
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Bahkan hanya dengan mendengar namanya membuat hatiku tak karuan...
...~Elena...
***
Hallo Mas.
Hallo Sayang, ada apa?
Aku sudah persiapkan semua keperluan untuk meeting Mas.
Hmmm, makasih Sayang.
Mas baru bangun ya.
Hmmm, aku kelelahan karena tadi malam harus lembur.
Mas kebiasaan kalau kerja suka lupa waktu. Kalau begitu aku berangkat pakai mobil sendiri saja.
Jangan Sayang, aku siap-siap sekarang. Kamu tunggu aku ya.
Tidak perlu Mas, aku bisa berangkat sendiri. Kalau harus menunggu Mas nanti aku bisa telat.
Tidak enak dilihat pegawai lain kalau aku telat. Sudah ya Mas, aku siap-siap mau berangkat. Sampai jumpa di kantor.
Elena memutuskan sambungan telepon dan bergegas mencari kunci mobilnya.
"Dimana aku menaruh kunci mobilku. Kenapa di saat diperlukan selalu saja tidak ada." Elena mencari di setiap sudut kamarnya.
"Karena jarang digunakan aku jadi tidak ingat dimana menaruh kunciku."
Kamu sudah berangkat?
Belum Mas. Aku tidak dapat menemukan kunci mobil, karena jarang digunakan aku jadi lupa menaruhnya di mana.
Baiklah sebentar lagi aku berangkat, tunggu aku.
Tidak Mas, aku naik taksi saja.
Tunggu aku sebentar lagi
Bima menutup telepon secara sepihak. Mau tidak mau Elena menuruti perkataan Bima. Ia duduk di teras sambil menunggu jemputan.
Angin sepoi-sepoi seakan menenangkan. Lama ia tak merasakan suasana seperti ini.
Mobil Bima tiba di depan rumah Elena. Dengan cepat Elena menghampiri mobil tersebut dan segera membuka pintu mobil.
"Ayo Mas nanti kita telat." ucapnya sambil memasang sabuk pengaman dengan sedikit tergesa.
"Kamu kenapa sih Sayang? kita meetingnya 2 jam lagi." Bima terkekeh melihat kelakuan Elena.
"Bukan masalah meetingnya Mas. Tapi aku tidak enak dilihat pegawai lain. Masa aku datangnya telat, berarti aku tidak profesional dong."
Bima hanya mendengarkan ocehan Elena yang terus menggerutu. Dengan gesit Bima memutar kemudi dan beranjak menuju kantor.
__ADS_1
Dilihatnya jam sudah menunjukkan ke angka sembilan.
Tangan mungilnya dengan cepat membereskan berkas-berkas yang harus dibawa untuk meeting.
Diketuknya ruangan Chief Executive Officer sekaligus kekasihnya itu. Lalu dibukanya perlahan sampai menunjukkan seorang laki-laki yang sedang fokus dengan layar tabletnya.
Dengan perlahan ia mendekati laki-laki tersebut karena takut akan mengganggu konsentrasinya. Ia duduk sambil meletakkan berkas ke atas meja.
"Berapa lama lagi meetingnya akan di mulai." ucap Bima sambil meletakkan tabletnya dan beralih menatap Elena yang sedang duduk di sofa.
Sejenak menengok jam yang melingkar di tangan kirinya. "Sekitar 30 menit lagi Pak."
"Apa semua berkas sudah siap."
"Sudah Pak." ucap Elena dengan tegas.
"Saya suka cara kerja kamu." ucap Bima sambil menunjukkan senyumnya ke arah Elena dan berjalan mendekati Elena.
"Kita berangkat sekarang."
"Sekarang Pak?"
"Iya, di luar pasti macet dan itu akan menguras waktu. Jadi kita berangkat lebih awal." jelas Bima dan diangguki oleh Elena. Ia mengambil berkas dan segera menyusul Bima yang sudah berjalan mendahuluinya.
Mobil sudah di parkirkan dengan rapi di halaman caffe. Sabuk pengaman pun sudah terlepas dari tubuh keduanya.
I found a love for me
Darling, justdliveright in
And follomylead
I never knew you were the some one waiting for me
Dering handphone Bima menghentikan pergerakan keduanya. Bima mengambil handphonenya yang ia letakkan di dashboard tadi.
Hallo Anggi, ada apa?
Hallo maaf mengganggu, kami dari pihak Rumah Sakit Anugerah ingin memberitahu bahwa pemilik handphone mengalami kecelakaan. Kami tidak dapat mengetahui identitas pasien karena tidak ada informasi apapaun yang dapat kami temukan dan anda adalah orang yang terakhir kali berinteraksi dengan pasien. Apakah anda mengenalinya Pak?
Iya, saya sangat mengenalnya. Dia adik saya, kirimkan alamat lengkapnya sekarang.
Baik Pak
"Ada apa Mas? apa ada hal buruk yang terjadi? kamu kelihatan sangat cemas." Elena mendekat dan memegang bahu Bima terlihat sorot mata cemas dari matanya.
"Anggi kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit Anugerah. Kita harus ke sana sekarang." Bima memasang kembali sabuk pengamannya namun ditahan oleh Elena.
"Mas, kamu kan ada meeting hari ini. Dan sebentar lagi meetingnya mau dimulai, kita pun sudah sampai di tempatnya."
"Tapi Anggi sedang tidak baik-baik saja Sayang."
"Biar aku yang ke rumah sakit, kamu selesaikan dulu meetingnya. Nanti kalau sudah selesai baru kamu ke rumah sakit."
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bima. Ia hanya fokus menatap Elena. Sampai yang ditatap menjadi salah tingkah.
"Mas." ucapan Elena membuat Bima tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Terima kasih." ucapnya sambil mendekat membuat Elena memkan matanya.
Cupp,
Bima mencium sekilas kening Elena.
"Sama-sama Mas."
"Kamu pakai mobil aku, nanti aku nyusul naik taksi. Hati-hati Sayang." Kemudian Bima keluar dari mobil dan beranjak masuk ke dalam caffe.
Setelah sosok Bima hilang dari pandangannya, Elena beranjak berganti posisi ke kursi kemudi.
Namun padangannya teralihkan saat melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal sedang turun dari mobil. Laki-laki tersebut memakai kemeja berwarna Navy sambil membawa beberapa map besar.
Ketampanannya masih sama saat terakhir kali Elena melihatnya. Bahkan sekarang laki-laki tersebut terlihat lebih berwibawa.
"Erlang." ucap Elena seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia memegang erat kemudi. Mata cokelatnya masih fokus melihat objek di depannya.
"Apa benar itu Erlang." Elena menyipitkan matanya, berusaha melihat sosok tersebut dengan jelas. Namun sosok tersebut sudah masuk ke dalam caffe.
Elena terkejut saat getar handphone menyadarkan lamunanya.
Rumah sakit Augerah, Jl. perdamaian, kamar nomor 201 di lantai 3.
Dengan segera ia melajukan mobil menuju rumah sakit saat dapat pesan dari Bima.
***
Karena sudah tahu ruangan Anggi, Elena langsung melangkahkan kakinya menaiki lift dan menuju ruangan bernomorkan 201.
Dibukanya pintu secara perlahan. Nampak seorang perawat sedang memeriksa kondisi Anggi. Elena diam sejenak karena tidak ingin mengganggu fokus perawat tersebut.
"Bagaimana keadaannya Sus?" tanya Elena saat melihat perawat tersebut sudah selesai mencatat sesuatu di bukunya.
"Hanya sedikit luka ringan di bagian kepala dan sebentar lagi akan segera siuman."
"Terima kasih Sus."
"Sama-sama, saya permisi dulu Mba." ucap perawat tersebut dibalas anggukan oleh Elena.
Sambil menunggi Anggi siuman, Elena memberitahukan kepada Bima melalui chat bahwa Anggi baik-baik saja hanya terdapat luka kecil di bagian kepala.
Dipandangnya wajah Anggi yang masih terpejam. Entah sudah berapa lama Elena dalam posisi tersebut.
Tiba-tiba dilihatnya mulut Anggi seakan sedang berbicara namun suaranya tersekat sehingga Elena tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang Anggi katakan.
"Anggi." panggil Elena sambil menyentuh pelan lengan Anggi.
"Sepertinya Anggi mengigau." tebaknya
Mulut Anggi terus mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar Elena.
Elena bangun dari duduknya dan memposisikan tubuhnya agar bisa lebih dekat lagi dengan Anggi.
Deg
Jantung Elena seakan terpacu lebih cepat saat mendengar perkataan Anggi. Ia menjauhkan tubuhnya langsung terduduk di samping sisi ranjang Anggi.
__ADS_1
"Erlang."
Bahkan hanya dengan mendengar namanya membuat hatiku tak karuan