
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Syukurlah jika ini bisa membuatmu tertawa melupakan masalahmu walau hanya sebentar...
...~Erlang...
***
"Ada apa kamu menyuruhku untuk bertemu? apa ada sesuatu yang penting terkait kaErlang?" ucap Anggi sambil menebak-nebak apa yang akan dikatakan Sisil.
20 menit yang lalu sisil meminta Anggi untuk bertemu di caffe langganan mereka. Ia hanya memberitahu Anggi jika ada sesuatu hal penting yang ingin ia sampaikan.
"Iya, ini informasi yang sangat sangaaattt penting." ucap Sisil dengan ekspresi yang begitu meyakinkan.
"Apa itu?" ucap Anggi yang penasaran. Ia menggeser kursi ke arah samping agar bisa lebih jelas mendengar perkataan Sisil.
"Aku sudah menemukan foto perempuan yang sedang ditunggu kaErlang." ucapnya dengan antusias. Ia setengah berteriak sampai pengunjung caffe yang lain melihat ke arah mereka berdua.
"Ssstttt, jangan kencang-kencang Sil." Anggi meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibir sambil melotot ke arah Sisil.
"Maaf kebiasaan." ucapnya sambil tersenyum kikuk. Ia mengangguk ke arah pengunjung seakan meminta maaf karena telah mengganggu mereka.
"Sekarang mana fotonya." desak Anggi.
"Sabar Anggi." ucap Sisil sambil mencari-cari sesuatu di layar handphone-nya. Lama jari telunjuknya berselancar di layar tersebut.
"ini dia, ketemu." ucapnya sambil mengarahkan layar tersebut ke arah Anggi.
Menampilkan seorang perempuan cantik dengan rambut tergerai sambil tersenyum menatap indahnya pantai.
Anggi benar-benar terkejut setelah melihat foto tersebut. Ia terdiak sejenak sambil mencerna kejadian yang baru saja ia alami.
"Anggi." panggil Sisil saat melihat Anggi yang tak bergeming dari posisinya.
Pandangannya lurus menatap sosok perempuan yang baru saja ia tampilkan.
"Anggi." panggilnya lagi sambil menggoyang-goyangkan bahu Anggi. Tersirat kekhawatiran saat melihat sahabatnya seperti itu.
"Ahh iya Sil." jawab Anggi setelah mendapati kembali kesadarannya.
"Kamu kenapa?" tanya Sisil yang khawatir, ia mengecek dahi Anggi barangkali perempuan tersebut mendadak sakit.
"Perempuan di foto ini..." ucapannya menggantung sambil ditunjuknya ke arah foto yang ada di layar handphoneSisil.
"Ada apa? apa kamu mengenalnya." tebak Sisil sambil melototkan matanya.
__ADS_1
"Hmmm, namanya Elena." Anggi mengangguk.
***
Sebuah mobil hitam melintas menembus jalanan kota. Memenuhi padatnya lalu lintas jakarta yang selalu ramai akan penduduknya.
"Kamu mau membawaku kemana?" ucap Elena yang sudah duduk di kursi samping pengemudi.
"Ke suatu tempat, ku yakin kamu pasti suka." ucap Erlang dengan percaya dirinya.
"Dengan pakaianmu yang seperti ini." Elena menunjuk dari atas sampai bawah ke arah tubuh Erlang yang kini sedang sibuk mengemudi.
"Kenapa? Apa kamu malu jalan bersamaku dengan pakaian formal." ditengoknya sekilas ke arah wajah Elena kemudian berlalu menatap jalanan.
"Bukan begitu maksudku." Elak Elena
"Lantas yang seperti apa maksdumu?"
"Aku hanya khawatir jika itu tidak nyaman untukmu." sambil kembali menunjuk pakaian yang sedang Erlang kenakan
"Apa kamu mengkhawatirkanku Elle?" terlintas senyuman di bibir Erlang saat Elena mengkhawatirkannya.
"Ti-tidak." ucap Elena dengan terbata-bata. Kepalanya lantas menggeleng-geleng dengan cepat.
"Lupakan, aku menyesal telah mengatakannya."
Erlang terkekeh mendengar perkataan Elena. Sekilas ditengoknya wajah Elena yang sedang cemberut, begitu menggemaskan bagi Erlang.
Setengah jam hampir berlalu, hawa malam mulai menelisik. Mobil hitam milik Erlang masih setia menerobos jalanan kota yang begitu ramai.
Sampai mereka pada sebuah tempat festival. Begitu banyak orang yang datang, mulai dari anak-anak yang bersama orang tua mereka hingga pasangan muda yang sedang kasmaran.
"Wah tempat ini sangat indah." ucap Elena sambil terus mengamati lampu yang berwarna-warni menggantung indah saat mereka memasuki taman tersebut.
Begitu banyak wahana di sana, bahkan taman juga hampir penuh karena banyaknya orang yang datang ke sana.
"Apa kamu menyukainya?"
"Hmm sangat, aku sangat menyukai tempat ini." terpancar senyuman yang tak terkira, berulang kali ia mengucap kata takjub pada hal yang baru ia lihat.
"Apa itu?" tunjuknya pada sepasang kekasih yang sedang membuat tato temporer.
"Itu tatto yang bisa dihapus."
"Ohh." Elena memanggut-manggut sambil terus menatap ke arah sepasang kekasi tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu mau mencobanya?" tawar Erlang sambil mengulurkan tangan ke arah Elena.
"Boleh." jawabnya sambil membalas uluran tangan Erlang.
Mereka berjalan layaknya sepasang kekasih yang sangat bahagia. Berjalan sambil bergandengan tangan seperti anak muda kebanyakan.
Mereka membuat tatto temporer dipergelangan tangan dengan bertuliskan nama masing-masing.
Sesekali Elena tertawa karena merasa geli pada pergelangan tangannya.
Syukurlah jika ini bisa membuatmu tertawa melupakan masalahmu walau hanya sebentar.
"Kita mau kemana lagi?" ucapnya setelah Erlang menarik tangan kecilnya sambil setengah berlari menjauhi keramaian.
Mereka menaiki sebuah bukit kecil yang tak jauh dari taman namun tak ada satu orang pengunjung pun yang berjalan ke arah bukit tersebut.
"Wah indah sekali." Elena menatap ke arah Erlang. Bibirnya tak henti-henti untuk tersenyum.
"Kenapa?" ucap Erlang yang heran karena Elena terus menatapnya.
Tersirat kebahagian dari mata cokelatnya. Mata kebahagiaan yang akhirnya bisa Erlang pandang secara dekat. Ia sungguh merindukan momen Ini.
"Terima kasih." ucapnya ditutup dengan cairan bening yang mengalir membentuk anakan sungai di pipi mungilnya.
"Tidak sebelum sesuatu yang ingin ku tunjukkan berakhir." Erlang menyeka air asin yang mengalir semakin deras membuat sang pemiliknya sesegukan.
"Sudah jangan menangis, aku tak ingin jika melihatmu menangis." ucap Erlang sembari mengusap pelan puncuk kepala Elena.
Duarrr Duarrr Duarrr
Suara kembang api menggema di gendang telinga. Begitu cantik menghiasi langit yang sudah gelap. Mata cokelat Elena terpana akan pemandangan yang ia lihat.
"Apa ini?" tanyanya sembari menunjuk ke arah kembang api yang sedang menunjukkan diri di atas sana.
"Untukmu." ucap Erlang ditutup dengan senyum manis yang ia miliki.
Erlang memang sengaja membayar seseorang untuk menyalakan kembang apa di saat ia sudah menaiki bukit kecil tersebut. Semua ini ia lakukan agar bisa sedikit membuat Elena melupakan masalahnya.
"Sekali lagi terima kasih." ucapnya kembali dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah ku katakan untuk tidak menangis."
"Iya." kembali pandangannya ke arah kembang api yang masih setia menemani mereka.
"Aku mencintaimu Elle." ucap Erlang sangat pelan.
__ADS_1