Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[2] Cemburu


__ADS_3

Shiori masih sibuk mengoceh tak karuan tentang pelatih muda yang baru-baru ini menjadi topik bahasan teman-temannya.


Miku menatapnya heran. "Shiori, dari tadi kau membicarakan Pelatih Fujimine, bagaimana dengan Kak Akio?"


"Tidak salah, 'kan, menyukai pemuda lain?" candanya tanpa melihat ekpresi wajah sahabatnya karena gadis itu lebih fokus pada es krim yang dimakan.


"Dasar,"


"Oh ya, Miku, apa kau sudah tahu Hikaru bercita-cita ingin menjadi atlet hebat?"


"Hm,"


"Beberapa hari lalu ayah Hikaru datang ke sekolah dan menawarkan supaya mengikuti pertukaran pelajar dengan tim sepak bola junior ke Itali."


Miku terdiam mendengarnya. Es krim yang rasanya manis tiba-tiba terasa hambar. Kenapa dia tak bercerita kepadaku? Hikaru ... apa kau akan meninggalkanku? Gadis itu terdiam cukup lama. Matanya menerawang


Menyadari raut sahabatnya berubah, Shiori melanjutkan kata-katanya. "Eh ... tapi Hikaru menolak, kok,"


"Eh? Kenapa?"


"Aku tidak tahu. Kau tanya saja sendiri."


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Ujian semester sudah berakhir, banyak murid yang mengerumuni papan pengumuman untuk melihat hasil ujian mereka. Dari ratusan siswa kelas dua yang berdesak-desakan melihatnya, hanya Miku seorang yang tidak tertarik untuk melihatnya. Gadis itu memilih duduk sendirian di bangku taman sekolahnya.


Ryu tersenyum bangga melihat nama Miku Higashiyama masih tetap berada di urutan pertama. Tak lama kemudia dia segera mencari sang pujaan hati.


"Wah, Miku hebat, aku bangga padamu," kata Akio senang. Akio merupakan kakak sepupu Miku. Ayah mereka kakak adik.


"Poinnya terpaut jauh dengan Karui yang peringkat kedua," sambung Kiba.


"Dia benar-benar jenius," lanjut Sena.


"Si bule pacarnya juga hebat loh," kata Dan membuat mereka semua menoleh, "lihatlah, manusia tampan dengan kesombongan menyentuh langit itu ada di peringkat kedua belas."


"Wuah hebat ... tapi tetap saja aku mengagumi pacarnya," ujar Kyousuke jahil.


Semua yang mendengarnya tertawa.


"Kalau Hikaru mendengar kata-katamu, kau pasti dikeluarkan dari tim sepak bola," peringat Akio.


Kyousuke tersenyum jenaka. "Makanya jangan laporan pada kapten."


Kyousuke, Kiba, Dan, Sena dan Akio saling mendekat dan merangkul satu sama lainnya, lalu berbisik, "Kapten yang pencemburu," kata mereka bersamaan lalu menertawakannya bersama.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Setelah cukup lama mencari Miku, akhirnya Ryu menemukan gadis pujaan hatinya tengah berdiri menatap lapangan sepak bola. Sendirian.


Gadis berponi itu tidak tahu jika Ryu sudah berada di belakangnya. Angin musim musim panas meniup-niup surai panjang indingo-nya. Gadis Higashiyama itu hampir tidak pernah mengikat rambutnya karena dia lebih suka dengan rambut tergerai.


Tiba-tiba Miku merasa ada yang memeluknya dari belakang. "Hi-Hikaru," ucapnya gugup.


"Hm," gumam remaja tampan itu cuek, kedua tangannya berhasil melingkar di pinggang ramping gadis bermata sayu itu. Sangat erat membuat Miku sulit melepasnya. Perlahan Ryu mencium aroma wangi strobery pada rambut sang gadis kemudian turun ke tengkuknya.


Miku menjadi gugup. "Hi-Hikaru, kumohon jangan seperti ini." Miku berusaha melepaskan pelukan itu, tapi tak bisa.

__ADS_1


"Kenapa, aku pacarmu, 'kan?" Ryu tak peduli, ia terus menikmati aroma memabukkan di leher jenjang gadisnya. Membuat tanda kepemilikan rasanya sah-sah saja di tengkuk kekasihnya yang putih mulus. Bukankah Miku miliknya?


"Tapi ini kelewatan, aku malu. Ini sekolah, aku tidak mau dilihat anak-anak lainnya."


"Jangan pedulikan mereka." Ryu tak peduli kala ia mengecap keras bagian pinggir lehernya.


"Kumohon ...." Gadis berponi itu terdengar sangat memohon. Ia risih, sementara tangannya meremas ujung rok seragamnya. Matanya terpejam takut saat bibir Ryu menyapu bagian lehernya. Ia meringis kala merasakan ciuman kekasihnya semakin keras.


Ryu menghentikan aksinya, tapi dia malah memutar tubuh sang gadis hingga menghadapnya. Tangannya berhasil menyentuh pipi Miku, dia menatap mata itu dalam-dalam. Lalu pandangan matanya turun pada bibir mungil itu, saat hendak mencium bibirnya, sang juara paralel melengos.


"Kenapa?" tanya Ryu kecewa.


"Maaf," ujarnya lirih, kemudian gadis itu berlari secepatnya meninggalkan Ryu sendiri, yang masih mematung heran.


Ryu tersenyum hambar, tangannya mengepal erat. Sedetik kemudian dia meninju udara.


Hampa.


Miku berlari kencang sampai lelah, jantungnya seakan mau meledak. Tindakan Ryu tadi benar-benar membuatnya hampir gila. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika tak segera pergi. Remaja bermata safir itu benar-benar sangat menarik. "Bodoh, kau bodoh, Miku."


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


"MIKU!" Kyousuke berteriak seolah kiamat sedang terjadi. Pemuda tinggi itu berlari mencari sosok gadis pendiam yang kini sedang menulis catatan di bangkunya. "Miku gawat!" Suara remaja bersurai pirang secerah mentari terdengar masih ngos-ngosan. Cemas luar biasa.


Miku menengadah, menatap wajah teman kakak sepupunya heran. "Kenapa berteriak?" tanya Miku kaget dan tak mengerti, karena suara Kyousuke menggema isi kelas 2-1.


"Hikaru berkelahi dengan Shun dan Kenta!"


"Apaa?!" seru gadis itu kaget bukan main.


Dasar Hikaru bodoh! Apa yang ada dipikiran anak itu, kenapa dia berkelahi di sekolah! Miku berlari cepat menuju lapangan karena dari jendela kelasnya tadi dia sempat melihat banyak anak-anak yang berkumpul di lapangan. Dia tidak tahu kalau kumpulan itu terjadi perkelahian.


Shun Namiki, salah satu murid SMA Asahi yang terkenal dan elit. Sekolah khusus putra dan tinggal di asrama. Wajah Shun selevel dengan Ryu, yaitu sama-sama keturunan bule, berwajah dingin, memiliki tatapan mata yang membunuh, pelit senyum dan bicara. Shun merupakan musuh bebuyutan remaja bermarga Hikaru di lapangan sepak bola.


Ryu sangat membenci remaja itu karena Shun juga menyukai Miku, dan hal itulah yang membuat Ryu menjadi bersemangat berkelahi melawan anak bermata sipit itu.


Entah kenapa Miku merasa lorong-lorong sekolahnya menjadi sangat panjang, padahal dia sudah berlari cepat. Tetap saja dia merasa jalan menuju lapangan masih lama. Gadis itu berharap semua baik-baik saja meski otaknya mengatakan tidak.


Sementara di lapangan sepak bola anak-anak berkumpul ramai sekali. Mereka bukan menonton jalannya pertandingan, melainkan menonton Ryu yang seperti kesetanan memukul Shun dan Kenta.


Semua yang melihatnya tak ada


yang berani melerainya melihat wajah Ryu bak Dewa Kematian yang bersiap mencabut nyawa.


Remaja bermata safir itu berkali-kali menjotos wajah Shun kesal, sementara Kenta sudah ambruk, wajahnya babak belur. Remaja berambut cepak bagai darah itu terhuyung lalu ambruk.


Belum sempat remaja bermata sipit itu bangun, Ryu sudah memaksanya berdiri. Dicengkramnya seragam Shun dengan penuh amarah.


"Awas kau!" ujarnya dengan nada tinggi yang mengancam, "jika kau masih berani mendatangi Miku, kupastikan kau akan menyesal karena sudah pernah dilahirkan ke dunia." Tangannya bersiap menjotos wajah Shun. "Jika kau berani menyentuhnya lagi, walau dengan ujung kukumu ... AKU AKAN MEMATAHKAN TANGANMU, *******!"


Shun ambruk.


Kemudian Ryu menoleh pada Kenta yang berusaha berdiri. "Jika kau masih ikut campur masalah ini, rasakan sendiri akibatnya!"


Semua yang menyaksikan hal itu benar-benar kaget dengan kelakuan Ryu yang tak biasa. Hanya bisa diam tanpa berani berkomentar.


"APA YANG KALIAN LIHAT?!" bentak Ryu pada mereka yang menonton aksinya.

__ADS_1


Tak ada dua detik mereka semua kabur takut akan tatapan mata sang raja lapangan sepak bola itu.


Sangat menakutkan.


"Hikaru!" panggil Miku akhirnya tiba di lapangan yang mulai sepi. Remaja itu menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


"Apa kau terluka?" tanya Miku cemas.


"Seperti yang kau lihat," jawabnya malas.


"Aku mengkhawatirkanmu,"


"Aku ingin sendiri."


"Tapi ...."


Ryu segera berlalu meninggalkan sang kekasih, tapi gadis itu tetap mengejarnya.


"Hikaru, aku belum selesai bicara ...." Miku berusaha menyamai langkahnya dan kini berhasil meraih tangan remaja berambut pirang itu.


"Tinggalkan aku sendiri Miku, jangan membuatku membentakmu. Aku sudah sebisa mungkin tak membentakmu saat ini walau sebenarnya ingin."


"Kenapa?"


Ryu menatapnya datar. "Aku cemburu." Kata-kata remaja bermarga Hikaru itu terdengar bagai senjata tajam yang berhasil membelah hatinya. Meski tak berdarah tidak tahu kenapa hati Miku sakit saat mendengarnya.


"Aku paham." Miku akhirnya membalikkan tubuh dan pergi. Gadis itu menangis sendiri di bawah pohon.


Tanpa sengaja Masaya melewatinya, dia tertegun mendapati gadis itu menangis sesegukan mati-matian menahan isak tangisnya walau suara tangisnya tetap terdengar.


Kau tak melihat apa pun. Pemuda berambut gelap itu berlalu secepatnya meski sebenarnya dia kasihan melihat Miku seperti itu.


πŸ“


πŸ“


πŸ“


πŸ“


πŸ“πŸ“ To Be ContinuedπŸ“πŸ“


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [❀] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran. Ditunggu vote dan komennya ya πŸ˜„πŸ˜„


Salam,


Ren Hikaru


Kamis, 2 April 2020


Klik? Please


πŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2