
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Karna perempuan perlu kepastian...
***
Hujan masih setia meneteskan permatanya. Diiringi dengan angin malam yang berhembus memanjakan mata yang ingin terlelap.
Namun berbeda dengan Elena, ia malah merasa lapar dan tidak bisa memejamkan matanya. Ke kiri dan ke kanan ia membolak-balikkan tubuhnya. Karena dirasa benar-benar tidak bisa menahan laparnya lagi, ia memutuskan untuk mencari makanan.
Dituruninya anak tangga secara perlahan agar tidak membangunkan orang yang sedang terlelap. Ia benar-benar seperti seorang pencuri sekarang. Sambil melihat sekitar, Elena melangkahkan kaki ke arah dapur sambil berjinjit pelan.
Elena membuka pintu lemari, dilihatnya ada beberapa stock mie instan sangat pas untuk perutnya yang sedang lapar pikirnya. Ketika ia mulai menutup pintu lemari tiba-tiba sosok laki-laki langsung muncul dihadapannya.
"Mmm." disaat Elena hendak berteriak tangan Erlang langsung membekap mulutnya membuat suara Elena tertahan. Matanya melotot karena terkejut bisa ada Erlang dihadapannya.
"Sssttt, jangan teriak nanti yang lain pada bangun." ucap Erlang dengan sedikit berbisik tanpa menurunkan tangannya.
Posisi mereka sekarang berjarak sangat dekat. Elena bisa mendengar detak jantung Erlang karena tinggi badan mereka yang terpaut jauh.
Elena hanya menurut sambil mengangguk karena ia tahu ada Lusiana dan juga calon suaminya sedang tidur di lantai atas namun dengan kamar yang berbeda.
Baru Elena ketahui ternyata laki-laki yang sedang duduk bersama Erlang waktu memilih desain kue pernikahan salah satunya adalah suami dari Lusiana.
Hening untuk beberapa saat, tatapan Erlang dan Elena saling bertautan. Perlahan Erlang mulai mendekatkan wakahnya ke arah Elena bersamaan dengan tangannya yang perlahan turun dan berhenti di pinggang ramping milik Elena.
Jantung Elena berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Tak terasa matanya juga terpejam saat jarak wajah mereka semakin dekat.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini Elle?" bisik Erlang di telinga Elena. Dengan cepat sang pemilik telinga membuka mata. Dilihatnya senyum mengejek dari wajah Erlang.
Elena benar-benar merasa malu sekarang. Bisa-bisanya ia berpikir bahwa Erlang akan menciumnya saat itu.
"A-aku lapar." ucap Elena sambil kembali mengambil mie instan yang ia jatuhkan sewaktu terkejut tadi. Ia memalingkan wajahnya agar Erlang tidak melihat betapa malunya ia. Pasti wajahnya seperti udang rebus sekarang.
Elena mengambil panci yang sedang menggantung di sisi dinding. Ia berusaha melupakan kejadian memalukan tadi.
"Kalau lapar kenapa tidak memanggilku Elle?" perkataan Erlang dibarengi dengan tangannya yang melingkar di perut rata Elena. Bisa dirasakan Elena kalau dagu Erlang sedang bertengger di bahunya.
"Aku tidak mau mengganggumu di tengah malam begini." ucap Elena yang berusaha santai padahal ia benar-benar gugup saat itu. Pergerakannya terhenti saat tangan Erlang mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Nyatanya kamu menggangguku dengan berjalan mengendap-endap seperti tadi." ucap Erlang sambil memejamkan matanya. Ia merasa nyaman berada di bahu Elena.
"Apa kamu melihatku?" ucap Elena dengan terkejut dan langsung mengarahkan wajahnya menghadap Erlang yang masih setia pada bahunya.
"Tentu saja."
"Bagaimana bisa?" tanya Elena lagi.
"Aku sedang mengangkat telepon di ruang tamu dan tidak sengaja melihatmu berjalan sambil mengendap-endap ke arah dapur." ucap Erlang sambil diiringi dengan tawa membuat Elena kesal.
Sungguh memalukan pikir Elena.
"Tidak perlu malu, aku suka liatnya, bikin gemas. Untung tidak ada yang melihat selain aku." ucap Erlang yang seakan tahu apa yang sedang Elena pikirkan.
Erlang kemudian melepaskan pelukannya dan mengambil panci yang sedari tadi hanya diabaikan oleh Elena.
"Katanya lapar, tapi kenapa malah diam." ucap Erlang lagi sambil kembali menampilkan senyum jahilnya.
"Bagaimana caranya aku memasak jika ada orang yang memelukku sangat erat." lontar Elena yang tidak mau kalah dengan Erlang.
"Tapi yang dipeluk juga menikmatinya." lagi-lagi perktaan Erlang membuat Elena malu. Ia tidak dapat membalas perkataan Erlang, karena yang diucapkan Erlang memang benar. Ia menikmati pelukan tersebut.
"Apa kamu akan memasak mie seperti ini? Aku yakin sampai tahun depan pun airnya tidak akan matang." ucap Elena sambil menghidupkan kompor.
"Aku tidak bisa konsen jika berhadapan denganmu Elle." ucap Erlang sambil mengacak-acak rambut Elena.
"Gombal." ucap Elena lalu dibarengi tawa kecil dari keduanya.
"Apa kamu juga mau." ucap Elena sambil memegang beberapa bungkus mis instan.
"Boleh." ucap Erlang kemudian Elena membuka beberapa bungkus mie instan dan menuangnya ke dalam panci.
"Apa di sini ada telur." tanya Elena.
"Sepertinya ada, coba lihat di dalam kulkas." ucap Erlang sambil mengaduk mis instan di dalam panci.
Seperti perkataan Erlang, ada beberapa biji telur ayam di sana dan Elena memgambil beberapa telur tersebut kemudian memecahnya bersamaan dengan mie instan.
***
__ADS_1
Setelah membereskan piring-piring kotor, Erlang dan Elena berjalan ke arah lantai atas.
"Ah aku kenyang sekali." ucap Elena sambil mengusap-usap perutnya.
"Tentu saja kenyang, siapa yang tidak kenyang jika makan sebanyak itu." perkataan Erlang mendapat tatapan tajam dari Elena. Bukannya menghentikan kalimatnya, Erlang justru terus mengoceh.
"Aku baru tahu jika porsi makanmu sebanyak itu." ucap Erlang lagi.
"Itu hanya karena aku lapar, biasanya juga tidak sebanyak itu." elak Elena.
"Benar kaaa....." belum selesai Erlang mengatakan kalimatnya, pinggangnya langsung mendapat cubitan dari Elena. Ingin sekali Erlang berteriak keras saat itu, namun ia tahan karena tidak ingin mebangunkan Lusiana dan calom suaminya.
"Ampun Elle." ucap Erlang sambil mengusap-usap pelan perutnya.
"Emang enak."
"Nakal ya." ucap Erlang sambil menggandeng bahu Elena dan kembali melangkahkan kaki mereka.
"Erlang." ucap Elena yang terus berjalan sambil melilitkan tangannya di pinggang Erlang.
"Ada apa." sahut Erlang.
"Emmm." ada perasaan ragu dalam hati Elena. Ia menatap nanar ke arah lantai.
"Tidak ada." ucapnya lagi sambil menghadap ke arah Erlang dan menampilkan senyum dengan diikuti gigi putihnya.
"Benarkah." tanya Erlang memastikan.
"Iya." ucap Elena lagi, sebenarnya Elena ingin bertanya mengenai kejelasan hubungan mereka. Tapi karena malu, akhirnya ia tidak jadi menenyakannya.
Tidak ada status lain di antara mereka selain sebagai atasan dan sekretaris, walaupun Elena tahu bahwa Erlang juga masih menyimpan rasa untuknya. Tapi sebagai perempuan pasti ingin kejelasan dalam sebuah hubungan.
Karna perempuan perlu kepastian
"Baiklah kalau begitu selamat malam Elle." ucap Erlang saat mereka sudah sampai di depan kamar yang Elena tempati."
"Selamat malam Erlang." ucap Elena sambil melambaikan tangannya dan hendak masuk ke dalam kamar.
"Tunggu Elle." ucap Erlang yang sudah menjauh dan hendak masuk ke kamarnya namun berbalik mendekati Elena.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Elena sembari memegang gagang pintu. Ia juga berbalik menghadap Erlang.
"Apa kamu mau melihat sunset?" tanya Erlang