My Chosen Man

My Chosen Man
2 Minggu lagi


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


Elena terkejut saat mendengar perkataan yang dilontarkan Erlang. Berkali-kali ia mengedipkan mata karena ia berpikir ini cuma mimpi.


Elena tersadar saat Erlang mengusap lembut pipinya. Sorak sorai dan tepuk tangan dari para undangan seakan tak terdengar di telinga Elena. Ia benar-benar tak menyangka akan ucapan Erlang.


Belum sempat Elena melontarkan kata-kata, tiba-tiba Erlang berjalan ke arah belakang Elena dan melingkarkan kalung di leher Elena. Kalung permata Ruby yang mereka beli tadi siang.


Elena tak mampu lagi untuk berkata-kata, ia terlalu senang sekarang. Terlihat dari sudut mata Elena meneteskan buliran air mata. Karena terlalu bahagia, ia sampai menangis.


"Jangan menangis." ucap Erlang sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi mungil Elena.


Erlang menampilkan senyum yang begitu mematikan pikir Elena. Karena hanya dengan senyum tersebut mampu membuat Elena terbius.


Ketika Elena sedang terbius dengan senyum yang Erlang tampilkan, tiba-tiba Erlang berjalan mendekat dan mengecup lama kening Elena. 


Terdengar sorakan kencang dari Guntur yang duduk tak jauh dari panggung. Tak kalah juga teriakan Dean yang menggema sedang Arvel tersenyum tulus sambil bertepuk tangan.


***


Setelah turun dari panggung, Erlang menarik tangan Elena untuk mengenalkannya kepada seseorang yang sangat ia sayangi.


"Pah." ucap Erlang pada sosok laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sebuah meja tak jauh dari letak panggung.


Laki-laki paruh baya itupun berdiri saat melihat Erlang dan Elena di depannya. Bibirnya pun tak lepas dari senyuman.


"Jadi ini calon menantu Papa?" tanya laki-laki tersebut sambil melihat ke arah Elena.


Elena terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Erlang. Erlang yang paham dengan apa yang dipikirkan Elena pun langsung mengangguk.


"Ini Papa aku, baru saja datang dari Amerika." ucap Erlang memperkenalkan.


"Om." panggil Elena sambil menyalimi tangan dari Papa Erlang.


"Jangan panggil Om, panggil Papa. Papa Handoko, bukannya sebentar lagi kalian akan menikah." ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Elena.


Elena hanya tersipu sambil melihat ke arah Erlang yang juga sedang tersenyum ke arahnya.


"Papa Handoko." ucap Elena dengan masih malu-malu.


"Papa tidak menyangka jika kamu akan mengumumkan ingin menikah secepat ini." ucap Handoko sambil menepuk bahu Erlang.


"Itu namanya laki-laki sejati Pa." Erlang membanggakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Papa sempat mengira kalau kamu tidak menyukai perempuan, karena sudah berkali-kali Papa mengenalkanmu pada perempuan tapi tidak satupun dari mereka yang membuatmu tertarik."


"Emang Papa kira aku laki-laki seperti apa?" ucap Erlang yang terlihat kesal dengan pernyataan Handoko.


"Hai Ka Elena." ucap Sisil mengejutkan ketiganya. Ia berdiri di samping Handoko sambil melirik ke arah Elena.


"Mau apa?" tanya Erlang ketus.


"Mau memberitahu Ka Elena sesuatu." ucapnya sambil memelankan suaranya, namun masih bisa di dengar.


"Mau memberitahu kalau Ka Elena kalau Erlang ini..." mulut Sisil tiba-tiba dibekap oleh Erlang membuat yang dibekap meronta-ronta minta dilepaskan.


"Jangan dipercaya Elle, dia memang suka melantur."


"Om Handoko, lihat Ka Erlang sangat menyebalkan." adu Sisil kepada Handoko yang hanya tertawa melihat kelakuan anak dan keponakannya.


"Anggi." ucap Elena sambil melihat ke arah Anggi yang sedari tadi berdiri di samping Sisil.


Elena benar-benar merasa tidak nyaman dengan Anggi.


"Selamat ya Ka Elena, Ka Erlang, sebentar lagi kalian akan menikah." Anggi menampilkan senyum tulusnya. Ia turut bahagia saat melihat Erlang bahagia.


Anggi mengulurkan tangannya sebagai tanda memberi selamat kepada keduanya. Elena dan Erlang membalas jabatan tersebut.


"Terima kasih Anggi." ucap Erlang sambil menampilkan senyumannya. Senyuman yang selama ini tidak bisa Anggi lihat secara dekat. Ia benar-benar bahagia bisa melihat senyum itu secara dekat.


Mereka berpamitan dan menuju ke arah pintu keluar.


"Kamu baik-baik saja kan Anggi, maaf telah membuat kamu melihat kejadian ini." ucap Sisil yang baru sadar jika Anggi pernah menaruh rasa kepada Erlang.


"Aku baik-baik saja Sil, jangan membuat diri kamu merasa bersalah. Aku malah senang jika melihat Ka Erlang bahagia walaupun tidak bersamaku." jelas Anggi.


"Kamu serius." ucap Sisil sambil menatap lekat wajah sahabatnya.


"Iya, aku serius." ucap Anggi dengan tulus, Mereka pun saling berpelukan.


***


Setelah berbincang dengan Dean, Arvel dan Guntur, Erlang beranjak dari posisinya dan berpamitan untuk mengantar Elena pulang ke rumahnya.


"Erlang." panggil Elena setelah mereka memasuki mobil.


"Ada apa Elle." Erlang menghentikan pergerakan tangannya yang tadinya hendak menghidupkan mobil dan beralih memposisikan tubuhnya menghadap Elena.

__ADS_1


"Apa tidak terlalu mendadak jika kita akan menikah 2 minggu lagi?" tanya Elena sembari kembali memastikan ucapan Elena tadi. Ia benar-benar masih tidak percaya.


"Aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi Elle. Apa kamu tidak mau menikah denganku?"


"Bukan begitu Erlang, menikah bukan perkara yang mudah. Aku bahkan belum memberitahu ayahku?" ucap Elena.


"Apa kamu pikir aku belum meminta restu ayahmu. Tentu saja sudah Elle, sebelum aku melamar kamu di gunung kemarin, aku sudah menemuinya dan meminta restu darinya. Bahkan untuk kejadian tadi pun aku sudah meminta izin." jelas Erlang.


Perkataan Erlang kembali mengejutkan Elena.


"Benarkah?" tanya Elena yang tidak percaya.


"Apa ayah menyetujuinya?" tanya Elena lagi.


"Tentu saja ayahmu menyetujuinya Elle." jelas Erlang dengan bangga.


"Tapi dari mana kamu tahu tempat tinggal ayahku di Canada?" tanya Elena yang penasaran. Bukankah Erlang tidak mengetahuinya pikir Elena.


"Perlu pengorbanan Elle." ucap Erlang sambil merapikan rambut Elena yang menutupi sebelah wajahnya karena terhembus angin yang berasal dari jendela mobil yang terbuka.


"Pengorbanan seperti apa?" tanya Elena lagi. Ia memposisikan tubuhnya mendekat ke arah Erlang. Supaya laki-laki itu mau bercerita.


"Perlu pengorbanan untukku dalam membujuk Sisil supaya mau menanyakannya kepada Anggi." Erlang kembali mengingat kejadian sewaktu ia dikerjai oleh Sisil. Sungguh memalukan gumamnya.


"Apa yang kamu lakukan supaya Sisil mau menanyakannya?" tanya Elena dengan antusias.


"Kamu tidak perlu mengetahuinya." ucap Erlang dengan cepat. Ia tidak ingin Elena mengetahui hal yang begitu memalukan tentang dirinya.


"Baiklah, aku akan menanyakannya langsung kepada Sisil." ucap Elena sambil menampilkan wajah mengejeknya kepada Erlang.


"Kalau kamu menanyakannya, maka aku akan memberimu hukuman Elle." balas Erlang dengan senyum mengejeknya.


"Hukuman, hukuman yang seperti apa? Aku tidak takut." tantang Elena.


"Benarkah?"


"Tentu saja." ucap Elena dengan percaya diri.


"Apa kamu yakin Elle?" tanya Erlang sambil mendekat ke arah Elena. Elena terkejut saat bibirnya dengan bibir Erlang sangat dekat sampai Elena bisa merasakan deru napas Erlang.


Elena hanya mematung terdiam sambil merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat seperti orang lagi lari marathon.


Tangan Erlang pun mulai bergerak, Elena segera memejamkan matanya saat mengira tangan Erlang akan beralih ke belakang tengkuknya. Tapi ternyata pikir Elena salah, tangan Erlang justru mengarah ke tombol di dekat pintu untuk menutup jendela mobil.

__ADS_1


Elena membuka matanya setelah mendengar suara dari gesekan kaca mobil.


Erlang kembali ke posisinya dan melihat ke arah Elena yang sedang salah tingkah. Erlang terkekeh sambil terus menatap perempuan di sampingnya.


__ADS_2