Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[36] Ganbatte, Ryu!


__ADS_3

Sone klinik ....


Sastoshi dan Himeka menatap adik kecil mereka. Wajahnya lucu dan menggemaskan.


"Ayah, siapa namanya?" tanya Satoshi.


"Isao," ujar Masaya penuh syukur yang kini menggendong bayi Isao. Rasanya pria itu ingin menangis melihat bayi kecilnya, karena tak sempat menunggui Miku di rumah sakit waktu melahirkan si kecil Isao. Dia menciumi bayinya sayang. Padahal ia sudah ambil cuti 2 minggu ke depan demi Miku, tapi si kecil duplikat Masaya ini maju empat hari dari waktu kelahirannya.


"Ayah, turunkan Isao, aku ingin melihatnya," ujar Himeka tak sabar.


Masaya meletakkan kembali si kecil itu ke dalam box bayi. Dia pun mendekati Miku yang tersenyum ke arahnya. "Terima kasih, Miku," ucapnya sambil mencium kening istrinya. "Maaf, aku tak berada di sampingmu saat melahirkan Isao."


"Tidak apa-apa. Aku juga tak menyangka dia lahir secepat ini."


Masaya kembali mencium keningnya.


"Bagaimana dengan luka di kepalamu? Ini sudah lebih seminggu dokter Shigeru menanganimu?"


Masaya hanya tersenyum. Sebenarnya hasil lab itu sudah keluar beberapa jam usai ia sadar. Hanya saja pria itu menyembunyikannya dari sang istri. Shigeru berkata ada masalah cukup serius di kepalanya. Malam ini ia harus periksa lagi karena akhir-akhir ini kepalanya sering sakit. "Jangan khawatir. Dokter Shigeru bilang aku baik-baik saja."


"Anata, apa ada yang serius? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Miku cemas.


"Tak perlu cemas, aku baik-baik saja. Selama istri dan anak-anakku bisa tersenyum seperti malaikat."


🌷🌷🌷🌷


"Masaya, apa sebelumnya kau pernah cedera di kepala?" tanya dokter Shigeru menatapnya serius. Sebuah map baru hasil lab sudah ada di mejanya.


"Iya, sekitar 10 tahun lalu."


Dokter tampan iti mengangguk paham. "Hasil pemeriksaan laboratorium ini menyatakan bahwa kau menderita tumor jinak di kepalamu. Kau harus secepatnya melakukan operasi sebelum tumor itu ganas."


"Apa?" serunya kaget. Entah kenapa Masaya merasa itu menakutkan.


"Lebih cepat lebih baik."


Pria Fujimine itu terlihat syok. Tubuhnya menggigil seketika. Ada tumor di kepalaku? Apa aku harus memberitahu Miku? Ya Tuhan ... apa kau bercanda denganku?


Seakan tahu kecemasan di benak temannya, Shigeru memberitahu Masaya agar tak terlalu mencemaskan keadaannya. Semua bisa diatasi dengan operasi.


🌷🌷🌷🌷


Ryu melangkahkan kakinya pelan ke lantai, sementara ke dua tangannya berpegang pada besi yang menyanggah tempat tersebut. Tiga tahun terakhir ini, dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya dan hampir dua bulanan, dia belajar melangkah. Meski berkali-kali jatuh, pemuda jangkung itu terus berusaha karena keinginannya yang besar untuk sembuh. Ryu yakin, dia pasti bisa kembali normal seperti dulu. Dia ingin segera bisa berjalan.


Namun, ada kalanya ia juga putus asa dan tak mau lagi belajar melangkah karena sakitnya kaki yang hendak ia pijakkan ke lantai. Beruntung Yue gigih menyemangatinya hingga sekarang ini.


BRUK!


Sudah kesekian kali si rambut mentari ini terjatuh. Ia mulai lelah, kakinya juga sakit. Pemuda itu tidak pernah menyangka akan sesulit dan seberat itu perjalanan hidupnya. Keringat mulai membasahi tubuhnya, wajahnya juga tirus dan rambutnya juga mulai gondrong.


Yue dengan sabar akan mengikat rambut itu hingga mirip buntut kuda. "Jika lelah istirahatlah sementara." Si cantik mempesona itu menghampiri, lalu menyeka keringat di kening Ryu, tak lupa dia memberikan sebotol mineral.

__ADS_1


Ryu meneguk air mineral itu hingga habis. "Aku merindukannya," ucapnya lirih.


Yue menghela napasnya. Setelah Ryu bisa bicara, balerina itu sering mendengar kata-kata tersebut sampai bosan dan bisa menebaknya kapan kata-kata itu kembali keluar. Sehari putra Albert itu lebih dari dua puluh kali mengatakan kalau dia merindukan Miku. "Kak, tanpa kau ucapkan, aku sudah tahu kau begitu merindukannya. Tatapan matamu yang kosong sudah menjelaskan semuanya."


Mata Ryu mulai berair. "Lebih dari sepuluh tahun lamanya aku tak bertemu. Aku benar-benar sangat merindukannya." Ryu menyentuh dadanya. "Sakit sekali. Mungkin aku bisa bertahan menahan sakit fisikku hingga sekarang ... tapi batinku sudah lelah. Aku lelah."


"Kak ...."


"Aku ingin mati." Air mata Ryu mulai jatuh. "Aku benci diriku sendiri! Aku benci Daddy-ku yang sudah membuatku seperti ini!" desisnya benci. Tangannya terkepal.


Yue menggenggam tangannya. "Jangan putus asa. Aku akan terus di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji."


"Janji?" Ryu menatapnya.


"Tentu," Yue mengangguk lalu dia memeluk pemuda bermata safir tersebut.


Tiba-tiba terdengar derap langkah mendekati mereka.


"Mau apa dia datang lagi kemari?" tanya Ryu ketus karena tak suka melihat ayahnya datang. "Usir dia. Aku tak ingin melihat wajahnya."


Albert tak bergeming. Dia menatap putranya. "Daddy mendapatkan hal yang menarik. Kau harus tahu."


"Aku tak tertarik," balas Ryu sedingin malaikat maut.


Pria bule itu menyeringai. "Setelah kau tahu, aku yakin kau pasti akan berterima kasih."


Ryu balas menyeringai, wajahnya sekeras baja yang mustahil bisa dipatahkan. "Pergilah! Tidakkah kau sadar jika aku sangat membencimu?"


Lelaki tua itu melempar sesuatu ke arahnya. "Aku akan pergi setelah kau melihat foto itu."


"Baik, aku akan pergi." Lelaki tua itu segera berlalu dari hadapan mereka. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya


Yue mengambil foto itu lalu menyerahkannya pada Ryu. Awalnya pemuda itu menolak untuk melihatnya, tapi setelah melihat perubahan wajah Yue pemuda itu jadi penasaran. "Oh My God! Mungkinkah mereka ini ...."


Ryu merampas foto itu cepat sebelum Yue melanjutkan kata-katanya. Dia melihat foto itu. Alangkah kagetnya, begitu melihat foto yang yang dipegangnya itu. Antara percaya atau tidak, Ryu tak berharap kalau sekarang adalah mimpi. Tubuhnya bergetar melihat dua sosok tersebut di dalam foto itu.


Dia menoleh pada Yue. Gadis itu menggeleng keras dan menyatakan kalau saat ini mereka tidak bermimpi.


"Itu putri yang dicarimu, bukan? Lalu anak kecil berambut pirang dan bermata biru itu ... apa dia anakmu?"


Ryu menatap lekat-lekat foto itu. Dia tahu kalau itu adalah foto Miku yang sedang menggandeng anak kecil mirip dirinya. Tanpa sadar tangannya menggenggam foto itu hingga sedikit berkerut.


"Anakku," ucapnya lirih. Air matanya jatuh, dia menatap Yue yang juga mulai berair matanya. "Yue ... anak ini anakku. Anakku masih hidup," ujarnya terisak penuh haru.


Yue mengangguk. "Mereka masih hidup. Kakak harus cepat sembuh agar bisa menemui mereka," katanya menyemangati pemuda tersebut. Yue


memeluk Ryu senang.


Tuhan, terima kasih! Ryu mencengram tangannya hingga bergetar. Memandangi foto itu terus penuh syukur.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Meski ragu, akhirnya Masaya menandatangani surat operasi dirinya tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia tak ingin Miku tahu tentang penyakitnya.


"Kau serius tak ingin memberitahu istrimu?" tanya dokter Shigeru heran saat menerima prosedur pengajuan dari sahabatnya.


Masaya hanya tersenyum. "Aku tak ingin membuatnya khawatir, jika tumorku diangkat bukankah aku bisa sehat kembali?"


"Ya, tapi masalahnya ini menyangkut nyawamu. Jika kau berhasil melewati ruang operasi dengan selamat kau beruntung, tapi bagaimana jika tidak? Apa yang akan kami beritahukan pada keluargamu soal kematianmu?"


"Aku yakin kau bisa melakukannya."


"Masaya, aku serius!" Dokter Shigeru gemas.


"Shigeru!" balas Masaya santai. "Aku percaya bahwa aku bisa melewati operasi itu. Aku yakin itu." Pria itu menatapnya memohon. "Lakukanlah


karena aku percaya padamu."


Dokter Shigeru jadi bingung. "Baiklah, aku akan berusaha. Dan jika kau selamat akan kupukul kau! Ingat itu!"


Masaya tersenyum. "Tentu, aku menunggu hal itu.


Malam itu langit menjadi saksi atas ucapan mereka. Dalam sudut hatinya, Masaha berharap Tuhan benar-benar menolongnya.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_________________________________


Jumat, 19 Juni 2020


____________________________________

__ADS_1


Klik, please


👇


__ADS_2