My Chosen Man

My Chosen Man
Akhir yang menjadi awal


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Lakukan apa yang menurutmu benar...


...Jangan takut untuk memulai...


...Percayalah, aku di sini akan mendukung setiap keputusanmu...


...~Erlang...


***


"Aku mencintaimu Elle." ucap Erlang sangat pelan.


"Apa?" ucap Elena yang mengalihkan pandangannya ke arah Erlang. Ia tidak mendengar apa yang dikatakan Erlang karena suara kembang api yang begitu keras.


"Apa yang kamu katakan." ucapnya lagi saat melihat respon Erlang yang hanya diam menatapnya.


"Tidak ada." ucap Erlang setelah berpikir sejenak.


"Benarkah, aku rasa tadi kamu mengucapkan sesuatu." 


Elena tak begitu mempermasalahkan karena yang begitu memikat perhatiannya sekarang adalah menikmati kembang api sebelum berakhir.


Mungkin lebih baik jika seperti ini dulu. Aku tidak ingin jika kamu menjauhiku lagi hanya karena aku terlalu memaksakan perasaanku.


***


Deras hujan membuat irama sangat merdu saat jatuh dengan paksa ke atas jalan, sampai-sampai ia mengeluarkan bau pekat yang begitu khas. 


Dengan ditemani angin yang sepoi-sepoi namun mampu membuat horden yang menggelantung indah bergerak ke kiri dan ke kanan. Sangat pas untuk insan yang sedang menutup mata.


Namun berbeda dengan Elena, matanya sama sekali tidak ada niatan untuk beristirahat. Ia melamun sambil menyandarkan diri di sisi ranjang. Kalimat Erlang terus menggema di telinganya.


Lakukan apa yang menurutmu benar. Jangan takut untuk memulai. Percayalah, aku di sini akan mendukung setiap keputusanmu.


Dilihatnya kembali pergelangan tangan yang bertuliskan namanya itu. Sejenak ia terkekeh sembari mengingat wajah Erlang yang juga merasa geli.


"Teman dekat." ucap Elena sambil mengingat kejadian ketika Erlang mengantarnya seusai melihat kembang api tadi.


Flashback


"Erlang." panggil Elena sebelum ia menuruni mobil.


"Hmmm, ada apa?" Erlang menengok sejenak lalu pandangannya berlalih fokus melepas sabuk pengaman.


"Apa alasanmu membawaku pergi ke festival dan melihat kembang api tadi?" sejenak tangan Erlang menghentikan aktivitasnya, ia menengok ke arah Elena yang sedang fokus melihatnya.


"Karena aku ingin." ucapnya dengan santai namun tidak dengan Elena.

__ADS_1


"Maksudnya." tanya Elena yang heran, ia terus menatap Erlang yang sedang sibuk dengan aktivitasnya.


"Aku sangat ingin melihat kembang api. Karena aku tak punya teman jadi aku mengajakmu." ucap Erlang setelah beberapa saat ia terdiam seakan sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia katakan


"Benarkah?" Elena tampak tidak percaya. Bukankah tadi Erlang bilang kalau kembang api itu untuknya.


"Tentu saja." ditampilkannya senyuman yang begitu khas.


"Terima kasih." ucap Elena yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena buat apa mendebat pikirnya toh ia juga tidak merasa dirugikan.


"Bisakah kita menjadi teman dekat." perkataan Elena membuat Erlang terkejut.


"Teman dekat?" ia mengernyitkan alisnya. Bertanya-tanya apakah ia sedang salah dengar.


"Iya teman dekat." ucap Elena sambil mengangguk, ia begitu antusias saat mengucapkan kata tersebut.


"Baiklah." Jawaban Erlang membuat senyum di bibir Elena. 


Baiklah mungkin teman dekat lebih baik untuk sekarang tapi nanti aku akan perlahan mengambil hatimu kembali Elena.


***


Dengan keputusan yang matang, Elena berencana untuk mengundurkan diri dari perusahaan Bima.


"Pagi Bu Elena." ucap Santi ketika Elena baru saja melewati ruang kerja para pegawai.


"Pagi Santi." balasnya sambil menampilkan senyuman.


"Ayah saya?" Elena heran, karena yang ia tahu ayahnya sedang baik-baik saja. Dari mana Santi mendengar kabar yang sepertu itu pikirnya.


"Iya ayah Bu Elena lagi sakitkan? Kata Pak Bima, Bu Elena lagi pergi jenguk ayah Bu Elena yang sedang sakit, makanya Bu Elena ngambil cuti beberapa hari." jelas Santi membuat lamunan Elena buyar. Sekarang terjawab sudah pertanyaan yang sedang ia cari jawabannya.


"Oh iya, alhamdulillah sekarang sudah baikan. Kalau begitu saya ke atas dulu." pamitnya sambil menunjuk ke arah ruang atas.


"Iya Bu, mari." Santi menundukkan kepalanya dan pergi kembali keruangannya.


Elena meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja. Ia benar-benar sudah mementapkan keputusannya. 


Pandangannya terhenti pada sebuah foto yang tergeletak tak jauh dari surat yang ia letakkan.


"Kenapa kamu masih menyimpan fotoku Mas? Jika Mba Citra tau, itu pasti akan menyakiti hatinya." sambil mengambil foto dirinya sendiri di atas meja.


"Elena." ucap Bima yang baru saja datang mengagetkan Elena. Ia masih mematung di depan pintu. 


Sesekali ia tepuk pipinya berusaha mencari kesadarannya.


Senyumnya merekah saat mengetahui jika ia sedang tidak bermimpi.


"Elena ini benar kamu, akhirnya kamu kembali." Bima memegang kedua bahu Elena. Dengan cepat ia memeluk sosok tersebut. 

__ADS_1


Tak kalah cepat, Elena langsung mendorong tubuh Bima.


"Maaf Pak, saya kesini hanya ingin mengantarkan surat pengunduran diri." sambil menunjuk surat di atas meja.


"Su-surat pengunduran diri." ucap Bima terbata-bata, dilihatnya ke arah surat yang baru saja Elena letakkan.


"Iya Pak, saya permisi." 


Elena menundukkan kepala lalu berniat untuk mengemasi barang-barangnya, namun baru beberapa langkah lengannya langsung di cekal dari belakang


"Elena, kamu mengundurkan diri karena ingin menghindari saya kan?" sambil mencengkal lengan Elena dengan kuat membuat sang pemilik berbalik dengan cepatnya.


"Saya kira tak pantas jika membicarakan urusan pribadi di kantor." ucapan Elena yang dibenarkan oleh Bima.


Dengan segelas minuman segar di atas meja menemani dua insan manusia yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.


"Apa maksud dari surat pengunduran itu Elena?" kalimat pembuka yang Bima lontarkan setelah hening beberapa saat.


"Seperti yang Mas tahu arti dari surat tersebut." jawaban Elena membuat Bima kesal.


"Ma-maksudku bukan itu Elena, kenapa kamu tiba-tiba mengundurkan diri? Apa kamu benar-benar ingin menghindariku?" Bima berusaha mengontrol amarahnya karena tidak ingin mengganggu pengunjung lain.


"Aku tidak berniat untuk menghindari kamu Mas." elaknya dengan wajah yang serius.


"Lalu untuk apa kamu membuat surat pengunduran diri?" suara Bima mulai meninggi. Ia tak dapat lagi mengontrol emosinya.


"Aku hanya tidak ingin timbul fitnah nantinya di antara kita Mas. Aku juga tidak ingin membuat Mba Citra berpikir yang tidak-tidak."


"Perlu kamu ketahui Elena, aku sedikitpun tidak mencintai Citra."


"Tapi sekarang Mba Citra adalah istri kamu Mas. Tidak bisakah kamu menghargainya sedikit saja." ia benar-benar tulus saat mengucapkan kata-kata tersebut.


"Tidak bisa Elena." Bima menggeleng lemah. Tersirat kesedihan yang mendalam dari tatapan sendunya


"Mas, ku mohon jangan mempersulit keadaan." Elena beranjak dari posisinya. Diambilnya tas yang ia letakkan di samping tempat duduknya.


"Elena." ucap Bima menghentikan pergerakan tangan Elena. Dilihatnya wajah laki-laki yang terlihat muram.


"Mas, jalani kehidupan baru kamu. Jangan sampai nantinya kamu menyesal." kemudian Elena beranjak pergi meninggalkan luka yang mendalam di hati Bima. 


Laki-laki tersebut diam tak bergeming dari posisinya, entah apa yang sedang dipikirkannya.


Elena kembali ke kantor Bima, bukan untuk kembali bekerja namun untuk membereskan barang-barangnya baru setelahnya ia kembali ke rumah untuk menenangkan pikirannya.


Elena mengistirahatkan sejenak tubuhnya sambil bersandar di sofa miliknya. Di ambilnya sebuah laptop lalu ia mengetik sesuatu di sana.


Surat untuk melamar pekerjaan. Itu yang sedang ia ketik selama beberapa menit. 


Jarinya terus menari-nari di atas keyboard sambil sesekali ia sandarkan kepala yang sudah mulai terasa lelah.

__ADS_1


"Keputusanku sudah tepat." ucapnya sambil meyakinkan dirinya sendiri. Besok ia akan mulai mencari pekerjaan yang baru.


__ADS_2