
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Jangan pernah meminta sesuatu yang ada dimasa lalu. Setiap orang bisa berubah, karena apa? Karena masanya sudah habis....
***
5 Tahun Kemudian
Warning! kita akan beralih ke suasana dewasa. Hey, Bukan dewasa yang itu gaes tapi yang tadinya jaman Sma sekarang kita beralih ke jaman purba wkkkk. Canda.
Banyak yang berubah, sifat, sikap bahkan perasaan. Tak ada lagi recehan eros atau rayuan maut dari kang petir.
Jangan pernah meminta sesuatu yang ada dimasa lalu. Setiap orang bisa berubah, karena apa? Karena masanya sudah habis.
Erlang mengelola perusahaan ayahnya dengan dibantu Guntur sedang Eros dan Aries sudah pindah ke luar negri beberapa bulan yang lalu untuk meneruskan perusahaan warisan parfume.
Mereka sebenarnya sepupu, tapi tak ada yang percaya karena bobroknya Eros yang kebangetan tak sejalan dengan pintarnya Aries yang kewalahan. Hah gimana?
Hanya Arvel dan Dean yang sama. Iya, sama-sama masih bucin. Jihan, sudah menetap dikampungnya.
Sedang Elea, setelah luka yang ia rasa hampir pulih. Elena memutuskan untuk kembali ke kota asal kelahirannya. Kota yang menyimpan kenangan suka maupun duka untuknya.
Beberapa bulan yang lalu, ia dan Bima resmi berpacaran. Elena memutuskan untuk membuka hati lagi untuk laki-laki dan mencoba melupakan sosok Erlang.
Elena dan Bima sekarang sudah tinggal di Jakarta. Elena ingin lebih sering mengunjungi makam orang yang telah melahirkannya.
Sedangkan Bima pindah ke Jakarta karena beberapa bulan yang lalu perusahaan yang baru saja ia bangun di Jakarta sudah selesai. Dan kini ia memutuskan untuk menetap di Jakarta.
"Mah, Elena datang hari ini. Maafin Elena ya Ma karena terlalu lama ninggalin Mama. Sekarang Elena mencoba membuka hati lagi buat laki-laki, namanya Bima Ma. Nanti kalau ada waktu Elena kenalin sama Mama. Orangnya baik kok Ma. Mama tenang aja."
Elena berada di depan batu nisan orang yang telah melahirkannya sambil menaburkan bunga mawar putih yang merupakan bunga kesukaan Ratna.
Dilihatnya kota Jakarta yang sudah banyak berubah. Ia duduk di sebuah taman dipandangnya sekeliling.
Tatapannya tertutuju pada dua anak kecil yang sedang bermain. Seorang anak perempuan yang sedang duduk di sebuah ayunan, sedangkan anak laki-lakinya mendorong ayunan.
Terlihat mereka sangat bahagia.
Elena merasakan sesuatu yang tidak asing dengan apa yang dilihatnya. Ia seperti pernah berada di posisi anak perempuan tersebut. Tapi ia tidak dapat mengingat dengan jelas.
Tiba-tiba kepala Elena terasa sakit. Ia memegang kepalanya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Kepalanya sering merasa sakit jika melihat peristiwa yang seakan tidak asing. Tetapi, semakin ia berusaha mengingat kepalanya semakin terasa sakit.
Elena sejenak memejamkan mata sambil menunggu sakitnya reda. Angin berhembus membuat rambutnya yang masih panjang tergerai mengikuti arah angin.
I gotta stay high all the time
To keep you off my mind
Ooh-ooh, ooh-ooh
High all the time
To keep you off my mind
Terdengar dering handphone dari dalam tas selempang Elena. Dibukanya mata dan langsung ia cari sumber suara.
__ADS_1
Hallo ucap seorang laki-laki di seberang sana
Hallo Mas, ada apa?
Kamu di mana sekarang?
Aku lagi di taman Mas, kenapa?
Tidak ada apa-apa, aku hanya mau bilang kalau hari ini aku tidak bisa ke rumah kamu, karena aku ada metting sama Pak Alex
Aku ikut juga Mas?
Tidak perlu, cukup aku saja. Kamu istirahat yang cukup, jangan sampai kelelahan.
Di hari libur pun kamu harus tetap kerja ya Mas?
Iya, Karena hari ini adalah hari terakhir Pak Alex di indonesia jadi aku harus temuin beliau secepatnya. Kamu tidak apa-apakan kalau aku tidak bisa ke rumah kamu hari ini?
Iya tidak apa-apa Mas
Besok aku jemput ya, sekalian aku mau kenalin kamu sama seseorang
Seseorang? Elena terlihat sedang berpikir
Siapa? Sambungnya lagi
Kamu lihat aja besok. Sudah dulu ya, aku mau berangkat takutnya nanti Pak Alex sudah menunggu
Hmmmm, iya Mas
Kalimat terakhir dari pembicaraan mereka
"Seseorang." Elena sedikit penasaran dengan orang yang akan dikenalkan Bima kepadanya.
***
Elena bekerja di perusahaan Bima sebagai sekretaris. Ia bisa saja meneruskan perusahaan ayahnya, namun ia lebih memilih memulai semua dari nol. Dan ia memilih menjadi sekretaris di perusahaan Bima.
Bukan karena mereka berpacaran, melainkan karena Elena memang menyukai bidang tersebut, hasil kerjanya juga dianggap memuaskan.
Elena mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Bisnis di sebuah kampus ternama di Canada. Ia juga lulus dengan nilai yang cukup bagus, sehingga mudah baginya dalam hal menangani persoalan kantor.
Kamu sudah siap kan, 5 menit lagi aku berangkat menuju rumah kamu
Iya Mas, aku sudah siap Kamu hati-hati ya di jalan, jangan ngebut
Siap bawel
Belum Elena menjawab, sambungan telephone diputus secara sepihak. Ia terus mengoceh sambil memakan roti dengan selai nanas yang hampir tersisa setengahnya.
Sedangkan yang memutus telephone sedang merasa senang karena berhasil menjaili wanitanya.
Bima sedang membayangkan wajah Elena yang cemberut sambil mulut yang terus menggerutu.
Sambil menunggu Bima datang menjemput, Elena membuatkan sandwich untuk laki-laki itu, karena ia tahu kalau laki-laki tersebut pasti belum sarapan.
Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah Elena. Ia segera mengambil tasnya dan tak lupa ia membawa kotak bekal berisikan sandwich yang sudah ia buat tadi.
__ADS_1
"Yuk berangkat." ucapnya ketika keluar dari balik pintu. Dilihanya Bima sedang keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
"Aku tidak diajak masuk dulu?"
"Tidak usah mampir, nanti telat. Yuk langsung berngkataja." ajak Elena sambil menggandeng tangan Bima dan menuntunnya menuju mobil.
"Aku buatin sandwich buat Mas. Mas pasti belum sarapan kan?" sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas.
"Kamu tau aja kalau aku belum sarapan."
Bima mengelus puncuk kepala Elena dengan sebelah tangan dan tangan sebelahnya ia gunakan untuk memegang kemudi.
"Iya dong." Elena mengarahkan pandangannya menatap Bima sambil memperlihatkan senyumnya. "Aaaaa." ia menyodorkan sandwich ke mulut Bima.
"Enak tidak? tanyanya sambil memperhatikan ekspresi Bima dengan datar.
"Masakan kamu selalu enak, kamu memang calon istri idaman." puji Bima membuat pipi Elena memerah karena merasa malu.
"Oh ya Mas, seseorang yang ingin kamu kenalin itu siapa?" tanya Elena yang masih penasaran.
"Nanti juga kamu tahu sendiri." Elena yang malah berdebat hanya diam tak lagi membalas perkataan Bima.
Sesampai di kantor mereka bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan.
Banyak pegawai yang tidak mengetahui status mereka karena kedekatan mereka jarang dilihat publik.
"Selamat pagi Pak Bima, Bu Elena." ucap salah satu pegawai sambil menundukkan kepalanya.
"Pagi Pak." ucap Bima dan Elena bersamaan.
Blue international merupakan nama dari perusahaan Bima. Blue International merupakan perusahaan konglomerat multinasional yang bergerak di bidang infrastruktur.
Meskipun terbilang baru, namun perusahaan tersebut memiliki banyak karyawan serta sudah cukup terkenal karena dahulu Bima sempat menggantikan posisi ayahnya sebagi CEO diperusahaan keluarga milik ayahnya sebelum ia memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri.
Sebab itulah banyak para investor yang sudah melihat kinerjanya yang handal dan memuaskan.
"Sewaktu makan siang temui saya di ruangan." ucap Bima sesampai mereka di lantai atas tempat ruangan Bima berada.
"Baik Pak." ucap Elena sambil menunduk kemudian duduk di kursi tempai ia bekerja. Sedangka Bima masuk menuju ruangannya.
Mereka sedang duduk di sebuah caffe sambil meminum jus jeruk menunggu seseorang yang ingin Bima kenalkan.
"Aku ke toilet bentar ya." ucap Bima yang siap beranjak dari duduknya.
"Nanti aja Mas, Kalau orang yang mau kamu kenalin datang,terus dia liat tidak ada Mas gimana? aku kan tidak tahu orangnya seperti apa." protes Elena.
"Kamu tenang aja sayang. Aku sudah kasih tau nomor mejanya jadi kalau dia sudah datang, dia tinggal menuju ke sini." jelas Bima.
"Aku ke toilet sebentar ya, sudah tidak bisa di tahan." sambungnya lagi
"Baiklah." ucap Elena sambil menahan tawa melihat ekspresi Bima yang berusaha menahan sesuatu di bawah sana.
Yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Bima pun belum kembali dari toilet.
Elena menyibukkan diri dengan membuka sosmednya. Sesekali ia melihat sekitar sambil memeriksa keadaan.
"Elena." ucap seseorang yang sedang berdiri di samping Elena sambil memegang bahu kiri Elena membuat yang dipegang mengadah melihat sosok yang sedang memanggilnya.
__ADS_1