
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Kau boleh menyiksaku dengan kemarahan...
...Tapi jangan siksa aku dengan sebuah kepergian...
...Katakan bagaimana bisa aku bertahan...
...Jika cahayaku mulai redup dibawa angan...
...~Erlang...
***
Salsa mengingat kembali di mana ia meminta bantuan Aldo.
Mereka merencanakan semuanya dengan matang. Mulai dari foto saat Salsa hampir terjatuh dan dibantu oleh Erlang yang terlihat seperti sedang berpelukan.
Mereka juga sengaja mengirim foto tersebut larut malam karena tahu Elena tidak akan keluar rumah saat larut.
Aldo juga sengaja mengajak teman-teman yang lain kerumah Erlang karena dia tahu pasti Elena akan datang pagi itu.
Dan benar, Elena datang pagi itu. Aldo yang melihat bayang Elena di layar televisi saat ingin menghampiri Erlang, dengan sengaja ia membuat seolah-olah Erlang tidak peduli saat mereka menjelek-jelekkan Elena.
"Ayo bersulang atas keberhasilan rencana kita memisahkan Elena dengan Erlang." ucap Salsa sambil memgangkat gelas berisi soda.
"Cheerrss."
"Apa rencana loe selanjutnya Sa?" tanya Aldo sambil meminum sodanya.
"Akan gue buat Elena semakin membenci Erlang, dengan begitu gue dia akan semakin menjauh dari Erlang. Dan kesempatan gue buat deketin Erlang bakal lebih mudah."
Salsa menjentikkan jarinya sambil tertawa menyeringai membayangkan jika rencana selanjutnya akan berhasil.
"Oke, dan saat itu juga gue akan coba deketin Elena. Gimana?" Aldo mengangkat satu alisnya dan dibalas acungan jempol oleh Salsa.
"Rencana kalian hebat banget, gue salut. Perlu belajar nih gue sama kalian." ucap salah satu teman Salsa.
"Tenang aja, loe kan teman gue. Nanti gue ajarin. Hahahaha." mereka semua tertawa dan kembali meminum soda.
***
"Elle, kamu dimana? aku mau jelasin semuanya sayang. Jangan buat aku khawatir."
__ADS_1
Erlang terus mengemudi sambil mencari sosok Elena. Ia mencari ke perpustakaan, taman namun tak didapatinya walau hanya bayangan Elena.
Tak terasa sudah hari sudah sore, hujan pun sudah mulai reda.
Erlang menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memutuskan untuk menghubungi Dean dan jihan mungkin Elena sedang bersama mereka atau mungkin mereka mengetahui dimana Elena berada.
Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Dean dan Jihan namun tak kunjung ada jawaban dari seberang sana.
Erlang tak putus asa, ia menghubungi nomor Arvel. Mungkin Arvel bisa membantunya menemukan Elena, begitu pikirnya. Hanya Arvel yang dapat ia andalkan dalam situasi seperti ini.
Hallo Vel loe dimana?
Oke gue kerumah loe sekarang
Dengan cepat Erlang menancap gas mobilnya menuju rumah Arvel. Sesampai di rumah Arvel, tanpa basa-basi Erlang langsung mengajak Arvel untuk kerumah Dean.
"Loe mau ngapain sih Lang kerumah pacar gue?" tanya Arvel yang heran karena melihat raut wajah Erlang yang sedang cemas.
"Gue mau nyari Elena, kali aja dia ada di rumah pacar loe. Kan mereka sahabatan." Erlang masih fokus menatap jalanan.
Arvel yang mendengar perkataan Erlang menyerngit heran. "Buat apa loe nyari Elena lang? biasanya juga loe ngga peduli sama dia. Apa juga hubungan loe sama dia. Loe aneh Lang,"
Arvel menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah aneh dari sahabatnya.
"Ahhh, nanti gue jelasin. Sekarang gue harus ke arah mana lagi nih?" Erlang menatap Arvel yang sedang memejamkan matanya.
"Buset hapal banget lo." Erlang yang kagum akan ingatan Arvel.
"Ya jelaslah, Arvel gitu loh." Arvel mengangkat kerah bajunya sambil menyeringai namun tetap dengan mata terpejam.
Sesampai di rumah Dean, mereka mengetuk pintu. Tak lama keluar sosok perempuan memakai baju yang sudah rapi seakan mau beprgian.
"Eh sayang kok kemari enggak ngabarin aku dulu." tanya Dean yang heran saat melihat Arvel tiba-tiba di depan rumah. Karena biasanya Arvel selalu memberitahu Dean kalau mau ke rumahnya.
"Tau nih Erlang mau nyari Elena katanya." Arvel menunjuk Erlang dengan telunjuknya yang hampir mengenai mata Erlang.
"Eh masuk dulu yu. Kita bicara di dalam, enggak enak kalau bicara di luar rumah." ajak Dean sambil masuk menuju ruang tamu yang diikuti oleh Erlang dan Arvel.
Erlang terlihat sedang mencari-cari Elena di setiap sudut yang bisa dilihatnya.
"Ngapain loe nyari Elena. Emang ada urusan apa loe sama Elena Lang?" tanya Dean seusai mendudukkan tubuhnya disofa ruang tamu.
"Ada yang mau gue jelasin sama dia. Gue mohon De kasih tau gue di mana Elena berada sekarang. Loe kan sahabatnya jadi loe pasti tau di mana Elena?" Erlang menatap Dean dengan penuh harap sambil menangkupkan tangannya di atas dada.
__ADS_1
"Kok loe khawatir banget sih sama Elena Lang, emang apa hubungan loe sama dia?" Dean benar-benar dibuat heran karena kelakuan Erlang yang tiba-tiba mengkhawatirkan Elana.
Sesaat Dean mengalihkan pandangannya menatap Arvel seakan bertanya apa yang sedang terjadi kewat sorot mata.
Namun hanya dibalas gelengan oleh Arvel.
Erlang menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. " Sebenarnya gue sama Elena pacaran."
"Apa!" sahut Dean bersamaan dengan Arvel. Mereka seakan tak percaya dengan ucapan Erlang.
"Loe enggak bohongkan Lang?" tanya Arvel sambil memegang bahu Erlang. Kemudian menatap Dira yang juga masih terkejut dengan perkataan Erlang.
"Gue enggak bohong, gue minta sama Elena buat rahasiain status kita. Karena gue enggak mau dia diganggu sama cewek-cewek di sekolah kita." jelas Erlang kemudian dibalas anggukan oleh Arvel dan Dean yang juga menyetujui hal tersebut.
"Tapi kenapa loe enggak bilang sama kita Lang. Kan gue sahabat Elena, sedangkan Arvel sahabat loe."
Dean menunjuk dirinya dan Arvel secara bergantian. Ia merasa tidak terima karena Erlang juga merahasiakan statusnya dari mereka.
"Sorry."
"Emang sejak kapan kalian pacaran Lang, dan apa yang mau loe jelasin sama Elena?" Dean terlihat penasaran membuat Arvel terkekeh melihat kelakuan kekasihnya yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Nanti gue jelasin, sekarang kasih tau gue di mana Elena berada?"
"Oh iya gue lupa, tadi Elena bilang dia mau nyusul ayahnya ke Canada." jelas Dean yang terlihat panik.
"Loe beneran De, loe enggak lagi bohongkan?" Erlang juga terlihat panik, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat cemas.
"Beneran, tadi dia pamit sama gue. Gue enggak bisa antar dia ke bandara karena gue bentar lagi mau kerumah nenek gue yang lagi sakit."
"Akkkhhhh." teriak Erlang membuat Dean terkejut namun tidak dengan Arvel. Karena dia sudah terbiasa melihat kelakuan Erlang.
Erlang segera mengambil kunci mobilnya dari dalam saku dan beranjak pergi meninggalkan Arvel dan Dean.
Dengan tergesa-gesa ia bergegas menuju mobil.
"Lang loe mau kemana." teriak Arvel sambil berlari mendekati Erlang. Diikuti Dean yang berlari sambil ngos-ngosan.
"Gue mau ke bandara nyusul Elena. Gue harus cegah dia, gue mau jelasin semuanya. Dia sudah salah paham sama gue." Erlang beranjak meninggalkan Dean dan Arvel yang sedang mematung di depan rumah.
Kau boleh menyiksaku dengan kemarahan
Tapi jangan siksa aku dengan sebuah kepergian
__ADS_1
Katakan bagaimana bisa aku bertahan
Jika cahayaku mulai redup dibawa angan