My Chosen Man

My Chosen Man
Kenyataan pahit


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Qoutesnya cari sendiri wkkk...


Tempat yang Elena lalui tergolong sepi, tak banyak orang yang berlalu lalang. Beruntung pemilik rumah depan pohon yang Elena tabrak mendengar suara hantaman yang sangat keras, sehingga ia keluar rumah untuk memastikan.


Setelah dilihatnya ternyata ada sebuah mobil yang tak lain adalah mobil Elena. Mobil yang kondisinya sudah penyok di beberapa sisi. Ia terkejut saat melihat pengemudi sudah tak sadarkan diri, dengan segera ia menelphone pihak ambulance untuk membawanya ke rumah sakit.


***


"Begini Pak Erlangga, ada beberapa perusahaan yang mengirimkan proposal untuk meminta perusahaan kita menanam saham di perusahaan mereka." jelas asisten Erlang.


"Dalam beberapa minggu ini saya akan fokus mengurus pernikahan saya. Apa kamu bisa handle beberapa pekerjaan saya?" tanya Erlang sambil membolak-balikkan beberapa proposal di atas mejanya. Tak mungkin jika ia minta handle dengan Guntur, karena laki-laki itu juga sibuk dengan perusahaan Erlang yang satunya.


"Akan saya usahakan Pak."


"Apa ada lagi yang perlu dibicarakan?" tanya Erlang sembari meletakkan proposal yang sedari tadi hanya ia bolak-balik.


Belum sempat ada jawaban dari asistennya. Tiba-tiba handphone Erlang berdering membuat sang pemilik handphone tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar handphone-nya.


"Elle." ucap Erlang sambil meletakkan telephone yang sudah terhubung.


Hallo ucap seseorang dari seberang sana. Suara yang sama sekali bukan suara Elena.


Ini siapa? Tanya Erlang yang menyadari bukan suara Elena yang ia dengar.


Kami dari pihak rumah sakit, ingin mengabarkan bahwa pemilik handphone mengalami kecelakaan. Karena yang dihubungi korban terakhir kali adalah nomor ini, jadi kami menghubungi Bapak.


Anda bercanda kan, jelas-jelas saya baru saja bertemu dengan calon istri saya.


Kami serius Pak, kami menemukan dompet pasien dengan identitas atas nama Elena. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa memastikannya langsung di rumah sakit Harapan.


Telephone dimatikan secara sepihak oleh Erlang. Ia langsung mengambil kunci mobil dan beranjak pergi untuk memastikan perkataan seseorang yang menelphone tadi. Sebelum pergi tak lupa ia juga berpamitan dengan asistennya.


Erlang berlari sambil menggenggam erat kunci mobilnya. Mulutnya terus berkomat-kamit berharap apa yang dipikirkannya adalah salah.


Seperti kejadian saat Elena pergi ke Canada, kali ini Erlang juga melakukan hal yang sama. Ia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak perduli banyak pengemudi lain yang mengumpat kepadanya.

__ADS_1


***


"Ada yang bisa kamu bantu." tanya seorang resepsionis setelah melihat kedatangan Erlang.


"Apa di sini ada korban kecelakan atas nama Elena?" tanya Erlang sambil berusaha menormalkan napasnya.


"Sebentar Pak." ucap seorang resepsionis itu sambil mencari nama yang Erlang sebutkan tadi di sebuah buku besar.


Perasaan gelisah dan takut bercampur jadi satu. Erlang berusaha mengalihkan fokusnya dan berharap pikirannya menjadi sedikit lebih tenang.


Tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang tidak asing. Ia melihat Bima sedang berjalan dan berhenti menunggu pintu lift untuk terbuka. Erlang berusaha memfokuskan penglihatannya, barang kali itu hanya seseorang yang mirip dengan Bima.


Benar, itu memang benar-benar Bima gumam Erlang. Saat ia hendak mendatangi sosok tersebut, panggilan dari resepsionis menghentikan langkahnya.


"Pak, baru saja ada korban kecelakann atas nama Elena." perkataan resepsionis itu seakan menghantam dada Erlang.


"Dimana ruangannya?" ucapan dari resepsionis lebih mengalihkan perhatian Erlang. Ia mendekat sambil menunggu jawaban yang akan diberikan resepsionis tersebut.


"Di lantai 3 kamar nomor 42." jelas resepsionis itu setelah kembali memeriksa buku besarnya.


Erlang langsung beranjak meninggalkan tempat resepsionis. Ia kembali mencari sosok Bima namun sosok tersebut sudah menghilang dari pandangannya.


"Sedang apa Bima di sini, apa kecelakaan Elena ada hubungannya dengan Bima." Erlang terus berkecamuk dengan segala analisanya.


Sesampai di depan lift, Erlang menunggu pintu tersebut hingga terbuka dan menuju ruangan yang telah diberitahu resepsionis tadi.


Pergerakan lift serasa lambat bagi Erlang, padahal hanya 3 lantai yang ia tuju. Tak henti-hentinya ia  mengumpat, tanpa memperdulikan sekitarnya. Yang ia pikirkan sekarang adalah kondisi calon istrinya.


"Permsi, saya mau lewat." ucap Erlang menerobos ketika pintu lift sudah terbuka. Ia langsung menuju ruangan yang diberitahu resepsionis tadi. Sambil berjalan, ia melihat nomor di setiap pintu ruangan rumah sakit. Tepat di depan ruangan bertuliskan 42, Erlang menghentikan langkahnya.


Dilihatnya seseorang yang ia sayangi sedang  terbaring lemas tak berdaya dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Erlang merasa ngilu saat melihat calon istrinya seperti itu. Ia juga seakan merasakan hal yang Elena rasakan.


Ketika tangan Erlang mulai memutar gagang pintu, tangannya dihentikan oleh seorang suster yang baru saja datang. Erlang menatap suster tersebut dengan tatapan tidak suka.


"Mohon maaf Pak, untuk sementara anda tidak bisa masuk karena kami sedang melakukan pemeriksaan."


"Tapi sus..."

__ADS_1


"Mohon kerja samanya Pak." ucap suster tersebut membuat Erlang mengalah. Ia membiarkan suster tersebut masuk semetara dirinya berada di luar.


Tubuh Erlang sama sekali tidak bisa tenang. Berkali-kali ia mengengok dari kaca kecil di depan pintu lalu kembali duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaan calon istri saya Dok?" tanya Erlang setelah melihat dokter keluar dari ruangan Elena.


"Jadi anda adalah calon suami dari pasien?" tanya balik dokter tersebut. Erlang langsung mengangguk dengan cepat.


"Iya, dia calon istri saya."


"Bisa anda ikut ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan."


Dengan ragu Erlang mengiyakan, sebenarnya ia ingin segera menemui Elena. Tapi sepertinya ada hal penting yang ingin dokter tersebut bicarakan, dan itu pasti menyangkut Elena.


Erlang mengikuti pergerakan dokter yang sudah paruh baya tersebut. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar, yang letaknya lumayan jauh dari ruangan Elena.


"Silahkan duduk." tawar dokter tersebut sambil menunjuk kursi di depannya.


Erlang pun duduk tepat di kursi yang telah di tunjuk dokter tadi.


"Apa yang ingin Dokter bicarakan? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi pada calon istri saya." tanya Erlang tanpa basa-basi, karena ia sudah tidak sabar untuk melihat kondisi Elena.


Dokter paruh baya tersebut mengambil napas membuat Erlang semakin gelisah, seperti ada sesuatu hal yang buruk tentang Elena.


"Begini Pak, setelah saya teliti, sepertinya kecelakaan yang terjadi cukup parah."


Deg


Jantung Erlang mulai bergerak cepat saat mendengar ucapan dokter tersebut, namun ia berusaha tetap mendengarkan.


"Airbag pada mobil pasien tidak berfungsi sehingga terjadi benturan keras di kepala dan juga di perut bagian atas di sisi kanan. Benturan di perut bagian atas tersebut menyebabkan kerusakan pada ginjal pasien."


Sejenak dokter itu mengambil napas dan melanjutkan ucapannya. "Dan sekarang pasien sedang kritis."


Dada Erlang seakan dihantam benda keras. Tenggorokannya tercekat, tubuh Elang benar-benar melemas sekarang. Ia bahkan merasa seperti setengah dari dirinya hilang entah kemana.


"Ini tidak benar kan Dok, ini tidak benar. Katakan jika ini tidak benar." Erlang tak dapat mengontrol emosinya. Ia tidak dapat menerima kenyataan ini. Ia mengira kebahagiaan akan mengiringi mereka setelah melangsungkan pernikahan. Tapi takdir berkata lain, belum sempat mereka mencicipi bahagianya menjadi pengantin baru. mereka harus disuguhkan kenyataan pahit sekarang.

__ADS_1


__ADS_2