? Apa itu adil?"


Tangan dokter muda itu terkepal.


"Jadi ... ini seperti kisah Eriko yang diulang. Ditinggal pergi orang tua saat umurnya 3 tahun." Masaya bergumam pelan. "... karena saat orang tua kami tewas kecelakaan Eriko juga seusia Isao." Air mata Masaya jatuh. "Shigeru ... rahasiakan penyakit ini dari Miku. Aku mohon," pintanya.


Dokter itu menggeleng.


"Jika Miku tahu, dia akan lebih sedih. Bagaimana bisa aku bisa menjalani sisa-sisa hidupku ini jika melihat orang yang paling aku cintai menangis karena penyakitku ini? Aku tidak ingin hal itu terjadi."


"Masaya." Suara dokter Shigeru semakin bergetar.


Masaya menepuk pundaknya. "Bohong jika aku berkata aku tidak apa-apa. Diakhir hidupku ini, yang ingin aku lihat hanya senyuman istri dan anak-anakku. Bukan air mata mereka. Jadi kumohon jaga rahasia ini. Berpura-puralah tidak tahu. Aku pun akan bersikap baik-baik saja seolah tak pernah mengidap kanker. Demi istri dan anakku." Masaya menatapnya memohon.


Dokter Shigeru mengangguk. Dia memeluk Masaya haru. Ya Tuhan... di antara 7 milyar manusia, kenapa harus dia yang mengalaminya? Kenapa Masaya yang harus kau pilih!


Mereka saling membisu.


🌷🌷🌷🌷


Masaya berjalan gontai memasuki rumahnya. Matanya berkunang-kunang. Pikirannya saat ini hanya kanker yang terbaca.


Kanker otak.


Stadium tiga.


Penyakit nomer satu yang paling ditakuti, karena sampai saat ini beluma ada obatnya. Dia sering mendengar penyakit itu tapi sekarang dia harus sabar karena dirinyalah yang mengidap penyakit itu.


"Ini tidak mungkin," bantahnya pelan. Setetes air mata kembali membasahi pipinya. "Ya Tuhan ... kenapa begini?" Masaya tergugu di tangga menuju kamarnya, dia menangis pelan agar tak membangunkan orang-orang rumah. Dia menutup mulutnya rapat-rapat saat menangis meski tubuhnya bergetar hebat.


Tiba-tiba saja terdengar derap langkah kecil menghampirinya. "Ayah menangis?"


Masaya segera menghapus air matanya cepat begitu mendengar suara Isao. Bocah itu menghampirinya, matanya menatap ke dalam retina ayahnya. "Kenapa belum tidur?"


Copy-an Masaya itu hanya menggeleng. "Di kamar panas. Kata ibu pendinginnya bermasalah," jawab Isao polos, "kenapa ayah menangis?"


"Siapa yang menangis, tadi ada debu yang masuk ke mata ayah,"


"Oh ...," Mulut Isao membulat lucu.

__ADS_1


Melihat hal itu Masaya malah ingin menangis kencang. "Isao, apa ibu sudah tidur?"


"Ya. Ayah cerita lagi ya seperti kemarin sebelum tidur?" Ditatapnya wajah Masaya memohon. Pria Fujimine itu mengangguk membuat putranya tersenyum cerah.


"Baiklah, kita cerita di balkon atap rumah ya, sambil menatap bintang. Sana ambil jaketmu, Ayah tunggu," ujar Masaya tersenyum.


Isao berlari ke kamar mereka mengambil jaket tebalnya. Pria itu menatap punggung kecil putranya. Mungkin sekarang saatnya bagi Masata harus bercerita pada Isao agar dia bisa melepas kepergiannya tanpa menangis. Ya, dengan sebuah cerita perpisahan yang indah tanpa air mata. Seolah sang tokoh itu jika pergi, semua melepasnya gembira sambil tersenyum.


Akhirnya Masaya membawa Isao ke balkon atap rumah mereka. Di sana adalah tempat favorit mereka berkumpul sambil menatap langit, entah itu bercerita, mengemil atau yang lainnya. Tak lupa sekotak susu besar, cemilan dan buah kesukaan Isao, Apel.


"Isao, jika suatu hari Ayah pergi, apa kau akan menangis?"


"Asal Ayah kembali, aku tidak akan menangis," jawabnya polos. Ia menatap wajah ayahnya sambil tersenyum. "Habisnya, kalau Ayah tidak ada aku rindu."


Masaya tertegun. Namun ia tersenyum hangat. "Hari ini Ayah akan bercerita tentang malaikat."


"Wah, keren." Mata Isao berbinar senang, "malaikat itu di mana tempatnya? seperti apa?" desaknya tak sabar.


Masaya tersenyum. "Malaikat itu sangat mulia. Suka menolong."


"Apa malaikat seperti pahlawan di film-film?"


"Ya. Malaikat seperti itu. Tempatnya di sana." Masaya menunjuk salah satu bintang yang paling terang, "jika Ayah pergi ke tempat itu, apa kau akan menangis?" Masaya bercerita sambil menahan air matanya.


"Ayah mau bertemu malaikat?"


Hanya sebuah anggukan yang Masaya sanggup jawab. "Ayah ... sakit, Isao. Jika Ayah pergi ke tempat itu dan bertemu malaikat, maka sakitnya akan hilang."


"Ajak aku juga,"


"Tidak bisa,"


"Kenapa?"


"Karena ... Isao tidak sakit." Masaya mulai tergugu. Dia memeluk putranya, "malaikat hanya menerima orang sakit."


"Janji tidak akan menangis?"


"Aku 'kan anak laki-laki, anak laki-laki tidak boleh menangis."


Air mata Masaya meluncur bebas. Hatinya nyeri. "TapiΒ  Ayah tidak akan kembali."


"Kenapa?" Mata Isao membolak.


"Itu persyaratannya."


Isao berpikir. "Lalu jika aku ingin bertemu Ayah bagaimana?"


"Kau hanya perlu membuat lampion, lalu terbangkan ke langit. Ayah pasti akan melihatnya dari sana." Dielusnya kepala Isao.


"Em ... baiklah." Bocah itu tampak tak rela.


"Tapi kau janji tidak akan bercerita cerita ini pada siapa pun termasuk ibu?"


"Ya." Isao mengikatkan kelingkingnya pada kelingking sang ayah. Masaya memeluk Isao sambil menangis. "Ayah jangan menangis lagi." Dengan sok dewasa Isao mengelus bahu ayahnya sambil tersenyum.


Terima kasih, Isao. Setidaknya Masaya bisa melepas putra kecilnya tanpa harus


melihatnya menangis nanti.


"Ayah akan jadi malaikat bagi kalian."


Isao mengangguk senang tanpa tahu apa maksud cerita ayahnya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Ryu kini mulai bisa berjalan meski harus menggunakan tongkat. Kakinya terasa ngilu saat dia baru berjalan 10 meter. Keringat sebesar biji jagung mulai menetes dari wajah tampannya.


Sakit sekali. Sedetik kemudian dia duduk di kursi rodanya. Sore seperti ini biasanya Yue sudah ada di sampingnya dan akan bercerita konyol jika tak ada kompetisi.


Pria itu tahu suatu hari nanti gadis itu pasti akan meninggalkannya, karena tak selamanya sang balerina akan terus bersamanya.


"Masih menunggunya?" sapa dokter Young pada Ryu yang terdiam.


Pemuda itu memandang lelaki tinggi di hadapannya. "Dokter Young? Bukankah Anda sibuk hari ini?"


Dokter Young menggeleng. "Tidak juga. Tadi Yue menelponku agar pergi menemanimu. Dia khawatir kau sendirian di sini," ujarnya sambil mengeluarkan bekal. "Entah apa yang ada dipikiran anak itu, tapi melihatnya tertawa bebas saat bersama Leon aku jadi berpikir mungkin dia benar-benar sudah menemukan pilihannya."


"Sayang sekali, kenapa harus pemuda itu?"


"Aku juga menyayangkan hal itu. Aku bahkan sudah tahu saat melihat wajah Leon kalau pemuda itu tak bisa dipercaya." Dokter Young menggeleng pusing.


"Paman ...," Kali ini Ryu memanggil papa Yue dengan sebutan paman. "... mungkin kebahagian Yue hanya Leon, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan saat jatuh cinta pada orang yang aku sukai. Memang disayangkan kenapa harus Leon. Padahal jika mau, aku bisa mencarikannya pemuda yang jauh lebih dari Leon. Sayangnya aku tak bisa."


Dokter Young tertawa. "Saat dia pertama melihatmu koma empat belas tahun lalu, Yue sangat ketakutan. Dia takut kau tak bisa bangun lagi. Setiap hari dia membacakanmu dongeng


berharap kau bangun secepatnya. Kehilangan Ming Xi menciptakan trauma di hatinya."


Ryu tersenyum simpul. "Dia adalah malaikat kecilku, aku bahkan tidak sadar kalau sekarang sudah beranjak dewasa. Dulu dia cerewet sekali karena aku belum bisa bicara."


"Dia mengagggapmu seperti halnya saudaranya sendiri. Ah tidak ... mungkin lebih. Saat kalian bersama kau melindunginya seperti ayah terhadap anaknya. Dia sangat menyayangimu, Ryu."


"Ya, aku tahu." Ryu menekan-nekan ujung jemarinya. "Dia bahkan berjanji akan menemaniku mencari putri impianku, jika aku sudah bisa berjalan. Benar-benar seperti seorang anak yang merengek meminta ibu baru padaku."


"Itulah putriku,"


Lagi, anak tunggal pasangan Albert Juana itu tersenyum. "Jika saja suatu hari Leon menyakiti hatinya, akulah orang pertama yang akan memukul pemuda itu dihadapan Yue. Tak akan kubiarkan seorang pun melukanya. Aku janji."


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


____________________________________


Minggu, 21 Juni 2020


___________________________________

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2