Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[3] Tangis yang Terulang


__ADS_3

Sore itu Miku memencet bel apartemen Ryu. Lama ia menunggu, tapi tak kunjung dibukakan pintu. Miku tahu kekasihnya berada di dalam karena itulah dia tak pergi meski hampir dua jam menunggunya. Gadis itu tertidur karena lamanya Ryu itu membuka pintu.


"Miku," ujar sepasang suami istri yang sudah menjadi pelayan kepercayaan keluarga Hikaru itu kaget, melihat pacar anak majikannya duduk menyender pada dinding apartemen dengan mata terpejam.


Mata dengan iris kecokelatan itu terbuka dan buru-buru berdiri. "A-a ... Bibi dan Paman Yamada. Maaf, a-aku tertidur, ya?" Gadis itu menatap keduanya.


Pintu terbuka lalu muncullah Ryu. Tatapan remaja rambut pirang itu beralih pada kedua suami istri tersebut yang seolah berkata, 'Kalian boleh pulang. Aku hanya ingin berdua, dan kembalilah besok!'


Mereka berdua yang sangat paham arti tatapan mata sang anak majikan, segera undur diri berlalu.


"Masuklah!" Ajak Ryu datar.


Miku menatap wajah segar yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ryu masih mengenakan piyama, sementara rambutnya yang mulai panjang itu terlihat berantakan. Air menetes dari rambutnya yang basah.


Miku memasuki apartemen itu tanpa curiga.


Tanpa sepengetahuannya, Ryu mengunci pintu apartemennya lalu menyimpan kunci itu. Apartemen itu terbilang sangat mewah, semua yang diinginkan sudah tersedia. Remaja penggila bola itu tinggal sendirian. Setiap pagi dan sore dua orang pelayan akan datang ke apartemen tersebut untuk melayani keperluan dirinya.


Ayahnya jarang pulang karena sangat sibuk dengan bisnis yang digeluti. Ibunya adalah wanita berkebangsaan Kanada yang menjadi desainer terkenal. Tak heran jika remaja super tampan itu selalu mengenakan pakaian dan aksesoris yang jarang dimiliki orang lain. Hampir semua barang yang dimiliki limited edition.


Gadis berambut panjang ikal kecokelatan itu tahu jika Ryu selalu sendiri di apartemennya. Jarang keluar membuat sang kekasihnya menjadi anti sosial.


Miku duduk di samping Ryu, dia menyentuh pipi memar itu. "Sakit?"


Remaja penyuka buah tomat itu tak menjawab. Sentuhan Miku membuatnya bergairah, ia tidak tahu, kenapa setiap sentuhan gadis itu membuatnya bernafsu meski sesaat.


"Hi-Hikaru ... kenapa menatapku seperti itu?" Gadis itu mulai ketakutan.


Ya, saat ini Ryu terlihat aneh seolah dia akan menerkamnya hidup-hidup. Remaja itu menyentuh wajah Miku. Dia tersenyum aneh. "Miku, aku sendirian. Bisa temani aku saat ini?" tanyanya penuh minat akan dirinya.


Miku menggeser tubuhnya, tapi tak bisa, karena Ryu tak membiarkan hal itu terjadi. Kekasihnya terus menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Menutup mata takut kala Ryu menyingkirkan rambutnya.


"Aku seperti ini karenamu," bisiknya sembari menempelkan mulutnya di leher gadis tersebut. Mengecapnya pelan.


"Hikaru ...." Miku terlihat takut. Tubuhnya panas dingin.


Sayangnya, Ryu tak mendengarkan. Hatinya bergejolak hebat. Dia menginginkan Miku saat ini. Kemudian tanpa ragu ia menarik Miku, menyeret ke kamarnya. Mendorong tubuh kecil itu ke atas kasur, lalu menindihnya.


"A-apa yang akan kau lakukan?Lepaskan!" Miku hampir menangis dan meronta.


Ryu mencengkram kedua pergelangan tangan Hinata kuat-kuat membuat gadis itu meringis kesakitan. Matanya seolah berkata, 'Kau tahu apa yang akan kulakukan. Jadi diamlah dan ikuti perintahku!'


Ada bulir bening turun dari bola matanya. Pasrah dengan kelakuan kekasihnya. Toh, melawan pun ia tak bisa.


🍓🍓🍓🍓


Sore itu langit terlihat terang. Matahari semakin tenggelam di ufuk barat dan meninggalkan seberkas cahaya kuning keemasan. Kota Tokyo terlihat sangat padat. Di antara lalu lalang manusia, tampak seorang gadis cantik dengan pakaian yang begitu elegan sedang menatap suatu objek dengan teliti.


"Kyoko," ujar Masaya kaget begitu melihat gadis dengan rambut lurus sebahu sudah berdiri di depan rumahnya. Gadis bermarga Hakuba itu tersenyum lalu berlari ke arah Masaya dan memeluknya. Pria berambut gelap itu hanya terdiam.


🍓🍓🍓🍓


Paradise Cafe merupakan sebuah kafe di pertigaan jalan, yang sering Masaya kunjungi kala ia melepas lelahnya. Menyibukkan diri dengan secangkir kopi agar pikirannya tenang.


"Kenapa kau kemari?" Masaya memulai pembicaraan. Nada bicaranya tak sehangat dulu. Kini terkesan datar.


Kyoko tersenyum. "Mencarimu. Kenapa, apa kau tak suka aku menemuimu?"


"Ya."

__ADS_1


Gadis itu kaget dengan penyambutan Masaya yang di luar perkiraannya. Padahal baru beberapa bulan lalu mereka tak bertemu, tapi pemuda di


hadapannya itu kini bersikap dingin padanya. "Masaya,"


"Pulanglah, di sini bukan tempatmu. Ayahmu pasti sangat mengkhawatirkan keadaanmu saat ini."


"Aku tak peduli."


"Tapi aku sangat peduli." Suara Masaya terdengar sangat ditekan.


Kyoko menatapnya sendu. Tangannya mencengkram erat blouse putih yang dikenakan, dengan lirih ia bertanya, "Kenapa? Kenapa kau berubah?"


"Setiap manusia pasti akan mengalami perubahan dalam hidupnya."


Kembali Kyoko menunduk. Hatinya sakit melihat perubahan pemuda di hadapannya ini. "A-aku ke toilet sebentar," ujarnya pelan. Gadis itu lebih memilih menangis di toilet dari pada harus menangis di depan pemuda yang menjadi tambatan hatinya.


Tangan Masaya mengepal.


Dulu saat di Inggris, mereka sangat dekat bahkan seperti tak bisa dipisahkan, dan Masaya-lah yang paling mengerti keadaan Kyoko. Semua temannya mengatakan bahwa mereka adalah pasangan serasi. Namun, sayangnya, Masaya tak pernah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada gadis bermata indah ini. Walau sebenarnya mereka saling mencintai.


Selang cukup lama akhirnya Kyoko kembali. Matanya sedikt bengkak. Mereka terdiam saling diam.


"Aku sudah menelpon ayahmu, sebentar lagi jemputan akan datang." Selesai berkata seperti itu Masaya beranjak meninggalkannya.


Gadis itu menangis. Saat pengawal keluarganya datang menjemput anak majikannya, Masaya hanya bisa menatap kejadian itu dengan hambar. Hatinya bahkan lebih sakit karena harus melakukan hal itu.


Maafkan aku Kyoko, aku benar-benar minta maaf. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Tanpa sadar ada air mata yang menetes membasahi pipinya. Hatiku jauh lebih sakit ketika harus menyakitimu.


Masaya ingat akan kata-kata ayah gadis yang dicintainya waktu di Inggris dulu sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan London selamanya.


"*Kyoko memang bukan putri kandungku, tapi aku sangat menyayanginya seperti anak


"Itu tidak mungkin, Tuan."


"Jika kau tak mau meninggalkannya, maka aku yang akan memaksa kalian untuk berpisah."


"Tuan Hakuba, tidak semua lelaki sama seperti ayahnya, saya---"


"... anak muda," Lelaki bermarga Hakuba itu memotong pembicaraan Masaya sambil tersenyum, lalu melanjutkan kata-katanya, "ingat baik-baik perkataannku ini. Kau mempunyai seorang kakek yang bekerja di toko keramik dan kau juga memiliki seorang paman yang sedang menjalankan bisnis pengalengan ikan di daerah Osaka. Bisnisnya cukup lancar bukan?" Lelaki itu menatap Masaya sinis.


Masaya yang mendengarnya terkejut dan entah kenapa firasatnya cukup menakuti pikirannya.


"Hanya dengan hitungan menit aku bisa membuat usaha Kagami Matsukaze bangkrut, dan aku juga bisa membuatmu tak bisa diterima bekerja di tempat mana pun."


Masaya berdiri dari duduknya. "Tuan Anda benar-benar ...." Pemuda itu tak meneruskan kata-katanya, sebisa mungkin dia menahan amarah di depan lelaki yang menjadi salah satu orang yang disegani di negaranya itu. Hakuba Ryosuke adalah salah seorang menteri di Jepang yang ditugaskan di Inggris.


"Pikirkan baik-baik anak muda, masa depanmu kau sendiri yang menentukan. Jika kau ingin selamat, berpisahlah dari putriku, tapi jika kau ingin hancur dengan senang hati aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya."


Masaya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia ingin melawan tapi ia sadar siapa dirinya. Lelaki paruh baya itu menyodorkan selembar kertas yang sudah bermaterai padanya.


"Itu surat pernyataan bahwa kami keluarga Hakuba tidak akan mengganggu hidupmu juga keluargamu selama kau menjauhi Kyoko."


Pria itu bergetar menatap surat pernyataan tersebut. Dia tak mempunyai pilihan, yang ia korbankan adalah cinta pertamanya. Tangannya bergerak mengambil kertas itu lalu menandatangi dan menyerahkannya pada Tuan Hakuba.


"Kau sudah melakukan yang terbaik."


"Tuan ... apa begitu menyenangkan bagi Anda menjadi seorang yang berkuasa dan memisahkan kami?"


"Mungkin kau akan menyesal sekarang dan juga sangat membenciku, tapi ingatlah, suatu saat kau akan berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan hidupmu. Berbahagialah dengan gadis lain."

__ADS_1


Masaya mengangguk samar, matanya terlihat sendu. Tersenyum tipis lalu berkata, "Terima kasih," Lelaki itu menatapnya heran. "terima kasih sudah menyadarkan saya bahwa cinta bisa dibeli dengan sebuah kekuasaan*."


Masaya tersadar dari lamunannya, ia hanya bisa tersenyum tipis melihat Kyoko memasuki mobil dengan bodyguard-nya dan beberapa detik kemudian mobil itu meninggalkan Paradise cafe.


Malam mulai beranjak. Pemuda


itu menatap langit.


Tuhan ... kau tahu apa yang aku rasakan saat ini? Kau juga tahu, bagian mana yang paling sakit di tubuhku. Ia memegang dadanya. Sakit sekali ....


🍓🍓🍓🍓


Di satu tempat lainnya.


Miku terdiam. Ia ingin menangis tapi tak bisa. Gadis itu membisu di tengah kegelapan malam. Sementara Ryu sudah tertidur di sampingnya. Ia ingin memukul pemuda playboy yang memaksanya tidur malam ini. Ia ingin memukul, menampar, memaki atau apa sajalah agar membuat kekasihnya benar-benar menyesal dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Namun, semua hanya ada di angannya. Ia tak mungkin melakukannya.


Miku menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Tercekam rasa takut. Menggigil dalam kesunyian. Gadis bermata indah itu menangis sendiri. Semakin lama tangisnya semakin keras membuat tubuhnya berguncang.


Samar-samar Ryu memicingkan matanya, terbangun gara-gara mendengar isak tangis gadis yang ia cintai. Remaja itu menggeser tubuhnya, lalu merengkuh Miku agar masuk kedalam pelukannya. Sayangnya, gadis itu mendorong kuat tubuh Ryu. Ia menatapnya benci. "Miku!"


Gadis itu beranjak menuju kamar mandi lalu menguncinya. Dihidupkan air shower itu kemudian ia menangis lagi. Dengan lemas ia menyandar pada dinding. Tubuhnya berguncang menahan tangis, perlahan tubuhnya mulai merosot ke lantai.


"Miku!" Remaja stoic itu memanggil namanya berulang-ulang dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tetap saja tak ada jawaban, karena Miku terus menangis.


Kenapa aku lemah terhadapnya? Mengapa aku tak bisa membencinya? Aku benci diriku yang seperti ini. Gadis itu menahan sakit di sekujur tubuhnya. Tanda kemerahan yang banyak melekat di tubuhnya. Ia jijik melihatnya.


Sementara di luar, Ryu bersandar pada tembok yang memisahkan dirinya dengan Miku. Perlahan tubuhnya juga ikut merosot ke lantai. Dia menjambak rambutnya pelan. Pikirannya benar-benar kacau. Ini sudah kedua kalinya dia membuat kekasihnya menangis seperti itu.


Bodoh bodoh! dasar bodoh! Apa yang sudah kau perbuat Ryu?! Dia pasti membencimu seumur hidup. Remaja itu frustrasi. "Miku ... maafkan aku." Suaranya terdengar pelan. Dia juga ingin menangis. Menyesal sudah menuruti nafsunya semalam.


Miku tak mendengar karena gadis itu menangis keras di dalam. Mengutuk kelemahannya yang tak bisa melawan kekasihnya.


🍓🍓🍓 To Be Continued 🍓🍓🍓


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [❤] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_______________________________


⏩ Jumat, 3 April 2020


Klik, please


👇

__ADS_1


__ADS_2