
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Dihadapan orang yang sedang melihat kita di sini serta rona jingga dari sang pemilik cahaya, biarkan mereka menjadi saksi bahwa aku benar-benar mencintaimu. Elena,Will you marry me?...
***
"Sunset?" Elena terlihat sedang berpikir. Ia mencari sesuatu dalam otaknya. Tidak ada bayangan sekalipun yang ia dapat mengenai perkataan Erlang.
"Apa ada sunset di malam hari?" tanya Elena polos.
Kenapa ia sampai berpikir seperti itu, bukankah ia pintar. Tapi kenapa ia terlihat begitu menggemaskan saat bertingkah polos seperti ini gumam Erlang.
"Tentu saja tidak ada Elle."
Tanya Erlang sambil menarik gemas hidung Elena.
"Tapi kenapa kamu mengajakku melihat sunset Erlang." ucap Elena sambil menirukan ucapa Erlang sambil membalas perlakuan Erlang yaitu menarik hidung.
Erlang terkekeh sesaat melihat tingkah lucu Elena.
"Tidak sekarang Elle, tapi besok." jelasnya.
"Oh besok ya hehehe, iya aku mau." ucapnya sambil tersenyum kikuk. Kemudian beranjak memasuki kamar dan perlahan menutup pintu.
Sebelum pintu tertutup dengan sempurna, Elena menyembulkan kepalanya sambil kembali mengucapkan selamat malam.
Dihintipnya sesaat sampai Erlang menjauh dari balik pintu setelah membalas ucapannya tadi.
"Aakkhh berapa kali aku harus menanggung malu malam ini. Otakku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih jika bersama Erlang." ucap Elena dengan pelan.
***
Pagi ini Elena sudah bangun dan sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia berjalan menuju kamar Erlang yang berseberangan dengannya. Sambil bersenandung ria menikmati dinginnya suasana di sana.
Tepat berada di depan kamar Erlang, ia sejenak terdiam karena pintunya sedikit terbuka. Ia memutuskan untuk mengetuk terlebih dahulu.
"Apa Erlang tidak ada di dalam? Tapi kemana ia sepagi ini." ucap Elena sambil melihat isi kamar Erlang namun tubuhnya tidak masuk ke dalam kamar, hanya kepalanya saja yang menilik di balik pintu.
"Aaaaaa." ucap Elena melototkan matanya sambil menutup mulutnya yang menganga. Ia benar-benar terkejut saat melihat Erlang yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.
Dengan cepat Elena menarik kepalanya dari balik pintu dan bersandar di luar dinding kamar Erlang. Elena begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata Erlang sedang mandi, pantas saja ia tidak merespon sewaktu Elena mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ah aku merasa benar-benar malu sekarang." ucap Elena sambil menyentuh pipinya.
Berbeda dengan Elena yang merasa malu, di dalam kamar Erlang bahkan tidak henti-hentinya tersenyum sambil mengingat kembali ekspresi Elena yang begitu menggemaskan menurutnya.
Selesai dengan ritualnya, Erlang berjalan keluar dengan niat mencari Elena. Ternyata Elena masih setia dengan posisinya bersandar di dinding luar kamar Erlang sambil melamun.
"Elle, ada apa?" tanya Erlang sambil menyentuh bahu Elena membuat sang oemilik terkejut dan mengalihkan pandangannya.
"Ah, oh tidak ada." ucapnya.
Erlang menahan tawa sambil menggigit bibir bawahnya.
"Benarkah, apa jangan-jangan kamu sedang membayangkan sesuatu."
"Aawwww, ampun Elle." lagi-lagi Elena mencubit perut Erlang.
"Apa kamu tadi mencariku?" ucap Erlang lagi, ia lebih memutuskan untuk melontarkan pertanyaan tersebut. Daripada harus mendapat cubitan lagi.
"Apa aku boleh mengajak para karyawan untuk melihat sunset?"
"Hemm, kenapa mengajak mereka?" Erlang mengernyitkan keningnya.
"Biar ramai, jika ada banyak orang di sana pasti akan lebih seru." ucap Elena polos.
Untunglah, jadi aku tidak perlu mencari alasan untuk membawa para karyawan gumam Erlang.
"Terima kasih Erlang." ucap Elena manja.
"Mau kemana?" tanya Erlang saat Elena mulai melangkahkan kakinya.
"Mau ke villa seberang, apa kamu mau ikut?"
"Tidak." geleng Erlang
"Baiklah." Kemudian beranjak menuju villa seberang untuk mengajak para karyawan. Langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu.
"Apa?" tanya Erlang yang masih pada posisinya. Ia melihat Elena yang membalikkan badan dan hendak mengucapkan sesuatu.
"Aku melupakan sesuatu." ucapnya sambil kembali mendekat.
"Kita akan melihat sunset di mana?" tanya Elena sambil memegang pergelangan tangan Erlang.
"Ke Bromo, apa kamu suka?" Erlang mengangkat dagu Elena, sekarang wajah mereka tepat saling berhadapan.
__ADS_1
Manik mata Erlang begitu meneduhkan saat ia pandang. Jantung Elena kembali berpacu, sungguh Erlang benar-benar hebat dalam mempermainkan detak jantung Elena.
"Aku suka, terima kasih." ucap Elena melepaskan tangan kekar Erlang. Ia tidak ingin jika Erlang mendengar detak jantungnya yang tidak karuan. Kemudian ia berlari ke arah villa seberang.
"Menggemaskan." ucap Erlang sambil terus menatap punggung kecil Elena yang semakin menjauh.
***
Suasana masih begitu dingin, dengan angin yang berhembus serta pemandangan yang hijau tak jenuh mata untuk memandang, begitu juga dengan Elena.
Selama perjalanan mata Elena tak henti-henti terpana akan apa yang dilihatnya. Ia memang jarang jalan-jalan seperti ini, karena ia dulu lebih sering diam di rumah dibanding teman-temannya yang sering liburan.
Mereka hanya berdua di dalam mobil, sebenarnya Elena ingin mengajak Lusiana dan calon suaminya untuk ikut bersama. Tapi mereka harus pulang ke Jakarta saat itu karena ingin mengurus perihal pernikahan mereka yang tinggal beberapa hari lagi.
Setelah hampir 3 jam setengah dalam perjalanan menujur Bromo, akhirnya mereka sampai di tempat.
Sesampainya di sana, mereka disuguhkan hamparan pasir yang sangat luas. Karena tidak ingin terlalu lelah, akhirnya Erlang memutuskan untuk mengendarai mobil jeep sampai pada pos pemberhentian terakhir.
Entah berapa buah mobil yang di sewa untuk semua karyawan. Yang jelas saat itu Erlang dan Elena hanya berdua di dalam mobil.
Setelah sampai di pos pemberhentian terakhir, mereka menaiki 250 anak tangga yang sudah tersedia agar dapat dilalui para pengunjung untuk sampai ke puncak sang Brahma.
Sesampainya di atas puncak, matahari belum menapilkan rona jingganya. Erlang dan Elena memutuskan untuk duduk sambil menatap hamparan pasir yang memanjakan mata.
Sedangkan para karyawan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Padahal Elena mengajak mereka untuk bersenang-senang bersama, tetapi malah ia yang diabaikan.
Tak lama akhirnya matahari mulai kembali ke peraduannya. Lautan pasir di gunung Bromo terlihat menawan saat ada rona jingga yang menyelimutinya, sungguh panaroma alam yang memikat.
"Ah indahnya." ucap Elena saat melihat cahaya matahari yang hampir hilang bagai di telan bumi di ujung sana.
"Apa kamu suka Elle?" tanya Erlang sambil menatap manik cokelat mata Elena yang sedang berseri di sana.
"Sangat sangat sangat suka, aku sangat menyukainya, ini begitu indah." ucap Elena yang masih terkesima.
"Memang indah, tapi tidak seindah dengan yang ku lihat sekarang." ucap Erlang.
"Apa yang sedang kau lihat sekarang?" ucap Elena sambil mendongakkan kepalanya mengarahkan pandangannya menatap Erlang.
"Kamu Elle." perkataan Erlang membuat Elena terdiam seketika. Tiba-tiba Erlang menurunkan posisi tubuhnya. Dengan bertumpu pada pada satu lututnya, Erlang mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celananya.
"Erlang kamu sedang apa?" tanya Elena.
"Sudah lama aku memendam perasaan ini Elle. Sekarang aku tidak akan melepaskanmu. Dihadapan para karyawan di sana." ucap Erlang sambil mengarahkan pandangannya ke arah para karyawan yang entah sejak kapan sudah berbaris rapi di sana.
__ADS_1
"Dan dihadapan orang yang sedang melihat kita di sini serta rona jingga dari sang pemilik cahaya, biarkan mereka menjadi saksi bahwa aku benar-benar mencintaimu. Elena,Will you marry me?" ucap Erlang sambil membuka sebuah kotak cincin dengan warna merah dan berbentuk persis seperti sebuah mawar.