Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[57] Hati yang Sepi


__ADS_3

Sudah tiga hari Ryu mengurung di kamarnya, bahkan untuk makan pun Yue yang mengantarnya.


"Apa dia masih belum mau keluar?" tanya Satoshi yang sudah pulang dari sekolahnya. Kasihan juga dia melihat tuannya tiga hari ini murung, jarang bicara, makan hanya sedikit dan kerjanya hanya melamun. Terkadang Satoshi melihatnya menangis sambil menatap sebuah foto yang sudah kumal.


"Seperti sebelumnya, kakak tak mau makan. Wanita itu ternyata sudah menikah dan memiliki dua anak. Anak kakak dengan wanita itu ternyata sudah dititipkan di panti asuhan dan diadopsi orang luar negeri. Makanya dia frustrasi." Yue meliriknya tajam. "Berkat do'amu. Kau senang, kan?"


"Hei, kenapa kau begitu sinis begitu? Aku hanya bercanda waktu itu, kalau pun wanita itu menikah itu bukan salahku," ujar Satoshi sewot. Tapi dalam hati dia juga merasa bersalah karena sering mengharap bisa melihat Ryu frustrasi. Namun, setelah melihatnya seperti itu, malah timbul rasa penyesalan.


Remaja 17 tahun itu memberanikan diri masuk ke dalam kamar Ryu, setelah mengetuknya. Dilihatnya pria itu sedang melamun menatap keluar jendela. "Anda terlihat lebih tampan dengan style seperti ini, Tuan." Satoshi memulai pembicaraan basa-basinya.


Ryu hanya meliriknya. "Aku memang sudah tampan sejak dilahirkan."


Astaga ... sifat sombongnya itu! menyesal sudah aku memujinya tampan! Dasar bujang lapuk karatan!


Ditatapnya wajah Ryu. "Lalu kenapa Anda gelisah sekali hanya karena seorang wanita? Bukankah wanita itu ada banyak? Anda bisa mencari yang lain."


Ryu tersenyum kecut. "Tak semudah itu mengakhiri cinta. Yang aku inginkan hanya dia."


"Tapi Anda bisa mendapatkan yang lebih baik dari wanita itu?"


"Tidak. Aku tak ingin mendapatkan yang lebih baik atau pun buruk darinya. Aku hanya menginginkan dia. Hanya dia"


Angin sore masuk perlahan melalui jendela kamar Ryu. Menerpa wajah mereka sejenak. "Tidakkah itu yang disebut cinta buta, Tuan?"


"Ini bukan cinta buta. Tapi hatiku mengatakan kalau wanita itu adalah hidupku. Aku tak akan menyia-nyiakan pengorbananku selama ini. 13 tahun lamanya aku menjalani hidup yang sulit namun aku bertahan demi dia. Terlebih dia sudah melahirkan anakku. Akan kutunjukkan padanya kalau aku tidak main-main mencintainya." Ryu menatap Satoshi. "Apa anak muda sepertimu mengerti apa yang aku rasakan?" senyum meremehkan tersungging di bibirnya yang seksi. "Kau tak akan pernah tahu rasanya."


Satoshi terdiam. Anda benar, jika aku yang berada di posisi itu mungkin lebih baik aku lebih memilih mati.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau sedang mengasihani aku?" Hal yang paling Ryu benci. Dikasihani.


Satoshi menggeleng. "Tidak. Saya kagum pada Anda. Tapi Tuan ... jika terus berusaha mendapatkan kekasih Anda meski tahu dia sudah berkeluarga, apa Anda tidak takut disebut pengganggu rum--...." Kata-kata Satoshi terputus saat ponselnya berdering. Agak ragu mengangkatnya saat Ryu menatapnya tajam, namun menyuruhnya segera menjawab panggilan itu. "Ya, ada apa, Bu?" tanyanya santai. Dalam sekejab, wajah Satoshi pucat pasi.


"Ada apa?"


Satoshi menatap Sasuke nanar. "Adik saya ... kecelakaan. Dia terjatuh dari tangga yang tinggi."


"Oh my God."


"Maaf Tuan, saya harus pergi ke rumah sakit segera." Satoshi segera bergegas, ada genangan air mata yang hampir tumpah di matanya.


"Aku ikut denganmu."


"Eh? Tapi ...."


".... anggap saja hari ini aku adalah temanmu, lagi pula hari ini Yue ada janji dengan seseorang." Melihat reaksi Satoshi jadi lain segera Ryu melanjutkan kata-katanya. "Papanya datang dari Jerman."


Satoshi bernapas lega. "Tapi Tuan ...."


"Tunggu saja di luar." Ryu segera berganti pakaian dan membiarkan Satoshi menunggunya di luar.


Remaja itu gelisah bukan main. Isao ... aku harap kau baik-baik saja. Doanya dalam hati.


Beberapa menit kemudian sebuah Paggani Zonda hitam berhenti di sampingnya. Lalu mereka segera menuju ke Sone klinik.


Satoshi hanya diam selama di pejalanan. Kedua tangannya saling meremas cemas. Dia terus menerus memikirkan Isao. Wajahnya tegang dan pucat.


Ryu yang melihatnya jadi kasihan, melihat anak lelaki itu meremas-remas tangannnya, entah kenapa ia jadi teringat Miku. Jika gugup dan cemas, Miku pasti akan melakukan hal itu. "Berapa umur adikmu?" tanya Ryu menghangatkan kebisuan di antara mereka.


"7 tahun, namanya Isao."


"Kau pasti sangat menyayanginya." Lanjut Ryu sambil fokus pada kemudinya.


Satoshi mengangguk. "Karena Isao yang paling kecil dan paling sebentar merasakan kasih sayangΒ ayah."


Ryu menoleh. "Ayah kalian ...."


"... sudah meninggal 4 tahun lalu karena kanker."


"Maaf," ungkap lelaki itu penuh


penyesalan. Hatinya dilingkupi rasa kasihan.


"Tidak apa-apa, Tuan."


"Lalu siapa yang menjadi tulang punggung keluargamu? Jangan katakan kalau itu kau orangnya." Mendadak Ryu yang tak rela.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Ibu saya yang menjadi tulang punggung keluarga."


"Ibumu tidak menikah lagi?"


Saroshi tersenyum tipis. "Tidak. Kematian ayah meninggalkan luka yang dalam bagi ibu. Tidak mudah bagi beliau untuk membuka hatinya pada orang lain."


Ryu tersenyum. "Wanita yang setia. Aku suka itu. Merawat kedua anaknya. Benar-benar hebat."


"Saya masih punya adik perempuan yang usianya setahun di bawah saya. Juga buyut yang sangat tua."


"Oh my God. Apa kehidupan kalian tidak sulit?"


"Kami sudah terbiasa. Eh, bisa tolong belok kiri di pertigaan jalan? Saya ingin berkunjung sebentar ke makam ayah. Entah kenapa tiba-tiba saya merindukannya."


Ryu menurut dan mengikuti Satoshi menuju makam ayahnya. Mereka turun dari mobil sport itu. Pria tampan itu mengikuti langkah remaja di depannya. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika sampai di gundukan tanah yang sudah dipenuhi rumput itu.


"Masaya Fujimine? Dia ayahmu?" tanya Ryu kaget begitu melihat foto yang tertera di nisan makam tersebut. "Dia ... dia adalah pelatihku saat masih sekolah di SMA Seika Jogakkan dulu."


"Benarkah? Tuan mengenal ayah saya?"


"Tentu saja, ayahmu adalah pelatih muda kami yang enerjik. Selain tampan dia sangat baik hati. Terkadang kebaikan hatinya disalah artikan oleh teman-teman wanitaku."


"Begitu? Tapi mereka tak pernah bercerita kalau ayah adalah seorang pelatih. Yang saya tahu beliau adalah seorang atlet sepak bola dan tenaga pengajar bantuan di SMA Putri Minami tempat ibu saya sekolah."


"Begitu? Mungkin setelah aku pindah ke luar negri ayahmu tak lagi menjadi pelatih di SMA Seika Jogakkan." Ryu menatap wajah Satoshi lekat-lekat, seolah memcari kemiripan antara wajah Satoshi dengan mendiang pelatihnya dulu. "Tapi wajahmu sama sekali tak mirip pelatih. Mungkin wajahmu menurun dari ibumu. Warna bola matamu berbeda."


Satoshi menggeleng. "Mereka bilang wajah saya mirip ayah kandung saya."


"Eh? Mereka? maksudmu?"


"Masaya Fujimine bukan ayah kandung saya. Ayah kandung saya pergi meninggalkan ibu bahkan sebelum saya dilahirkan. Tapi laki-laki berhati malaikat inilah yang menyelamatkan kaasan saya. Dia menikahi ibu walau tahu saya bukan darah dagingnya. Tapi perlakuannya sangat baik dan menganggap saya seperti anaknya sendiri."


Ryu berdecak kagum. "Pantas saja jika ibumu tak mau menikah lagi. Tak ada yang bisa menggantikan posisi ayahmu di hatinya."


Satoshi mengangguk. "Maaf sudah banyak bicara."


"Hei," Ryu menepuk pundaknya. "Sudah kukatakan hari ini aku akan menjadi temanmu."


Mereka segera menuju mobil Ryu yang diparkir di luar. Baru keluar dari pemakaman Satoshi melihat Hanako bersama ibunya. Mungkin mereka berdua juga habis mengunjungi makam sanak family yang lain. Wanita itu menatap Satoshi benci.


"Jadi kau yang bernama Satoshi Fujimine? Memangnya apa kelebihanmu hingga kau menolak putriku?" Labrak wanita itu judes. "Kau lihat, dia cantik, seksi dan seorang model. Tidak ada yang tak mengenal putriku. Memangnya kau siapa? Apa kau berasal dari keluarga berkelas? Kudengar kau itu siswa miskin yang mendapat beasiswa di sekolah kami. Jadi jangan sok belagu menolak putriku."


Melihat perlakuan wanita tadi justru Ryu yang emosi dan balas memakinya. "Maaf Nyonya, putrimu itu jauh dari kriterianya!"


"Diam kau! Kau itu siapa ikut campur urusan orang. Apa kau ayahnya?" Wanita itu semakin gemas


"Ya, aku ayahnya!" ucap Ryu tegas, Satoshi menarik tangannya. "Heh, dengar, ya Nyonya, selera putraku itu sangat tinggi. Asal kau tahu pacarnya itu seorang balerina dunia. Putrimu tidak ada apa-apa dibanding pacarnya!" Lanjutnya menggebu-gebu.


Satoshi terbengong. Balerina dunia? Apa maksudnya Yue?


"Dasar sinting! Kau pikir aku percaya pacarnya seorang balerina?" Wanita itu tak terima.


Ryu tertawa menyeramkan. Menatap Hanako yang terlihat ketakutan. "Kau itu siapa? Model? Apa dunia mengenalmu?" Matanya menatap tajam ke arah Nyonya Hasegawa. "Wajar saja jika putrimu tergila-gila pada putraku. Seperti yang kau lihat dia sangat tampan. Dan kau gadis kecil, siapkan hatimu saat besok kuumumkan pada dunia bahwa kekasih putraku itu seorang balerina dunia. Ayo Satoshi tinggalkan rakyat jelata sepertinya. Dia tidak selevel kita." Ryu segera berlalu meninggalkan wanita itu yang memaki-maki.


Satoshi bungkam sembari mengikuti Ryu. "Tuan, apa kebohongan Anda tidak keterlaluan? Soal Yue ...."


"... dia memang balerina dunia. Masih tak percaya?"


Satoshi menggeleng.


"Yue Schneider Young. Dia mengaku Hikaru karena memang ingin menjadi Hikaru. Cari nama itu di internet. Berita buruknya aktor Lucas Hikaru sedang proses perceraian dengan istrinya."


"Lalu?"


"Yue pernah menyatakan cinta pada Lucas dulu, jadi sainganmu berat!" Serigaian Ryu membuat Satoshi merinding. Mendadak Ryu mengeluh kesakitan di bagian kakinya.


"Kenapa, Tuan?" tanya Satoshi panik.


"Sakit di kakiku kambuh lagi. Ini pasti karena empat hari ini aku lupa minum obat," ujarnya menahan sakit. Satoshi membantunya berjalan. "Padahal sudah tiga kali menjalani operasi bahkan tim dokter juga sudah memberinya besi sebagai penyanggah di tulangku. Ahk... sakit sekali. Ya Tuhan ..." Wajah Ryu mulai berkeringat menahan sakit yang tak main-main.


Melihatnya kesakitan seperti itu, Satoshi jadi iba. "Sudah berapa lama besi itu dipasang?"


"Lima tahun lalu saat aku belajar berjalan. Aku bahkan sering mengeluh kesakitan jika sudah tak tahan. Untunglah Yue terus menemaniku. Tanpa anak itu mungkin aku masih duduk di kursi roda."


"Tuan ... Anda tadi keren. Membela saya di depan ibu Hasegawa saya. Asal Anda tahu, dia orang kaya dan donatur tetap di sekolah saya."

__ADS_1


Ryu tertawa pelan. "Orang itu memang perlu diberi pelajaran."


Mereka akhirnya sampai di mobil Ryu. Sesaat kemudian ia memacu mobilnya menuju Sone Hospital.


🌷🌷🌷🌷


Sone Hospital.


Dengan harap-harap cemas Miku menunggu kabar Isao di luar ruangan operasi. Miku mendapat kabar dari pihak sekolah kalau Isao menghilang saat pelajaran olahraga dan ketika beberapa guru mencarinya putranya di temukan tergeletak tak sadarkan


diri di dekat gudang sekolahnya dengan kepala berdarah. Kemungkinan anak itu terpeleset dari tangga yang dinaiki dan kepalanya membentur besi.


Ruang lampu operasi itu mati. Tampak dokter Shigeru keluar dengan wajah berseri.


"Dokter Shigeru, bagaimana keadaannya?" tanya Miku panik.


"Syukurlah operasinya berjalan lancar. Isao baik-baik saja. Kau boleh menjenguknya. Kami undur diri dulu." Pamit dokter muda itu.


Miku segera masuk ke dalam menjaga putranya. Tiba-tiba pintu di buka lalu muncul Satoshi. "Ibu, bagaimana keadaan Isao?"


"Dokter Shigeru berkata Isao baik-baik saja. Kau bersama Himeka?"


"Tidak, Himeka ikut kelas camping. Aku sudah menghubungi Mark dan dia bilang hari ini mereka pergi ke daerah gunung selama tiga hari. Zhou juga ikut. Ibu tak perlu cemas."


"Lalu siapa yang mengantarmu?"


"Majikanku. Dia itu orangnya baik sekali dan bersedia mengantarku padahal kakinya masih cidera akibat kecelakaan."


"Jadi dia orang baik?"


"Tentu saja. Tadi dia membelaku di depan ibunya Hasegawa tadi. Keren sekali."


Miku tersenyum. "Kupikir kau membencinya karena kau dan Mark selalu mengejeknya dengan sebutan 'Bujang Lapuk Tak Laku' di sela-sela pembicaraan kalian."


"Ibu," ujarnya kaget, tak menyangka jika ibunya mendengar umpatan itu.


"Ibu ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih."


"Tentu, Ibu harus bertemu dengannya, dia ada di ruangan dokter Fujiwara untuk memeriksa keadaan kakinya. Tuan Hikaru bilang kita bisa makan bersama nanti, bagaimana?"


Miku mengangguk.


Sebuah pesan masuk di ponsel Satoshi.


From : Bujang Lapuk Tak Laku


"Tiga jam lagi kita bertemu di kantin rumah sakit."


Satoshi tersenyum membalas pesannya. Tunggu dulu, karena kebaikan Ryu hari ini ia mengubah nama pria itu menjadi, 'Laki-laki Gagah'.


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


To be Continued


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membacanya, ya πŸ˜„


Menerima segala kritik dan saran yang membangun 😊


__________________________________


Selasa, 30 Juni 2020


__________________________________


Klik, please

__ADS_1


πŸ‘‡


__ADS_2