Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[9] Pengorbanan


__ADS_3

Milan, Italia.


Ryu menatap sedih ferari merah 458 Italia kesayangannya yang diberinya nama Ace. Di ulang tahunnya yang ke 17 sang ayah memberikan hadiah mobil sport yang bahkan ia belum sempat mencobanya.


Ace hadiah paling istimewah karena dia meminta pada ayahnya agar segera dibelikan. Remaja itu sangat menginginkan mobil sport tersebut karena saat itu dia pernah mendengar Miku berkata ingin merasakan naik ferari seperti pembalap di F1. Meski hanya bercanda, tapi Ryu menganggapnya serius. Mobil sport seharga 625.000 euro itu kini ia jual tanpa sepengetahuan ayahnya pada salah seorang temannya.


"400.000 euro, bagaimana?" tanya pria 50 tahun itu mencoba bernegosiasi.


Remaja bermata safir itu diam. Mengelus-ngelus mobil yang sebentar lagi akan pindah kepemilikan itu.


"Ayolah, Hikaru. Kau nanti bisa mendapatkan yang lebih bagus lagi dengan meminta pada orang tuamu," tawar temannya.


Ryu mengangguk. Remaja itu sudah tak peduli lagi dengan harga mobilnya, yang jelas dia butuh uang. "Transfer saja uangnya ke rekeningku." Kemudian berlalu begitu saja. Setidaknya dia akan menggunakan uang itu untuk keperluannya nanti di Jepang. Remaja itu senang, membayangkan sebentar lagi akan bertemu Miku. Usai kelulusan dia akan menikahi putri sulung Higashiyama, menyewa apartemen kecil soal pekerjaan dia memang belum memikirkan. Dengan uang sebanyak itu dia bisa berhemat dalam 2 tahun ke depan sembari mencari kerja. Bayangan wajah menggemaskan bayi perempuan secantik Miku kini menari-nari di kepalanya. Manis dan lucu. Ryu akan menjadi seorang ayah. Lalu dia akan membuat Miku-Miku kecil lainnya sebanyak yang ia mau dan dia akan menjadi orang yang paling tampan di keluarganya nanti.


Kalau pun sang ayah tak 'kan merestui, paling tidak ibunya pasti mendukung keputusannya.


🍓🍓🍓🍓


SONE klinik.


Klinik kecil yang terletak di dekat pusat kota Tokyo itu berdiri di atas bangunan lantai 2. Sangat trategis, selain itu jaraknya dekat dengan stasiun Tokyo, hanya berjarak 500 meter dari rumah Miku.


Saat Miku membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah sosok pelatih muda yang kini menungguinya. Masaya duduk di samping gadis itu.


"Pelatih," sapanya lemah.


"Aku sudah tahu semuanya," ujar Masaya datar, "aku memang menyayangkan tindakanmu. Aku


harap kau tak membuat kesalahan untuk kedua kalinya yang bisa membahayakanmu."


Miku tergugu. Gadis manis itu memalingkan wajahnya. "S-saya ... saya tidak berani mengatakan hal ini pada ayah. Saya sangat takut."


"Beliau pasti sangat marah dan kecewa padamu."


"Lebih dari itu, ayah pasti akan membunuh sa--"


"... dan kau akan menyerah begitu saja?" potong Masaya sambil menatap wajah pucat Miku, "pernahkah kau berpikir, jika kau nekat melakukan hal itu akan ada berapa banyak air mata yang harus keluar dari orang-orang yang kau sayangi? Keluargamu? Teman-temanmu?"


Si mata sayu itu membisu.


"Apa dengan bunuh diri semua masalahmu akan hilang? Baik, kau memang siap mati, tapi apa orang-orang terdekatmu siap nantinya jika mendengar kabar kematianmu?"


"Sa ... sa ..."


"... aku belum selesai bicara!" Masaya dengan cepat memotong pembicaraan gadis itu, "satu hal lagi. Jangan pernah kau mengulangi hal menyedihkan seperti ini! Tunjuk pada dunia bahwa kau gadis yang kuat!"


"Saya hanya gadis bodoh yang lemah,"


"KAU HARUS KUAT!!" bentak Masaya gemas. Ditatapnya mata yang kaget itu dalam-dalam. "Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi sepertimu, tapi aku sudah sering merasakan ... bagaimana rasanya ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Setidaknya aku ingin kau berbagi masalah denganku. Kau tak akan sanggup menanggung beban itu sendirian." Tangan pria itu terkepal. Aura wajahnya menggelap.


Miku kembali meneteskan air matanya. Kali ini dia tak berani menatap wajah Masaya. "Pelatih," panggilnya lirih, "batu yang keras bisa berlubang jika disirami air setiap hari, apalagi saya,"


"Kau bisa mengubah batu itu menjadi baja. Aku akan membantumu. Dengan begitu kau akan terus kuat. Aku akan menopang hidupmu hingga kau kuat dan tak menangis lagi," Masaya menyentuh tangan Miku, "kau bisa pegang kata-kataku."

__ADS_1


"Kenapa?" isak gadis itu tak tahan, "kenapa Pelatih begitu ... baik pada saya? Apa karena ... kasihan?"


Masaya tersenyum tipis. "Karena kau seperti adikku."


🍓🍓🍓🍓


Milan, Italia.


Terjadi pertengkaran hebat antara Albert Hikaru dengan mantan istrinya, Juana. Mantan suami istri itu saling menyalahkan satu sama lainnya.


Lucas sang sekertaris pribadi Albert itu menjadi takut mendengarnya. Buru-buru pria itu keluar dari rumah besar tersebut dan saat menuruni tangga dia berpapasan dengan Ryu. "Tu ... Tuan Muda."


"Kenapa wajahmu ketakutan begitu?" tanya Ryu curiga.


"Nyonya Besar sudah datang, saat ini mereka bertengkar lagi," jawab Lucas takut.


Ryu yang mendengarnya hanya cuek, toh dia sudah biasa dengan kejadian itu. "Pasti karena bisnis lagi."


"Bukan. Mereka bertengkar karena gadis bernama ... siapa tadi?" Pria 30 tahun itu berusaha mengingat nama gadis yang dimaksud.


"Apa maksudmu gadis itu bernama Miku Higashiyama?"


Lucas mengangguk dan bagai jin ifrit, Ryu telah lenyap dari hadapan sekretaris ayahnya. Begitu sampai di lantai atas, remaja itu melihat ibunya disentak-sentak oleh ayahnya.


"It's not your problem, Juana! Urus saja bisnismu." Suara Albert begitu menggelegar.


Juana tersenyum meremehkan. "Not my problem? Ryu juga putraku dan aku berhak ikut campur masalahnya Tuan Albert yang Terhormat, karena aku Mommy-nya."


Juana tersenyum sinis. "Jangan menuntutku menjadi seorang ibu yang baik, jika kau sendiri tak punya jiwa seorang ayah!"


"Apa maksudmu?"


"Apa kau pikir Ryu itu robot yang bisa kau ciptakan sendiri sesuai dengan pikiranmu? Ryu hanya manusia yang sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya, tapi apa yang kau telah lakukan? Kau menyuruh anak buahmu untuk membunuh janin tak berdosa itu?"


DEG! Jantung Ryu seakan berhenti berdetak, dia tak menyangka ayahnya akan nekat melakukan hal itu pada Miku. Ada getaran aneh yang menyelimuti hatinya. Bumi seakan bergoncang menginjak dirinya. Dad ....


"Aku tak ingin masa depan Ryu hancur. Janin itu hanya sumber masalah bagi putraku."


"Kaulah sumber masalah itu! Hidup Ryu sudah hancur sejak ikut denganmu!!" bantah wanita cantik berambut pirang panjang itu tak mau kalah.


Keduanya saling meluapkan amarah. Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan muncullah sosok remaja tampan nan angkuh dengan wajah dan sorot mata yang penuh kebencian. Mereka berdua sama-sama kaget.


"Ryu!"


Sepi. Atsmosfer di sekeliling mereka berubah dingin.


"I heart everything," ujar Ryu dingin, "Dad ... your so cruel. Tega sekali mau membunuh janin yang ada di perut Miku. Janin itu anakku." Mata remaja 17 tahun itu berkaca-kaca, suaranya terdengar bergetar.


"Ryu ...."


"Dia calon anakku! Calon cucumu! TAPI KENAPA KAU TEGA MAU MEMBUNUHNYA SEBELUM DILAHIRKAN?! KENAPA?!"


"Ryu, Daddy ...."

__ADS_1


"... JANGAN PERNAH SEBUT DIRIMU AYAHKU KALAU KAU SUDAH MEMBUNUH ANAKKU! LAKI-LAKI SEPERTIMU TAK PANTAS MENJADI AYAH!" Ryu segera berlalu.


"Ryu, dengarkan penjelasan !" Cegah Albert sembari menarik lengannya, tapi dihentakkan dengan cepat oleh putranya.


"Berhenti memanggil namaku Mr Hikaru. Mulai sekarang kau bukan ayahku lagi. Aku sangat membencimu. Anggaplah putramu sudah mati. Ryu Hikaru sudah mati!" Remaja itu kemudian berlalu, membanting pintu itu keras dan berlari ke luar.


Satu menit kemudian terdengar suara Blue Maybach 62 yang baru dikendarai Ryu akhir-akhir meluncur dengan sangat cepat. Salah satu penjaga gerbang milik keluarga Hikaru itu langsung melompat ke arah rerumputan menghindari mobil sport yang baru keluar dari garasi dan menggila itu.


"RYU BERHENTI, KAU BELUM MAHIR MENGGUNAKAN MOBIL ITU!" Albert berusaha mengejarnya dengan penuh kewas-wasan.


🍓🍓🍓🍓


Koichiro Higashiyama, lelaki dewasa berumur lebih dari 40 tahun itu berjalan cepat menuju ruangan putrinya. Wajahnya merah padam mendengar berita bahwa anak kebanggaannya hamil. Ia merasakan amarahnya memuncak dan berkobar-kobar.


Begitu sampai di depan ruangan itu, ia berhenti menatap sosok pemuda yang diam menemani Miku. Pemuda itu duduk di dekat pembaringannya dan menggenggam tangan putrinya yang tertidur. Tangannya bergetar hebat, ingin sekali dia membunuh pemuda itu.


"Maafkan aku," lirih Masaya saat melihat Miku tertidur. Dia mengusap bekas tamparan di pipi gadis itu. Tiba-tiba ...


BUGH! Masaya merasakan sebuah hantaman keras mengenai wajahnya. Ia kaget dan terkejut dengan apa yang terjadi barusan, belum sempat ia berdiri lelaki itu kembali memukulnya hingga pria berambut hitam itu terjerembab. Perutnya mengenai ujung meja, ia merasakan nyeri di ulu hatinya.


Miku yang mendengar keributan itu terbangun. "A-ayah," ujarnya kaget. Ia pun bangun dari pembaringannya lalu mencegah ayahnya agar tak memukul Itachi, "Ayah jangan pukul dia." Pinta Miku memohon tapi sepertinya Koichiro tak mendengarkan kata-kata putrinya.


Masaya mencoba berdiri, tapi sebuah pukulan kembali mendarat di perutnya. Sakit sekali. Ia memegang perutnya. Pria itu terus menerima pukulan keras dari lelaki dewasa yang penuh amarah.


"Aku akan membunuhmu!"


Cengkramnya keras pada baju Masaya, memaksa pemuda itu berdiri, "apa kau tahu bagaimana hancurnya perasaanku sekarang? Dari kecil aku mendidiknya keras agar dia menjadi orang yang berguna. Siang malam aku bekerja keras hanya untuk melihat dia lulus dari universitas, tapi kau ...." Kata-kata lelaki itu terputus melihat Masaya yang hampir pingsan karena amukannya tadi.


"Ayah ... lepaskan dia, dia tidak salah," Miku berlutut di depan ayahnya sambil menangis, "bunuh saja aku. Aku yang salah."


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


Senin, 20 April 2020

__ADS_1


__ADS_2