
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N....
...Kadang ada sesuatu milik orang yang tidak bisa kita dapatkan tapi ingat, kadang kita juga punya sesuatu yang tidak bisa orang lain dapatkan...
...~Elena...
***
Sesampai di rumah citra Elena disuguhkan dengan rumah bernuansa modern dengan warna seperti krystal pada tiang yang menjulang tinggi di depan rumah tersebut.
Sudah dipastikan jika suami Citra pasti orang kaya.
Elena mengikuti mobil Citra dan memakirkan mobilnya di sebuah bagasi yang besar cukup untuk menampung 10 mobil jika diperkirakan.
Ada sekitar 3 orang pembantu di rumah tersebut yang tak tau apa pekerjaan masing-masing dari mereka, karena yang Elena tahu tugas memasak dilakukan oleh Citra sendiri.
Wanita itu ingin jika suaminya memakan masakan darinya.
"Kamu mau makan apa?" ucap Citra yang sudah lengkap dengan pakaian memasaknya.
"Terserah Mba aja, aku ngikut."
"Bagaimana dengan capcai bihun?" ucapnya ketika melihat-lihat bahan yang telah mereka beli tadi.
"Ide yang bagus." ucap Elena dengan spontan.
Mereka mulai berkutat dengan alat-alat memasak. Elena bertugas merendam bihun dengan air panas sedangkan Citra mulai memotong satu persatu sayur menjadi potongan kecil.
Sambil menunggu Citra mencuci sayuran, Elena mengambil wajan dan mulai menumis bawang putih serta bawang bombay cincang sampai wanginya menyeruak seisi dapur.
"Ternyata kamu pintar memasak juga ya." ucap Citra saat melihat Elena yang begitu mahir memasukkan satu demi satu bahan ke dalam wajan.
"Iya Mba hehe." ucap Elena sambil tersenyum simpul.
"Tadi niatnya kamu yang mencoba masakan aku, kalau ini jadinya aku yang nyoba masakan kamu." ucap Citra sambil tertawa cekikikan lalu disusul oleh tawa Elena.
Mereka menumis bahan menjadi satu sampai benar-benar menggugah selera. Membuat irama di dalam perut yang memang sudah kelihatan lapar.
Hallo Mas ucap Elena sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar meninggalkan Citra yang sedang sibuk menata makanan yang telah mereka masak.
Kamu di mana Sayang?
Aku di rumah teman Mas, kenapa?
__ADS_1
Teman yang mana? tanya Bima, bukannya menjawab pertanyaan tapi laki-laki tersebut malah balik bertanya.
Itu perempuan hamil yang aku tolong waktu itu, Mas ingatkan? aku pernah cerita sewaktu Mas ke rumah aku malam itu.
Sampai kapan kamu di sana? apa perlu aku jemput?
Tidak perlu Mas, aku bawa mobil sendiri. Kenapa Mas menelponku? apa ada sesuatu yang penting?
Tidak ada, aku hanya ingin mendengar suaramu
Mas mulai lagi, sudah ya Mas aku tutup. Tidak enak ditunggu temanku
Iya, baiklah
"Pacar kamu ya." tanya Citra yang sudah duduk di meja makan namun belum menyentuh makanan yang ada di depannya.
"Iya Mba." Elena tersipu malu.
"Ada apa? apa ada masalah jadi pacar pacar kamu menelpon?" sambil menyajikan makanan ke atas piring lalu meletakkannya ke depan Elena.
"Tidak Mba, hanya sekedar menanyakan kabar saja."
"Beruntung ya jadi kamu, baru pacaran saja dia sudah sekhawatir itu. Aku jadi iri."
"Jangan begitu Mba, kadang ada sesuatu milik orang yang tidak bisa kita dapatkan tapi ingat, kadang kita juga punya sesuatu yang tidak bisa orang lain dapatkan."
"Kamu selalu bisa membuat aku terdiam dengan kata-kata yang kamu ucapkan."
Satu suapan mendarat di mulut Elena. Dengan perlahan ia mengunyah makanan hasil masakannya dengan Citra.
Terpintas sebuah pertanyaan yang sedari tadi ia pendam.
"Suami Mba mana, dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Elena sambil melihat-lihat ke arah ruang tamu mungkin ada di sana pikirnya.
"Suamiku sering sibuk, dia ada di rumah hanya di waktu malam saja." terlihat raut wajah yang memancarkan kesedihan dibalik senyum yang ia berikan.
Elena hanya mengangguk tidak memberikan respon apa-apa. Ia tidak ingin menyakiti hati perempuan yang ada di depannya ini dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan lagi.
Mereka membereskan sisa-sisa makanan yang tidak habis dan menaruh piring-piring kotor di wastafel, karena sisanya akan dilanjutkan oleh pembantu di rumah tersebut.
"Mba, bisa numpang ke toilet?" ucap Elena yang sedari tadi sudah menahan sesuatu di bawah sana.
"Bisa, tapi toilet yang buat tamu airnya sedang macet. Jadi kamu pakai toilet yang ada di kamarku aja. Kamarnya ada di atas yang nomor 2 setelah kamu naik tangga." sambil memperagakan arah dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Dinaikinya anak tangga satu persatu dengan langkah yang cepat. Sesuai arahan Citra, Segera dibukanya pintu kamar tersebut.
Belum sempat mengamati apa isi dari kamar yang ia datangi karena ada panggilan darurat yang tak bisa ia tahan.
"Ahhh lega." ucap Elena sambil berjalan dan mulai mengamati setiap detail kamar tersebut. Cukup luas, tidak, ini sangat luas pikirnya.
Kamar yang dipenuhi perabotan mahal dengan sebuah sofa dan televisi besar sangat cocok untuk suami istri yang ingin bersantai.
Diperhatikannya foto seorang laki-laki yang ia kenal bahkan sangat ia kenal mengenakan baju jas berwarna hitam bersanding dengan Citra yang memakai gaun pengantin berwarna putih.
Tubuh Elena melemah merosot sampai tergeletak di atas lantai.
Air matanya langsung mengalir membentuk anakan sungai di sekitar pipi mungilnya. Dadanya sesak, berulang kali ia menepuk-nepuk sampai tangannya juga ikut melemah.
"Ternyata suami Mba Citra..." ia menutup mulut dengan tangannya. Mengucap saja ia seakan tidak mampu.
"Aku harus pulang sekarang."
Dibasuhnya wajah yang sudah memerah karena tangis itu, lalu beranjak menuruni tangga. Tak lupa ia berpamitan dengan Citra dengan alasan sedang sakit perut dan ingin cepat-cepat pulang.
"Apa perlu aku antar?" ucap Citra menawarkan bantuan.
"Tidak perlu Mba, sudah biasa kalau datang bulan memang sering sakit seperti ini, bawaannya ingin tiduran."
Elena pun beranjak melajukan mobilnya sambil air mata yang terus saja mengalir dibalik pelupuknya.
Sesampai di halaman rumah, Elena tidak langsung turun dari mobil. Pandangannya teralih pada mobil hitam yang sedang terparkir tak jauh dari rumahnya.
Sudah beberapa hari ia tak melihat mobil tersebut dan sekarang didapatinya lagi mobil yang selalu mengawasinya. Entah siapa sosok di balik mobil tersebut.
Elena tak mau gegabah kali ini, disapunya air mata yang mulai mengering. Kali ini ia harus berdrama seakan-akan tak menghiraukan keadaan sosok tersebut.
Dengan cepat Elena berlari sekuat mungkin menghampiri mobil hitam tersebut.
Sebelum mobil sang pengemudi menanjak gas, Elena sudah terlebih dahulu menghalangi dengan tangan yang ia rentangkan seakan tak membiarkan mobil tersebut lolos kali ini.
"Keluar kamu." ucapnya dengan napas yang terputus-putus.
"Siapa pun kamu yang sedang berada di dalam mobil, cepat keluar." sambungnya lagi, Elena meluapkan semua emosi yang sedari tadi ia tahan.
Sosok di balik mobil tersebut sejenak tak bergeming dari posisinya. Elena tak mampu melihat karena kaca mobil tersebut sengaja di desain sehingga orang luar tak mampu melihat keadaan orang di dalam.
Perlahan-lahan pintu mobil mulai terbuka menimbulkan sosok laki-laki yang sangat Elena kenal.
__ADS_1