
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Kamu adalah wanita yang paling aku inginkan didunia ini. Jangan insecure, kamu adalah kamu. Perbedaan yang bikin kamu unik bukan persamaan atau bahkan jadi bandingan dengan orang lain...
...~Erlang...
***
Di sisi lain ada Salsa dan teman segenknya sedang tertawa karena merencanakan sesuatu untuk menghancurkan hubungan Erlang dan Elena.
Gue akan menghancurkan hubungan Erlang dan Elena. Akan gue buat Elena menangis sampai Elena tak mampu lagi untuk mengeluarkan air mata.
Dia belum tau siapa gue yang sebenarnya. Berani-beraninya mengambil Erlang dari gue. Erlang hanya buat gue, Salsa seorang. Gue sama Elena itu ngga sebanding. Tunggu aja Elena, tunggu waktu yang tepat.
***
Erlang melepas sabuk pengaman, ia mengusap cairan bening yang sudah mengulur membuat anakan sungai dipipi Elena dan kembali bertanya "Kamu kenapa, Sayang?"
"Kenapa Sayang? Bukan Elle? Apa sayang buat panggilan kamu sama cewek lain?"
"Apa salah aku panggil pacar aku pakai sebutan Sayang?"
"Biasanya bukan Sayang,"
"Kamu enggak mau?"
Elena menggeleng "Buat Salsa?" tanyanya.
Erlang menyerngit dan mengambil ponsel yang menunjukkan chat person diaplikasi whattshap.
"Kamu ada hubungan sama Salsa?"
Erlang menggeleng sambil menyanggah tidak.
"Kamu bohong!"
"Demi apapun, aku nggak ada hubungan sama Salsa,"
"Aku nggak percaya sama kamu,"
Deg, hati Erlang rasanya remuk "Sebegitu lemah kah rasa kamu buat aku?"
Bibir Elena mengatup, dadanya semakin sesak. "Pantaskah kamu pertanyakan? apa kamu sadar seberapa lama aku mendam perasaan aku buat kamu?"
"Kenapa kamu meragukanku?"
Elena terdiam, dan menatap lama mata Erlang kemudian menunduk.
"Jawab aku Elle?"
"Aku merasa tidak pantas,"
"Sudah ku jelaskan!" Erlang menggenggam tangan Elena dan mengecupnya.
"Kamu adalah wanita yang paling aku inginkan didunia ini. Jangan insecure, kamu adalah kamu. Perbedaan yang bikin kamu unik bukan persamaan atau bahkan jadi bandingan dengan orang lain."
"Tapi,,,"
"Salsa hanya ingin hubungan kita rusak. Aku nggak tau dimana ia tau kalau kita pacaran. Tapi ku pastikan, aku nggak ada hubungan sama Salsa,"
Tak ada keraguan dimata Erlang.
__ADS_1
"Aku sayang kamu,"
***
Tak terasa sudah sebulan Erlang les privat dengan Elena. Hubungan mereka pun terlihat baik-baik saja. Mereka pun sudah menjalani Ujian Akhir Semester. Hari ini adalah hari kelulusan bagi SMA Mawar Merah.
Tak diragukan lagi jika Elena adalah lulusan terbaik saat itu dan diikuti Aries setelahnya. Yang mengejutkan adalah peringkat Erlang yang biasanya berada di angka 100 ke atas sekarang menjadi masuk 20 besar. Semua orang terkejut dibuatnya.
Acara perpisahan dilaksanakan 2 ronde. Ronde pertama merupakan acara formal yang dilakukan bersama para orang tua murid. Termasuk ayah Elena, Theo Wiratmaja yang segera terbang dari Canada menuju Jakarta hanya untuk melihat kelulusan anaknya.
Elena dan ayahnya memang hidup terpisah karena suatu alasan. Meskipun begitu, ayahnya Elena sangat menyayangi putrinya. Begitu juga dengan ayah Erlang yang langsung memesan penerbangan dari Amerika menuju Jakarta.
Sedangkan ronde kedua merupakan acara untuk para murid menghabiskan waktu mereka sebagai bentuk perpisahan menuju ke jenjang yang baru.
Setelah acara formal berakhir sekitar jam 15.25 para murid dan orang tua pulang kerumah masing-masing, karena acara berikutnya di adakan di sebuah Hotel Bintang Lima yang ada di Jakarta pada malam hari.
Hotel tersebut sengaja dipesan untuk satu malam, Sehingga orang lain tidak diperbolehkan untuk masuk.
"Yah, Elena berangkat dulu ya." pamitnya pada sang ayah yang sedang meminum kopinya sambil duduk menonton televisi.
"Wahh, anak ayah cantik sekali malam ini. Kau benar-benar mirip dengan ibumu." Theo mengelus rambut putrinya yang panjang.
Tak ia sangka putri kecilnya sudah beranjak dewasa. Putri kecil yang selalu merengek minta dibelikan permen ketika ia pulang kerja. Mata Theo hampir meneteskan air mata saat teringat kejadian di masa lalu.
"Ayah kangen bunda?" Mata Elena juga terlihat berkaca-kaca, seakan ia juga merindukan sosok yang telah melahirkannya.
"Sudah nanti saja kalau mau bahas bundanya, kalau kamu nangis nanti make upnya luntur. Kan tadi sudah hampir berjam-jam riasnya." ucap Theo dengan suara yang memberat. Dadanya seakan sesak jika mengingat kejadian dimasa lalu.
"Iya Ayah,” Elena memeluk ayahnya sambil menyeka air matanya yang hampir menetes.
"Kamu pergi sama siapa Nak, mau ayah antar?"
"Eggak perlu Yah, Elena pergi sama Jihan Paling bentar lagi juga datang." Kalau Dean jangan tanyakan sudah pasti sama Arvel.
"Eh Jihan sudah sampai ya, Yah aku berangkat dulu ya. Daaahhh." dengan cepat Elena keluar pintu.
"Hati-hati jangan pulang larut malam." teriak Theo.
"Kami berangkat ya Om, dahh Om." Jihan melambaikan tangan ke arah Theo dan berjalan bersama Elena menuju mobil.
"Dasar anak jaman sekarang." Theo menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anak itu.
Selama di dalam mobil tak henti-hentinya mereka bercanda menertawakan hal-hal kecil.
"Oh ya Len, kapan ayah loe balik ke Canada?" tanya Jihan sambil tatapannya masih fokus ke arah jalan.
"Katanya sih besok, ada pekerjaan penting jadi mau berangkat besok pagi." jelas Elena. Jihan mengangguk sambil terus fokus mengemudi.
Sesampai di depan hotel, mereka disambut oleh dua penjaga yang bertubuh besar memakai setelan jas serba hitam.
Elena dan Jihan pun langsung menunjukkan kartu pelajar mereka sebagai bukti.
"Seperti acara besar saja ya Len, jadi harus pakai bukti."
"Iya." Mereka pun tertawa bersamaan.
Setelah mereka memasuki aula, ternyata sudah banyak yang sudah berdatangan. Semuanya terasa berbeda bagi Elena. Mereka berjalan perlahan mendatangi kerumunan.
Banyak mata yang tertuju pada Elena yang terlihat sangat cantik malam itu.
Karena biasanya ia tak memoles make up ketika sekolah dan baju yang ia kenakan pun selalu kebesaran sehingga membuatnya terlihat agak culun.
__ADS_1
Berbeda dengan sekarang, Elena memakai dress selutut berwarna peach berlengan pendek sehingga memperlihatkan tubuhnya yang putih dan mulus. Ia juga menstyling rambutnya menjadi bergelombang. Membuat kesan berbeda dari Elena sebelumnya. Tak lupa ia juga memakai high heels berbentuk wedge.
Salsa yang melihat Elena menjadi pusat perhatian benar-benar kesal, rencananya kemarin juga gagal dan membuatnya semakin jauh dengan Erlang karena cowok itu memblokir nomornya.
Dilihatnya ke arah Erlang yang juga sedang memperhatikan Elena dari jauh membuatnya semakin kesal. Ia mengepalkan tangannya seakan menahan marah.
Liat aja Elena, sebentar lagi permainan yang sesungguhnya segera dimulai.
"Loe cantik banget malam ini Len." ucap salah satu teman sekelas Elena.
"Iya benar Len, loe terlihat berbeda banget malam ini." sahut yang lain.
Elena hanya tersenyum menaggapi ocehan teman-temannya. Ia melihat kesana-kemari mencari sosok kekasihnya.
"Loe cari Erlang ya Len, tuh lagi duduk di dekat panggung sambil liatin loe." Jihan memelankan suaranya. Ia mengetahui jika sahabatnya itu sedang mencari sosok Erlang, laki-laki yang dicintai sahabatnya.
Tetapi Jihan tidak tahu jika Erlang dan Elena sebenarnya sudah berpacaran.
Elena mencari sosok yang disebut Jihan tadi. Ia menatap Erlang yang juga menatapnya dari kejauhan. Ia melihat Erlang sedikit menarik sudut bibirnya. Elena senang jika Erlang menyukai penampilannya.
“Lele cantik banget, Lang.”
“Kaya nawang rindu.” Guntur menimpali sambil sesekali melirik ke arah Elena.
Sebenarnya bukan Elena sih, tapi yang disampingnya. Begitu manis dengan setelan pulkadot selutut.
“Nawang Wulan yang ada,” Aries tak terima.
“Nawang Wulan buat jaka Tarub, kalau Nawang Rindu buat Jaka gengsi.” Jelas Eros sambil mengikuti arah padang Erlang yang terus memperhatikan Elena.
“Jaka gengsi mulai terpesona.” Arvel ikut menimbrung setelah Dean berpamitan untuk menyusul Elena dan Jihan.
Sampai pada penghujung acara, Elena pulang kerumah jam 23.35. Ia membuka pintu secara perlahan karena ia mengira jika ayahnya sudah tidur. Ia terkejut ketika mendapati ayahnya sedang mengotak-atik laptop diruang tamu.
"Ayah kok belum tidur? besok kan ayah mau berangkat pagi-pagi, jadi harus istirahat." Elena mendatangi ayahnya yang sibuk dengan pekerjaan kantor.
"Hmmm, sebentar lagi ayah tidur. Sudah sana ke kamar." jelas Theo sambil terus menatap laptopnya.
Elena beranjak dari sofa menuju kamarnya. Namun belum ia beberapa langkah tiba-tiba ayahnya memanggil.
"Elena."
"Iya ya, ada apa?" Elena berbalik dan kembali duduk di sofa.
"Setelah ini kamu mau kuliah dimana, ngambil jurusan apa Nak?"
"Aku mau kuliah di Jakarta aja Yah, ngambil jurusan matematika bisnis."
"Apa kamu tak ada niatan untuk ikut ayah tinggal di Canada?"
"Yah, ayah tau kan mengapa aku tetap memilih untuk tinggal di sini. Aku ingin tetap dekat dengan bunda yah." jelas Elena sambil memegang erat tangan Theo.
"Hhhh, baiklah. Ayah tidak akan memaksamu. Bagaimana pun ini adalah kehidupanmu, ayah tidak akan memaksakan kehendak ayah. Karena kamu adalah putri kesayangan ayah."
Theo memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, Elena pun membalas pelukan sang ayah.
Elena sudah didalam kamarnya merebahkan tubuh di kasur empuk kesayangannya. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba ada notif masuk.
Dengan segera Elena mengambil handphonenya. Dilihatnya ada pesan dari nomor tidak di kenal yang mengirimkan beberapa foto.
Dikliknya foto tersebut, betapa terkejutnya ia ketika melihat foto tersebut. Foto Erlang sedang berpelukan dengan seorang perempuan.
__ADS_1
Perempuan yang sangat Elena kenal. Tak terasa mata Elena sudah sembab. Dengan segera diteleponnya nomor Erlang, beberapa kali ia memanggil namun tak ada jawaban. Bahkan nomor Erlang tidak aktip.
Kok kamu jahat sama aku Bie.