My Chosen Man

My Chosen Man
Kekuatan bucin


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Terimakasih sudah mau bertahan menyukaiku sampai sekarang...


...~Erlang...


***


Mereka pun beranjak meninggalkan rumah Elena dan menuju rumah Erlang. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi sedang mengawasi.


Jadi mereka pacaran, berani sekali Elena mengambil Erlang dari gue. Liat aja, akan gue buat hubungan mereka hancur.


Salsa beranjak menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah Elena menuju caffe Asmara. 


Salsa membuat janji dengan teman segenknya disana. Ia menceritakan tentang apa yang ia lihat. Mereka lalu merencanakan sesuatu agar hubungan Elena dan Erlang hancur.


***


Selama perjalanan tak henti-hentinya Elena tersenyum sambil membayangkan suasana pantai. Ia mengeluarkan kepalanya melihat pemandangan yang sejuk dibandingkan dengan di kota. 


Sejenak ia memejamkan matanya merasakan angin yang berhembus membuat rambutnya terbang kesana-kemari menutupi wajah mungilnya.


Erlang semakin gemas melihat kelakuan Elena. Selama hampir 2 jam lebih, akhirnya merekan sampai di pantai biru. Yang mana pantai itu memikili air yang berwarna biru jika dilihat dari atas menara dekat pantai.


Mereka sedang menyisiri sisi pantai tanpa alas kaki. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. 


Menikmati suasana pantai yang membuat hati merasa nyaman. Susana saat itu cukup dingin, sampai membuat bibir siapa pun menjadi biru.


"Mau mandi?" tanya Erlang sambil mendekat ke arah pantai. Membiarkan kakinya disapu oleh ombak.


"Ngga mau, airnya dingin." Elena menolak sambil menjauhkan diri dari tepi pantai.


"Siapa bilang dingin. Ini panas kok, coba kamu periksa." Erlang mulai mendekati Elena yang semakin menjauhinya.


"Bohong, keliatan dari bibir kamu yang membiru. Itu artinya airnya dingin." Elena hendak lari ketika Erlang mulai mendekatinya. Selangkah dua langkah Elena berlari dengan kaki pendeknya.


Tiba-tiba tubuhnya terasa terangkat, ketika dilihatnya ternyata Erlang yang menggendongnya. Dengan sigap Erlang berlari mendekati pantai. 


Elena memberontak sambil mengayun-ayunkan kakinya, tapi tak dihiraukan oleh Erlang.


Buuusshhhhh


Tubuh Erlang dan Elena diterpa ombak.


"Aaahhhhh." Elena berteriak saat air mengenai tubuhnya. Dengan erat ia mengalungkan tangannya ke leher Erlang yang masih menggendongnya.


"Kamu ngeselin tau enggak" ucap Elena sambil memukul-mukul dada bidang Erlang setelah Erlang membawanya ke tepi pantai.

__ADS_1


Erlang hanya terkekeh melihat Elena yang merapikan rambutnya yang tak terlalu basah.


"Kepantai kurang afdol kalau enggak ngerasain air pantai." Erlang membantu Elena merapikan rambutnya.


Setelah lama bermain di pantai, "Kita kesana yu." ajak Erlang sambil menunjuk ke arah pasar yang ada di dekat pantai setelah lama bermain dengan ombak. Ia lalu beranjak berdiri dengan menggandeng tangan Elena menuju pasar.


"Ngapain?" Elena menyerngit heran karena Erlang membawanya ke pasar.


"Mau beli baju, kamu mau mati kedinginan karena baju basah!" Erlang terus berjalan sambil menggandeng tangan Elena. 


Elena mengangguk dan mengikuti langkah besar Erlang dengan sedikit berlari.


Mereka berjalan menyusuri pasar dengan baju yang masih basah. Elena merasa risih karena banyak orang yang memperhatikannya.


Erlang yang paham akan kerisihan Elena segera menggenggam erat tangan Elena sambil tersenyum ke arah orang-orang yang melihatnya. 


Mereka kembali menyusuri pasar sambil mencari-cari toko baju.


Ketika sedang mencari-cari toko baju, pandangan Elena teralihkan pada sepasang baju couple di pinggir jalan. 


Seketika ia menghentikan langkahnya dan membuat Erlang menoleh ke arahnya.


"Ada apa Elle, kok berhenti?"


"Aku mau itu." Elena menunjuk baju couple yang dijual dinggir jalan dengan memasang wajah lucu. Ia memanyunkan bibirnya sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Erlang mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil memejamlan mata. 


"Yang itu." tunjuk Elena pada baju couple berwarna biru lengan pendek dengan ala-ala pantai bertuliskan You and Me jika digabungkan. 


Mereka juga membeli celana santai untuk wanita dan pria. Setelah membeli baju mereka mencari toilet untuk berganti pakaian.


Erlang mengutuk dirinya sendiri karena telah mengata-ngatai Arvel bucin dan alay ketika memakai barang couple. 


Sekarang malah dirinya lah yang alay. Elena terkekeh ketika melihat ekspresi Erlang yang cemberut saat keluar dari toilet membuat Erlang semakin kesal.


"Kamu tetap ganteng kok Bie." 


Elena menepuk-nepuk dada bidang Erlang sambil menunduk menahan tawa. Kesal Erlang seakan mereda ketika Elena memujinya, tanpa tahu Elena sedang menertawakannya. 


Mereka pun akhirnya pergi mencari tempat makan karena hari sudah siang.


Sekarang mereka berada disebuah restoran dekat pantai. Suasananya begitu nyaman, mereka memilih restoran terbuka dengan nuansa putih yang mengarah ke arah pantai.


Sambil menunggu pesanan datang mereka menikmati suasana yang jarang dirasakan jika berada di kota. 


Elena memejamkan matanya merasakan dinginnya suasana pantai. Tak lama ia sadar jika Erlang terus memandangnya.

__ADS_1


"Kamu kok liatin aku terus, ada yang salah ya sama penampilan aku?" tanya Elena pada  Erlang yang sedang duduk diseberangnya sambil bersandar pada kursi. 


Sambil melipat tangannya di atas dada dan membiarkan rambutnya diterpa oleh angin pantai membuat Elena terpesona dan takjub dalam sesaat.


Erlang merubah posisinya, ditariknya tangan Elena dan digenggamnnya. " Terimakasih sudah mau bertahan menyukaiku sampai sekarang." Pernyataan Erlang membuat Elena tertegun.


"Aku yang seharusnya berterimakasih, karena kamu sudah mau menerimaku." Elena menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. 


Matanya terlihat berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Orang yang beberapa tahun ini ia kejar, akhirnya mau berbalik melihatnya.


Suasana romantis itu berakhir ketika seorang pelayan datang dan menaruh beberapa menu makanan. Mereka makan dengan sesekali Elena melontarkan kisah-kisah lucu. Mereka tertawa dengan hal-hal kecil.


Tak terasa hari semakin sore, sudah terlalu lama mereka menghabiskan waktu bersama.


Sebenarnya Elena ingin melihat matahari terbenam, namun mengingat perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh akhirnya Elena memutuskan untuk segera pulang. 


Erlang pun mengiyakan dan mereka beranjak meninggalkan pantai.


Selama perjalanan Elena hanya tertidur karena kelelahan. Sesampai di depan rumah, barulah Erlang membangunkan Elena.


"Maaf aku ketiduran Bie, kamu pasti tadi suntuk kan enggak ada teman ngobrol. Maafin aku ya."


"Iya enggak apa-apa, udah sana cepet ke kamar terus lanjutin tidurnya. 


"Tunggu, aku mau lihat foto tadi."


"Udah nggak ngantuk?" tanya Erlang yang dibalas anggukan.


"Mau hapus fotonya kalau aku jelek."


"Bukannya emang jelek."


"Aku ngembek nih,"


"Nggak akan aku larang,"


"Ihhhhh," Elena melipat tangan didada sambil terus menatap tajam.


Erlang terkekeh "Iya-iya,"


Erlang mengambil handphone disaku kemejanya dan memberikan handphone tersebut ke tangan Elena yang sedang mengadah.


Terlihat kerutan diwajah Erlang saat Elena tak bergeming dan terus menatap layar yang entah menunjukkan apa.


"Elle!"


"Sayang,"

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?"


Elena mengadah, wajahnya pucat bahkan bulir siap menetes dimata mungilnya


__ADS_2