
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Sudah kewajibannya sebagai sesama untuk saling membantu...
***
Sudah satu minggu sejak kepergian Bima. Satu minggu juga Elena merasa tidak nyaman karena asisten yang bernama Tito itu selalu mengikutinya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Sayang?" ucapnya sambil membukakan pintu samping untuk Elena.
Dengan wajah yang ditekuk Elena memasuki mobil dan menutup sendiri pintu yang sedari tadi ditahan oleh Bima.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" sambil memposisikan duduk dan mulai melajukan mobil ke arah jalanan kota.
"Sayang." ucap Bima lagi namun tetap diabaikan oleh wanita di sampingnya.
"Untuk apa Mas Bima bertanya bagaimana keadaanku? Mas Bima sepertinya sudah mengetahui semua aktivitasku?"
Buat apa Mas Bima bertanya sesuatu yang jelas ia pun sudah tahu jawabannya. Tidak kah kurang dengan menyuruh asisten Tito mengikutiku kemana pun aku pergi. gumamnya sambil terus melihat ke arah luar jendela tanpa tahu laki-laki di sampingnya yang terus memperhatikan wajah kesalnya.
Ternyata kekasihku ini mengetahui jika aku sedang mengawasinya lewat Tito pikir Bima. Ia menepikan mobilnya sejenak dan beralih menatap wanita di sampingnya.
"Sayang, aku minta maaf. Aku tidak menyuruh Tito untuk mengawasimu, aku hanya menyuruhnya untuk menjagamu dan tidak membiarkanmu terluka."
"Apa bedanya Mas? keduanya sama-sama membuatku tidak nyaman." Elena melototkan matanya, kekesalan yang ia pendam akhirnya tersalurkan.
"Maaf jika caraku salah. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa selama di kantor." Bima selalu memiliki cara agar kekesalan kekasihnya itu mereda. Ia benar-benar tahu kelemahan Elena.
"Selama di kantor," Elena beralih menatap Bima. "Bukannya..." ucapannya tergantung saat melihat wajah Bima yang terlihat bingung sambil menunggu kelanjutan dari ucapannya.
"Bukannya apa Sayang?"
"Bukannya itu berlebihan Mas?" ucapnya melantur karena sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin ia katakan sebelumnya.
Bodoh sekali, kenapa malah kata-kata seperti itu yang keluar dari mulutku.
"Bukannya sudah ku katakan bahwa aku tidak ingin sampai kamu terluka Sayang."
__ADS_1
"Oh begitu ya Mas." ucapa Elena, ia ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini karena pikirannya sedang berusaha keras menerka-nerka sesuatu.
Elena terus berkecamuk dengan analisanya
***
"Awas Mba." ucap Elena sambil berlari ke arah seorang perempuan yang sedang berdiri di tengah jalan.
Dengan cepat ditariknya tangan tersebut sampai sang pemilik tangan terkejut akan kehadirannya. Tubuh mereka terpental ke arah trotoar
Ngussshh
Sebuah mobil sedan berwarna putih langsung melintas. Jika sedikit saja Elena terlambat maka dipastikan tubuh wanita yang ia selamatkan tadi pasti akan remuk dilindasnya.
Sayur dan buah-buahan berserakan di jalanan. Tak banyak juga sebagian orang yang berlalu lalang menengok seakan sedang memastikan apa yang sedang terjadi namun tidak ada niatan untuk menolong.
"Mba baik-baik saja kan?" ucapnya sambil memperhatikan setiap sudut tubuh wanita yang kira-kira seumuran dengannya.
"Bayiku, apa kamu baik-baik saja." ucapnya sambil meraba-raba perutnya yang masih rata. Air matanya mengalir membentuk anakan sungai di sana.
Tersirat kekhawatiran yang mendalam dan tulus dari naluri sang Ibu.
"Kita ke Rumah sakit sekrang Mba." Elena membantu wanita tersebut untuk berdiri. Diletakkannya tangan wanita tersebut ke bahunya lalu beranjak berjalan ke mobil Elena.
"Aku tadi membawa mobil, kamu bisa pakai mobilku." ucap wanita tersebut ketika Elena membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Biar pakai mobil aku dulu Mba." wanita tersebut mengangguk dan dengan cepat Elena mengemudikan mobilnya ke arah tujuan.
Elena tak menyangka jika kegiatan belanjanya akan berubah menjadi peristiwa yang cukup mengerikan baginya.
Bagaimana tidak? seorang wanita hamil yang hampir saja tertabrak mobil jika dirinya terlambat sedikit saja.
"Bagaimana keadan ibu dan bayinya dok." ucap Elena yang sedang berperan sebagai wali dari wanita yang ia tolong.
"keduanya baik-baik saja. Hanya saja untuk ke depannya lebih dijaga lagi, karena usia kehamilannya masih sangat rentan."
"Baik terima kasih dok." dibungkukkannya tubuh mungil itu seakan memberi penghormatan pada sosok di depannya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi." ucap sang dokter yang tak kalah ramahnya dengan Elena.
"Terima kasih karena kamu telah membantuku sebanyak 2 kali." ucapnya ketika jarak mereka sudah begitu dekat.
"Sama-sama Mba, sudah kewajibannya sebagai sesama untuk saling membantu.
"Aku takut sekali kalau sampai terjadi sesuatu dengan bayi ini." sambil mengelus-elus perutnya namun dengan pandangan yang lurus ke depan.
"Mohon maaf lancang Mba, tapi kenapa Mba berdiri di jalanan seperti tadi?"
"Tadinya aku keluar dari supermarket dan ingin menuju mobil yang terparkir tak jauh dari jalan raya. Sambil memainkan handphone aku berjalan tanpa melihat ke arah depan dan tanpa aku sadari sudah berada di jalanan" sambil memperagakan kejadian yang di alaminya.
"Lain kali hati-hati Mba, kalau boleh tau suaminya kemana Mba?"
"Suamiku sedang ada urusan, jadi aku terpaksa belanja sendiri." sambil menampilkan senyuman paksa di wajahnya.
Tersirat ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
Urusan yang seperti apa sampai-sampai membiarkan istrinya yang sedang hamil muda belanja sendirian gumamnya namun tak ia sampaikan karena takut akan melukai perasaan wanita yang sedang berbaring di depannya.
"Lain kali hati-hati Mba." ucapan yang sama kembali Elena lontarkan setelah sejenak beradu dengan argumennya. diusapnya lengan yang sedang tergeletak lemah di atas ranjang.
"Iya, lain kali aku akan lebih hati-hati." ditampilkannya senyuman dengan bentuk yang sempurna menambahkan kecantikan dari wajah wanita tersebut.
"Oh ya, kita belum kenalan. Perkenalkan nama aku Citra." ucap wanita tersebut sambil mengulurkan tangan dan dibalas jabatan kembali oleh Elena.
"Aku Elena."
***
Sepulang menolong Citra, Elena keluar dari mobil dan mulai membuka bagasi mobilnya. Dilihatnya ke sudut biasa tempat mobil hitam terparkir.
Siapa sebenarnya orang dibalik mobil hitam tersebut. Dengan perasaan yang penasaran mampu mengalahkan sedikit rasa takut yang menyelimuti, Elena berlari ke arah mobil hitam tersebut.
Kakinya yang mungil ia langkahkan dengan cepat, di lepasnya sepatu yang sedang ia pakai dengan keadaan yang masih dalam mode berlari.
Di dengarnya suara mesin yang mulai menderu. Ketika jarak Elena dan mobil tersebut hanya sekitar 2 meter, mobil tersebut melaju menjauhi Elena yang mulai kelelahan karena berlari.
__ADS_1
Napasnya tersengal-sengal dengan spontan ia berjongkok sambil memegangi dadanya. Berusaha ia normalkan napas yang seakan diambil paksa saat ia berlari.
"Siapa sebenarnya kamu?"