My Chosen Man

My Chosen Man
Mengalir adanya


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Jangan lakukan jika itu membuatmu terluka...


...~Theo...


"Mohon maaf, dari hasil pemeriksaan Human Leukocyte Antigen (HLA), terdapat ketidakcocokan jenis tipe jaringan dalam darah anda dengan pasien. Jadi terpaksa pemeriksaan tidak bisa dilanjutkan. Sebab jika dilakukan transfalasi tanpa adanya kecocokan, maka tubuh pasien akan menolak dan menganggapnya sebagsi benda asing sehingga akan terjadi hal yang tidak diinginkan." jelas dokter paruh baya tersebut.


Erlang hanya terduduk lemas diposisinya saat mendengar penjelasan dari dokter di depannya. Harapannya benar-benar musnah sekarang.


"Saya harus bagaimana Dok?" tanya Erlang prustasi, ia mengacak-acak rambutnya sambil mengelap kasar wajahnya.


Dokter tersebut merasa iba, tak pernah ia melihat pengorbanan yang begitu besar. Entah apa yang membuatnya seperti ini, yang pasti sekarang dokter tersebut ingin membantu Erlang semampunya.


"Nanti akan saya bantu tanyakan dengan beberapa dokter kenalan saya jika ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya." ucap dokter tersebut yang merasa kasihan ketika melihat Erlang.


"Anda serius Dok?" tutur Erlang memastikan sambil mendekat dan menatap lekat laki-laki paruh baya di depannya. Tersirat sebuah harapan dari mata Erlang.


"Iya, akan saya bantu sebisa saya." ucapan dokter tersebut di akhiri dengan seutas senyuman.


"Terima kasih Dok." ucap Erlang dengan tulus dan dibalas anggukan pelan oleh sang dokter.


Erlang melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter teresebut. Meskipun ada sedikit kelegaan karena mendapat bantuan, tapi tetap saja pikirannya kacau. Tak sedikitpun pikirannya teralihkan dari Elena.


Erlang terus berjalan lurus sambil melamun, tak memperdulikan orang-orang disekitarnya. Hanya sebuah dering dari handphone-nya yang membuatnya tersadar dan segera mengambil benda tersebut dari dalam sakunya.


Terpampang nama Wedding Organizer di layar handphone-nya. Sebuah helaan napas membuktikan bahwa ia sedang malas menerima panggilan tersebut, padahal sebelumnya ia sangat bersemangat jika menyangkut pernikahannya. Tapi sekarang tidak ada yang membuatnya tertarik selain kabar baik tentang Elena. Ya, hanya itu yang ingin ia dengar sekarang.


Dengan malas, Erlang mengeser tombol hijau dan meletakkan handphone-nya ke daun telinga sebelah kanan.


Hallo sahutnya dengan malas saat panggilan sudah terhubung.


Apa benar ini dengan Pak Erlangga? tanya seorang perempuan di seberang sana.


Iya benar saya sendiri.


Begini Pak, kami ingin menanyakan mengenai pesan yang anda kirim tadi malam?


Erlang mengingat saat ia mengirim pesan kepada WO tadi malam untuk menunda proses pernikahannya.


Iya, kenapa? jawab Erlang dengan ketus.

__ADS_1


Apa benar anda ingin menunda proses pernikahannya? tanya perempuan itu lagi


Iya benar, lagi-lagi Erlang menjawab dengan ketus.


Oh begitu ya Pak, kami hanya memastikan jika pesan itu benar-benar dari Bapak.


Itu memang dari saya.


Baiklah kalau begitu saya tutup telphone-nya Pa ucap perempuan tersebut. Ia tak berani bertanya kenapa pernikahan tersebut diundur karena ia yakin pasti ada sesuatu hal buruk yang terjadi.


***


"Om." ucap Erlang saat melihat Theo yang sudah kembali membeli makanan. Ia mendekat ke arah laki-laki yang sedang menatap sendu ke arah putrinya.


"Om kira kamu sudah pulang?" Theo mengalihkan pandangannya ke arah Erlang. Dilihatnya wajah menantunya yang terlihat murung.


"Ada apa Nak?" tanya Theo.


Erlang semakin mendekat dan segera mengambil tangan Theo. Ia meletakkan kepalanya di atas punggung tangan Theo.


"Ada apa Nak, kenapa kamu seperti ini?" Theo berusaha mengangkat kepala Erlang. Terlihat mata Erlang yang mulai sembab. Theo yakin pasti ada sesuatu yang buruk dan itu pasti menyangkut Elena.


Erlang pun mengangguk, "Aku tidak bisa mendonorkan ginjalku Om, karena terdapat ketidakcocokan jaringan antara aku dengan Elena." jelas Erlang dengan raut wajah yang kecewa.


Theo hanya menanggapi dengan mengulas senyuman. Ia kembali menepuk-nepuk punggung Erlang.


"Om sudah kerahkan orang kepercayaan Om untuk mencari ginjal buat Elena." ucap Theo berusaha sedikit menenangkan perasaan Erlang. Dari awal Theo memang tidak setuju dengan keputusan Erlang untuk mendonorkan ginjalnya.


"Tapi aku takut kita kehabisan waktu dan kondisi Elena semakin memburuk Om." Tergambar rasa khawatir di wajah tampan Erlang. Ia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan Elena.


Theo mengalihkan pandanganya ke arah Elena yang masih terbaring kaku di ranjangnya.


"Kita tidak bisa melawan apa yang sudah digariskan olehnya." Theo berusaha menahan air matanya. Karena jika ia menangis, pasti Erlang akan kembali merasa bersalah dan kembali menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku akan melakukan apa pun untuk Elena Om." ucap Erlang dengan penuh keyakinan, membuat Theo dengan cepat menatapnya.


"Jangan lakukan jika itu membuatmu terluka Nak." Theo menggeleng. Ia tidak mau jika Erlang malah melukai dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkan Elena.


"Karena Elena pun pasti tidak mau jika melihatmu terluka karenanya." sambung Theo lagi.


Erlang tertegun setelah mendengar perkataan Theo. Ia sejenak mencerna kata-kata dari ayah yang sudah melahirkan Elena itu, lalu mengangguk setelah ia paham.

__ADS_1


Theo pun berjalan ke arah meja dan mengambil beberapa bungkus makanan yang telah ia beli tadi lalu beranjak mendekati Erlang. Ia menyodorkan bungkus makanan tersebut ke arah Erlang.


"Makanlah." tuturnya setelah melihat ekspresi bingung dari wajah Erlang.


"Aku tidak lapar Om." ucap Erlang sambil menggelengkan kepalanya.


"Jika tidak lapar, setidaknya isi perutmu itu. Kalau kamu sakit. Siapa nanti yang akan membantu Om menjaga Elena, apa kamu mau kalau Elena Om jodohkan dengan anak teman Om." Theo hendak berbalik dan kembali mengambil beberapa bungkus makanan yang ditolak Erlang.


"Jangan Om, bagaimana bisa Om berbicara seperti itu!"


"Bisa saja." ucap Theo dengan santai.


"Aku lapar Om." ucap Erlang sambil mengambil beberapa bungkus makanan yang tadi ia tolak. Ia pun berjalan ke arah meja yang terdapat di dalam ruangan tersebut.


Theo hanya terkekeh melihat sikap calon menantunya. Sebenarnya itu hanya tipu muslihatnya, bagaimana bisa ia berpikir menjodohkan Elena.


Erlang pun melahap makanan yang telah ia letakkan di atas meja sambil membuang pikirannya tentang Elena yang ingin dijodohkan.


***


Sudah 2 hari Erlang bolak-balik ke rumah sakit. Karena ada urusan penting, ia terpaksa harus merelakan waktunya sedikit terbagi dalam menjenguk Elena.


Sore ini Erlang sedang di suatu tempat mengamati sesuatu yang sudah 2 hari ini juga menarik perhatiannya.


Hallo ada apa Om? ucap Erlang setelah mengangkat panggilan dari Theo.


Ada sesuatu yang ingin Om katakan.


Apa Om? aku tidak ingin mendengar jika itu kabar buruk, aku hanya ingin mendengar kabar baik saja.


Tenang Nak, ini memang kabat baik, Om sudah mendapat pendonor untuk Elena.


Benarkah itu Om?


Iya Nak


Aku akan ke rumah sakit sekarang Om


Baik Nak


Dengan perasaan senang, Erlang melajukan mobilnya ke arah rumah sakit dan untuk sementara membiarkan urusan yang sempat membuatnya marah tadi.

__ADS_1


__ADS_2