My Chosen Man

My Chosen Man
Bingung mau kasih judul apa


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Jika seseorang melakukan kesalahan, bukankah lebih baik jika membantu dia untuk bangkit dan memperbaiki kesalahannya bukan malah membuat semakin terpuruk dengan pergi meninggalkannya...


...~Elena...


***


"Apa itu?" tanya Elena yang penasaran tentang apa yang ingin Erlang katakan.


"Ada yang mau aku bilang sama kamu."


"Jika suatu saat nanti aku membuat kesalahan, ku mohon jangan tinggalkan aku. Elle, Aku tak sanggup bila harus berpisah denganmu. Ku mohon tetaplah di sampingku bagaimana pun nanti"


"Kenapa kamu berkata seperti itu Bie." 


Elena yang terkejut dengan perkataan Erlang refleks mengangkat kepalanya dari bahu Erlang dan menatap mata Erlang dengan penuh kebingungan.


"Eggak apa-apa, aku cuma takut suatu jika saat nanti aku melakukan kesalahan kamu akan pergi meninggalkanku." 


Pandangan Erlang terasa kosong ke depan seakan menembus dinding rumah sakit. Ia pandang sekilas Elena yang sedang bersandar di bahunya. 


Ada perasaan takut jika Elena meninggalkannya. Entah mengapa perasaan takut itu selalu saja muncul. Apa karena rasanya yang terlalu besar untuk Elena.


"Jika seseorang melakukan kesalahan, bukankah lebih baik jika membantu dia untuk bangkit dan memperbaiki kesalahannya bukan malah membuat semakin terpuruk dengan pergi meninggalkannya." Erlang mengangguk membenarkan.


"Seharusnya aku yang takut jika kamu meninggalkanku Bie. Sikapmu yang tiba-tiba berubah membuatku senang sekaligus cemas. Saat kamu bersikap baik padaku, aku merasa sangat senang. Namun kadang rasa takut juga menghampiriku, bagaimana jika kamu tiba-tiba berubah menjadi acuh lagi kepadaku."


Kata-kata Elena seakan menghantam Erlang. Dada Erlang terasa sesak. Ingin sekali ia memberitahu rahasianya kepada Elena.


"Maafkan aku yang kadang membuatnya bingung, maafkan aku." 


Erlang memeluk erat Elena seakan tak mau melepaskannya barang sejenak dan Elena pun membalas pelukan tersebut. 


Lama sepasang kekasih itu merasakan hangatnya pelukan sampai malam semakin larut.


"Baiklah, sebaiknya kita tidur hari sudah mulai larut." Elena beranjak dari sofa dan menuntun Erlang untuk tidur di ranjang. 


Erlang pun mengikuti langkah Elena. Langkah kecil Elena tidak membuat Erlang kesusahan mengimbanginya.


"Sekarang kamu istirahat yang cukup biar cepat sembuh." Elena membaringkan tubuh Erlang di ranjang yang berukuran besar itu. Karena ruangan tempat Erlang dirawat adalah ruangan VIP.


Ketika Elena hendak menyelimuti tubuh Erlang dengan selimut, tiba-tiba tangan Elena dicekal oleh tangan besar Erlang. 


Elena menatap Erlang seakan bertanya kenapa lewat sorot mata.


"Kamu tidur di sini ya, sama aku." Erlang menepuk sisi ranjang yang ia tempati.


"Ngga mau, nanti aku bisa tidur di sofa." Elena menunjuk sofa panjang yang menghadap televisi.


"Tidur di sofa itu sakit Elle, mending tidur di sini." Erlang bangun dari posisinya dan menarik tangan Elena untuk berbaring disampingnya.

__ADS_1


"Bie, aku enggak mau jangan paksa aku. Ku mohon biarkan aku tidur di sofa." dengan memohon dengan muka memelas.


"Baiklah, tapi jika tidur di sofa tidak nyaman pindahlah tidur di ranjang bersamaku."


"Hmmmm." 


Elena beranjak pergi menuju sofa. Merebahkan tubuhnya yang kecil di sofa panjang dengan beralaskan bantal sofa. 


Elena memejamkan matanya namun ia sama sekali tidak merasa ngantuk. Ditengoknya Erlang yang sudah memejamkan mata.


Cepat sekali dia tidur, sedangkan aku sama sekali tidak mengantuk Batin Elena. Hening tak ada suara kecuai suara detak jarum jam. Lama ia memejamkan mata, akhirnya ia terlelap tanpa sadar.


***


Pagi pun menghampiri, tepat jam 06.15 Elena bangun dari tidurnya. Dilihatnya Erlang masih terlap. Dengan segera ia menuju toilet untuk mencuci muka. 


Saat Elena keluar toilet ternyata Erlang sudah bangun. Ia bersandar di ranjang sambil mengotak-atik handphonenya. Elena melangkahkan kakinya mendekati Erlang.


"Sudah lama bangunnya?" tanya Elena sambil mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang Erlang.


"Lumayan, pas kamu masuk ketoilet." fokus Erlang masih tak teralihkan, ia masih sibuk dengan handphonenya.


"Kamu ngapain sih dari tadi liat handphone sampai-sampai aku ngomong enggak diliatin!" Elena mendengus kesal, ia berdiri dari posisinya sambil berkacak pinggang. 


Tatapannya tajam seakan menembus benda yang dilihatnya.


"Aku lagi bales pesan seseorang." masih menatap layar handphonenya.


"Cewek?" tanya Elena dengan nada ketus sambil sedikit melirik layar handphone Erlang namun ia tak dapat melihat apa-apa karena layar handphone Erlang terlalu gelap.


Wajahnya langsung merah, ingin sekali ia mengambil handphone tersebut dari Erlang dan melihat apa isi pesannya.


Namun ia tak berani melakukannya dan memilih untuk beranjak pergi dan duduk di sofa. 


Namun belum ia beranjak tiba-tiba tangan Erlang sudah menahannya. Dengan cepat ia menoleh ke arah Erlang sambil melototkan matanya membuat Erlang terkekeh melihat sikap kekasihnya itu.


"Eggak usah cemburu, aku lagi pesan makan nih." Erlang memperlihatkan pesan yang ia kirim ke driver goFood.


"Enggak usah mikir yang macam-macam, mana mungkin aku selingkuh kalau pacarku semenggemaskan ini kalau lagi cemburu." Erlang mencubit pipi Elena membuat pemilik pipi mengaduh kesakitan.


"Kan ada makanan rumah sakit, kenapa harus pesan makan lagi." tanya Elena yang heran sambil duduk kembali di kursi dekat ranjang.


"Aku ngga suka makanan rumah sakit, hambar makin ngga selera makan aku."


"Ya jelaslah kan makanan orang sakit, kalau mau makan enak ya pergi nya ke restoran Bie." 


Elena tertawa akan pernyataan Erlang yang dianggapnya lucu. Erlang menatap Elena yang tertawa, ia merasa bahagia jika melihat Elena tertawa.


Tak lama pesanan makanan mereka sudah sampai di depan rumah sakit, dengan cepat Elena keluar rumah sakit dan mengambil makanan tersebut. 


Elena mendengus kesal melihat makanan yang dipesan Erlang. Dengan mulut yang sambil menggerutu ia memasuki ruangan Erlang.

__ADS_1


"Kamu kok pesan makanan berat sih, kan ini masih pagi!" Elena meletakkan dua buah burger dan satu kotak pizza yang masih panas di atas meja.


Erlang terkekeh melihat ekspresi Elena yang memanyunkan bibirnya. " Elle, badan kamu itu perlu makan-makanan yang berat biar ngga melayang kalo ada angin."


Setelah berdebat-debat kecil mereka menghabiskan makanan yang dipesan tadi. Elena tetap memakan makanannya meskipun dengan mulut yang terus menggerutu.


"Bie."


"Hmmm."


"Boleh enggak aku pulang kerumah dulu Bie, mau ganti baju." tanya Elena sambil membereskan bekas makanan dan membuang bungkusnya ketempat sampah.


"Kamu ninggalin aku di sini sendirian?"


"Aku cuma kerumah ganti baju Bie, habis itu balik kesini lagi. Aku enggak ninggalin kamu kok."


"Buat apa ganti baju kalau gini aja kamu sudah cantik." puji Erlang.


"Bie, boleh ya. Ya-ya boleh ya Bie." Elena memelas wajahnya agar Erlang memperbolehkannya pulang. Sambil menggoyang-goyangkan lengan Erlang yang tidak cidera.


"Hmmm, tapi jangan lama-lama." Elena yang merasa senang segera mencium kilas pipi Erlang dan beranjak mengambil tasnya di dekat televisi. Erlang hanya geleng-geleng melihat kelakuan Elena.


***


Setelah sampai di rumah, Elena segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak lama Elena sudah rapi karena tidak mau jika Erlang menunggunya terlalu lama. 


Ketika Elena keluar pintu, ia terkejut melihat mobil Erlang terpakir di sana dengan Erlang yang sedang bersandar di samping pintu.


Elena memandang tangan Erlang yang terlihat baik-baik saja. Tanpa gips seperti tadi yang ia lihat dirumah sakit.


"Kamu kok disini Bie, bukan di rumah sakit dan tangan kamu kok baik-baik aja, kamu bohongin aku ya?" Elena melontarkan beberapa pertanyaan kepada Erlang sambil memeriksa tangan Erlang.


"Maafin aku ya hehehe." Erlang memasang wajah imut di depan Elena.


"Kamu jahat Bie, tega-teganya bohongin aku" Elena mencubit perut Erlang namun tak dirasa oleh Erlang.


"Tangan aku beneran cidera tapi tidak terlalu parah. Sebenarnya aku sudah boleh pulang kemarin sore, tapi aku terlalu kangen sama kamu jadi aku mau tetap di rumah sakit sambil ditemenin sama kamu. Ngga boleh ya kalau aku mau berduaan sama pacarku?" Erlang membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Elena.


"Gemesin banget si pacarku ini." ucap Elena setelah mendengar penjelasan dari Erlang


"Ayo!" Erlang membuka pintu samping kemudi dan menyuruh Elena masuk.


"Kita mau kemana Bie?" tanya Elena yang heran tiba-tiba Erlang menyuruhnya masuk.


"Mau ke pantai." ucap Erlang lalu menghidupkan mesin mobilnya.


"Kamu beneran Bie." tanya Elena yang masih tidak percaya.


"Hmmm."


"Tapi tangan kamu." Elena memeriksa kembali tangan Erlang. Erlang melipat tangannya dan menggerakkan ke segela arah. Sambil tersenyum ke arah Elena yang mulai kesal.

__ADS_1


"Ke rumah aku dulu ya, aku mau ganti baju." kata Erlang sambil memperlihatkan baju yang dari semalam ia pakai. Karena usai membayar administrasi dan keluar dari rumah sakit ia segera menemui Elena.


Mereka pun beranjak meninggalkan rumah Elena dan menuju rumah Erlang. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi sedang mengawasi.


__ADS_2