
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Mana kamu yang selalu marah jika ada orang lain yang menyentuh milikmu...
...~Erlang...
***
Sudah 3 hari Elena tidak pergi ke kantor. Ada sepintas niatan untuk mengundurkan diri dari pekerjannya namun ia urungkan.
Sudah berkali-kali juga Bima mengunjungi rumahnya namun selalu saja ia abaikan.
Sebuah pesan yang masuk menghentikan lamunan Elena yang sedang duduk bersandar di tepi ranjang.
Mari kita bertemu di caffe mawar jam 3 sore
***
Dengan perasaan yang gelisah Elena mengemudi mobilnya menuju caffe yang diberitahu Citra. Iya Citra, entah mengapa wanita tersebut memintanya untuk bertemu di hari kerja walaupun sebenarnya Elena sedang cuti.
Apa Citra sudah mengetahui semuanya dan ia ingin membicarakannya secara langsung? Apa Citra akan membencinya dan memaki-makinya dengan sebutan pelakor tanpa mengetahui kebenarannya lalu Citra menuangkan segelas air ke wajahnya seperti dalam drama yang sering ia lihat?
Elena berkecamuk dengan segala analisanya. Ia mempersiapkan diri dengan segala hal buruk yang akan terjadi.
Ragu, Elena melangkahkan kakinya dengan mulut yang terus berkomat-kamit.
"Aku tidak salah." kalimat itu yang selalu ia lontarkan sembari mengiringi di setiap langkahnya.
Terlihat Citra sudah menunggu sambil duduk di sebuah meja berbentuk persegi di salah satu sudut. Ia terlihat tersenyum ketika melihat Elena yang sudah di depan pintu.
Namun senyuman itu malah terlihat menakutkan bagi Elena. Entah apa arti di balik senyum yang Citra lontarkan.
"Sore Mba." senyumnya sambil sedikit membungkukkan kepala.
"Hmm, sore Elena. Yuk duduk." tunjuk Citra pada sebuh kursi di depannya. Posisinya sekarang mereka sedang berhadapan.
"Mau pesan apa?"
"Terserah Mba saja."
Hening yang dirasa sampai pelayan caffe datang meletakkan dua gelas americano panas di atas meja.
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu Elena." ucap Citra memecah keheningan beberapa saat.
Suasana begitu mencekam bagi Elena. Diremasnya baju dress yang melekat di pangkal pahanya.
__ADS_1
"Mau membicarakan apa ya Mba?" Elena masih berusaha tersenyum.
"Mas Bima." ucapan Citra seakan terdengar sangat serius.
Deg
Benar dugaan Elena, Citra pasti ingin membahas masalah tersebut. Keringat dingin mulai turun dari pelipisnya.
Ibu jarinya seakan peka dengan situasi tersebut, disekanya dengan cepat saat air asin itu mulai bergerak ke daerah pipi.
"Aku baru tau kalau kamu punya hubungan yang spesial sama Mas Bima." sorot matanya begitu dalam saat memandang Elena.
"Mba Citra, aku bisa jelasin semuanya."
"Aku baru tau kalau kamu orang yang begitu dicintai Mas Bima sampai-sampai foto kamu memenuhi galeri Mas Bima."
Citra menundukkan pandangannya. Hatinya begitu sesak tapi apa boleh buat, memang itu kenyataannya.
"Mba aku..." belum selesai Elena melontarkan kalimatnya, Citra langsung memutus kalimat tersebut.
"Aku sadar disini aku yang salah karena memisahkan kalian berdua."
"Maaf..." ucapannya tersendat, suaranya parau namun sebisa mungkin ia melanjutkan kalimatnya.
"Tapi perlu kamu tau Elena, aku begitu mencintai Mas Bima." ia menegakkan kepanya menatap Elena. Terdapat ketulusan di setiap kata yang ia lontarkan.
"Apa kamu akan mengambil Mas Bima?" tatapannya berubah sendu.
"Mba kenapa bicara seperti itu, mana mungkin aku mengambil ayah dari seorang anak yang tak berdosa."
Elena sejenak menghentikan kalimatnya. Berusaha senormal mungkin, padahal ia juga merasakan sesak di dadanya.
"Mungkin ini sudah takdir Mba, aku dan Mas Bima tidak berjodoh. Jadi Mba tidak perlu khawatir nanti akan berdampak pada janin yang sedang Mba kandung."
"Meskipun janin ini terjadi karena kesalahan, tapi aku sangat menginginkannya Elena."
"Iya Mba." Elena melontarkan senyuman palsu. Wajahnya bisa menutupi kesedihan, namun tidak dengan hatinya. Untuk yang kedua kali ia merasakan sakit hanya karena laki-laki.
"Terima kasih Elena, kamu benar-benar orang yang baik. Aku beruntung bisa bertemu denganmu." Terdapat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Citra.
Elena begitu senang jika melihat orang bahagia meskipun ia harus menanggung sakit karenanya.
"Aku juga beruntung bisa bertemu Mba Citra."
***
__ADS_1
Sepulang dari caffe Elena tidak langsung pulang ke rumah. Ia berniat untuk membeli beberapa tangkai bunga kesukaan mamanya. Ya, ia ingij mengunjungi makan orang yang telah melahirkannya.
Selalu seperti itu, jika ia sedang senang ataupun sedih, ia selalu mengunjungi makam mamanya.
Bercerita tentang apa yang sedang ia alami, walaupun tak ada respon yang akan ia dapat tapi mampu membuat hatinya sedikit tenang.
"Ma, Elena datang." ucapnya sambil meletakkan beberapa tangkai bunga yang sudah ia beli tadi.
"Elena mau cerita lagi Ma. Mama tidak bosan kan mendengar cerita Elena?" air matanya tak mampu ia tahan lagi. Sudah ada beberapa buliran air mata yang menetes ke makam Ratna.
"Hari ini Elena gagal lagi Ma. Elena tidak bisa mengenalkan seseorang itu kepada Mama. Elena gagal mempertahankan seseorang itu Ma." diusap-usapnya batu nisan yang bertuliskan Ratna di sana.
"Kenapa takdir begitu senang mempermainkan Elena Ma?" ia menyandarkan kepalanya di batu nisa tersebut. Ingin sekali ia merasakan kembali belaian orang tersebut.
Elena duduk disebuah kursi dekat taman. Ia selalu nyaman jika berada di tempat tersebut. Dilihatnya ayunan yang tak jauh dari temoat duduknya.
Entah kenapa ia selalu merasa melupakan sesuatu jika melihat ayunan tersebut. Semakin ia memgingatnya, itu pasti akan berdampak pada kepalanya yang semakin sakit.
"Ada apa sebenarnya dengan ayunan ini." di dekatinya ayunan tersebut. Sambil ia raba, terpintas bayangan dua anak yang sedang bermain ayunan. Yang satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan.
"Aakhhh." pekiknya.
"Kenapa bayang itu selalu muncul jika aku melihat ayunan. Siapa sebenarnya anak kecil itu?Apa anak yang perempuan itu adalah aku? jika benar anak perenpuan itu adalah aku, lalu siapa anak laki-laki yang bersamaku?"
"Akhhh." lagi-lagi kepalanya terasa sakit, karena ia terlalu memaksakan ingatannya.
"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas." Elena kesal dengan dirinya sendiri.
Terlihat mobil hitam terparkir tak jauh dari rumah Elena. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Erlang. Dilihatnya pekarangan rumah Elena yang kosong menandakan pemiliknya sedang pergi.
Sepulang dari kantor, Erlang selalu menyempatkan untuk diri untuk mengawasi rumah Elena memastikan bahwa wanita tersebut baik-baik saja.
Ditunggunya kedatangan Elena sambil mengecek beberapa saham perusahaan.
Pkirannya benar-benar tidak bisa fokus. Karena yang ia tahu beberapa hari ini Elena tidak pergi kemanapun, tapi hari ini tanpa ia ketahui Elena pergi yang entah kemana.
Ada perasaan khawatir takut jika wanita tersebut berbuat berbuat hal yang buruk. Ingin ia mencarinya tapi tak tahu harus kemana. Akhirnya ia putuskan untuk menunggu.
"Sejak kapan prinsipmu berubah Elle, mana kamu yang selalu marah jika ada orang lain yang menyentuh milikmu." ucap Erlang yang sudah mengetahui permasalahan Elena dengan Bima.
Elena menginjakkan kaki di halaman rumahnya.Pandangannya terarahkan pada sosok yang berjalan mendekatinya.
"Erlang." ucapnya sambil melangkahkan kaki mendekati laki-laki tersebut. Jarak mereka semakin mendekat.
"Ada apa?" tanya Elena setelah jarak mereka hanya sekitar satu meter.
__ADS_1
"Aku kira kamu perlu teman"