My Chosen Man

My Chosen Man
Pecundang


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Temen yang nusuk daei belakang itu gak lebih dari seorang pecundang!...


...~Erlang...


***


"Erlang." ucap Salsa dengan gemetar sambil memegang ujung bajunya.


Erlang terlihat sangat marah, nampak dari rahangnya yang mengeras dan urat-urat yang terlihat menimbul menjalar di sekitar kepalanya. 


Ia berjalan mendekat ke arah ruang tamu.


Salsa yang melihat Erlang berjalan mendekat dengan penuh amarah segera menundukkan kepalanya. 


Wajahnya terlihat pucat, keringat dingin mulai bercucuran di area pelipisnya. Dengan badan yang gemetar Salsa mendekati Rosa yang berdiri tak jauh di sampingnya.


Buggghhh


Satu tamparan keras mendarat di wajah Aldo. 


Aldo jatuh terhempas di atas sofa. Ia meringis sambil mengusap sudut bibirnya yang mengelurkan darah akibat pukulan keras dari Erlang.


"Jadi ini semua rencana loe Do, gue enggak nyangka loe sampai berbuat sekeji itu sama gue. Emang apa salah gue sama loe Do." napas Erlang tersengal-sengal. Ia mencoba mengontrol amarahnya.


Tiba-tiba Aldo berdiri dan mendekati Erlang. 


Diraihnya baju Erlang dengan kedua tangan. Matanya terlihat sangat marah.


"Iya ini semua rencana gue, gue sebenarnya benci sama loe Lang. Loe mau tau alasannya hah? karena gue suka sama Elena tapi Elena malah suka sama loe. Yang dengan entengnya loe cuekin dia dan tiba-tiba loe pacaran sama dia."


Erlang tidak tinggal diam. Ia juga mencengkram baju Aldo. Ia menatap Aldo tak kalah tajam. 


"Ternyata loe temen yang nusuk dari belakang."


Bbuughhhhhh


Satu pukulan lagi mendarat di wajah Aldo sampai tubuh Aldo terhempas sangat keras di lantai.


"Cukup Lang, loe bisa bikin Aldo mati." teriak Salsa sambil menghalangi Erlang untuk berhenti memukuli Aldo.


"Loe diam Sa. Ini semua gara-gara kalian dan rencana busuk kalian, sekarang Elena pergi ninggalin gue."


"Ini semua gue lakuin karena gue suka sama loe Lang. Sudah gue lakuin berbagai cara supaya loe suka sama gue. Tapi loe enggak pernah sedikitpun ngelirik gue,"


"Dan tiba-tiba loe pacaran sama Elena yang tak sebanding sama gue. Itu bikin gue sakit Lang."


"Iya, loe sama Elena emang enggak sebanding. Karena Elena jauh di atas loe. Loe paham kan, sekarang lo minggir. Gue mau kasih pelajaran sama temen yang nusuk gue dari belakang."

__ADS_1


Erlang mendorong tubuh Salsa sampai membuat Salsa hampir terjatuh namun dengan cepat ditangkap oleh Rosa.


"Bangun loe brengsek, temen yang nusuk daei belakang itu gak lebih dari seorang oecundang!" ucap Erlang sambil membangunkan tubuh Aldo dan kembali ia memukuli Aldo secara brutal membuat Aldo kembali terjatuh.


"Loe yang brengsek, pengecut."


Bughhh


Aldo membalas pukulan dari Erlang. 


Dengan sisa tenaga ia bangun dan memukul Erlang dengan keras. Membuat Erlang tersenyum tipis namun terlihat menakutkan. 


Napasnya terlihat membara dengan tatapan yang mematikan seakan ada sinar leser yang ia pancarkan.


"Gue suka cara main loe." Erlang kembali berdiri dan siap mendaratkan pukulannya. 


Satu kali lagi pukulan Erlang mendarat di wajah Aldo dan dibalas pukulan kembali oleh Aldo.


"Sa, gimana nih. Gue takut terjadi sesuatu sama mereka." ucap Rosa yang ketakutan sambil menyembunyikan wajahnya di belakang badan Salsa.


"Emang loe pikir gue enggak takut hah! gue juga takut kali."


Akkkhhhh


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari Erlang. 


Terlihat Erlang sedang tersungkur sambil memegangi perutnya. Ia terlihat lemas tak berdaya karena terlalu kelelahan karena tubuhnya tidak dapat asupan sejak pagi ditambah dengan pertempuran bersama Aldo. Penglihatannya pun sedikit membuyar.


Dengan segera ia mengambil vas bunga di meja dan hendak memukul Erlang memakai vas tersebut.


"Aldo berhenti!" terdengar suara teriakkan Salsa. Ia berjalan mendekati Aldo dan hendak mengambil vas bunga dari tangan Aldo namun tangannya ditepis kasar oleh Aldo.


"Minggir enggak loe!" bentak Aldo kepada Salsa yang berusaha melindungi Erlang, namun tak membuat gadis itu beranjak dari tempatnya.


"Gue ngga mau minggir, loe sudah gila ya?" Salsa mulai tersulut emosi. Suaranya mulai meninggi. 


Sementara Rosa tak berani mendekat karena takut. Ia hanya melihat dari kejauhan sambil meremas bajunya sendiri.


"Iya gue sudah gila, sekarang loe minggir atau gue akan berbuat kasar sama loe." Aldo menatap tajam ke arah Salsa dan dibalas tatapan tajam oleh Salsa.


"Gue enggak akan biarain loe lakuin itu sama Erlang." ucap Salsa sambil merentangkan tangannya sebagai memberi tanda bahwa ia melarang Aldo mendekati Erlang.


"Oke, jangan salahin gue karena itu kehendak loe sendiri." 


Aldo mendorong tubuh Salsa sampai jatuh terpental.


"Loe enggak apa-apa kan Sa?" tanya Rosa yang sudah berada disamping Salsa. 


Napasnya terlihat tersengal-sengal karena tadi ia berlari menghampiri Salsa.

__ADS_1


"Gue enggak apa-apa kok." ucap Salsa


"Loe keterla..." ucapan Rosa tersendat saat ia melihat Aldo hendak memukul Erlang.


"Erlang awas!" teriak Salsa dan Rosa secara bersamaan.


Erlang mengadahkan wajahnya melihat sosok yang sedang mendekatinya. 


Dengan samar-samar ia melihat Aldo sedang mengangkat tangan yang sedang memegang vas bunga dan hendak memukulnya. Ingin menghindar namun tubuhnya seakan tak mampu untuk bergerak.


Pyarrr


Suara kaca pecah saat Aldo memukul kepala Erlang menggunakan vas bunga. 


Pecahan kaca terlihat berserakan di atas lantai. Darah segar mengalir didahi Erlang. Tak lama tubuh Erlang pun jatuh tak sadarkan diri.


***


Arvel beranjak mengendarai mobilnya mencari keberadaan Erlang. Ia terkejut ketika bi Sumi mengabarkan bahwa Erlang keluar dari rumah dalam keadaan marah.


Arvel, Aries, Guntur dan Eros berpencar mencari Erlang. Menyusuri satu-satu tempat yang kira-kira Erlang datangi.


Arvel mencari ke tempat nongkrong mereka namun tak didapatinya sosok Erlang. 


Satu-satunya rumah yang belum ia datangi adalah rumah Aldo. Dengan cepat Arvel mengemudikan mobilnya.


Terdengar suara teriakan dari dalam rumah Aldo.


Erlang awas dan pyarrr suara yang terdengar dari dalam rumah Aldo. 


Dengan cepat Arvel masuk kerumah Aldo dan ia terkejut ketika mendapati Erlang sudah tidak sadarkan diri.


"Loe apain Erlang hah. Loe sudah gila ya, ini temen loe brengsek!" 


Arvel melayangkan satu pukulan ke wajah Aldo membuat Aldo meringis namun tak ada perlawanan sedikit pun.


"Lang bangun Lang." ucap Salsa yang menangis sambil memeluk Erlang yang sudah tak sadarkan diri.


"Loe minggir." ucap Arvel kepada Salsa membuat Salsa menjauh dari tubuh Erlang.


"Lang bangun". Arvel menepuk-nepuk pipi Erlang namun tak ada jawaban dari Erlang. Ia terus menutup matanya.


"Shitt." umpat Arvel yang marah. Ia menatap tajam Aldo, Salsa, dan Rosa secara bergantian. 


Tatapan mematikannya membuat Salsa dan Rosa menunduk. 


Tapi tidak dengan Aldo, ia menatap Arvel dengan tatapan sayu seakan menyesal akan perbuatannya. Ia mengira akan merasa puas jika melihat Erlang tersiksa namun ternyata ia salah.


Arvel pun membopong tubuh Erlang ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit menyisakan Salsa yang masih menangis sesegukan dipelukan Rosa. 

__ADS_1


Sedangkan Aldo menatap kepergian Erlang, ia tak menyangka bisa berbuat keji hanya demi seorang wanita yang jelas-jelas wanita tersebut tak menyukainya.


__ADS_2