
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
Suasana mencekam, meski langit bertabur bintang. Hawa dingin menusuk namun terasa gerah. Ruang operasi masih menyala, di dalam sana seorang ibu sedang mempertaruhkan nyawa.
Erlang berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat pias. Belahan jiwanya, bidadari tak bersayap, Ibu dari anak-anaknya.
“Selamatkan mereka, Tuhan.” Pinta Erlang tak henti-hentinya.
Rasa takut kembali menjalar, takut akan kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Membuatnya trauma dan membekas dalam ingatan Erlang.
Membayangkan saja Erlang tak sanggup. Rasanya lebih menakutkan jika peristiwa yang sudah hampir satu tahun berlalu.
Flashback on
Dor, satu tembakan tepat mengenai kaki kanan…. Salsa.
”Erlang!”
Salsa terjatuh, polisi yang datang bersama Erlang dengan sigap mengambil pistol dari tangan Salsa dan memborgol tangan Salsa.
“Elle, kamu ga papa? Ada yang sakit? Atau ada yang terluka?” Erlang memeriksa kondisi tubuh Elena yang masih utuh dan tak lecet sedikitpun. Untunglah gumamnya.
Elena menangis sesegukan sambil mendekap erat tubuh suaminya. “Aku takut,” ucap Elena lirih.
“Tenang Sayang, aku disini. Semuanya telah berakhir sekarang,”
Erlang mengusap rambut Elena yang jatuh menjuntai mengenai punggung dengan telapak tangannya, lembut dan menenangkan.
“Ga akan semudah itu Elena. Gue akan balas perbuatan kalian. Gue ga akan biarin kalian bahagia,”
Salsa terus mengoceh tak jelas sambil terus berjalan mengikuti polisi. Darah mengalir dan menetes disela celana jeans hitam yang ia kenakan. Tak sakit dirasanya, karena pemadangan yang baru saja ia lihat lebih menyakitkan bagi Salsa.
Bisakah Erlang juga bersikap itu padanya? Pertanyaan Salsa yang sudah pasti jawabannya tidak meski ia memohon dan berlutut dihadapan laki-laki sang pencuri hati.
Erlang mengecup wajah Elena dari mata, hidung, pipi dan beakhir mengecup sekilas bibir istrinya.
“Maaf,” lirih Erlang.
Tak akan ia biarkan seorang pun melukai fisik serta hati Elena. Meski tak berjanji tapi Erlang akan berusaha.
“Kenapa…?” Tanya Elena.
__ADS_1
“Maaf karena rencana aku buat kamu ketakutan,”
“Jadi ini rencana kamu?”
“Maaf Sayang, ini satu-satunya cara buat menjebak Salsa karena selama ini rencana aku selalu gagal,”
“Kenapa bisa gagal?” Tanya Elena lagi.
“Salsa mengancam Bi Seuli buat kasih info apapun yang kita lakuin,”
Elena menutup mulut tak percaya, tapi saat ia menghubungkan satu persatu rangkaian kejadian. Jelas, perempuan itu terlibat. Tak lama saat Erlang pergi, Bi Seuli juga beralasan untuk segera pulang. Tak lama juga setelahnya Salsa datang ke rumahnya.
“Aku takut,” cicit Elena pelan sambil terisak. Ia mengeratkan pelukan pada tubuh suami..
“Maaf, ini untuk yang terakhir kali. Untuk kedepannya hanya ada tawa, tak ada air mata kecuali air mata kebahagiaan,”
Elena mengangguk selagi dalam dekapan.
Perlahan Erlang melepaskan pelukan Elena,memegang kedua bahu Elena dengan erat lalu mengecup sekilas bibir Elena.
Erlang tersenyum tipis lalu berkata “Bisakah kita melakukannya malam ini?” Tanya Erlang dengan mendamba. Soal Salsa tak perlu ia pikirkan, karena ada Guntur yang dapat ia andalkan.
Meski malu Elena tetap mengangguk patuh.
Erlang membuat Elena terbang melayang meski tanpa sayap, hingga mabuk kepayang yang berujung candu.
Malam itu alunan musik dari mulut Elena bertanding dengan suara deru hujan. Mengalir indah bersamaan dengan gerakan sang penari.
Keduanya dihantarkan pada puncak kenikmatan syurga dunia. Peluh membanjir, meski ruangan diberi AC.
Malam itu, entah berapa kali persembahan dari sang penyanyi. Tak peduli sorak dari sang hujan yang sudah berhenti, karena malam itu sentuhan dari penari membuatnya sangat candu.
Beberapa minggu kemudian sebuah pesta mewah digelar dengan nuansa lilac. Disetiap dinding melati putih menuntai dengan indah membingkai bentuk hati. Harum semerbak memenuhi ruangan. Hidangan tertata rapi dengan masakan yang berbeda dibeberapa meja. Dean dan Jihan hadir dengan warna baju yang senada. Guntur, Eros, Aries dan Arvel juga memakai pakaian yang seragam.
Erlang dan Elena dirias untuk jadi ratu dan raja sehari. Gaun yang juga berwarna lilac menyapu lantai saat Elena berjalan. Bagai bidadari yang turun dari khayangan kalau kata Erlang. Ia serasa menjadi Damar sesaat.
“Gue sebagai orang yang berperan besar dalam hubungan kalian merasa lega, akhirnya beban hidup gue berkurang,” ucap Guntur.
“Emang apa hubungannya?” Tanya Elena polos.
“Loe ga tau, Len?” Dean menyahut dengan balik bertanya.
__ADS_1
Elena menggeleng.
“Selama Erlang di perusahaan cabang, semua urusan perusahaan pusat dilimpahkan ke gue dengan alasan `kalau gue diperusahaan pusat gue ga akan ketemu Elena, jadi sebagai sahabat gue yang baik hati, tolong lo urus perusahaan pusat `” Guntur menirukan persis kata-kata Erlang saat beralasan. “Gue berasa jadi kura-kura ninja, mau jalan aja rasanya berat,” keluh Guntur dramatis.
“Lebay, tuhan juga kalo mau jadiin lo kura-kura ninja mikir kali,” celetuk Eros.
Dean menyerngit “Emang kenapa?” tanyanya.
“Guntur lebih cocok jadi remahan kerupuk macaroni dalam balik tango yang terkena air,”
“Sialan,” umpat Guntur.
Akhirnya, pada hari itu berbagai hal random kembali tercipta, mengembalikan memori beberapa tahun sebelumnya.
Flashback off
Titttt, suara lampu yang mendadak padam. Jantung Erlang berdetak dua kali lebih cepat. Tubuhnya bergetar dan beberapa bulir keringat dingin menetes lewat pelipis.
Sejenak Erlang terpaku menunggu benda penghalang terbuka.
Glek. saliva Erlang rasanya berat, lalu seorang perempuan dengan seragam putih tiba-tiba keluar.
Dag dig dug, jantung Erlang seakan keluar dari tempatnya. Dengan bergetar Erlang bertanya “Bagaimana keadaan istri dan anak saya? Apa mereka baik-baik saja? Apa mereka sehat? Bagaiman operasinya? Apa berjalan dengan lancer? Tanya Erlang bertubi.
Dokter tersenyum tipis sambil mengangguk, sedikit menghilangkan gugup akan kemungkinan buruk dalam benak Erlang.
“Operasinya berhasil, dan istri ada berhasil melahirkan putera yang tampan,”
Elena dipindahkan ke ruang rawat, bayi mungilnya terbaring disamping kanan. Tampan dan persis duplikat Erlang.
Elena sempat mencibir, ia yang mengandung, merasakan mual dan merasakan bagaimana sakitnya kontraksi. Tapi mengapa malah tak sedikitpun adanya kemiripan dengan Elena.
“Anak Papih,” panggil Erlang sambil menggoda Elena.
Godaan Erlang tak membuatnya kesal, yang ada ia malah bersyukur karena telah dihadirkan dua sosok yang sangat ia cintai.
“Mau dikasih nama siapa?” Tanya Elena yang sedang memberi Asi, meski tak terlalu lancar.
“Viren Putra Erlangga. Kamu Suka?”
Elena mengangguk antusias “Baby Vi,”
__ADS_1
Meski sempat berpisah, namun takdir kembali menyatukan dua insan yang saling menyayangi. Dengan jalan dan scenario yang telah diatur. Tak perlu resah karena sesungguhnya, ia adalah sebaik-baiknya penulis.
...Tamat...