
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Sama seperti perasaanku Elle, tidak berubah sama sekali...
***
Matahari sudah mulai merangkak menampilkan wujudnya.
Dengan angin yang sepoi-sepoi diiringi dengan kicauan burung, menambah kesan bahwa pagi itu sedang menyambut Elena yang sudah siap akan hal baru.
Elena melajukan mobilnya, mengantar beberapa berkas lamaran pekerjaan pada perusahaan yang membuka lowongan.
Karena lelah setelah mengantar beberapa berkas tersebut akhirnya Elena memutuskan untuk sejenak berisitirahat di sebuah kedai. Ia memesan secangkir americano kesukaannya.
Tak lama ia beristirahat, tiba-tiba fokusnya teralihkan pada sebuah dering telephone miliknya. Telephone dari nomor tidak dikenal, dengan ragu Elena mengangkatnya.
Hallo selamat siang ucap seseorang di seberang sana.
Iya siang sahut Elena dengan gugup.
Apa benar ini dengan Bu Elena
Iya benar saya sendiri, ada apa ya?
Ada apa ini? kenapa dia mencariku? apa ada kesalahan yang ku perbuat? Elena terus menerka-nerka.
Kami dari perusahaan group A memberitahu bahwa Bu Elena diterima sebagai sekretaris di perusahaan kami.
Benarkah secepat ini ucap Elena yang tidak percaya. benar-benar hal yang tidak terduga pikirnya
Iya Bu
Apa saya tidak perlu wawancara? tanyanya lagi
Tidak perlu Bu ucap seseorang di seberang sana dengan tegas.
Ke-kenapa? Elena benar-benar heran dibuatnya.
Karna kami telah melihat biodata dari Bu Elena dan kami yakin Bu Elena adalah orang yang tepat untuk perusahaan kami.
Ah benarkah, kalau begitu terima kasih
Bu Elena bisa bekerja mulai besok
Iya baik Pak
"Sudah saya lakukan sesuai rencana Pak." jawab seorang laki-laki yang baru saja selesai menelpon Elena.
__ADS_1
"Terima kasih." ucapnya.
Elena benar-benar tidak menyangka jika ia akan mendapatkan pekerjaan secepat ini. Segera ia pulang ke rumah untuk memersiapkan keperluannya bekerja di tempat baru.
Mulai dari menyetrika pakaian, memoles sepatu dengan semir, hingga menyiapkan tas yang akan ia pakai besok.
"Huh akhirnya selesai." ucapnya sambil merebahkan diri di kasur kesayangannya.
"Pekerjaan baru, suasana baru, semoga." lalu Elena pun memejamkan mata dan hanyut ke dalam alam bawah sadarnya.
***
Sinar matahari masuk melalui celah horden membuat tidur Elena terganggu, dengan segera ia membuka kelopak mata dan bergegas beranjak menuju kamar mandi.
"Pagi." ucap Elena pada salah satu karyawan.
"Pagi kembali." ucap karyawan tersebut yang entah siapa namanya Elena pun tidak tahu.
Elena menuju ruangannya setelah diberitahu oleh salah satu karyawan. Ruangannya tepat bersebelahan dengan ruangan CEO.
"Apa benar anda adalah sekretaris yang baru?" ucap karyawan laki-laki yang baru saja menghampiri Elena.
"Iya benar, ada apa ya?" ucap Elena yang setengah terkejut.
"Ini ada beberapa jadwal meeting atasan kita, tugas Bu Elena adalah menyalin semua jadwal tersebut dan jadikan dalam satu file. Setelah itu Bu Elena bisa menyerahkannya ke atasan kita Bu." jelasnya panjang lebar, mungkin jika ditulis akan menjadi sebuah buku novel yang tebal pikir Elena.
"Oh baiklah, akan saya kerjakan sekarang." Elena mengangguk, kemudian mulai menghidupkan laptop yang ia bawa sendiri.
Elena mulai berkutat dengan semua jadwal dan menjadikannya dalam satu file. Tidak susah bagi Elena karena sewaktu bekerja di perusahaan Bima, ia juga melakukan hal yang sama.
"Akhirnya selesai." ucapnya sambil meregangkan otot-ototnya yang mulai kaku.
Tok tok tok
Ketuknya saat berada di depan ruangan CEO. Lalu di bukanya secara perlahan benda tersebut sampai menampilkan sosok laki-laki yang sedang duduk membelakanginya.
"Saya mengantarkan jadwal meeting anda Pak." tutur Elena dengan sopan sambil meletakkan laporan tersebut ke atas meja.
Laki-laki tersebut hanya mengangguk dan mengambil laporan yang Elena letakkan tanpa membalikkan tubuhnya.
Sedikit kesusahan karena harus mengambil laporan tersebut tanpa melihatnya. Elena terkekeh akan sikap atasannya, namun segera ia bantu dengan menyerahkan laporan tersebut ke tangan atasannya.
"Hasil kerja kamu bagus juga." ucapnya.
Elena seperti mengenali asal suara tersebut. Suara khas yang tidak asing di telinganya.
"Saya suka hasil kerja kamu." ucap Laki-laki tersebut membuyarkan lamunan Elena yang entah sudah sampai mana.
__ADS_1
Laki-laki tersebut membalikkan tubuhnya menghadap Elena.
"Erlang." ucap Elena yang terkejut saat mendapati sosok Erlang yang sedari tadi duduk membelakanginya.
"Selamat bergabung di perusahaan saya Bu Elena." ucap Elang sambil memangku tangannya.
"Ja-jadi ini perusahaan kamu?" Elena benar-benar tidak percaya dibuatnya. Berkali-kalia ia mengedipkan mata berusaha sadar dari halusinasi yang ia kira.
"Seperti yang kamu lihat." Erlang menjentikkan jari tepat di depan wajah Elena membuat wanita itu tersadar jika ia tidak sedang berhalusinasi
"Ta-tapi bukannya perusahaan kamu..." belum selesai ia melontarkan kalimatnya.
"Ini perusahaan keduaku setelah Amarta Indi ." serobot Erlang.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu adalah atasanku?"
"Kamu juga tidak memberitahuku jika sedang mencari pekerjaan." jawaban Erlang membuat Elena terdiam sejenak.
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku adalah sekretaris kamu." ucap Elena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja." ucap Erlang.
"Mulai sekarang bekerjalah dengan giat Bu Elena." sambungnya lagi dengan suara yang dibuat-buat.
"Baik Pak Erlangga." Elena juga mengikuti apa yang dilakukan atasannya.
Sepulang dari kantor Elena pulang ke rumah sekitar jam 19.35. Ia memarkirkan mobilnya dan langsung beranjak menghampiri Erlang yang sudah duduk di depan mobilnya.
"Terima kasih atas traktirannya tadi Pak Erlangga." ucap Elena karena sebelum pulang, mereka menyempatkan untuk makan di sebuah restoran.
"Sama-sama Bu Elena."
"Seharusnya kamu tidak perlu mengikutiku sampai ke rumah seperti ini." ucap Elena formal sambil duduk di samping Erlang.
"Aku hanya menjaga karyawan sekaligus temanku."
"Aku bisa jaga diri Erlang, emamgnya aku anak kecil yang harus di jaga."
"Sejak kapan kamu besar, bukannya kamu memang kecil."
Erlang mengubah posisinya. Ia melihat ke arah Elena dari bawah berakhir di puncuk kepala Elena sambil melipat tangan di dadanya.
"Kamu dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Masih tetap menyebalkan." Elena benar-benar kesal di buatnya. Ia cubit lengan kekar Erlang beberapa kali membuat Erlang meringis.
Sama seperti perasaanku Elle, tidak berubah sama sekali
***
__ADS_1
Elena masuk ke rumah bersamaan dengan melajunya mobil Erlang. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari tadi sedang mengawasinya.
"Ternyata benar perkataan Sisil, Ka Elena adalah orang yang Ka Erlang cintai. Terlihat dari sorot mata Ka Erlang yang memandang Ka Elena dengan tatapan berbeda. Iya, berbeda dari Ka Erlang menatapku." ucap Anggi yang masih belum beranjak dari posisinya. Ia masih terdiam di dalam mobilnya sambil terus merenung.