
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Untuk apa aku cemburu, aku juga sudah memiliki seseorang yang benar-benar mencintaiku...
...~Elena...
Karena hari ini adalah hari minggu, jadi kantor libur. Elena sedang menunggu Erlang untuk pergi mencari kado untuk Lusiana. Elena menghentak-hentakkan kakinya smbil duduk di kursi depan rumahnya menikmati angin pagi yang berhembus.
Tak lama datang sebuah mobil hitam milik Erlang, Elena pun bergegas menghampiri mobil tersebut.
"Sudah lama menunggu?" tanya Erlang setelah Elena duduk di kursi penumpang.
"Baru kok." balas Elena.
"Kita mau mencari kado di mana?" tanya Elena sambil melepas kemudian meletakkan tas yang ia pakai di samping tempat duduknya.
"Menurut kamu kita harus kemana?" tanya balik Erlang sambil mengambil sebotol minuman dan meneguknya hingga hanya tersisa setengahnya.
"Kenapa kamu jadi bertanya sama aku." tutur Elena sambil melihat ke arah Erlang yang begitu sexy saat minum. Jakunnya yang turun naik membuat Elena terpana, sungguh semakin tampan pikirnya. Tanpa disadari ia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Aku tidak tahu harus mencari kemana Elle." Erlang meletakkan botol minumnya dan mengarahkan pandangannya ke arah Elena.
"Emangnya kamu mau mencari kado seperti apa?" ucap Elena sambil membuang pikiran kotor yang sedari tadi mengganggu fokusnya.
"Apa saja yang penting tidak ribet." ucap Elang sambil memandangi wajah Elena yang sedang memerah.
Apa yang sedang kamu pikirkan Elle, apa hanya dengan melihatku minum sudah membuatmu berpikir yang macam-macam. Erlang terkekeh sambil terus memandangi perempuan yang sedang duduk di sampingnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Elle, sampai membuat pipi mu merah seperti ini?" tanya Erlang basa-basi. Ia mengusap pipi mungil Elena dengan ibu jarinya.
"Ti-tidak ada, aku hanya merasa gerah." ucap Elena sambil mengibaskan tangannya. Sungguh memalukan jika Erlang tahu apa yang sedang ia pikirkan gumam Elena.
"Bagaimana kalau jam tangan couple?" tutur Elena sembari mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa kamu menyukai sesuatu yang couple Elle, dulu juga kamu memintaku untuk membeli baju couple." ucap Erlang sambil menekuk tangannya sebagai tumpu untuk bersandar sambil mengarahkan pandangannya ke arah Elena
"Itu so sweet Erlang." timpal Elena.
"Baiklah, jadi kemana kita sekarang?"
Elena sejenak berpikir dimana tempat yang bisa mereka datangi untuk memilih berbagai macam perhiasan.
Erlang memandangi wajah Elena yang sedang sibuk dengan pikirannya.
Aku tidak akan berbuat macam-macam sampai kamu sudah sah menjadi istriku Elle. Aku akan berusaha menahannya, itu janjiku gumam Erlang.
__ADS_1
"Bagaimana kalau di mall dekat persimpangan kota?" sahut Elena yang disetujui oleh Erlang.
Mobil pun segera mengarah ke arah tujuan. Tak selang berapa menit mereka sampai di sebuah mall dekat persimpangan kota. Erlang mensejajarkan mobilnya sejajar dengan mobil yang lainnya di parkiran.
Mereka menuju ke lantai 3, tempat di mana perhiasan tertata rapi di sana. Setelah lama berkutat dengan berbagai macam pilihan akhirnya Erlang dan Elena memilih sebuah jam tangan couple bermerek berwarnakan hitam.
"Mba bisa perlihatkan kalung termahal di sini? tanya Erlang mendadak.
"Sebentar Pak, saya ambilkan." ucap salah satu pegawai perempuan di sana.
"Erlang untuk apa kamu membeli sebuah kalung." tanya Elena sambil setengah berbisisk.
"Untuk tambahan." timpal Erlang.
"Ohhhh." ucap Elena sambil mengangguk dan kembali memposisikan tubuhnya menghadap meja kaca di depannya. Ia memperhatikan gerak-gerik dari pegawai perempuan yang sedang mengambil kalung dari permintaan Erlang.
"Ini Pak, ada 2 model kalung yang termahal di sini." ucapnya sambil meletakkan kotak berisikan kalung tersebut di atas meja.
"Yang ini kalung berlian liontin satu dengan jenis potongan round yang sedang populer sekarang ini." ucap pegawai perempuan itu sambil memperlihatkan kalung yang berada di sebelah kanannya.
"Dan yang ini kalung liontin hati dengan permata batu ruby." jelasnya lagi.
"Menurut kamu lebih bagus yang mana Elle?" tanya Erlang kepada Elena yang sedang sibuk mengagumi keindahan dari kedua kalung tersebut. Selama ini ia memang tidak pernah memakai perhiasan yang tergolong mahal padahal ayahnya akan membelikan apa saja jika ia mau. Tapi ia hanya ingin membeli sesuatu dengan uangnya sendiri.
"Elle." panggil Erlang lagi.
"Menurut kamu lebih bagus yang mana?" ucap Erlang mengulang kalimatnya.
"Kenapa kamu bertanya padaku?"
"Aku tidak tahu selera perempuan seperti apa." perkataan Erlang dapat diterima oleh Elena. Ia kemudian kembali mengamati dua kalung di hadapannya.
"Aku lebih suka yang ini." tunjuk Elena pada kalung liontin hati dengan permata ruby.
"Saya beli yang ini." ucap Erlang sambil mengeluarkan kredit card-nya.
Pegawai wanita itu pun mengangguk dan mulai mengemas cantik kalung yang akan di beli Erlang.
"Ini Pak." pegawai wanita itu menyerahkan tas cantik yang berisikan kalung ruby tadi beserta surat bahwa batu permata tersebut adalah permata asli.
Erlang pun menyerahkan kredit card-nya sebagai proses transaksi.
"Terima kasih sudah berbelanja di toko kami." ucap pegawai tersebut ketika Erlang dan Elena hendak keluar dari toko.
Mereka juga singgah di toko baju. Sebenarnya Elena tidak ingin membeli baju, tapi Erlang terus memaksanya dan akhirnya ia pun mengalah dan menuruti perkataan dari Erlang.
__ADS_1
Erlang memilihkan dress untuk Elena, dress tersebut berwarna palet pink kecokelatan dengan desain sederhana namun terlihat elegan sepadan dengan heels yang baru saja mereka beli.
"Erlang, apa ini tidak berlebihan?" tanya Elena sambil mengangkat belanjaannya.
"Tidak jika itu untukmu." ucap Erlang sambil mengambil tas belanjaan dari tangan Elena dan berpindah ke tangannya.
Erlang terus berjalan diikuti Elena di belakangnya yang sedang merasa kesal. Ia terus menggerutu, untuk apa membeli baju yang mahal seperti itu untukku gumamnya.
Langkah Elena terhenti saat melihat seorang perempuan yang sedang duduk di sebuah kursi yang terletak tak jauh dari posisinya sekarang. Perut perempuan itu terlihat sudah menonjol karena ia sedang hamil.
"Mba Citra." ucap Elena setengah berlari mendatangi Citra. Yang dipanggil pun mengengok ke arah sumber suara.
"Elena." ucap Citra sambil berdiri dari posisinya.
Mereka saling berpelukan karena setelah lama keduanya akhirnya bertemu.
"Lama tidak bertemu denganmu, aku jadi kangen." ucap Citra, mereka memang sudah lama tidak bertemu, karena semenjak kejadian itu Elena jadi semakin sibuk dengan kehidupan barunya.
"Aku juga kangen sama Mba Citra, Mba lagi apa sendirian di sini."
"Aku sedang menunggu Mas Bima, dia sedang ke toilet sebentar." jelas Citra sambil diiringin senyum tulusnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Mas Bima sudah berubah, dia sudah menerimaku dan juga calon bayi ini" sambung Citra lagi sambil mengusap pelan perutnya.Terlihat matanya sedang berkaca-kaca. Ia benar-benar bahagia saat ini.
Sulit baginya untuk membuat Bima bisa menerimanya, namun dengan kesabaran Citta akhirnya Bima pun luluh dengan semua perhatian yang ia berikan.
"Aku turut bahagia untuk Mba Citra." ucap Elena dengan tulus.
"Terima kasih Elena, ini siapa?" tunjuk Citra pada Erlang yang sedari tadi terdiam di samping Elena.
"Perkenalkan saya Erlang, calon suami Elena." ucap Erlang sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Citra, teman Elena." Citra membalas jabatan tangan Erlang.
"Sudah berapa bulan Mba kandungannya?" tanya Elena sambil mengusap-usap perut Citra.
"Sudah jalan 7 bulan."
Tak banyak pembicaraan dari mereka karena Elena dan Erlang memutuskan untuk cepat-cepat pulang sebab mereka nanti harus bersiap ke acara pernikahan Lusiana. Mereka beranjak pergi dan belum sempat bertemu dengan Bima.
Sebenarnya Erlang sudah tahu jika itu adalah Citra, istri dari Bima. Saat itu ia mencari informasi mengenai penyebab dari Elena menangis waktu itu dan ternyata penyebabnya adalah Bima sudah menikah dengan Citra.
"Akhirnya aku bertemu lagi dengan Mba Citra, aku benar-benar senang sekarang." ucap Elena ketika mereka sudah memasuki mobil dan beranjak pulang.
"Apa kamu tidak merasa cemburu?" tanya Erlang.
__ADS_1
"Untuk apa aku cemburu, aku juga sudah memiliki seseorang yang benar-benar mencintaiku." ucap Elena sambil menatap lekat wajah Erlang.