
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
***
Pagi baru menjelang namun seorang istri sudah bangun untuk menyiapkan makanan kesukaan suaminya.
"Mas, kamu mau berangkat ke kantor. Makan dulu aku sudah menyiapkan sandwich kesukaan kamu." ucap Citra sambil membawa sepiring sandwich ke arah Bima. Namun laki-laki itu tetap terus berjalan ke arah pintu.
"Mas, makan sedikit saja."
"Aku tidak mau." ucap Bima dengan ketus.
"Mas, aku mohon sedikit saja." Citra mengambil sepotong sandwich lalu mengarahkannya ke mulut Bima.
"Aku bilang aku tidak mau." ucap Bima sambil menepis tangan Citra membuat sandwich dan piring jatuh ke lantai.
Bukannya merasa bersalah, Bima justru pergi meninggalkan Citra.
"Kenapa sikapmu tidak berubah Mas? malah akhir-akhir ini kamu tidak mau memakan masakanku." ucap Citra sambil memungut pecahan piring di lantai.
"Awww." pekiknya saat pecahan itu melukai tangannya.
"Ya ampun nyonya, sini biar bibi saja yang membersihkan." ucap salah satu pembantu di sana.
Hari sudah semakin larut, Beberapa kali beberapa pembantu di rumah itu meminta Citra untuk tidur di kamar, namun tak sedikitpun ia hiraukan. Ia ingin menunggu Bima pulang begitu alasannya.
Akhirnya ia tertidur di ruang tamu sambil memeluk foto pernikahan mereka.
Ceklek
Pintu rumah di buka oleh Bima. Ia ingin melangkahkan kaki ke arah kamarnya.
Namun pandangannya langsung tertuju pada sosok yang sedang tidur melingkur seperti seorang bayi sambil memeluk sebuah foto.
"Maaf tuan, tadi Bibi sudah memberitahu nyonya untuk tidur di kamar tapi nyonya tidak mau, katanya ingin menunggu tuan dan akhirnya nyonya ketiduran di sini."
Bima menghela napas kasar.
"Ini apa Bi?" tanyanya setelah melihat jari Citra yang diplester.
"Anu tadi pagi nyonya membersihkan pecahan piring dan jarinya terluka tuan."
"Ya sudah Bi, sekarang Bibi bisa pergi."
Bima mengangkat tubuh Citra dan meletakkannya di kasur. Karena kamar mereka terpisah, jadi Bima memutuskan untuk segera pergi dari kamar Citra.
__ADS_1
"Mas Bima." ucap Citra yang mengigau. Terlihat dari sudut matanya mengeluarkan air.
"Jangan tinggalkan aku Mas." Citra kembali mengigau. Terlihat peluh sudah membanjiri wajahnya yang cemas.
***
"Elle, Apakah masih ada jadwal meeting yang belum terlaksana?" sambil meminum jus jeruk yang telah ia pesan.
Seperti biasa mereka makan siang bersama jika waktu istirahat.
"Tidak ada, untuk bulan ini sudah terlaksana sepenuhnya."
"Baiklah kalau begitu 3 hari lagi kita akan ke Surabaya bersama para karyawan yang lain."
"Ke Surabaya, untuk apa?" tanya Elena yang heran, karena ini cukup dadakan menurutnya.
"Aku punya sebuah villa di sana, pemandangannya cukup bagus, ada pegunungan juga. Mungkin bisa menyegarkan otak-otak mereka karena terlalu giat bekerja."
"Jadi kita akan berlibur di sana?" ucap Elena antusias.
"Tentu saja."
"Mereka pasti senang." Elena kembali menyuap makanan yang sekarang hanya tersisa setengah.
Erlang hanya tertawa melihat ekspresi Elena yang begitu senang sambil kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ibu Desi." ucap Elena dan Erlang secara bersamaan.
"Kalian ini memang cocok kalau bersama." ucap perempuan tersebut sambil memukul pelan bahu Elena.
"Ma-maksud Bu Desi."
"Kapan undangannya bisa ke tangan Ibu." ucapnya sambil mengadahkan tangan. Ia mengira jika Erlang dan Elena memiliki hubungan layaknya sepasang kekasih.
"Ah Bu Desi salah paham. Tidak ada hubungan yang seperti itu. Kami hanya sebatas atasan dan sekretaris saja Bu." jelas Elena sambil tersenyum kikuk ke arah perempuan paruh baya tersebut lalu beralih menatap Erlang.
Kenapa Erlang tidak berusaha menjelaskan, dan kenapa ia memandangku dengan tatapan yang seperti itu gumam Elena.
"Ah benarkah, maafkan Ibu."
Perkataan Bu Desi membuat suasana canggung antara Elena dan Erlang. Entah kenapa Erlang jadi mendiamkan Elena.
Sampai sepulang dari kantor pun Erlang tetap diam, bahkan ia tidak mengikuti Elena pulang ke rumah seperti biasanya.
"Apa ada yang salah dari perkataanku sampai-sampai Erlang mendiamkanku begitu saja." ucap Elena sambil meminum susu hangat yang telah ia buat sebelum tidur.
__ADS_1
***
"Permisi Mba. Saya ingin bertemu Pak Erlangga, apa dia ada di ruangan?" tanya perempuan cantik, putih memakai pakaian berwarna hitam dipadukan dengan heels putih namun terkesan elegan.
"Mohon maaf, apa ibu sudah membuat janji?" Elena menampilkan senyumnya seperti biasa saat bertemu tamu yang datang.
"Tapi saya tidak perlu janji jika mau bertemu dengan Pak Erlangga." ucapnya dengan santai.
"Tapi itu sudah menjadi peraturan di perusahaan ini."
"Kalau begitu Mba beritahu Pak Erlangga kalau saya Lusiana ingin bertemu dengan dia."
"Baiklah bu, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Elena sambil beranjak menuju ruangan CEO. Tak selang beberapa menit, Elena keluar dari ruangan tersebut.
"Silahkan masuk Bu Lusiana." ucapnya mempersilahkan perempuan tersebut sambil membungkukkan tubuhnya.
"Terima kasih." ucap Lusiana sambil berlalu menuju ruangan CEO.
"Memangnya apa hubungan perempuan itu dengan Erlang?" Elena begitu penasaran. Perkataan Erlang pun terngiang di telinganya.
Lain kali jika perempuan yang bernama Lusiana itu datang, langsung saja persilahkan dia masuk ke ruangan saya. Begitu perkataan Erlang saat Elena memasuki ruangannya beberapa menit lalu.
"Tumben Bu Elena tidak makan siang sama Pak Erlangga?" ucap karyawan perempuan yang sedang duduk berseberangan dengan kursi yang sedang Elena duduki. Ia menyuap capcai yang telah dihidangkan di atas meja.
"Pak Erlangga lagi ada kedatangan tamu." ucap Elena dengan simple
"Apa tamunya perempuan cantik?" tebak karyawan tersebut.
"Darimana kamu tahu?" Elena terperanjak dari posisinya.
"Itu." tunjuknya pada sosok laki-laki dan perempuan di sudut sana. Sosok tersebut tak lain adalah Erlang dan Lusiana.
Mereka terlihat sedang berbincang dan sesekali diselipi tawa antara keduanya. Elena merasa tidak senang melihat pemandangan yang ia lihat.
Elena menusuk makanan yang ada di depannya dan langsung melahapnya.
"Ahh pedas." ucapnya sambil mengambil dan meminum air tersebut.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kalau yang saya makan itu cabe." ucap Elena kesal.
"Tadi saya sudah beberapa kali memanggil ibu kalau itu adalah cabe. Tapi Bu Elena tidak mendengarkan perkataan saya dan malah memakannya begitu saja." jelas karyawan tersebut. Sekarang ia yang merasa kesal.
"Benarkah?" ucap Elena tidak percaya.
"Iya, sebenarnya apa yang sedang Bu Elena pikirkan?" tanya karyawan tersebut
__ADS_1
"Ti-tidak ada." Elena kembali memasukkan potongan sayur ke dalam mulutnya.
Perasaan apa ini, aku tidak suka saat Erlang tertawa bersama perempuan tersebut. Perasaan yang sama saat aku melihat Salsa mendekati Erlang dulu. Apa mungkin aku...