
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Terkadang menangis menjadi salah satu cara untuk melampiaskan kekecewaan....
***
Kamu kok jahat sama aku Bie.
Kembali dilihatnya foto tersebut. Foto di mana Erlang berpelukan dengan Salsa. Air matanya kembali meluncur dengan deras. Sesak, seakan nafasnya diambil paksa.
"Kalau nggak ada hubungan terus ini apa, Bie?" Elena kembali terisak. Suaranya tercekat, seperti ada tali tak kasat mata yang sedang meilit.
"Mengapa kamu jahat Bie, apa kamu sudah bosan denganku? atau rasamu terlalu kecil untukku?" Berulang kali Elena menghubungi nomor Erlang, namun nihil. Ia menepuk-nepuk dada, oksigen didalam kamar seakan habis.
"Hati aku sakit, Bie," Elena menangis sambil menutup mulut, takut jika sang ayah mendengar.
Hiks hiks hiks, tangisan yang tertahan.
"Apa kamu masih sama Salsa, Bie?" kembali menghubungi Erlang namun hasilnya tetap sama. Tak ada sambungan diseberang sana.
Ingin sekali Elena pergi menemui Erlang, namun ia tidak tahu dimana sekarang Erlang berada. Sudah hampir jam 02.00 Elena masih terjaga. Ia terus memikirkan tentang Erlang, tak henti-hentinya ia menangis.
***
Alarm sudah beberapa kali berbunyi namun Elena masih setia memejamkan mata. Kelopak matanya terlihat sedikit bergerak saat cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah ventelasi dan jatuh tepat di wajah mungilnya.
Dengan perlahan ia membuka matanya yang sembab karena hampir semalaman ia menangis.
Terkadang menangis menjadi salah satu cara untuk melampiaskan kekecewaan.
Ia terkejut saat melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan jam 09.32.
Dengan segera ia menyeret kakinya keluar kamar untuk memastikan jika ayahnya belum berangkat. Kesana-kemari Elena melangkahkan kakinya yang mungil untuk mencari sosok ayahnya.
Ditiliknya setiap ruang yang ada dirumah, namun tak ditemuinya sosok tersebut.
Dengan perasaan kecewa ia bergegas masuk ke kamarnya dan mengambil handphone. Diketiknya nomor bertuliskan Ayah Kesayangan.
Tut tut tut
Tak lama terdengan suara dari seberang sana
Hallo Ayah
Ayah di mana, apa ayah sudah berangkat, mengapa ayah tidak membangunkanku?
Elena melontarkan beberapa pertanyaan membuat sang ayah kewalahan untuk menjawab.
Ayah sudah di bandara, sebentar lagi mau berangkat. Ayah tidak tega jika membangunkan putri kesayangan ayah yang sedang tidur dengan nyenyak.
Maafin Elena ya Yah, tidak bisa mengantar Ayah ke bandara
Tidak apa-apa Nak, kamu jaga diri baik-baik ya. Ayah selalau menyayangimu
Hmmmm, Ayah juga
***
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan dari tangan mungil Elena. Ia sekarang sudah di depan pintu rumah Erlang. Rasa penasaran membuatnya harus segera memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Eh non Elena, masuk non kebetulan lagi rame juga di ruang tamu." ucap bi Sumi
"I-iya bi."
Lagi rame, emang ada siapa di ruang tamu
Dengan penasaran Elena melangkahkan kaki ke arah ruang tamu, diikuti bi Sumi yang menuju ke arah dapur.
Langkahnya terhenti saat melihat teman-teman Erlang di ruang tamu.
Dengan cepat ia membalikkan badan berharap tidak ada yang melihatnya. Baru hendak melangkah keluar, tiba-tiba pembicaraan teman Erlang membuatnya berhenti.
"Eh Lang, dari berita yang gue dengar loe pacaran ya sama Elena si gadis pendek di sekolah kita. Katanya ada yang pernah liat lo sama Elena jalan?" ucap teman Erlang yang bernama Aldo.
"Ya enggak mungkinlah seorang Erlangga yang tampan, tinggi dan digilai banyak cewe pacaran sama Elena." sahut yang lainnya.
Anggota Avaregal sedang kumpul, tidak semua karena Elena lihat tak ada Guntur dan Aries.
“Cupu, culun lagi.”
“Tapi Lele cantik woy!” Eros menyahut.
“Cantik juga Salasa kemana-mana. Ya nggak Lang?” Aldo kembali menyela
“Kalau Salsa, beh bohay Bro.”
“Yang penting hatinya.” Arvel bersuara.
Elena menengok ke arah ruang tamu dari kejauhan. Ia melihat Erlang hanya diam tak menanggapi perkataan teman-temannya yang sedang mengejek-ngejek Elena.
Hanya Eros dan Arvel yang membela sedang Erlang hanya diam.
Mengapa kamu hanya diam Bie, mengapa kamu tidak mengaku bahwa aku memang pacarmu. Apa arti aku bagimu Bie?
Elena keluar rumah Erlang dengan mengendap-endap sambil menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara karena ia sedang menangis.
Dadanya terasa sesak, seakan nafasnya pun tersendat. ia menyeret kakinya ke arah jalan raya.
Tak ada sedikit pun niatan untuk memesan taxi.
Lama ia berjalan, tujuannya saat ini bukan pulang kerumah melainkan ke arah pemakaman. Ia berhenti di bawah batu nisan bertuliskan Ratna Arumi.
"Ma, Elena kangen. Elena kangen kasih sayang mama. Elena kangen masa-masa sama Mama,"
"Mah, apa Mama tau? Elena lagi suka sama seseorang. Dia cinta pertama Elena, Elena sangat menyayanginya Ma,"
"Tapi mengapa dia jahat sama Elena Ma. Apa salah Elena? Apa kejahatan yang Elena perbuat dimasa lalu?"
"Apa mencintai adalah kesalahan?"
"Apa Elena tidak pantas mencintai? Hiks, tapi Elena tulus, Ma,"
"Apa ketulusan selalu dibalas dengan pengkhianatan?"
"Apa yang harus Elen perbuat, Ma?"
"Jawab Elena, Ma,"
__ADS_1
Elena menangis sambil memeluk batu nisan orang yang telah melahirkannya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, seakan ikut bersedih bersama Elena.
***
"Loh kok sudah sepi Tuan Muda, sudah pada pulang ya?" tanya bi Sumi sambil membawa secangkir minuman. Terlihat Erlang sedang memijit kepalanya. Semalaman mereka begadang.
"Iya bi sudah pada pulang, itu minuman buat siapa bi?" Erlang yang heran melihat bi Sumi membawa secangkir minuman. Karena bi Sumi sudah membuat minuman untuk teman-temannya tadi.
"Ini buat non Elena Tuan Muda."
"Elena? Erlang enggak liat Elena dari tadi bi?"
"Tadi non Elena ke sini Tuan. Pas bibi mau buat minuman, tiba-tiba bibi lupa lagi menyetrika baju. Jadi bibi naik ke atas dulu lanjutin gosok baju sebentar baru buat minuman. Tiba-tiba non Elena sudah enggak ada." jelas bi Sumi
Kalau Elena tadi ke sini berarti dia denger perkataan Aldo tadi, mampus gue.
Dengan cepat Erlang lari menuju kamarnya dan mengambil handphone di atas meja yang sedang kehabisan daya.
Bagitu banyak pesan hingga panggilan tak terjawab dari Elena setelah ia menghidupkan benda tersebut.
Segera dicarinya nomor Elena yang bertuliskan Elle. Berulang kali ia menelpon namun tak kunjung ada jawaban.
"Salsa!" teriak Erlang dengan kencang sampai urat-uratnya mengencang. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras saat melihat pesan dari Elena.
"Berani-beraninya loe menjebak gue. Hhhh, tunggu pembelasan dari gue. Jangan salahkan gue jika loe hancur di tangan gue".
Dengan segera Erlang mengambil jaket dan kunci mobil. Sesampai di rumah Elena, ia memencet bel berulang-ulang namun tak ada tanda-tanda bahwa ada orang di rumah.
"Elle kamu di mana sih, aku mau jelasin semuanya. Ku mohon angkat sekali saja." Erlang berusaha menelpon Elena, namun tak sekali pun panggilannya dijawab.
Dengan perasaan gusar, Erlang menyusuri jalan mencari sosok Elena.
Hujan deras tak menghalangi niatnya. Ia ingin segera bertemu Elena dan menjelaskan semuanya. Tak hentinya juga ia menghubungi Elena.
Hallo terdengar suara dari seberang sana.
Elle akhirnya kamu angkat telpon aku juga. Aku khawatir sama kamu, kamu dimana? biar aku jemput. Ada yang mau aku jelasin sama kamu.
Kamu enggak perlu tau aku di mana, aku baik-baik aja kok. Ada yang mau aku omongin sama kamu. Mungkin hubungan kita cukup sampai disini. Aku enggak mau jika kamu merasa enggak nyaman sama hubungan ini tersengar suara isakan dari seberang sana.
Elle, kamu mgomong apa sih. Aku sayang sama kamu. Sekarang beritahu aku, kamu lagi di mana biar aku jemput.
Apa gunanya rasa sayang, jika gengsi lebih besar dari rasa kamu ke aku.
Maksud kamu apa, Elle?
Aku juga udah tau kok, hubungan kamu sala Salsa
Elle, kamu...
Tuuttt
Tiba-tiba telepon diputus secara sepihak.
"Aakkkhhhhh." Erlang mengacak-acak rambutnya. Sejenak ia menyandarkan kepala di gagang kemudi.
***
"Bagus, rancana kita berhasil. Sekarang pasti hubungan mereka sudah berakhir. Hahaha." terdengar suara gelak tawa disebuah ruangan.
__ADS_1
"Makasih ya."