My Chosen Man

My Chosen Man
Pesan bucin bonus rindu


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Erlang...


...Rindu menghampiriku...


...Iya rindu...


...Rindu selalu saja mengganggu pikiranku...


...ini sungguh diluar kemampuanku...


...Erlang...


...Kapan kau dan aku menghapus rindu...


...~Elena...


***


Elena terbangun karena dering ponselnya. Tangannya mencari-cari ponsel sedangkan matanya masih dalam keadaan tertutup. Dengan malas ia membuka aplikasi whatshap.


Elena begitu terkejut karena ada notif dari Erlang. Dengan segera Elena bangun dan membuka pesan tersebut. Elena senyum-senyum saat membaca pesan dari Erlang yang sekarang menjadi kekasihnya.


Morning Elle ♥


Cuma mau bilang aku kangen sama kamu


Sampai jumpa disekolah.


Lihat, Tuan makan senjata HEH yang bener!


Seperti biasa Elena berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor kesayangannya, Moru.


Sepanjang jalan ia terus senyum-senyum mengingat kejadian malam tadi saat Erlang mengajaknya pacaran.


Sungguh di luar dugaannya. Ia tak pernah menyangka jika Erlang akan mengajaknya pacaran.


Pada saat jam isitirahat, Elena, Dean dan Jihan menuju kantin. Elena berharap bertemu Erlang di kantin.


Seperti dugaannya Erlang dan teman segenknya sedang bercengkrama sambil menunggu pesanan datang.


Elena sekilas melirik Erlang yang ternyata saat itu juga sedang meliriknya.


Elena, Dean dan Jihan memesan makan dan duduk di kursi ujung. Tak lama mereka duduk, tiba-tiba Arvel menghampiri Dean dan duduk di sampingnya.


Entah apa yang mereka bicarakan karena fokus Elena tertuju pada laki-laki yang sedang duduk berseberangan dengannya hanya 2 buah meja yang menghalat diantara keduanya.


Pandangan Elena tiba-tiba terfokus pada Salsa dan teman segenkya. Setahu Elena, Salsa adalah salah satu siswi sekolah yang menyukai Erlang.


Salsa juga termasuk Siswi populer dengan tubuh tinggi sekitar 167 cm bertubuh putih dengan kecantikannya di atas rata-rata. Berbeda dengan Elena yang hanya mempunyai tinggi sekitar 158 cm.


Salsa duduk di samping Erlang sedangkan teman-teman Salsa duduk menghambur bersama teman segenk Erlang.


"Loe sudah pesan makan ngga Lang. Kalau belum pesan biar sekalian sama gue?" tanya Salsa sambil memegang bahu Erlang.


"Gue sudah pesan, loe bisa ngga sih ngga usah pegang-pegang gue!" 


Erlang yang terlihat kesal segera menepis tangan Salsa dari bahunya dan melirik ke arah Elena yang sedang memasang wajah cemburu.


Sedang Eros dan Guntur hanya melirik sambil menahan senyum, Aries? Jangan Tanya dia mah khusyuk dengan soal dilayar handphonenya.


"Ma-maaf Lang bukan maksud gue pegang-pegang loe."


"Mending neng tepung cari tempat lain. Disini bukan tempat penggorengan soalnya,"


"Kok tepung, Rut?" Guntur menyerngit. Maksudnya Curut sebutan buat Eros

__ADS_1


"Namanya Sasa kan? kaya tepung. Tepung bumbu Sasa,"


"Beda, kalo yang sono krenyes diluar lembut didalam," Aries ikut menimpali.


"Kalo yang ini?" tanya Guntur.


Eros langsung menyahut" Krenyes diluar bantet didalam."


"Yahhhh." Guntur dan Eros tertawa bersamaan sedang Salsa hanya menatap tidak suka, berbeda dengan Rossa yang berusaha menahan tawa.


"Lang!" panggil Salsa lagi. "Minggu depan ada acara nggak?"


"Ada," jawab Erlang sekenanya.


"Ada ya, padahal gue mau ajak jalan,"


"Emang Erlang mau?" bukan Eros ataupun Guntur. Aries, cowok itu selalu memberikan jawaban yang mematikan lawan.


"Yahhhh." Eros terbahak kembali diikuti dengan Guntur setelahnya.


Erlang tak perduli, ia justru sibuk dengan layar phonselnya.


Wajah Salsa merah menahan amarah.


"Sa, kita pesan makan dulu yu." ajak salah satu teman Salsa yang saat itu menyadari jika suasana sedang tidak aman.


Salsa pun mengiyakan dan mereka meninggalkan Erlang untuk memesan makan.


"Guntur!" panggil seorang gadis berambut pendek dengan wajah bulat. Vita, salah satu cewek yang kena sasaran kang ghosting.


"Kenapa kamu nggak balas pesan aku tadi malam," ucapnya dengan nada kesal. Guntur kelimpungan karena pasalnya diseberang sana Jiham sedang menatap ke arahnya.


"Mampos!" Aries kembali sersuara.


"Jawab Guntur,"


"Kita bicara ditempat lain," Guntur menarik tangan Vita ke luar kantin.


"Emang ada?" tanya Aries


"Ya ini, gue'"


"Maksud gue emang ada yang mau sama lo'"


"Mulut lo bang, kurang-kurangin," Aries dan Erlang tak perduli Eros yang terus mengoceh.


Tiba-tiba ponsel Elena berdering tanda ada notif masuk. Setelah dibuka ternyata ada notif dari Erlang.


Gemesin ya kalau lagi cemburu


Tenang aja, aku ngga akan macam-macam sama cewek lain.


Erlang


Bodo


Awas kalau kamu sampai macam-macam sama cewek lain.


Elena


Saat jam istirahat telah habis, semua murid masuk ke kelas masing-masing kecuali Elena yang saat itu menuju toilet. 


Tak lama setelah Elena memasuki toilet terdengar suara seseorang yang sangat dikenal Elena yaitu Salsa dengan Rosa salah satu teman genknya.


"Apa lo yakin masih mau ngejar Erlang Sal?"


"Ya jelas lah." sambil mencuci tangan di wastafel.

__ADS_1


"Emang loe enggak bosan Sal. Loe ngejar Erlang sudah hampir 2 tahun dan respon Erlang pun cuek banget sama loe."


"Loe liat aja, Erlang bakal jadi milik gue. Apapun yang gue mau harus jadi milik gue. Gue akan lakukan segala cara buat dapetin Erlang." Salsa mengibaskan rambut sebahunya.


Ingin sekali Elena mencakar wajah Salsa saat itu. Dengan cepat ia keluar dari toilet dan menghampiri Salsa saat itu.


Elena menghidupkan kran wastafel dengan sangat deras sampai mengenai wajah Salsa yang sedang mencuci wajahnya disamping kran yang dihidupkan Elena.


"Ahhhh, kurang ajar ya loe. Punya mata enggak sih, loe enggak liat gue lagi cuci muka!" Salsa yang kesal mendorong bahu Elena dengan kasar sampai Elena mengenai dinding toilet.


"Sorry, gue enggak sengaja tadi. Gue enggak ada maksud buat gitu sama lo, cuma kerannya aja yang tiba-tiba lepas" elak Elena sambil menunjuk kran westafel yang telah lepas karena ulahnya.


"****!" Salsa melepaskan genggaman tangannya yang saat itu sedang memegang kuat tangan Elena.


Setelah membersihkan wajahnya dengan tisu, Salsa dan Rosa beranjak meninggalkan Elena yang saat itu masih mematung dan tidak ada niatan untuk beranjak pergi.


Setelah sosok Salsa dan Rosa menghilang dari penglihatannya. Elena dengan segera memperbaiki kran wastafel yang lepas akibat ulahnya.


Untung gue sudah biasa memperbaiki kran dirumah. Ada untungnya juga ya kran di rumah sering lepas hahahaha Elena merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Salsa.


***


Seminggu lagi akan diadakan pertandingan basket antar sekolah. Dan tim Erlang dipilih untuk mewakili pertandingan tersebut.


Sudah 4 hari Erlang dan Elena jarang bertemu, karena Erlang sibuk dengan latihan basketnya. Terkadang Elena datang ke tempat latihan Erlang hanya sekedar untuk melihat keadaan laki-laki yang saat ini menjadi kekasihnya.


Erlang


Rindu menghampiriku


Iya rindu


Rindu selalu saja mengganggu pikiranku


ini sungguh diluar kemampuanku


Erlang


Kapan kau dan aku menghapus rindu


~Elena


Elena terus bertempur dengan rindu. Mengapa rindu begitu sulit untuk dipecahkan. Biasanya kalau urusan pelajaran, aku selalu dengan mudah menyelesaikan. Ahhhh persetan dengan rindu.


Saat ini Elena sedang membaca majalah di sofa ruang tamu rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.23 malam.


Namun mata Elena masih tetap terjaga. Ia membolak-balikkan majalah fashion yang menurutnya tidak menarik saat itu.


Sesekali ia mengambil handphonenya yang sedari tadi tidak ada notif dari Erlang. Dengan kasar ia meletakkan handphonenya disofa sambil menggerutu.


Tiba-tiba ia mendengar suara mobil yang begitu di kenalnya. 


Dengan cepat ia menghambur ke depan pintu untuk memastikan jika yang datang adalah sosok yang ia rindukan. Erlena segera lari memeluk Erlang ketika laki-laki tersebut keluar dari mobil.


"Kenapa enggak bilang kalau mau kesini?" Elena memukul-mukul dada bidang Erlang. Namun tak dirasa oleh sang pemilik.


"Enggak suka ya kalau aku kesini?" Erlang menggenggam dan mencium pungung tangan Elena sekilas.


"Suka, suka banget malah."


"Elle, maafin aku ya beberapa hari ini terlalu sibuk sampai jarang ngabarin kamu." ucap Erlang sambil berjongkok dan memegang tangan Elena yang saat itu sedang duduk di kursi teras.


"Iya, ngga papa. Aku paham kok."


"Gimana kalau setelah pertandingan nanti kita jalan!" tawar Erlang


"Kamu serius." Elena membelalakkan matanya sambil menatap Erlang dengan penuh harap.

__ADS_1


"Aku serius, kamu mau kemana?"


"Pantai, aku mau kita ke pantai!"


__ADS_2