
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Rasa khawatir dan takut akan kehilangan yang membuatmu hilang kendali...
...~Bima...
Dengan langkah gontai, Erlang menyeret kakinya melewati satu persatu ruangan rumak sakit dan berhenti di depan ruangan bernomorkan 42.
Ruangan tempat calon istrinya yang sedang terbaring lemah.Terlihat sosok yang sampai saat ini masih tetap setia memejamkan matanya.
Erlang menarik napas dalam-dalam sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Bukan tangisan yang ingin Elena lihat melainkan kekuatan yang ia perlukan sekarang, begitu pikir Erlang.
Perlahan Erlang memutar gagang pintu dan membukanya. Ia duduk di kursi samping ranjang Elena.
"Elle, bangun." ucap Erlang sambil menggenggam tangan mungil yang sedang tergeletak lemah itu.
"Aku merindukanmu Elle, meskipun kita baru saja bertemu tapi rindu ku benar-benar tidak bisa aku tahan Elle."
Berkali-kali Erlang mengecupi tangan perempuan di sampingnya, namun masih tidak ada pergerakan dari tubuh Elena.
"Bangunlah Elle, bagaimana bisa kamu membiarkan aku sendirian mengurus pernikahan kita." Erlang berhenti sejenak.
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri Elle, jadi bangunlah."
Tangan Erlang beralih membelai pipi mungil Elena. Pipi yang sangat lembut bagi Erlang.
"Bangunlah Elle, ku mohon."
Tenggorokan Erlang serasa tercekat, suaranya memberat bahkan ia tak sanggup lagi menahan telaga air yang sedari tadi ia tahan. Erlang segera beranjak dari kursi dan beralih menuju jendela di ruangan tersebut.
Air matanya tumpah sekarang, seharusnya ia mampu menahan. Tapi entah mengapa ia begitu lemah jika menyangkut dengan Elena.
Tanpa Erlang sadari, sosok yang sedang terbaring lemah juga meneteskan air matanya.
***
Erlang berniat untuk menenangkan diri sejenak. Ia berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit. Tapi ia salah, melihat taman justru mengingatkannya tentang Elena. Kenangan yang bertahun-tahun lalu masih melekat dipikirannya.
"Bima." ucap Erlang dengan pelan, matanya kembali menangkap sosok laki-laki tersebut. Ia berjalan mendekati sosok yang sedang duduk di kursi ujung taman. Dengan segala amarah, Erlang berjalan semakin mendekat.
__ADS_1
Dan bugh,
Erlang langsung memukul Bima yang sedang duduk dan tidak menyadari kedatangannya. Bima tersungkur ke tanah, ia menengok sosok yang sudah menamparnya.
"Erlangga." ucap Bima sambil berdiri dan memegangi salah satu sudut bibirnya yang berdarah.
"Ada apa ini? kenapa kamu tiba-tiba memukulku?" Bima sama sekali tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.
"Tidak perlu basa-basi Pak Bima." tutur Erlang dengan segala penekanan. Napasnya menggebu-gebu, mata yang menyala serta urat-urat yang menjalar di sekitar dahinya menunjukkan bahwa ia benar-benar marah sekarang
"Erlangga, apa maksudmu?" Bima berusaha mencerna setiap kalimat yang Erlang lontarkan, tapi tak ada jawaban yang ia dapat.
"Aku tahu kamu yang merencanakan semuanya." Erlang mencengkram kerah baju Bima membuat napas laki-laki itu tersendat.
"Rencana apa? Tolong bicara yang jelas Pak Erlangga." emosi Bima mulai menaik, ia menepis lengan Erlang dan membuat lengan tersebut terhempas.
Banyak yang menonton perdebatan mereka, namun tak ada satu pun yang berniat melerai karena takut jadi sasaran keduanya.
"Apa menurutmu selama ini rasa sakit yang kamu berikan untuk Elena itu kurang sampai-sampai kamu tega menyakiti raganya dan menabraknya begitu saja, Hah."
"Jaga bicaramu, aku tidak pernah ada niatan untuk menyakiti Elena, dan aku tidak mungkin tega untuk menabrak Elena." jelas Bima
Erlang tertawa sinis mendengar kalimat yang dilontarkan Bima. "Omong kosong, sebenarnya kamu ingin membalas dendam karena Elena telah menolakmu kan. Lalu kamu merencanakan untuk menabrak Elena hingga ia tidak sadarkan diri, makanya sekarang kamu berada di rumah sakit ini."
"Dimana dia sekarang?" lanjut Bima lagi.
"Tidak perlu berlagak seperti itu, aku sudah mengetahui rencana busuk kamu Pak Bima." emosi Erlang semakin lama semakin meninggi.
"Erlangga, aku benar-benar tidak mengetahuinya. Aku berani bertaruh." ucap Bima dengan sungguh-sungguh.
Erlang merasa ada kejujuran di mata Bima. Ia melihat raut wajah yang terlihat begitu panik di wajah Bima.
"Jika kamu tidak mengetahuinya, lalu untuk apa kamu berada di sini."
Bima menghela napas, ia mengalihkan pandangannya ke arah danau yang sedari tadi ia pandangi sebelum Erlang memukulnya.
"Citra kritis." ucap Bima sambil mendudukkan tubuhnya di kursi dan diikuti dengan pergerakan Erlang. Emosi Erlang yang sedari tadi membludak, tiba-tiba surut saat mendengar perkataan Bima.
Erlang membiarkan Bima terdiam sejenak dengan segala pikirannya. Ia juga ikut memandang danau yang tak terlalu besar itu.
"Citra terjatuh di kamar mandi." sambungnya lagi seakan tahu apa yang sedang Erlang pikirkan.
__ADS_1
"Seharusnya proses lahiran 2 bulan lagi. Tapi karena situasi yang tidak diinginkan timbul, terpaksa harus di ambil tindakan operasi dan Citra kritis karena tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah." jelas Bima, tersirat kesedihan yang mendalam dari setiap kata yang ia lontarkan.
"Bagaimana bisa aku mempercayaimu." ucap Erlang yang masih kurang yakin. Ia berbicara tanpa menghadap ke arah Bima.
"Kamu bisa melihatnya secara langsung."
***
Terlihat sosok perempuan yang juga terbaring lemas beserta alat bantu yang tak jauh banyaknya dari punya Elena.
"Maaf karena telah menuduhmu dan maaf atas pukulan yang aku berikan." tutur Erlang yang merasa bersalah.
"Aku paham." ucap Bima sambil menepuk-nepuk pundak Erlang.
"Rasa khawatir dan takut akan kehilangan yang membuatmu hilang kendali." ucap Bima lagi, ia paham akan apa yang dirasakan Erlang. Karena ia juga merasakan hal yang sama yaitu takut kehilangan Citra. Entah mengapa perasaannya kepada Citra semakin kuat dan semakin takut jika perempuan tersebut hilang dari kehidupannya.
Erlang yang mendengar perkataan dari Bima merasa tenang. Benar kata Bima, ia terlau takut jika kehilangan Elena. Sampai-sampai ia menganggap apa yang dipikirkannya adalah benar tanpa menyelidiki terlebih dahulu kebenarannya.
"Sekarang aku mau melihat kondisi Elena." perkataan Bima ditanggapi anggukan oleh Erlang.
Mereka beranjak menuju ruangan Elena yang berada di lantai 3, sedangkan ruangan Citra berada di lantai 2.
Setelah sampai di depan ruangan Elena, mereka melihat seorang dokter beserta seorang suster terlihat sedang berkutat dengan alat-alat di tubuh Elena.
Erlang yang melihat situasi tersebut merasa panik dan dengan segera masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa dengan calon istri saya, Dok?"
"Mohon maaf, anda bisa keluar. Kami sedang memeriksa pasien." ucap suster tersebut sambil menghalangi tubuh Erlang yang hendak mendekati Elena.
"Tapi saya ingin melihat calon istri saya." bentak Erlang.
"Mohon kerja samanya Pak, jika anda di sini maka akan mengganggu pemeriksaan." sahut Dokter yang sedari tadi memeriksa Elena.
Erlang pun mengalah dan mekangkahkan kakinya mendatangi Bima yang sedari tadi hanya mematung di depan pintu.
Erlang mondar-mandir di depan ruangan Elena. Sementara Bima sudah pergi menuju ruangan Citra.
Perasaan Erlang benar-benar gelisah, tak henti-henti mulutnya berdoa berharap jika tak ada kabar buruk lagi yang akan ia dengar.
"Bagaimana keadannya Dok?" tanya Erlang saat melihat dokter dan suster tadi sudah keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Begini Pak, dari hasil pemeriksaan tadi, kondisi pasien semakin memburuk. Dan secepatnya perlu donor ginjal."
"Saya bersedia mendonorkan ginjal saya Dok."