
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Tak ada qoutes wkkk...
***
Sudah seminggu berlalu saat kejadian Elena bertemu dengan Erlang. Selama seminggu pula bayang-bayang Erlang semakin membekas diingatan Elena.
Matahari belum sepenuhnya naik, namun sudah begitu panas dirasa. Elena duduk sambil menunggu jemputan. Kekasihnya itu selalu saja meminta untuk berangkat ke kantor bersama.
"Besok lusa akan ada acara ulang tahun perkawinan Pak Alex dan istrinya yang ke 35 tahun dan kita diundang di acara tersebut Sayang."
"Oh ya benarkah?" berusaha memasang sabuk pengaman.
"Kamu mau datangkan?" terkekeh melihat Elena yang terlihat kesusahan saat memasang sabuk pengaman.
"Tentu saja Mas, dengan senang hati." ucapnya sambil menyandarkan kepalanya ketika sabuk pengeman telah terpasang dengan benar.
Bima pun mulai menghidupkan mesin dan berlalu dari pekarangan rumah Elena.
"Hadiah seperti apa yang harus kita bawa?" Bima menengok sebentar ke arah Elena sambil meminta jawaban.
"Bagaimana jika sebuah lampu hias yang di desain dengan emas bertuliskan nama Pak Alex dan istrinya." tangan Elena mulai menggambarkan sesuatu di atas sana. Ia mulai berkhayal mengenai barang yang pernah ditaksirnya.
"Aku setuju dimana kita bisa mendapatkannya." angguk Bima sambil melontarkan pertanyaan kembali kepada Elena.
"Aku tau tempatnya Mas, semoga saja bisa selesai dengan waktu yang cepat." Elena terlihat sangat antusias, ia begitu menyukai barang tersebut
"Baiklah selesai makan siang kita pergi mencari hadiah." Bima melontarkan senyumannya sebagai penutup dari pembicaraan mereka.
Sesuai kesepakatan mereka pergi ke tempat pemesanan lampu. Jalanan kota yang padat tidak menjadi penghalang keduanya.
Setelah hampir sengah jam mereka tiba di tempat pemesanan lampu.
"Pemisi ada yang bisa kami bantu." ucap Seorang pelayan perempuan ketika Bima dan Elena masuk ke dalam sebuah toko.
"Saya ingin memesan lampu dengan desain emas bertuliskan nama sepasang kekasih. Apakah bisa?"
"Bisa Pak, silahkan ikut saya untuk melihat model desainnya." pelayan tersebut berjalan ke arah salah satu ruangan di sana dan diikuti oleh Bima dan Elena.
__ADS_1
Mereka disuguhkan dengan berbagai desain lampu. Begitu indah untuk sepasang kekasih yang baru saja menikah.
Elena benar-benar menyukai koleksi tersebut. Mulutnya tak henti-henti mengucapkan kata kagum pada setiap barang yang ia lihat
"Aku ingin lampu kamar yang seperti ini ketika kita menikah nanti." ucap Bima membuyarkan fokus Elena.
Bima menunjuk pada sebuah lampu hias berbentuk persegi bergambarkan laut jika dinyalakan. Melukiskan ketenangan ketika dilihat.
"Fokus sama yang ingin kita pesan dulu." ucap Elena sambil kembali memfokuskan perhatiannya kepada sosok pelayan yang sedang menjelaskan koleksi mereka.
Karena Elena tahu apa yang sedang Bima pikirkan.
"Untuk pemesanan perlu berapa hari?" ucap Bima sambil melihat-lihat sekitarnya.
"Tergantung desain seperti apa yang Bapak pesan." jelas pelayan tersebut sambil menampilkan senyum khasnya
"Saya ingin desain yang seperti ini." Bima menunjuk pada salah satu lampu krystal berwarna biru seukuran kepala anak-anak.
"Apakah bisa selesai dalam sehari?" sambungnya lagi.
Pelayan tersebut terlihat sedang berpikir. Ia kembali mengamati desain lampu yang ditunjuk Bima.
"Bisa Pak, akan kami usahakan." ucap pelayan tersebut sambil tersipu ketika Bima melihatnya dengan intens.
"Terima Kasih Mba."
"Besok kami akan datang lagi, permisi."
Pelayan tersebut mengikuti Bima dan Elena sampai menuju pintu keluar. Ia menundukkan kepalanya ketika Bima dan Elena membuka pintu toko.
***
Elena sedang duduk di depan cermin. Ia menatap bayangnya sendiri. Sudah hampir satu jam ia memoles make up ke wajahnya.
"Apakah aku terlalu berlebihan? apa make up ku sangat tebal?"
Tit titi tit
Suara klakson mengejutkannya, ia setengah berlari menuju asal suara tersebut. Tak lupa ia membawa tas dan hadiah yang sudah dipesannya kemarin siang.
__ADS_1
Dilihatnya Bima sudah bersandar di pintu mobil sambil memainkan handphone-nya.
Dengan memakai jas berwarna hitam serta kemeja berwarna merah senada dengan gaun yang dipakai Elena.
Dengan sehelai dasi yang menjuntai dilehernya menambah kesan bahwa laki-laki tersebut terlihat berwibawa.
"Ayo Mas." ucap Elena ketika sudah dekat dengan Bima. Namun Bima tak bergeming dari posisinya hanya pandangannya yang teralihkan.
"Mas." ucap Elena lagi sambil memegang lengan Bima.
"Ehh iya." ucap Bima sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mendapati lagi fokusnya yang hilang.
"Mas kenapa? Mas baik-baik saja kan?" ucap Elena sambil tangannya menyentuh kepala laki-laki di depannya.
"Mas baik-baik saja, Mas hanya terpesona melihat bidadari." ucapnya sambil memegang lengan Elena yang berada di dahinya.
"Bidadari?" Elena mengernyitkan dahinya, ia melihat sekitarnya mencari sesuatu untuk memastikan ucapan Bima. Namun tak ditemuinya siapa pun.
"Mana Mas?" ucapnya ketika sudah jenuh mencari sosok tersebut.
"Ini di depan." Bima mengeratkan genggamannya, sesekali ia cium punggung tangan yang sedang digenggamnya.
"Gombal." ucap Elena sambil melepaskan tangannya dari genggaman Bima dan menuju pintu mobil.
"Kalau gombal sama kamu tidak boleh ya?" ucap Bima sambil memancarkan kekecewaannya. Elena yang melihat merasa bersalah.
"Maafin aku ya Sayang." Elena memberikan wajah imutnya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Jangan lakukan itu dihadapan laki-laki manapun."
"Kenapa?" tanya Elena yang kelihatan bingunh sambil mendekatkan wajahnya ke arah Bima membuat fokus Bima kembali teralihkan.
"Aku takut mereka akan tergila-gila ketika melihatnya." sebuah senyuman mengiringi perkataan Bima.
"Oh ya, apa kamu ingat tentang pimpinan Amarta Indi?"
"Orang yang kamu ajak berteman itu kan?" tebak Elena ketika mengingat perusahaan Amarta Indi.
"Iya. Sepertinya ia akan datang malam ini, jadi aku ingin memperkenalkanmu keadanya. Kamu mau kan?"
__ADS_1
"Tentu saja." ucap Elena dengan antusias.