
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Seperti mentari yang menenggelamkan fakta dengan segala diksi...
...Bersama jutaan rasa yang tak mampu ku pungkiri...
...Hingga sejuntai realita menyentuh angan-angan yang ku rangkai dengan hati. ...
...Ya, kamu...
...Bagai gradasi yang terlukis indah bersama ilusi...
...Dengan dinding kokoh yang dibangun tanpa sisi...
...Membuatku tersadar bahwa diantara kita tak ada cela untuk saling mengisi....
...~Elena Arabella...
...Saat pelangi ikut menabur duri dalam warnanya....
...Tak ada lagi kata anggun yang ada hanya secercah ilusi saat waktu tak mampu ku pinta....
...Oh utopia, tak bisakah kau kembali dengan rona jingga yang selalu kau selipkan....
...Disini aku masih memainkan alunan yang selalu kau ajarkan....
...~Erlangga Bratadika...
***
"What! Kamu?"
Laki-laki tersebut dengan terkejut kemudian ia membungkukkan tubuhnya menyamakan antara wajahnya dan wajah Elena, karena perbedaan tinggi mereka yang terpaut jauh.
Elena terlihat sedang berpikir saat laki-laki tersebut seakan mengenalinya. Ia berusaha mengingat-ingat namun semua sia-sia.
"Si-siapa ya?" tanya Elena karena tak mampu mengingat siapa sosok laki-laki di depannya.
"Kamu lupa sama saya?" tanya laki-laki itu memastikan.
Elena hanya menjawab dengan senyuman sambil mengusap-usap kepalanya.
"Saya orang yang dulu kamu tolong disupermarket. Saat dompet saya jatuh terus kamu yang nemuin dompet saya." jelas laki-laki tersebut dengan antusias.
"Oh mas yang waktu itu ya?" ucap Elena membuat laki-laki tersebut mengembangkan senyumannya.
"Iya, kamu ingat kan?" ucap laki-laki tersebut.
"Iya saya ingat sekarang." Elena menganggukkan kepalanya.
"Boleh kita ngobrol sebentar." tanya laki-laki tersebut dengan penuh harap sambil memperlihatkan senyumnya tapi tak semanis senyum Erlang. Eh, MOVE ON ELENA.
"Tapi saya tidak bisa lama, soalnya sebentar lagi mau dijemput."
"Oh sebentar pun tidak masalah."
Laki-laki tersebut menuntun Elena masuk kembali ke dalam caffe dan menuju meja yang berada dipojokan dekat dengan dinding, sehingga memperlihatkan orang-orang yang sedang berlaluan dijalan kota.
"Perkenalkan saya Bima Rahardian bisa dipanggil Bima." sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Elena." ucap Elena sambil membalas uluran tangan Bima.
"Mau pesan kopi lagi." tanya Bima kepada Elena.
"Boleh." ucap Elena karena ia masih merasa haus dan ngantuk.
__ADS_1
Kopi yang ia beli tadi habis tertumpah mengenai kemeja Bima lagian mumpung gratis ya embat saja shay.
"Excuse me." ucap Bima sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan. Ia berjalan mendekati meja Elena dan Bima
"How can I help You?" tanya pelayan tersebut sambil mengambil buku kecil dari sakunya dan siap untuk menulis pesanan.
"Give me two americano shots."
"There is anothere, Sir?" tanya pelayan lagi
"No, that's it." ucap Bima sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pelayan itu pun beranjak pergi.
"Mas kok tau kalau saya mau americano?" tanya Elena
"Dari sini." ucap Bima sambil menunjukkan noda dikemejanya. " Saya bisa mengenal bau dengan baik."
"Ma-maaf ya mas, sudah membuat kemeja mas jadi kotor." ucap Elena dengan penuh penyesalan. Ia mengantup kedua tangannya didepan dada.
"Tidak apa-apa Elena. Justru saya senang, dengan kejadian tadi saya bisa bertemu lagi sama kamu."
"Maksud mas apa ya?"
"Ah lupakan, oh ya kamu ngapain disini, bukannya kamu tinggal di Jakarta ya?" tanya Bima karena pertemuan mereka pertama kali di Jakarta dan saat itu pun Elena memakai seragam sekolah.
"Saya mau lanjutin kuliah disini, kebetulan juga ayah saya tinggal disini."
Perkataan Elena membuat Bima tersenyum simpul.
Ada rasa bahagia dihatinya, karena ia akan sering bertemu dengan Elena.
Padahal baru 2 kali bertemu dengan gadis di depannya ini, namun entah mengapa hatinya merasa nyaman saat berada di dekat Elena.
"Mau kuliah dimana dan mau ngambil jurusan apa?"
Tiba-tiba seorang pelayan datang sambil membawa dua gelas minuman membuat perbicaraan mereka terhenti.
"Your drink Sir." ucap pelayan tersebut sambil meletakkan americano ke atas meja.
"Oh, thank you." ucap Bima sambil mendekatkan minuman americano tersebut ke arah Elena dan pelayan pun beranjak pergi.
"Terimakasih." Elena mulai menyeruput americano tersebut.
Lama mereka berbincang tiba-tiba terdengar suara dering handphone Elena. Dengan segera ia mengangkat telepon tersebut.
Hallo Pak Burhan
Hallo Non, Non Elena dimana? saya sudah di bandara Non, tapi tidak melihat keberadaan Non Elena?
Oh Pak Burhan sudah di bandara ya, maaf Pak saya tidak memberitahu bapak kalau saya sedang berada di caffe. Tali caffenya dekay bandara kok pak
Di caffe xxx ya Non?
Iya Pak
Oke saya kesana sekarang Non
Baik Pak
Pak Burhan adalah orang kepercayaan Theo. Ia sudah lama bekerja diperusahaan tersebut.
Ia sangat mahir dalam berbahasa indonesia karena ia dulu sering berinteraksi dengan Ratna, mama dari Elena. Ratna berasal dari Jakarta sedangkan Theo merupakan warga asal Canada.
Mereka bertemu karena satu kampus.
__ADS_1
Theo merupakan senior dari Ratna. Ia terpesona pada pandangan pertama akan kecantikan dari Ratna.
Lama mereka berpacaran dan memutuskan untuk menikah sehingga lahirlah seorang gadis cantik yang bernama Elena.
"Maaf Mas sepertinya saya harus pergi. Jemputan saya sudah datang." pamit Elena.
"Oh baiklah. Sebelum kamu pergi, boleh saya minta nomor kamu? saya ingin berteman lebih dekat lagi sama kamu." jelas Bima sambil menunjukkan wajah harapnya.
Elena terlihat sedang berpikir. "Boleh." jawabnya sambil mengangguk mengembangkan senyum tipis dari bibir mungilnya.
Bima segera mengeluarkan handphonenya dari dalam saku dan menyerahkan handphone tersebut ke tangan Elena.
Elena mengetik dengan cepat dan menyerahkan handphone tersebut ke pemiliknya setelah selesai mengetik nomornya di sana.
"Terimakasih." ucap Bima sambil menaikkan sudut bibirnya membentuk senyum yang sempurna, ingat masih kalah dengan senyum Erlang.
"Sama-sama Mas, saya pergi dulu." ucap Elena dan dibalas anggukan oleh Bima. Elena pergi ke luar caffe sambil menyeret kembali kopernya.
"Non Elena." ucap seorang laki-laki paruh baya bertubuh tinggi, jangkung dengan sedikit kumis di wajahnya.
"Pak Burhan."
Elena menghampiri pak Burhan dengan berlari-lari kecil sambil menyeret kopernya. Ia mengembangkan senyumnya saat bertemu pria yang dulunya sering membantunya tersebut ketika sedang berada di Canada.
Dahulu Elena memang sering ke Canada. Setiap liburan, ia selalu mengunjungi ayahnya di Canada.
"Maaf ya Non kalau terlalu lama menunggu saya." ucap pak Burhan sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa pak Burhan. Ayo kita berangkat." ucap Elena.
Sesampai di rumah Elena langsung menuju kamarnya yang sering ia tempati saat mengunjungi ayahnya.
"Taruh di situ aja bi." ucap Elena saat melihat bi Susi datang sambil membawa kopernya.
Elena sejenak merebahkan tubuhnya, ia kembali mengingat sosok Erlang.
Air matanya kembali menetes tanpa ia sadari. Ia menerawang mengingat saat-sat bersama Erlang.
Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Ayo Elena kita mulai kehidupan baru.
***
Seperti mentari yang menenggelamkan fakta dengan segala diksi
Bersama jutaan rasa yang tak mampu ku pungkiri
Hingga sejuntai realita menyentuh angan-angan yang ku rangkai dengan hati.
Ya, kamu
Bagai gradasi yang terlukis indah bersama ilusi
Dengan dinding kokoh yang dibangun tanpa sisi
Membuatku tersadar bahwa diantara kita tak ada cela untuk saling mengisi.
~Elena Arabella
Saat pelangi ikut menabur duri dalam warnanya.
Tak ada lagi kata anggun yang ada hanya secercah ilusi saat waktu tak mampu ku pinta.
Oh utopia, tak bisakah kau kembali dengan rona jingga yang selalu kau selipkan.
Disini aku masih memainkan alunan yang selalu kau ajarkan.
__ADS_1
~Erlangga Bratadika
Tamat season 1