
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Entah rasa atau kenangan...
...Yang jelas keduanya susah untuk aku lepaskan...
...~Elena...
***
"Untuk apa Daddy memanggilku ke sini." Anggi menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang terdapat di ruangan tersebut.
"Daddy mau minta tolong agar kamu menemui klien Daddy hari ini di caffe Matahari jam 03.00." ucap William dengan tetap fokus memandangi layar komputernya.
"Hah, Kenapa harus Anggi yang menemui klien Daddy? kenapa tidak Daddy saja, atau kirim orang kepercayaan Daddy." Anggi yang terkejut melototkan matanya dan bangun dari sofa sambil berjalan ke arah William.
"Anggi, Daddy sudah terlalu tua untuk mengurus perusahaan. Daddy bisa saja menyuruh orang kepercayaan Daddy, tapi Daddy ingin memberikan kamu pengalaman. Karena nantinya kamulah yang akan meneruskan perusahaan ini."
"Tapi Anggi tidak yakin Dad. Bagaimana jika kliennya nanti tidak puas dengan hasil kerja Anggi."
"Tidak perlu cemas, kliennya ini adalah orang terpercaya Daddy. Daddy juga sudah bilang kalau kamu yang akan menemuinya nanti. Dia orangnya baik masih muda, kamu bisa sekalian belajar sama dia." ucapan terakhir William membuat Anggi sedikit tenang mungkin perkataan William ada benarnya.
Karena tak bisa dipungkiri, ia merupakan anak satu-satunya sehingga ia juga nantinya yang akan menggantikan Daddy nya dalam mengurus perusahaan.
Sesampai di caffe, ia mencari nomor meja yang telah dipesan. Dilihatnya sosok laki-laki muda, tampan dan terlihat berwibawa sambil memainkan handphonenya.
"Maaf telah membuat anda menunggu terlalu lama." ucap Anggi membuat laki-laki tersebut mengalihkan pandangannya menghadap Anggi.
"Tidak masalah." ucap laki-laki tersebut.
"Perkenalkan, saya Kiano Anggi." sambil mengulurkan tangannya ke arah laki-laki yang ada di depannya.
"Saya Erlangga Bratadika."
Itulah pertemuan pertama Kiano Anggi dengan Erlangga Bratadika. Dan sejak saat itu juga, Anggi menaruh hati kepada Erlang.
***
"Loh Mas, inikan bukan jalan ke rumah aku." Elena melihat sekitarnya yang memang bukan jalan untuk ke rumahnya.
"Aku mau ajak kamu makan malam sebentar." sambil sejenak menatap ke arah Elena sambil menunjukkan senyum tipisnya.
"Tapi Mas kita masih memakai pakaian kerja. Kenapa tidak pulang ganti baju dulu. Baju aku sudah bau keringat, tidak enak nanti sama pelanggan yang ada di sana." protes Elena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kata siapa kamu bau sayang. Kamu wangi kok."
Elena mengambil parfum dari dalam tasnya dan menyemprotkan begitu banyak cairan ke tubuhnya sampai baunya menyeruak di dalam mobil.
"Aku seperti mandi parfum saja." celetuk Bima sambil menahan tawa.
Elena tidak mendengarkan perkataan Bima. Ia terus menciumi tubuhnya yang sudah wangi.
__ADS_1
Mereka memakirkan mobil dan masuk ke dalam caffe. Elena melihat-lihat sekitar tak ada satu pelanggan pun di dalam caffe.
Mereka masuk di iringi alunan musik. Elena takjub ketika melihat dekorasi ceffe yang bernuansa merah.
Pelayan caffe tersebut menuntun mereka menuju ke sebuah meja makan yang telah dihias dengan lilin dan bunga yang juga bernuansa merah.
"Mas ada apa ini? kenapa semuanya bernuansa merah? dan kenapa tidak ada satu pun pengunjung yang datang?" ucap Elena yang masih bingung sambil melihat-lihat sekitarnya lagi dengan seksama, namun benar-benar tak ia dapati satu pengunjung pun.
"Aku mau makan malam yang romantis sama kamu." Bima menggenggam tangan Elena.
"Ma-maksud Mas apa?" tanya Elena yang masih kelihatan bingung. Ia berusaha mencerna setiap kalimat dari mulut Bima.
"Aku sengaja memesan tempat ini hanya untuk kita berdua. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengganggu kita malam ini,"
"Aku ingin malam yang romantis bersama kamu Sayang." terdapat penekanan pada kata Sayang yang dilontarkan Bima.
"Kamu sengaja merencanakan semua ini?" ucap Elena sambil melototkan matanya dan menunjuk sekelilingnya dengan jari telunjuknya.
"Hmmm, aku sengaja merencanakan semua ini untuk kamu." Mata coklat Bima terus memandangi wajah mungil Elena.
"Kenapa kamu melakukan semua ini Mas."
"Karena kamu sangat berarti untukku Sayang. Aku rela melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia."
"Sebegitu besarkah rasa kamu kepadaku Mas?"
"Aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tau Sayang. Aku benar-benar merasa beruntung bisa bersama kamu. Terima kasih karena telah membuka hati dan membiarkan orang sepertiku berada di samping kamu. Terima kasih Sayang." akhir dari ucapan Bima membuat air mata Elena menetas tanpa ia sadari.
And I will take you in my arms
(Dan akan kurengkuh engkau di lenganku)
And hold you right where you be long
(Dan mendekapmu erat di tempat seharusnya)
Till the day my life is through
(Hingga akhir hidupku)
This I promise you
(Ini janjiku padamu)
This I promise you
(Ini janjiku padamu)
I've loved you forever,
(Aku telah selalu mencintaimu)
In life times before
__ADS_1
(Di kehidupan sebelumnya)
And I promise you never...
(Dan ku berjanji kau takkan pernah)
Will you hurt anymore
(Akan terluka lagi)
I give you my word
(Aku pegang kataku untukku)
Suasana semakin romantis diiringi dengan alunan lagu This I Promise You. Keduanya seakan hanyut ke dalam lagu.
Bima memakirkan mobilnya tepat di depan rumah Elena. Ia seakan tidak mau berpisah dengan Elena walalu semalam.
"Terima kasih ya Mas untuk hari ini dan terima kasih juga untuk hari-hari sebelumnya. Aku merasa beruntung mendapatkan laki-laki seperti Mas." ucap Elena sambil menangkup kedua pipi Bima dengan tangannya.
"Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu bahagia, karena aku sangat mencintaimu. Sangat sangat sangat dan sangat mencintaimu."
Bima menggenggam tangan Elena dan menciumi tangan tersebut secara bertubi-tubi.
"Aku turun sekarang ya, Mas hati-hati di jalan. Jangat ngebut, bahaya."
"Hmmm, Selamat malam. Sampai jumpa besok Sayang." ucap Bima lalu membiarkan Elena turun dari mobil dan beranjak masuk ke rumahnya.
Setelah bayangan Elena hilang dari pandangannya baru ia menghidupkan mesin mobil dan beranjak pergi.
Elena duduk di depan meja rias. Ia merasa sangat bersalah kepada Bima, karena ia belun mampu memberikan hati seutuhnya untuk Bima.
Tak bisa ia pungkiri, di hatinya yang terdalam masih menyimpan kenangan bersama Erlang.
Maafin aku ya Mas karena tak mampu memberikan hatiku seutuhnya untuk Mas
Aku juga tidak tahu kenapa bayang Erlang selalu saja menghampiri Mas
Walau sudah bertahun-tahun aku mencoba untuk melupakannya
Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih menyimpan rasa kepadanya Mas
Maafin aku.
Elena menangis di depan cermin. Ia merasa menjadi orang yang sangat jahat. Bima sudah terlalu baik kepadanya, tetapi ia masih tidak mampu untuk memberikan hati seutuhnya.
Elena bertekad untuk melupakan Erlang dan mencoba memberikan hati seutuhnya untuk Bima.
Entah rasa atau kenangan
Yang jelas keduanya susah untuk aku lepaskan
***
__ADS_1