
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Melihatmu sakit membuat hatiku tercabik...
Sekarang aku sadar, aku sudah jatuh sejatuhnya pada dasar terdalam
...Bersama rasa...
...~Elena...
***
Hari yang ditunggu pun datang. Tim Erlang sedang mempersiapkan fisik dengan olahraga-olahraga kecil. Melakukan peregangan otot sebelum pertandingan dimulai. Kedua tim memasuki lapangan.
Tim Erlang bernamakan Tim Artas sedangkan lawannya yaitu Tim Harimau.
Sorak teriakan penonton seakan memecah gendang telinga saat tim Artas dan tim Harimau memasuki lapangan.
Mata Elena tertuju pada sosok laki-laki yang saat ini menjadi kekasihnya. Dengan memakai jersey, otot-otot Erlang terpampang dengan jelas membuat gadis-gadis menjerit saat melihannya.
Elena begitu kesal seakan tak mau jika tubuh kekasihnya menjadi sorotan.
Babak pertama dimenangkan oleh Tim Artas sedangkan babak kedua dimenangkan oleh Tim Harimau. Sehingga skor sekarang dalam keadaan seri. Saatnya babak ketiga atau babak penentuan.
Awalnya semua terlihat biasa-biasa saja. Namun suasana berubah saat Tim lawan yang entah disengaja atau tidak disengaja menabrak tubuh Erlang yang sedang mendrible bola.
Tubuh Erlang terjatuh dengan keras ditambah dengan bola basket yang jatuh mengenai kepalanya, membuat Erlang tak sadarkan diri.
Teriakan penonton kembali memecah karena melihat idolanya cidera.
Elena yang melihat kejadian tersebut langsung berdiri dari tempat duduknya. Ingin sekali ia lari menuju kekasihnya tersebut Namun tangan Elena ditarik oleh Dean yang saat itu duduk di samping Elena Sedang Jihan menggeleng-gelengkan kepala tanda bahwa ia juga melarang.
Melihatmu sakit membuat hatiku tercabik
Sekarang aku sadar, aku sudah jatuh sejatuhnya pada dasar terdalam
Bersama rasa
Pertandingan terus dilanjutkan oleh orang pengganti, sedangkan Erlang dilarikan kerumah sakit.
Sebenarnya Elena ingin segera menyusul Erlang kerumah sakit, tetapi ia tidak tahu dimana tempat Erlang dirawat.
Karena Arvel yang saat itu juga sedang tanding jadi ia memutuskan untuk menonton pertandingan sampai selesai baru menyusul Erlang kerumah sakit bersama Arvel dan Dean.
Elena, Dean, Jihan beserta genk Artas yang lain sedang menuju ruangan tempat Erlang diranwat. Erlang terlihat sudah sadar dengan tangan yang sudah digips.
Erlang menatap Elena yang juga sedang melihatnya. Terlihat raut wajah yang khawatir serta sorot mata yang sendu pada Elena.
__ADS_1
"Hei bro, loe ngga papa kan?" Arvel menepuk-nepuk bahu Erlang sambil tersenyum mengejek.
"****, loe bisa enggak nepuknya ngga usah kencang-kencang. Loe enggak liat tangan gue diperban gini hah!" Erlang melempar bantalnya ke arah Arvel dan dengan cepat Arvel menghindar sehingga bantal tersebut mengenai Elena.
“Huhuyyy bantal dulu ya Lele, hatinya belakangan,” seperti biasa hanya Eros yang memanggil Elena dengan sebutan Lele.
“Berawal dari bantal turun ke hati.” Guntur ikut-ikutan.
"Gimana rasanya, Le. Kaya ada empuk-empuknya enggak?"
"Iya, seempuk hati aku buat kamu,"
"Seempuk bantal yang aku lempar buat kamu,"
"So-sory, gue enggak sengaja." Erlang terlihat gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya enggak papa." Elena mengambil bantal di lantai dan menyerahkannya pada Erlang.
"Kalian kok keliatan kaya salting gitu sih." Dean menyenggol bahu Elena sampai membuat Elena tergeser dari posisinya.
Elena membalas perlakuan Dean dengan mencubit lengannya sedang Jihan mendadak jadi pendiam karena terus ditatap oleh Guntur.
"Awwww." Dean meringis kesakitan sambil mengusap-usap tangan bekas cubitan Elena.
"Gimana pertandingan kita Vel?" tanya Erlang kepada Arvel seakan mengalihkan perhatian yang lain.
Lama mereka bercengkrama di ruangan Erlang. Ada yang asik main game, ada yang mengobrol dengan Erlang dan ada yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.
Elena sedang duduk di sofa dengan Dean namun fokusnya melayang pada Erlang yang sedang duduk di ranjangnya. JIhan, ia sedang bercengkrama dengan Guntur.
"Hooaaahhhh, gue lelah mau istirahat. Udah dulu ya mending kalian pulang." tiba-tiba perkataan Erlang menghentikan aktivitas di ruangan itu.
"Loe mau istirahat Lang, oke bentar ya. Kalian semua dengar kan, Erlang mau istirahat jadi loe semua silahkan keluar dari ruangan ini!" ucap Aldo, salah satu anggota Avaregal.
"Loe juga bego, gue mau istirahat. Tinggalin gue sendiri." Erlang berbaring di ranjangnya dan menutup semua badannya dengan selimut.
"Yakin Lang, loe ga mau kita jagain. Kalau loe kenapa-kenapa nanti gimana Lang." tidak ada jawaban dari Erlang. Mereka semua pun memutuskan meninggalkan Erlang dan keluar dari ruangan.
Elena dan teman-temannya sudah hampir sampai di parkiran. Tiba-tiba hendphone Elena berdering, dengan segera Elena mengambil handphonenya dari dalam tas.
Setelah dilihatnya ternyata telepon dari Erlang, ketika ia hendak mengangkatnya ternyata panggilannya sudah berakhir.
Aku tunggu 10 menit dari sekarang
Chat dari Erlang masuk setelah panggilan berakhir.
"Eh gaes, loe duluan aja gue mau ket toilet bentar ya".
__ADS_1
"Loe mau ke toilet, sini gue temenin." tawar Dean kepada Elena sambil menyeret tangan Elena ke arah toilet rumah sakit. Jihan sudah tidak kelihatan kemana perginya.
"Eh enggak usah De, gue bisa sendiri kok. Loe duluan aja, enggak enak nanti Arvel kelamaan nunggu lo." elak Elena agar Dean tidak mengikutinya.
Sebenarnya itu hanya alasan Elena agar ia bisa kembali keruangan Erlang tanpa Dean mengetahuinya.
"Loe yakin?" Elena mengangguk dengan cepat.
"Oke, gue duluan ya. Loe pulangnya hati-hati, jangan ngebut."
" Hmmm, dahh." Elena melambaikan tangannya dan dibalas oleh Dean.
Dengan cepat Elena lari ke arah ruangan Erlang. Sesampai di depan ruangan Erlang, Elena sejenak berhenti merapikan rambutnya, bajunya dan mengambil nafas dalam-dalam.
Elena membuka pintu dengan perlahan, dilihatnya sosok laki-laki sedang duduk bersandar di ranjang sambil memainkan handphonenya. Dengan perlahan Elena mendekati sosok tersebut.
"Enggak usah sedih gitu nanti makin jelek." Erlang tertawa keras sambil meletakkan handphonenya di meja dekat ranjang. Erlang menepuk kasur di sisi ranjangnya menyuruh Elena agar duduk di sampingnya.
"Aku enggak papa kok." Erlang menyeka air mata yang menetes dari sudut mata Elena.
"Aku khawatir Bie, sakit banget ya." tanya Elena.
"Apanya?"
"Itu." Elena menunjuk tangan Erlang yang digips dengan mulutnya.
"Enggak sakit kalau liat kamu." Erlang menarik dan mencium punggung tangan Elena. Membuat Elena tersipu malu.
"Manis banget sih pacar aku." sambil mengacak-acak rambut Erlang.
"Kamu mau buah enggak?" Elena menunjuk buah yang dibawanya bersama teman-teman tadi.
"Hmmm."
Elena mengambil buah dari atas meja dan mengupas buah apel. Erlang mengamati setiap pergerakan Elena. Matanya tak henti-henti memandangi sosok yang sekarang menjadi kekasihnya.
Entah apa yang sedang dipikirkannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Setelah selesai mengupas buah, Elena berjalan mendekati Erlang yang sedari tadi memperhatikannya.
"Aaaaaa." Elena yang sudah duduk di samping Erlang segera menyodorkan buah apel yang sudah dipotong tadi. Erlang menerima suapan dari Elena dan mengambil satu buah potong lagi untuk Elena.
"Kamu makan juga." Elena pun membuka mulutnya. Tak lama setelah sepasang kekasih itu saling menyuapi, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar ruangan. Mereka terkejut dan langsung memandangi pintu yang masih tertutup.
Erlang dan Elena sejenak saling memandang lalu dengan segera Elena menaruh piring berisi buah tadi dan lari ke dalam toilet karena takut ketahuan oleh tamu yang entah siapa itu. Erlang pun dengan segera menarik selimutnya dan pura-pura tertidur.
Tak lama pintu terbuka dan menimbulkan sosok perempuan tinggi, cantik dan putih sedang membawa sekeranjang buah segar.
"Erlang." panggil perempuan itu ketika melihat Erlang yang sedang tidur di ranjangnya.
__ADS_1
"Salsa!" batin Elena yang langsung mengenali suara tersebut.