My Chosen Man

My Chosen Man
Gagal lagi


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


Elena yang terkejut dengan perlakuan Erlang yang secara tiba-tiba hanya memejamkan mata sambil merasakan sensasi yang tidak pernah dirasakannya. Erlang merupakan orang yang pertama kali melakukan hal tersebut kepadanya.


Bibir Erlang terus terus melakukan aksinya sementara Elena hanya diam karena tak tahu harus membalas seperti apa. Mata Elena mulai terbuka setelah Erlang melepaskan ciumannya.


Elena mendapati Erlang yang sedang menatapnya lekat. Tatapan yang seakan meminta lebih. Bahkan wajah Erlang mulai memerah napasnya pun sudah memburu.


Tangan Erlang yang bergerilya masuk ke dalam dress Elena yang entah sejak kapan sudah tersingkap sampai paha. Elena terkejut saat tangan tersebut sudah sampai ke perut mulusnya. Dan dengan cepat Elena menghentikan pergerakan Erlang sebelum terjadi hal yang lebih lagi.


Mata Erlang yang sedari tadi memandangi paha mulus Elena teralihkan karena tangan perempuan tersebut menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa?" tanya Erlang sambil berusaha menormalkan napasnya yang sudah benar-benar memburu. Ia menatap lekat perempuan yang masih berbaring di bawah tubuhnya.


"A-aku..." Elena seakan tak mampu mengucapkan kata tersebut saat melihat wajah laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya tersebut. Dengan cepat Elena menatap ke sembarang arah.


"Apa kamu takut Elle?" tanya Erlang sambil memgangkat dagu Elena agar pandangan perempuan tersebut mengarah ke arahnya.


Elena menggeleng membuat Erlang mengernyit, lantas apa yang membuat Elena menghentikan aktivitasnya.


"Aku sedang datang bulan." ucap Elena dengan perasaan bersalah. Ia melihat dengan jelas raut kecewa dari wajah Erlang yang sedari tadi sangat bersemangat.


Erlang tiba-tiba merasa seperti terbang tinggi lalu setelah ia hampir pada tujuannya, iadihempaskan begitu saja. Sekarang ia harus menahannya lagi.


"Tidurlah." ucap Erlang seraya mencium kilas kening Elena lalu dengan perlahan lalu lututnya dengan perlahan memindahkan posisi yang sedari tadi mengunci tubuh Elena.


"Mau kemana?" tanya Elena setelah melihat Erlang menyeret kakinya ke arah mandi. Bukannya tadi ia menyuruh untuk tidur pikirnya.


"Aku mau mandi, kamu tidurlah Elle." ucap Erlang sambil melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Perlahan punggung Erlang pun menghilang dari penglihatan Elena.


Seperti yang diperintahkan Erlang tadi, Elena pun beringsut mengambil posisi yang nyaman untuk membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi setengah dari tubuhnya. Dengan perasaan bersalah, Elena mencoba memejamkan matanya.


Lama Elena mencoba untuk memejamkan matanya, tapi seakan mata tersebut sulit untuk mendapatkan kenyamanannya. Sampai Erlang keluar dari dalam kamar mandi pun, mata Elena masih setia terbuka.


Dengan cepat Elena berpura-pura tidur saat melihat Erlang berjalan perlahan mendekatinya setelah laki-laki tersebut lengkap dengan pakaian tidurnya.


"Belum tidur?" tanya Erlang yang sedari tadi menyadari bahwa Elena memperhatikan setiap pergerakannya.


Tangan Erlang melingkar di perut Elena sambil tangan yang satunya lagi menarik kepala Elena agar kepala perempuan tersebut bisa ia dekap.


Elena menggeleng sambil ikut menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Maaf." kata yang lolos dari mulut Elena. Entah mengapa ia seakan merasa bersalah kepada suaminya.


"Untuk apa?" tanya Erlang sambil membelai pelan puncuk kepala Elena.

__ADS_1


"Yang tadi."


"Harus berapa lama lagi aku menunggu." tanya Erlang sejenak membuat Elena berpikir.


"Mungkin 3 hari lagi." ucap Elena sambil tersenyum di balik dada bidang suaminya.


Wajah Erlang terlihat kecewa meskipun Elena tidak dapat melihatnya namun wanita itu seakan tahu raut wajah suaminya.


"Baiklah, sekarang tidurlah." tutur Erlang sambil mengeratkan pelukan tersebut dan mulai memejamkan matanya.


***


Matahari mulai naik ke peraduannya. Dengan cahayanya yang masuk menelisik melalui celah horden di balik kaca bening. Membuat mata Erlang yang sedari tadi terpejam mulai bergerak perlahan terbuka. Tangan kekarnya meraba sisi kosong di sampingnya tempat berbaringnya sang istri tadi malam.


Dengan cepat Erlang bangun dari posisinya saat tangannya tidak mendapati sosok tersebut. Matanya terus mengamati seisi kamar, balkon hingga kamar mandi. Namun sosok tersebut tak juga ia temui.


Perasaannya yang sedari tadi gelisah menjadi tenang saat ia menuju dapur dan melihat istrinya yang sudah rapi sedang memasak sesuatu di sana.


"Apa yang kamu lakukan Elle?" kata Erlang sambil melingkarkan tangannya di perut Elena. Ia meletakkan dagunya di bahu kecil istrinya.


"Apa kamu tidak melihat aku sedang memasak sekarang, jadi jangan ganggu aku Elang." tutur Elena yang merasa terganggu karena sejak Erlang meletakkan dagu di bahunya, laki-laki itu terus saja mengecup pelan lehernya.


"Bukankah sudah ada Bi Sumi, lalu di mana dia?" Erlang masih belum memindahkan posisinya.


Sambil menunggu Elena memasak makanan untuknya, Erlang pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan membersihkan dirinya.


Seusai mandi, Erlang menuruni tangga. Dari atas tangga pun ia sudah dapat mencium bau harum dari masakan Elena.


Erlang pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berseberangan dengan Elena. Sedangkan Elena dengan telaten meletakkam masakan yang ia masak ke dalam piring untuk di makan oleh Erlang.


"Hmm enak sekali." ucap Erlang saat memasukkan sesuap masakan yang tadi di masak Elena.


"Aku memang tidak salah dalam memilih istri." tuturnya lagi membuat Elena tersipu.


Erlang terus memperhatikan wajah Elena yang sedari tadi seakan menahan malu.


"Kamu kenapa Elle?" tanya Erlang sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Elena hanya menggeleng sambil terus tersipu dan melanjutkan ritual makannya.


"Ada yang ingin aku katakan Lang." ucap Elena setelah mereka selesai dengan ritual makannya.


"Apa Elle."


"Aku sudah selesai." kata-kata Elena terasa ambigu di telinga Erlang.

__ADS_1


Erlang mengernyitkan dahinya menerka-nerka maksud dari perkataan Elena. Tidak mungkin selesai makan, karena sudah sedari tadi ia selesai makan. Mata Erlang terbelalak, senyumnya pun mengembang saat mendapati sesuatu di benaknya. Apa mungkin, pikir Erlang.


"Kamu sudah selesai datang bulan Elle?" tanya Erlang dan berharap pertanyaannya dibalas anggukan oleh Elena.


Dan ternyata benar, Elena membalasnya dengan anggukan diiringi dengan senyum malunya.


"Tapi bukannya tadi malam kamu..." perkataan Erlang terhenti saat ia menyadari jika istrinya tersebut telah berbohong.


"Jadi kamu membohongiku Elle?"


"Tidak, aku tidak membohongimu Lang. Aku memang datang bulan dan tadi pagi baru saja bersih-bersih." elak Elena.


"Tapi tetap saja kamu membohongiku dan mengatakan kalau aku harus menunggu 3 hari lagi."


"Aku hanya aaaaa."


Erlang tiba-tiba mengangkat tubuh Elena dan berjalan ke arah kamar mereka.


Dengan cepat tangan Erlang melepaskan baju piyama yang sedari tadi melekat di tubuh istrinya hingga menyisakan kain berenda berwarna hitam yang masih melekat di tubuh mulus Elena.


Erlang meneguk salivanya saat melihat sesuatu yang selama ini sangat ingin ia lihat. Sementara Elena hanya mengarahkan pandangannya ke arah samping, ia merasa malu karena mata Erlang terus saja melihat ke arah benda yang masih terbungkus itu.


Saat Erlang mulai menaiki tubuh Elena, dering handphone yang berbunyi mengganggu fokusnya. Tapi Erlang berusaha mengabaikan panggilan tersebut dan terus melanjutkan aksinya.


Tetapi lagi dan lagi, handphone Erlang terus saja berbunyi hingga yang ke 4 kalinya.


Tangan Elena yang sedari tadi terdiam, langsung menahan dada bidang Erlang, sehingga menghentikan ciuman yang sedari tadi sudah memanas.


"Angkat dulu, mungkin penting." pinta Elena.


Erlang tak menghiraukan perkataan Elena da tetap melanjutkan ciuman mereka. Namum sialnya handphone tersebut berbdering untuk yang ke 5 kalinya.


"Angkat dulu." ucap Elena yang kembali mendorong dada bidang Erlang.


Dengan perasaan kesal, Erlang menuruti permintaan Elena.


Wajah Erlang berubah menjadi serius saat mendapati pesan dari nomor yang sedari tadi menelphone-nya.


"Ada apa?" tanya Elena saat melihat Erlang bergegas hendak pergi.


"Aku harus pergi."


"Sekarang?" tanya Elena dan Erlang mengangguk


"Tapi aku takut"

__ADS_1


__ADS_2