My Chosen Man

My Chosen Man
Pernikahan rahasia


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Pasti ada alasan yang kuat sampai kamu juga mau melakukannya. Apapun itu aku tidak menuntut kamu untuk memberitahunya. Aku hanya ingin jangan tinggalkan aku apapun keadannya...


...~Elena...


"Pernikahan rahasia." Erlang mengulangi ucapan Theo.


"Iya, pernikahan rahasia." ucap Theo dengan yakin.


"Pernikahan yang hanya didatangi kerabat terdekat kita saja." sambung Theo lagi.


Erlang terdiam sambil memikirkan pendapat Theo. Sebenarnya ia menginginkan pernikahan yang megah untuk Elena bukan pernikahan yang dilakukan secara diam-diam. Tapi apa boleh buat keadaan seakan tak mengijinkan.


"Apa Elena mau Om?" tanya Erlang, ia ragu jika Elena mau melakukannya.


"Nanti akan Om beri penjelasan." ucap Theo menegaskan.


"Kenapa Om mau melakukan ini." pertanyaan yang sedari tadi ingin Erlang lontarkan. Apa yang membuat Theo sampai kekeh untuk melakukan hal tersebut.


"Karena Om yakin, kamu bisa membahagiakan Elena." ucap Theo, laki-laki itu tahu seberapa besar rasa Erlang untuk putrinya, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga ia pun memberikan ide tersebut. Theo hanya ingin menyerahkan putrinya ke orang yang tepat dan ia yakin bahwa Erlang adalah orangnya.


"Aku mau Om." ucap Erlang setelah mendengar perkataan Theo.


***


Elena menjalani terapi dibimbing dengan suster rumah sakit. Sedikit demi sedikit, sekarang Elena sudah bisa menggerakkan kakinya dan berjalan beberapa langkah. Selesai dari melakukan setapi, ia pun kembali ke ruangannya.


Mata Elena mencari-cari keberadaan Ayahnya yang sedari tadi tidak ia lihat. Elena mencebikkan bibirnya karena kesal, kemana ayahnya pergi sampai-sampai melupakan jadwal terapinya.


Elena berbaring di ranjang tempat ia di rawat dengan bantuan dua orang suster. Dengan perasaan lelah ia berbaring dan mengambil handphone-nya di dalam nakas sekedar menghilangkan kebosannnya.


Dilihanya dua orang suster tadi masih berada di ruangannya, bahkan sekarang duduk di sebuah sofa dalam ruangannya. Sejenak ia mengabaikan keberadaan kedua suster tersebut, tapi lama-kelamaan ia merasa risih karena terus ditatap oleh kedua suster tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya, Suster sedang apa ya di sini?" tanya Elena yang sudah tidak tahan. Ia meletakkan handphone yang sedari tadi ia otak-atik dan beralih menatap kedua suster yang sedang duduk tak jauh dari ranjangnya.


Kedua suster tersebut tersenyum tipis sambil berkata "Kami diperintahkan untuk menjaga Bu Elena."  jawab salah satu suster tersebut membuat Elena mengernyitkan dahinya.


"Diperintahkan siapa?" tanya Elena lagi.

__ADS_1


"Kami tidak bisa memberi tahu Bu Elena." jawaban dari suster tersebut membuat Elena kesal.


"Saya bisa menjaga diri saya sendiri, sekarang kalian boleh pergi!" ucap Elena, ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu yang sedari tadi tertutup rapat.


"Kami tidak akan pergi Bu."


"Kalau kalian tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi." bentak Elena sambil mengulurkan kakinya menjuntai ke lantai dan siapa menapakkan kakinya.


"Jangan Bu, jangan lakukan itu. Kami di sini hanya menjalankan perintah." ucap kedua suster tersebut dengan panik sambil berlari mendekati Elena.


"Kalau begitu, jawab pertanyaan saya. Siapa yang menyuruh kalian." ancam Elena, ia benar-benar penasaran. Apa mungkin ayahnya yang menyuruh suster tersebut. Tapi ia rasa tidak mungkin, karena ayahnya pasti memberitahunya terlebih dahulu.


"Ta-tapi Bu."


"Katakanlah, saya hanya ingin mengetahui siapa yang menyuruh kalian. Setelahnya saya akan berpura-pura tidak mengetahuinya."


"I-tu Pak Erlangga." ucap salah satu suster tersebut dengan terbata-bata dan keduanya pun menundukkan kepala.


***


Elena menyandarkan tubuhnya sambil berkecamuk dengan segala analisanya. Mengapa Erlang menyuruh suster tersebut menjaganya? Apakah Erlang masih memperhatikannya? Tapi mengapa membatalkan pernikahan mereka. Elena terus dibuat bingung olehnya. Sampai suara ketukan sepatu dari seseorang membuyarkan lamunannya.


"Ayah darimana saja? Apa Ayah melupakan terapiku?"


"Maaf Ayah melupakannya." jawab Theo sambil terus menatap putrinya. Tatapannya penuh dengan penuh arti.


"Ayah kenapa?"


"Apa kamu sangat mencintai Erlang?" tanya Theo basa-basi, padahal ia tahu jika putrinya sangat mencintai laki-laki tersebut.


"Kenapa Ayah tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Jawab Ayah, apa kamu sangat mencintai Erlang?" ulang Theo.


"Seperti yang Ayah lihat, aku sangat mencintai Erlang." ucap Elena dengan jujur.


"Apa kamu mau menikah dengannya?" pertanyaan Theo kembali membuat Elena terkejut, ia tidak paham dengan pertanyaan-pertanyaan yang Ayahnya lontarkan.


"Kenapa lagi-lagi Ayah bertanya seperti itu, seperti yang Ayah tahu juga, Erlang yang tidak mau menikah denganku."

__ADS_1


"Bagaimana jika Erlang mau." ucapan Theo membungkam mulut Elena. Ia tak mampu berkata lagi.


"Tadi Ayah bertemu dengan Erlang dan ia menceritakan semuanya. Ada alasan yang membuatnya membatalkan pernikahan kalian."


"Apa alasan itu Yah?"


"Ayah tidak bisa memberitahunya, Erlang sendiri yang akan memberitahunya, tapi nanti setelah Ayah dan Erlang bisa menyelesaikannya."


"Tapi Yah..."


"Jangan hiraukan itu, Ayah hanya ingin kamu menggapai kebahagianmu Nak."


Elena pun memeluk Ayahnya dan pelukan tersebut dibalas oleh Theo.


"Ayah bersyukur ada laki-laki seperti Erlang yang begitu mencintai putri Ayah." ucap Theo sambil mengelus puncuk kepala putrinya.


Elena hanya tersenyum dalam pelukan mereka sambil membayangkan wajah Erlang. Benar kata ayahnya, laki-laki itu benar-benar mencintainya. Elena kembali mengingat-ingat perjuangan Erlang, sungguh ia benar-benar menjadi perempuan yang beruntung.


***


Elena tak henti-hentinya menatap ke arah pintu sambil menunggu seseorang dari balik benda tersebut. Theo yang melihat tingkah putrinya hanya terkekeh sambil kembali mengarahkan pandangannya ke depan televisi.


Elena kembali mengingat perkataan ayahnya bahwa Erlang akan datang malam ini. Tapi sudah lebih dari sejam ia menunggu tak ada juga bayang Erlang yang ia lihat.


Setelah mulai lelah, Elena pun hendak merebahkan tubuhnya bersamaan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Elena mengurungkan niatnya, dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Timbullah sosok yang sedari tadi Elena tunggu.


"Elle." panggilnya dan langsung menyeret kaki jenjangnya mendekat ke arah Elena. Tanpa ada kata-kata lagi yang Erlang lontarkan, sosok tersebut langsung menghambur memeluk Elena. Membuat yang dipeluk tidak bisa berkata apa-apa.


Theo yang paham aka situasi tersebut langsung beranjak ke luar.  Walaupun ia ayah dari Elena, tapi ia paham bahwa ada hal privasi di antara keduanya.


"Apa kau benar-benar mau melakukannya?" tanya Erlang setelah sejenak menikmati hangatnya pelukan tersebut lalu melepaskannya dan beralih menangkup wajah Elena dan menatap lekat wajah tersebut.


"Apa?" tanya Elena seolah-olah tidak tahu.


"Menikah secara diam-diam."


"Pasti ada alasan yang kuat sampai kamu juga mau melakukannya. Apapun itu aku tidak menuntut kamu untuk memberitahunya. Aku hanya ingin jangan tinggalkan aku apapun keadannya." ucap Elena sambil memegang tangan Erlang yang sedari tadi menangkup wajahnya.


"Itu pasti dan sangat pasti Elle. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu dan akan menjagamu apapun keadaannya."

__ADS_1


__ADS_2