My Chosen Man

My Chosen Man
Dibatalkan


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


Erlang beranjak dari duduknya dan hendak menghubungi Theo, namun pergerakannya tercekal oleh kalimat yang Elena lontarkan.


"Elang." ucap Elena.


Erlang segera membalikkan kembali tubuhnya menghadap Elena dan menatap lekat wajah perempuan di depannya.


"Elang, taman, ayunan." ucap Elena.


Erlang tersenyum saat Elena mengucapkan kata-kata tersebut. Terlukis kembali kejadian di masa lalu yang beberapa tahun ini ia ingat sendirian.


"Elle, kamu mengingatnya." Senyum mengembang di bibir Erlang. Ia tak menyangka jika kecelakaan mampu membuat ingatan Elena kembali.


Elena mengangguk sambil membalas senyuman Erlang. Selama ia koma, ia terus melihat hal-hal yang selama ini dianggapnya tidak asing.


"Aku sangat bahagia hari ini Elle." hanya itu kata yang mampu Erlang lontarkan. Ia tak mampu mengatakan hal lain lagi karena begitu sulit untuk ia ucapkan sekarang.


"Maaf aku terlalu lama melupakannya, seharusnya aku lebih berusaha lagi untuk mengingatnya."


"Tidak perlu meminta maaf Elle, ini semua bukan salahmu."


Elena hanya terdiam sambil terus memandangi Erlang yang juga sedari tadi terus menatapnya sambil mengelus puncak kepala Elena.


"Elang, aku rindu." tutur Elena sambil menyisipkan senyuman di akhir kalimatnya.


"Aku lebih rindu Elle, aku rindu panggilan kecil itu." ucap Erlang.


Elang merupakan panggilan Erlang dari Elena sewaktu kecil. Saat itu Elena kesusahan saat mengucap nama Erlang, jadi ia memutuskan untuk memanggil Erlang dengan sebutan Elang.


Elena juga ingin jika Erlang tumbuh seperti layaknya elang, yang begitu gagah sewaktu ia terbang di langit. Dan Elena ingin jika Erlang menggapai cita-citanya setinggi elang yang terbang tinggi di atas sana.


"Aku ingin ke taman sewaktu kita kecil dulu, apa masih ada?" tanya Elena dengan penuh harap. Ia ingin kembali mengingat masa-masa yang beberapa tahun ini ia lupakan.


"Tentu saja masih ada Elle, bahkan sekarang tamannya sudah tambah besar." jelas Erlang.


"Aku mau ke sana."


"Nanti, jika kamu sudah pulih." ucap Erlang kemudian dibalas anggukan oleh Elena.


***


"Mau kemana?" tanya Elena setelah melihat Erlang beranjak dari posisinya.


"Mau menghubungi calon mertua, mau memberitahu jika putri cantiknya sudah mulai membaik." ucapan Erlang membuat Elena tersipu lalu membiarkan Erlang mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


Erlang mengambil handphone-nya dan mencari nomor Theo. Sejenak ia menunggu panggilan tersebut diangkat sambil memandang ke arah Elena.


Hallo Om ucap Erlang setelah terdengar sapaan dari laki-laki paruh baya tersebut.


Ada apa Nak?


Om di mana? tanya Erlang balik.


Om sedang ada urusan di luar, tapi sebentar lagi akan selesai. Ada apa Nak?


Kondisi Elena sudah membaik Om, dan sekarang sudah dapat berbicara lagi.


Om akan segera ke sana sekarang.


Baik Om


Baru saja Erlang hendak mendekati Elena di ranjangnya, namun sebuah getaran dari handphone-nya membuat langkahnya terhenti. Dengan wajah yang serius, Erlang melihat layar handphone-nya. Tersirat kemarahan yang tertahan di wajahnya.


Erlang memutuskan untuk memanggil nomor yang memberinya pesan tadi. Erlang pergi ke kamar mandi agar Elena tidak mendengar apa yang sedang ia rencanakan.


Lama Erlang menerima panggilan tersebut sampai ia memutuskan untuk pergi menemuinya langsung. Erlang berusaha menormalkan wajahnya yang terlihat sudah memerah. Ia tidak ingin jika Elena melihat perubahan dari raut wajahnya. Setelah dirasa sudah mulai normal, baru Erlang keluar dari kamar mandi.


Erlang terlihat sangat gelisah, berulang kali ia menatap jam yang melilit di tangan sebelah kirinya. Ia terus berkecamuk dengan segala pikirannya.


"Aku hanya menunggu ayah kamu Elle."


"Apa menunggu ayahku sampai membuatmu cemas hingga mengeluarkan keringat." ucap Elena sambil terus menatap lekat wajah Erlang yang mulai basah oleh keringat.


Ucapan Elena belum sempat dijawab oleh Erlang, karena pergerakan dari gagang pintu mengalihkan perhatian keduanya.


Setelah terbuka timbullah sosok yang sedari tadi Erlang tunggu. Terlihat Theo sudah berjalan masuk dan langsung menghampiri Elena.


"Elena." ucap Theo sembari membelai pelan pipi putrinya.


"Apa benar kata Erlang, kalau kamu sudah dapat berbicara lagi?"


"Ayah." ucap Elena sambil menyunggingkan senyumannya. Matanya terlihat berkaca-kaca setelah memanggil sebutan tersebut.


"Syukurlah." ucap Theo yang juga mulai memperlihatkan matanya yang sudah mulai sembab.


Erlang sementara mengurungkan niatnya, ia memandangi dua orang di depannya, ada tersirat kebahagiaan yang mendalam juga di hati Erlang.


Setelah dirasa suasana sudah mulai nyaman, Erlang berpamitan kepada Theo untuk pergi menyelesaikan urusannya. Erlang beranjak mendekati Elena untuk berpamitan setelah mendapat izin dari Theo.


"Mau kemana?" tanya Elena.

__ADS_1


"Aku ada urusan sebentar, nanti jika sudah selesai, aku akan segera ke sini." jelas Erlang, terlihat raut wajah yang sendu saat Elena menatap Erlang. Ia memang tidak mau jika Erlang pergi, karena ia merasa ada sesuatu yang sedang Erlang sembunyikan.


"Aku akan segera kembali." tutur Erlang.


Elena pun mengiyakan dan melepas tangan Erlang yang sedari tadi ia genggam. Dan memberikan senyuman yang terkesan dipaksakan. Erlang pun segera keluar dari ruangan Elena dengan tergesa-gesa.


***


Erlang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menggenggam kemudinya dengan erat sambil menggertakan giginya. Wajahnya kembali memerah saat mengingat ucapan dari orang-orang suruhannya.


Mobil Erlang berhenti di sebuah apartemen mewah di pertengahan kota. Dengan langkah yang terburu-buru, ia melewati beberapa kamar di apartemen tersebut dan berhenti di kamar yang ia tuju.


***


Sudah hampir 5 jam Elena menunggu Erlang kembali, namun sosok tersebut tak kunjung muncul walau hanya bayangnya saja. Entah mengapa Elena benar-benar merasa cemas.


Elena terus menatap ke arah pintu ruangannya dan berharap Erlang akan segera datang.


Tepat jam 21.35 pandangan Elena tertuju pada sosok yang sedari tadi ia tunggu. Senyum Elena mengembang setelah melihat sosok tersebut.


Erlang menyeret kakinya dengan langkah gontai dan mendaratkan tubuhnya di kursi samping ranjang Elena.


Mata Erlang terlihat sedang mencari-cari sesuatu.


"Apa kamu mencari Ayah?" tebak Elena.


Erlang pun mengalihkan tatapannya ke arah Elena dan mengangguk.


"Di mana?" tanya Erlang dengan tatapan sendu.


"Ayah sedang keluar sebentar, katanya mencari udara segar."


"Ada yang mau aku bicarakan." tutur Erlang setelah ia mengangguk membalas ucapan Elena, lalu berlalih dengan memasang wajah yang serius.


"Tentang apa?" tanya Elena yang juga memasang wajah serius. Tapi sebenarnya ia merasa gugup, takut hal yang tidak ia inginkan terlontar dari mulut Erlang.


"Mengenai pernikahan kita."


"Aku tau, kamu pasti ingin mengatakan kalau pernikahan kita diundur karena kondisiku sekarang kan?" tebak Elena namun mendapat gelengan dari Erlang.


"Bukan."


"Lalu apa?" tanya Elena yang mulai penasaran.


"Aku mau pernikahan kita dibatalkan."

__ADS_1


__ADS_2