My Chosen Man

My Chosen Man
Dalam diam


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Aku akan mengawasimu dari jauh. Aku hanya akan bertindak jika ada yang menyakitimu....


***


Sudah sebulan berlalu sejak kejadian kemarin, sudah sebulan juga Elena tidak melihat sosok Erlang.


"Kenapa Mas?" tanya Elena sambil meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. 


Melihat sedari tadi makanan di atas piring hanya di aduk-aduk oleh laki-laki di depannya.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu?" sambil menatap Elena yang sedang fokus menatapnya.


"Apa itu Mas?" sambil memangku dagunya dengan tangan kiri.


"Aku akan ke Bali selama satu minggu, karena ada urusan pekerjaan."


"Setahuku tidak ada jadwal pekerjaan ke Bali Mas." Elena membuka jadwal kegiatan Bima di catatan keep handphone-nya.


"Itu Papa aku yang minta bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan di Bali."


"Ohhh, kapan kamu berangkat Mas?" sambil mengangguk Elena kembali meletakkan handphone-nya ke dalam tas di samping tempat duduknya.


"Besok pagi sudah berangkat."


"Secepat itu ya Mas." sambil kembali memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


"Hmm, aku juga baru dikabarin kemarin sore."


***


Elena tiba dikediaman Bima, dengan disambut pagar tinggi yang menjulang berwarna hijau senada dengan taman depan rumah yang di desain dengan bunga yang ditanam pada area tingkat yang berbeda. 


Dengan rumah yang bernuansa klasik menambah kenyamanan bagi penghuninya.


Disejajarkannya mobil berwarna biru itu dengan sederetan mobil mewah milik Bima.


"Masuk Non." ucap Bi Seuli yang baru beberapa bulan itu bekerja dengan Bima, namun ia mengetahui jika Elena adalah kekasih dari majikannya.


"Pak Bima lagi di lantai atas Non." Bi Seuli menutup pintu dan menunjuk ke arah Bima berada.


"TerimakasihBi."


Satu persatu anak tangga ia naiki. Sesekali ia amati seisi rumah besar itu, walaupun sudah pernah ia menginjakkan kakinya di rumah tersebut. 

__ADS_1


Namun matanya tak pernah sempat untuk mengamati setiap keindahan dari rumah tersebut.


"Perlu aku bantu Mas." tanya Elena yang masih berada di depan pintu dan perlahan berjalan mendekati Bima.


"Tidak perlu Sayang, sedikit lagi juga selesai." ucap Bima yang sudah tahu akan kedatangan Elena karena terdengar dari suara sepatunya saat sedang menaiki anak tangga.


Bima berjalan ke arah pintu dan menutup benda tersebut setelah selesai mengemas barang ke dalam koper.


"Ada apa Mas? kenapa pintunya ditutup?" Elena beranjak dari posisinya.


Tidak ada sahutan dari Bima, ia terus mendekati wanita yang sedang mematung di sisi ranjang.


Tangan Elena tiba-tiba ditarik. Belum sempat ia memahami situasi, tangan Bima sudah beralih ke pinggangnya.


"Mas kamu kenapa?" tanya Elena yang merasa aneh karena sikap Bima yang akhir-akhir ini berubah.


"Sebentar saja." hanya itu yang keluar dari mulut Bima.


Cukup lama sampai Elena merasa penat karena Bima meletakkan kepala di bahunya. Terdengar isakan di sana, ditolehnya namun ia tak bisa melihat apa yang terjadi dengan Bima karena wajah laki-laki tersebut sedang menelungkup di atas bahunya.


"Kamu menangis Mas?" tangan mungilnya mendorong dada bidang besar milik laki-laki tersebut dengan susah payah.


"Aku hanya takut jika nanti di sana merindukanmu." Bima mengangkat kepalanya lalu disapunya air mata yang sedikit sudah meluncur di pipinya.


"Lebay, zaman sekarang sudah canggih Mas. Kalau kangen ya tinggal telepon atau video call." dipukulnya dada bidang tersebut.


"Masih berapa lama lagi Mas jadwal keberangkatannya?" ucap Elena sambil duduk di sebuah kursi ketika mereka sudah sampai di Bandara.


"Masih sekitar 45 menit lagi." ucap Bima setelah melihat ke arah jam tangan miliknya.


"Sayang, lebih baik kamu pulang ke rumah. Biar aku menunggu sendiri di sini."


"Tidak Mas, biar aku di sini sambil menemami kamu."


"Sayang, aku tidak mau jika kamu kelelahan karena besok kamu harus kembali bekerja. Jadi sekarang pulang ke rumah, mengerti." terdapat penekanan pada ucapan Bima.


"Ta-tapi Mas," ucapan Elena langsung dipotong oleh Bima dengan sebuah gelengan.


"Oh ya, besok akan ada asisten Tito yang akan menggantikan aku sementara. Kamu jangan macam-macam ya sama dia." sambil menyilangkan tangannya membentuk tanda X dengan sempurna.


"Mas kalau bicara suka ngawur, ngapain aku macam-macam sama orang yang belum ku kenal."


"Aku hanya takut jika kamu tiba-tiba berpaling dariku Sayang." Bima memegang tangan Elena dan meyakinkan wanita tersebut akan perkataannya.


"Iya."

__ADS_1


"Ya sudah. Sekarang kamu pulang, hati-hati dijalan. Ingat jangan ngebut."


***


Seperti perkataan Bima kemarin, asisten Tito yang sedang bertugas sementara menggantikan pekerjaan Bima. Ia datang dengan wajah dinginnya dan memancarkan tatapan yang membuat takut para karyawan.


Elena merasa tidak nyaman karena Tito selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Jika ia keluar maka Tito juga keluar, bahkan saat Elena menuju toilet pun Tito juga mengikutinya.


Elena mulai kesal akan sikap dari Tito. Sambil merobek-robek tissu toilet dengan mulut yang terus berkomat-kamit.


Sebenarnya apa tugasnya? mengurus perusahaan selama Mas Bima tidak ada atau mengikutiku selama Mas Bima tidak ada gumannya sembari mengoceh-oceh di dalam toilet.


"Bu Elena." panggil salah satu karyawan. Elena menoleh sambil mancari sumber suara tersebut.


"Ada apa Tika." ucapnya setelah mendapati asal suara yang menghentikan langkah kakinya menuju ruangan di atas.


"Ini laporan hasil pengeluaran minggu lalu Bu." sambil menyerahkan map berwarna biru dengan beberapa lembar kertas yang sudah terpoles tinta.


"Kata Pak Tito laporannya biar Bu Elena yang mengurusnya." ucapnya sambil menunduk ketika melihat ekspresi kesal Elena.


"Terima Kasih." ucap Elena sambil menghempaskan napasnya dan berlalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


Apa dia tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan benar sebagai pengganti. Sambil terus mengomel namun tetap memeriksa hasil laporan.


Sepulang dari kantor, Elena menepikan mobilnya dan memasuki parkiran kecil di sebuah toko bunga. 


Mencari bunga hanya sebagai alasan baginya untuk mengetahui apakah Tito juga mengikutinya sewaktu pulang.


Dihintipnya dari balik kaca mobil sambil memastikan keberadaan Tito. Beberapa saat tidak didapatinya sosok tersebut, dengan perasaan lega Elena masuk ke toko bunga tersebut.


Karena ia tidak ada niatan untuk membeli bunga jadi ia hanya membeli beberapa tangkai bunga mawar merah.


"Akhirnya si asisten itu tidak mengikutiku lagi. Dia bekerja seakan-akan sebagai pengawalku" ucapnya sambil terus mengemudi.


Ditepikannya mobil berwarna biru tersebut dengan rapi lalu beranjak memasuki rumah karena bulan juga sudah mulai menampakkan diri.


Sambil melangkahkan kaki ia mulai menyadari jika ada mobil hitam terparkir tak jauh dari rumahnya. 


Elena berpura-pura seolah tidak menyadarinya. Ditilikya lewat sebuah lubang kecil di jendela. 


Benar, ternyata mobil tersebut sedang mengikutinya karena setelah Elena memasuki rumah, mobil tersebut juga beranjak pergi.


"Apa yang sedang Mas Bima pikirkan sampai-sampai harus mengikutiku kemana saja." 


Sebenarnya ingin ia menghubungi Bima dan menanyakan apa yang sedang Bima rencanakan. Tapi diurungkannya karena takut jika laki-laki tersebut sedang sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Aku akan mengawasimu dari jauh. Aku hanya akan bertindak jika ada yang menyakitimu.


__ADS_2