
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N....
...Jika pertemuan menjadi takdir...
Lantas apakah perpisahan bisa menjadi akhir
***
Mereka disuguhkan pemandangan yang luar biasa ketika sampai di kediaman Alexander.
Elena begitu terpukau dengan apa yang dilihatnya berbeda dengan Bima yang sudah terbiasa.
"Seperti istana." ucap Elena dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Bima.
Bima hanya menahan tawa melihat Elena yang terkagum-kagum akan kediaman Alexander.
Mereka duduk di sebuah meja bundar dengan nuansa merah, karena Pak Alex dengan sengaja membuat nuansa merah karena istrinya menyukai warna tersebut. Karena acara belum dimulai Elena memutuskan untuk pergi ke toilet.
"Mas, aku ke toilet sebentar ya." bisiknya kepada Bima karena merasa malu jika ada yang mendengarnya
"Apa perlu aku ikut?" ucap Bima dengan spontan.
"Apa-apaan sih Mas. Tidak perlu, aku bisa sendiri." Elena merasa kesal dengan Bima.
"Baiklah." ucap Bima karena melihat wajah kekasihnya telah cemberut.
Setelah bertanya dengan salah satu pelayan di mana letak toilet akhirnya Elena menuju toilet sesuai arahannya.
Ketika ia melewati sebuah lorong menuju toilet, ia berpapasan dengan seorang. Tiba-tiba tangannya terasa ada yang mencekal. Ditengoknya sosok yang sedang mencekal tangannya tersebut.
"Elle." kata yang keluar dari mulut orang tersebut
"Erlang" sahut Elena dengan tatapan yang begitu terkejut.
Kenapa Erlang bisa ada di sini gumannya dalam hati.
"Ini benar kamu Elle." dengan cepat Erlang memeluk Elena.
Hal tersebut adalah kebiasaannya ketika mereka berpacaran dulu. Namun Elena melepaskan pelukan tersebut.
"Maaf." ucap Erlang ketika menyadari situasi. Entah mengapa Elena merasa sedih saat Erlang mengucap maaf saat memeluknya.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini?" Erlang melihat-lihat sekitar seakan mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Aku diundang oleh Pak Alex." ucap Elena.
"Oh benarkah, aku juga diundang oleh Pak Alex."
"Oh ya." Elena tersenyum simpul sembari menanggapi ucapan Erlang. "Aku permisi mau ke toilet."
"Elle" ucap Erlang sambil tangannya kembali mencekal tangan Elena.
"Kenapa kamu selalu menghindariku?"
"Aku tidak menghindarimu." Elena menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku? apa kamu sudah melupakan semuanya?" Elena terdiam, mulutnya seakan terkunci.
"Jawab aku Elle!" Erlang memegang kedua bahu Elena namun tetap tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Maaf." kata yang Elena ucapkan setelah sesaat hening diantara mereka. Elena melepaskan pegangan Erlang di bahunya dan berlari ke arah toilet.
***
Ia berusaha menahan walaupun terasa sesak, ditepuk-tepuk dadanya untuk mengurangi sesak di sana.
Elena melangkahkan kakinya setelah dirasa hatinya mulai tenang. Didudukinya tempat semula sebelum ia pergi ke toilet.
"Kamu baik-baik saja kan Sayang? kenapa ke toilet sangat lama?" tanya Bima sambil memeriksa tubuh Elena.
"Aku baik-baik saja Mas." ucap Elena sambil menghentikan aktivitas Bima.
"Syukurlah." Bima bernafas lega.
"Orang yang ingin kamu kenalkan mana Mas?" tanya Elena tanpa ia ketahui siapa yang sedang ia cari.
"Oh ya, tadi dia ada di sini sewaktu kamu ke toilet. Tapi sekarang dia lagi keluar katanya ingin mencari udara segar. Sepertinya dia sedang ada masalah, terlihat dari wajahnya yang sedang kecewa." ucap Bima sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Aku jadi penasaran orangnya seperti apa." ucap Elena sambil terus memperhatikan pintu keluar.
"Ku rasa tadi kalian berpapasan. Karena tak lama setelah kamu pergi ke toilet, ia juga keluar dari arah sana." tunjuk Bima ke arah tempat keluar Elena tadi.
"Berpapasan?" Elena mulai mengingat-ingat.
__ADS_1
"Ku rasa tidak berpapasan dengan siapa-siapa Mas." sambungnya lagi.
Elena mencoba mengingat lagi. Seingatnya ia hanya berpapasan dengan Erlang.
"Oh ya." ucap Bima sambil memiringkan kepalanya seakan sedang berpikir.
Acara sudah dimulai namun Erlang masih setia berada diluar entah apa yang sedang ia lakukan.
"Mas, Aku keluar sebentar ya. Ada telepon dari Ayah." ucap Elena sambil mengangkat handphonenya dan digoyang-goyangkannya handphone tersebut kemudian dibalas anggukan oleh Bima.
Elena keluar sambil melihat-lihat sekitar. Ia berbohong jika sedang mendapat telepon. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan bahwa Erlang baik-baik saja.
Lama ia melihat-lihat, tidak nampak sedikitpun bayang Erlang. Ia hanya melihat seorang anak kecil yang sedang menangis sambil memegang lututnya. Elena menghampiri anak kecil tersebut.
"Kamu kenapa anak manis? kenapa menangis? orang tuamu kemana?" ucapnya sambil membelai rambut anak perempuan tersebut.
Anak perempuan tersebut bingung harus menjawab pertenyaan yang mana. Kerena kebiasaan dari Elena selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ditanya bingung hendak menjawab yang mana.
"Aku terjatuh." ucap anak perempuan tersebut setelah beberapa saat ia terdiam.
"Kamu terjatuh, sini tante lihat." Elena memeriksa lutut anak tersebut karena dari tadi ia selalu memegang lututnya.
"Hanya lecet sedikit, anak baik tidak boleh nangis. Walaupun perempuan kita harus tetap kuat, agar tidak dianggap lemah oleh lawan kita." Elena menghapus air mata anak tersebut.
"Mau tidak jadi perempuan kuat?" tanya Elena dibalas dengan anggukan dengan cepat oleh anak tersebut.
"Mau, tapi harus janji tidak boleh menangis." Elena mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji." ucap anak tersebut mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Elena.
Karena tidak melihat keberadaan Erlang, Elena memutuskan untuk kembali masuk ke dalam.
Dilihatnya Bima sedang bercengkrama dengan seseorang. Ia tak bisa melihat sosok tersebut karena sosok tersebut duduk membelakangi Elena.
"Sayang cepat kemari." ucap Bima saat melihat Elena yang datang mendekat.
Elena melangkahkan kakinya mendekat ke arah Bima. Sejenak ditolehnya laki-laki yang sedang berhadapan dengan Bima.
"Ini orang yang ingin ku kenalkan kepadamu." ucap bima sambil menggerakkan tangannya ke arah sosok tersebut.
"Namanya Pak Erlangga." sambung Bima lagi.
__ADS_1