My Chosen Man

My Chosen Man
Menuju end


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


Dingin semakin menelisik, bahkan suara jangkrik mulai bersahutan. Sudah hampir malam, namun Erlang belum menampakkan tubuhnya. 


Elena semakin takut, karena sekarang ia seorang diri dirumah besar. Sedang Bi Sumi, sudah pulang beberapa jam yang lalu.


Beberapa kali Elena menelphone, tapi panggilan selalu saja berada di luar jaringan.


Pyarrr,


Elena hampir melompat karena terkejut, suara kaca pecah dari ruang tamu. Elena semakin takut sekarang jantungnya yang ingin melompat.


Detakan makin terasa di dada Elena, ia gugup sampai peluh mulai mengalir melewati ujung kelopak mata.


Tap tap tap


Suara jejak kaki menambah kesan horor.


Elena hanya menekuk lutut di sisi ranjang. Takut untuk memastikan siapa pelakunya, yang jelas bukan orang baik dan tentu juga bukan suaminya.


“Elang, aku takut,” lirihnya yang hanya mampu di dengar telinganya sendiri. 


Di keheningan malam ini


Di kesunyian hati


Di kerinduan ku begini


Gelisah ku menanti


Tiba-tiba lampu di putar bersamaan dengan lampu kamar Elena yang padam. Elena menutup mulut dengan kedua telapak tangan. 


Ciitttttt, suara gesekan benda dan tepat di depan kamar Elena yang masih tertutup rapat.


Deg ting deg ting deg ting,  suara detak jantung berpacu bersamaan dengan suara jam dinding.


“Siapa?” pertanyaan bodoh Elena.

__ADS_1


Lagu telah berhenti diputar dan lampu kembali menyala. Bukan membuat lega justru semakin membuat Elena takut.


“Aku!”


Dan door, gagang pintu rusak karena tembakan dari luar. Belum  sempat Elena bersembunyi, pintu sudah terbuka menampilkan sosok perempuan.


Dan deg,


“Hai Elena!” sapanya sambil menyeringai.


“Salsa!”


“Bagus, loe masih sama ingat gue. Gimana kejutan dari teman lama? Apa loe suka?”


Salsa berjalan perlahan, setiapnya langkah seakan menakutkan bagi Elena. Pistol yang ia pegang diputar-putar bahkan sekekali ia elus.


“Pisikopat!” maki Elena.


“Owhh, jadi gini cara lo nyambut teman lama? Oke, gue suka cara lo,”


“Kalau gue ga mau?” Salasa bersedekap, sambil meletakkan pistol di baju hitamnya yang ketat. Dari yang Elena lihat, Salsa persis seorang mafia yang siap menghabiskan nyawa lawan. 


“Erlang yang akan bawa loe keluar secara paksa,”


“Ah sepertinya gue lebih suka cara Erlang,” Salsa semakin mendekat, mengikis jarak yang hanya berkisar 7 meter.


Elena semakin takut “Jangan mendekat atau gue telpon Erlang sekarang juga ”


“ppfftt, telpon aja kalo bisa!” Salsa tersenyum mengejek, bahkan ia mengusap air mata diujung kelopak matanya.


“Loe ga berubah,”


“Emang loe maunya gue berubah jadi apa, Elena? Hmm,”


Elena menjauh ke arah yang berlawanan saat Salsa terus saja mengikis jarak di antara mereka.


“Ohhh, loe mau main-main sama gue? Ah tapi sayang, gue ga mau lagi main-main sama lo, dah bosen. Loenya ga mati-mati sih,”

__ADS_1


“Jadi lo yang…”


“Iya, gue,” sela Salsa “Semua kejadian-kejadian buruk sama loe, gue yang rencanain. Mulai dari nabrak lo, trus gue juga beri cairan di infuse lo biar lo lumpuh,”


“ Ah tapi sayang, lo Cuma lumpuh sementara. Harusnya gue beri cairan yang banyak biar lo lumpuh selamanya, eh atau gini aja. Seharusnya gue sendiri yang nabrak lo biar lo langsung mati, orang bayaran gue cupu. Masa Cuma mampu buat lo kehilangan ginjal doing, ga asik. ”


Elena menggelengkang kepalanya, benar-benar pisikopat.


“Kenapa lo lakuin itu ke gue?”


“Loe masih nanya kenapa? Sudah jelas karena loe udah ambil Erlang dari gue. Erlang itu punya gue, punya Salsa,”


“Ada lagi yang mau lo tanyain sebelum malaikat pencabut nyawa datang, nanti lo matinya penasaran lagi,” lanjut Salsa sambil menyeringai.


“Loe juga yang udah bikin Mba Citra jatuh di kamar mandi?”


“Wah lo hebat sampai mikir kesana yah! Tapi, lo emang pinter sih. Iya, gue juga yang tumpahin minyak di kamar mandi cewek  gatel itu. Lo mau tau kenapa? Karena dia rencana gue berantakan. Harusnya lo tu sama Bima dan gue hidup bahagia sama Erlang,” 


“Tapi semua harapan gue musnah gitu aja gara-gara si curut. Jadi, yah gue kasih pelajaran dikit dulu. Gue mau kelarin urusan gue sama lo dulu deh, baru lanjut main-main lagi sama si curut,”


“Loe gila, Sa!”


“Emang, gue gila karna Erlang hahaha. Ada yang mau lo sampaikan sebelum peluru dari senjata gue ini bersarang dijantung lo?”


Elena menggeleng “Erlang ga akan maafin lo kalo sampai lo berani lakuin itu,”


“Gue ga peduli,”


Salsa mengambil pistol lalu tangannya dengan lihai mulai membidik tepat pada jantung Elena. Sedang Elena tak hentinya melirik ponsel berharap nama Erlang tertera dilayar yang masih gelap.


Elena takut, bahkan badannya mendadak meriang.


“Selamat tinggal Elena!”


Dan dor, Satu tembakan lolos mengoyak kulit.


ERLANG!

__ADS_1


__ADS_2