My Chosen Man

My Chosen Man
Reunian bonus kebenaran


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Kenapa di saat aku mulai mencoba membuka hati lagi, kebenaran malah terungkap. Kebenaran yang membuatku semakin tidak bisa melupakan masa lalu...


...~Elena...


***


"Akhirnya aku menemukanmu Elle." Erlang langsung memeluk Elena. Ia benar-benar merindukan sosok tersebut. 


Dipeluknya dengan erat seakan takut jika sosok di depannya akan pergi lagi.


Elena tak mampu berkata-kata, nyatanya ia juga merindukan sosok yang sedang memeluknya.


"Akhirnya kamu kembali Elle. Aku menunggumu selama 5 tahun, dan aku yakin jika suatu saat kamu pasti kembali. Ternyata penantianku tidak sia-sia. Aku benar-benar merindukanmu Elle." 


Erlang melepaskan pelukannya. Ditatapnya wanita yang selama ini ia tunggu. 


Matanya nampak berkaca-kaca bahkan air matanya ada yang sudah menetes terlihat dari sudut matanya yang sudah sembab.


Apa benar Erlang merindukanku atau ini hanya sekedar kata-kata manis karena ia merasa bersalah telah memanfaatkanku.


"Kamu baik-baik saja kan? sejak kapan kamu ada di Jakarta? di mana kamu tinggal sekarang? " Erlang tak henti-hentinya bertanya.


"Bagaimana aku bisa menjawabnya jika kamu terus saja mengoceh dan memberiku begitu banyak pertanyaan."


"Oh maafkan aku. Aku hanya terlalu merindukanmu. Bisakan kita berbicara sambil meminum kopi?"


Elena sejenak berpikir, di satu sisi ia juga merindukan Erlang namun di sisi lain ia juga takut jika tidak bisa menormalkan perasaannya.


"Baiklah." ucap Elena dilihatnya raut wajah Erlang menampilkan senyuman di sana. Senyuman yang juga ia rindukan.


Ini tidak salahkan? anggap saja sebagai reunian sesama teman sekolah. Elena terus membenarkan tindakannya.


***


"Maaf jika menunggu terlalu lama, Ka Erlangnya mana Sil?" tanya teman Sisil sambil melihat sekitar. 


Napasnya tersengal-sengal karena ia langsung berlari menuju caffe setelah turun dari mobil.


"Maaf ya Anggi, Ka Erlang sudah pergi. Katanya ada hal yang mendesak." Sisil merasa bersalah karena tidak bisa menahan Erlang.

__ADS_1


"Yang benar saja, berarti aku terlambat ya?" kekecewaan terpancar dari wajah Anggi. 


Anggi terlihat kecewa, namun ia juga tidak bisa menyalahkan Sisil, justru Sisil sudah banyak membantunya untuk dekat dengan Erlang.


"Maaf ya Anggi."


"Kenapa begitu sulit, apa aku terlihat sangat buruk?" Anggi menatap Sisil seakan minta jawaban.


"Tidak Anggi, kamu itu istimewa. Bersabarlah sebentar lagi. Lain kali aku atur lagi." ucap Sisil sambil memegang tangan Anggi.


"Kamu serius Sil? kamu tidak sedang bercanda kan?" senyum merekah di wajah lelah Anggi.


"Hmmm, apa yang tidak buat sahabat aku." Sisil memperlihatkan senyumannya seakan menguatkan Anggi.


"Makasih ya Sil, kamu sudah banyak bantu aku." Anggi membalas genggaman tangan Sisil sambil memberikan senyuman yang tak terkira.


"Sama-sama Anggi, bagaimana kalau kita shopping biar mood kamu balik lagi." tawar Sisil, karena ia tahu temannya ini sangat suka jika diajak berbelanja.


"Ide yang tidak buruk, ayo!" Anggi berdiri dari posisinya dan menggandeng tangan Sisil menuju tempat Favoritnya.


Sisil dan Anggi memang sudah merencanakan semuanya. Mereka merencanakan seolah-olah pertemuan tersebut adalah kebetulan. 


***


Suasana hening ketika keduanya sedang duduk di sebuah caffe. Erlang memandang Elena yang sedang duduk di depannya. Ia terlalu bahagia sampai tidak tahu harus mengawal dari mana.


"Aku tidak tau harus memulai dari mana, tapi aku mau menjelaskan sesuatu Elle."


Elena tak memberikan respon apa-apa, ia hanya menatap mata Erlang yang juga sedang serius menatapnya.


"Kamu selama ini salah paham Elle, aku dan Salsa tidak ada hubungan apa-apa"


Erlang berhenti sejenak untuk mengambil napas.


"Foto yang kamu lihat waktu itu adalah hasil konspirasi dari Salsa dan Aldo. Mereka memang sudah merencanakan semuanya buat memisahkan kita Elle. Kamu percaya kan sama aku?"


"Tapi, kata Salsa soal fasilitas...?" Elena tidak meneruskan kalimatnya.


"Iya memang aku manfaatin kamu jadi guru les biar aku bisa dekat sama kamu. Aku sebenarnya suka sama kamu Elle, tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakannya. Ketika ada kesempatan datang buat dekat sama kamu, apa salah jika aku memanfaatkan kesempatan tersebut?"


Elena tetap tidak bergeming, mulutnya tertutup rapat. Bahkan jus jeruk di atas meja pun tak tersentuh sedikitpun.

__ADS_1


"Aku minta maaf jika caraku salah Elle." Erlang menarik tangan Elena agar tangan tersebut bisa dengan mudah digapainya. Ditangkupnya dan diletakkannya tangan tersebut  diatas dada.


"Tidak apa." sebuah senyuman mengiringi perkataan Elena.


"Jadi kamu sudah memaafkanku?" sebuah senyuman juga terlukis di raut wajah Erlang.


"Erlang, aku sudah memaafkanmu tapi bukan berarti aku bisa melupakannya." ditariknya kembali tangan yang sedari tadi berada di dekapan Erlang.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu bisa kembali seperti dulu lagi. Dan kita akan memulai semua dari awal."


"Maaf Erlang tapi aku tidak bisa jika harus memulainya lagi." mata Elena mulai berkaca-kaca. 


Suaranya mulai memberat namun sebisa mungkin ia tahan.


"Kenapa Elle? apa kamu takut jika aku akan melakukan kesalahan lagi? percayalah Elle aku akan berusaha lebih baik lagi."


"Aku sudah mempunyai seseorang di sisiku. Aku tidak bisa jika kembali bersamamu Erlang."


"Kamu sedang bercanda kan Elle? aku di sini hampir selama 5 tahun menunggumu kembali dan berharap bisa memulainya lagi. Tapi kamu dengan mudahnya mengatakan bahwa kamu sudah punya seseorang di sisimu." perkataan Erlang tersendat seakan ada yang menghantam dadanya, sangat sesak dirasanya, air matanya mulai mengalir.


"Apa kamu tau rasanya seperti apa Elle?" Erlang menatap Elena dengan raut wajah yang kecewa.


"Maafkan aku." hanya itu yang mampu keluar dari mulut Elena, nyatanya dadanya juga terasa sesak saat melihat Erlang menangis.


Elena lari meninggalkan Erlang dan keluar dari caffe. Sayup-sayup didengarnya teriakan Erlang yang sedang memanggilnya. 


Tak terasa air matanya jatuh begitu deras. Ia tak dapat lagi menahannya, dadanya terlalu sesak. Ia menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Kenapa di saat aku mulai mencoba membuka hati lagi, kebenaran malah terungkap. Kebenaran yang membuatku semakin tidak bisa melupakan masa lalu.


Ia masuk ke dalam mobil dan menelungkupkan wajahnya lutut dengan sebagai penumpu. Bahunya bergetar menandakan ia sedang menangis di dalam sana.


Mas Bima maafkan aku. Maafkan aku yang masih mengharapkan seseorang. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan hatiku seutuhnya. Maafkan aku jika aku masih mencintainya.


Elena mulai menghidupkan mesin mobilnya ketika dirasa sudah mulai tenang. Ia terkejut saat mendapati Anggi yang sedang mengarah ke sebuah mobil. 


Dengan cepat Elena bersembunyi di dalam mobilnya, ia takut jika bertemu Anggi dan Erlang secara bersamaan. Karena dilihatnya sedari tadi Erlang belum keluar dari Mall.


Aku seperti pengintai yang takut ketahuan saja gumamnya dalam hati sambil terus mengintip apakah mobil Anggi sudah pergi dari parkiran. 


Setelah dilihatnya mobil Anggi menghilang barulah Elena juga melajukan mobilnya berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.

__ADS_1


__ADS_2