
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Selamat jalan Elle, semoga kita bisa bertemu lagi. ...
...Maafkan aku....
...~Erlang...
***
"Gue terlambat Vel." tatapan Erlang terlihat sayu.
Tak pernah Arvel melihat sahabatnya selemah ini. Erlang yang dingin dan tak tersentuh, sekarang berubah menjadi Erlang yang lemah, lemas dan tak berdaya.
Arvel seakan tak tega melihat kondisi sahabatnya.
"Sabar Lang." Arvel menepuk-nepuk bahu Erlang seakan menguatkan sahabatnya yang sedang rapuh.
" Seharusnya kalau loe beneran suka loe bilang Lang. Jangan gengsi-gengsian."
Hening tak ada jawaban dari Erlang.
Pandangannya kosong seakan ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
"Ayo kita pulang Lang, kondisi loe lagi enggak baik."
Arvel berusaha membujuk Erlang yang terlihat pucat.
"Gue enggak mau pulang Vel, gue mau nungguin Elena disini. Gue tau dia enggak mungkin ninggalin gue. Dia pasti balik Vel." ucap Erlang yang terlihat yakin bahwa Elena akan kembali.
"Lang, Elena sudah pergi. Lagian dia enggak bakal balik. Ngapain loe disini nunggu orang yang sudah pergi,"
"Kalau loe mau ketemu Elena loe bisa nyusul dia ke Canada Lang. Bukan dengan cara yang seperti ini."
Arvel yang terlihat emosi menggoyang-goyangkan badan Erlang.
Mereka pun beranjak pulang. Arvel mengambil kunci dari saku Erlang dan mengemudikan mobil Erlang beranjak pergi bersamaan dengan suara pesawat yang berangkat.
Erlang menatap keluar jendela, melihat pesawat yang terbang semakin meninggi.
Selamat jalan Elle, semoga kita bisa bertemu lagi.
Maafkan aku.
Erlang menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia berusaha menormalkan napasnya yang terasa sesak.
"Ngapain loe tadi nyusulin gue ke bandara?" tanya Erlang kepada Arvel sambil tatapannya lurus ke depan.
"Ya gue khawatir lah Lang sama loe. Liat loe yang ngemudi mobil ngebut dan ugal-ugalan bikin gue ngilu tau enggak. Gini-gini juga gue enggak mau liat temen gue mati muda."
"Loe doain gue mati hah." teriak Erlang sambil melototkan matanya.
"Gue enggak maksud gitu ko Lang, tapi kalau loe nganggepnya gitu ya terserah lo hahaha."
"Shitt." ucap Erlang lalu menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
Arvel melirik Erlang sambil tersenyum, setidaknya ia bisa sedikit menghibur sahabatnya itu.
__ADS_1
Sesampai dirumah Erlang segera merebahkan tubuhnya di kasur dan membiarkan Arvel pulang dengan memesan taxi.
Baru sebentar ia memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu.
"Ada apa bi?"
"Ini Tuan Muda bibi bawain makan dan obat. Tadi bibi liat wajah Tuan Muda terlihat pucat."
"Bibi taruh di atas meja, nanti Erlang makan." jelas Erlang kemudian bi Sumi meletakkan piring diatas meja dan beranjak keluar kamar.
Erlang kembali merebahkan tubuhnya.
Tak sedikitpun makanan yang dibuat bi Sumi ia sentuh.
Entah kenapa nafsu makannya seakan hilang bersama kepergian Elena.
Erlang kembali dikejutkan oleh ketukan dari luar pintu. Dengan perasaan kesal ia membuka pintu.
"Ada apa lagi sih bi? Erlang mau istirahat." wajahnya terlihat kesal.
Ia memijit-mijit kepalanya.
"I-Ini Tuan Muda, tadi ada kiriman. Katanya untuk Tuan Muda." ucap bi Sumi dengan terbata-bata dan terlihat sangat gugup. Ia tak berani menatap Tuan Mudanya.
Dengan tatapan yang masih menunduk ia mengulurkan sebuah paket.
"Apa isinya bi?" entah pertanyaan macam apa yang terlontar dari mulut Erlang.
Jelas-jelas paket tersebut belum dibuka dan masih tertutup dengan rapat.
"Bibi tidak tau Tuan Muda. Bibi tidak berani membukanya, takut Tuan Muda marah." ucap bi Sumi yang sudah berani mengangkat kepalanya.
"Dari siapa paketnya bi?" tanya Erlang yang masih enggan menerima paketnya."
Bi Sumi sedang mencari tahu siapa pengirimnya sambil membolak-balikkan paket tersebut.
"Dari non Elena Tuan Muda." ucap bi Sumi setelah menemukan siapa pengirim paket tersebut.
Mata Erlang terbelalak, ia terkejut ketika bi Sumi mengucapkan nama Elena.
"Dari Elena bi?" ucapnya sambil mengambil paket dari Bi Sumi dan dibalas anggukan oleh bi Sumi.
"Terimakasih bi, sekarang bibi boleh pergi." ucap Erlang sambil menutup pintu.
Bi Sumi benar-benar bingung dibuatnya. Namun ia memilih pergi daripada nanti dimarahi lagi oleh Tuan Mudanya.
Erlang kembali mengecek nama pengirim paket.
Ternyata memang benar Elena pengirimnya. Ia duduk diujung ranjang sambil memandangi paket dari Elena.
Entah kenapa perasaan tidak enak menyeliputi hatinya. Ia memberanikan diri untuk membuka paket tersebut.
Betapa terkejutnya ia setelah membuka paket tersebut.
Kalung berinisial E yang berarti Erlang, merupakan hadianya pada Elena waktu itu.
Kalung tersebut merupakan kalung pengikat sebagai tanda bahwa Elena adalah milik Erlang. Ia menggenggam kalung tersebut.
__ADS_1
Erlang tak menyangka jika Elena mengembalikan kalung tersebut.
Dengan mengembalikan kalung tersebut berarti Elena ingin mengakhiri hubungan mereka, padahal belum sempat Erlang menjelaskan kesalah pahaman mereka.
Tatapannya terhenti saat melihat ada surat di dalam paket tersebut.
Diambilnya lalu dibacanya. Erlang terkejut saat membaca surat dari Elena.
Hai Erlang, ini aku Elena
Aku kembalikan kalung yang pernah kamu kasih. Aku merasa tidak pantas menerimanya.
Dulu aku bertanya-tanya mengapa sikapmu berubah drastis kepadaku. Atau kamu ada maksud lain?
Mungkin kamu sudah mulai menyukaiku, begitu pikirku. Ternyata aku salah, aku terlalu bodoh soal urusan cinta.
Sekarang aku sudah mengetahui mengapa kamu bersikap baik padaku.
Itu karena kamu dipaksa sama ayah kamu untuk belajar denganku kan? kalau kamu menolaknya, maka fasilitas kamu akan diblacklist.
Kamu tenang aja, aku enggak marah kok.
Aku justru mau berterima kasih sama kamu, karena pernah hadir dalam kehidupanku.
Erlang, aku pergi
Maaf jika hadirku membuatmu tidak nyaman
TERIMA KASIH ERLANG
~Elena
Erlang meremas surat dari Elena. Siapa yang berani-berani mengatakan hal bohong seperti ini kepada Elena.
"Aaakkkhhhh." teriaknya sambil melempar surat dari Elena. Kamu salah paham Elle.
Erlang sejenak berpikir siapa dalang di balik semua ini selain Salsa. Ngga mungkin jika hanya Salsa dan teman-temannya.
Aldo, nama itu langsung terlintas dipikirannya. Karena saat Elena datang, Aldo yang mulai menjelek-jelekkan Elena.
Erlang begitu yakin dengan prasangkanya. Dengan wajah yang masih pucat, Erlang mengendarai mobilnya menuju rumah Aldo.
Bi Sumi terlihat sedang lari menghampirinya, namun tak dihiraukan oleh Erlang.
Mobil Erlang pun beranjak pergi meninggalkan bi Sumi yang terlihat khawatir karena kondisi Erlang yang terlihat lemah.
***
Terdengar suara gelak tawa dari ruang tamu rumah Aldo.
"Untung nyokap sama bokap loe lagi keluar kota, jadi kita bisa bebas ketawanya hahahah." ucap Rosa
"Bener banget tuh. Gue bener-bener puas ketawa hari ini,"
"Gue bener-bener senang karena hubungan Erlang dan Elena sudah hancur." ucap Salsa sambil terus tertawa.
"Gimana, hebat kan rencana gue." ucap Aldo seakan membanggakan dirinya.
__ADS_1
Erlang yang geram mendengar pembicaraan mereka langsung masuk dengan membanting pintu, membuat semua yang berada di ruang tamu terkejut.
"Erlang." ucap Salsa dengan gemetar sambil memegang ujung bajunya.