My Chosen Man

My Chosen Man
Masa lalu bukan masa depan


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Tidak peduli seberapa buruk kita di masa lalu. Jika kita sudah berubah lalu untuk apa mempermasalahkan yang lalu...


...~Elena...


***


Tok tok tok


Suara ketukan dari balik benda yang sekitar setengah jam lalu dikunci oleh sang pemilik rumah. 


Sepi yang dirasakan karena hanya ada satu orang penghuni. Sekali lagi ia ketuk pintu tersebut meskipun dingin mulai menyeruak di balik kaos hitam tipisnya.


"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? apa sosok yang ada di dalam mobil hitam itu?" dengan perasaan takut Elena melangkahkan kakinya perlahan menuruni anak tangga.


Sambil berjingkit-jingkit ia mengendap-endap seperti seorang pencuri. Ditiliknya dari celah jendela. 


Dengan perlahan Elena menyingkap dinding horden agar tidak menimbulkan suara.


"Hhhh." ucapnya menghela napas sambil mengelus-elus dadanya yang sedari tadi berdetak kencang sambil menahan rasa takut.


"Mas Bima." ucapnya sembari membuka setengah dari lebarnya pintu.


"Ada apa Mas malam-malam ke sini?"


"Aku khawatir Sayang, kamu baik-baik saja kan. Sudah berpuluh-puluh kali aku menelpon namun tetap sama, nomor kamu tidak aktip."


"Tadi siang aku sibuk membantu seseorang Mas, sampai aku lupa jika baterai handphoneku habis." jelasnya sambil menuju kursi yang bertempat di depan teras itu sambil mulut yang tetap bercerita.


"Sebegitu pentingkah orang yang kamu bantu?" Bima mengekori Elena sampai di pada sebuah kursi dan mereka duduk berdampingan.


"Bukan tentang seberapa pentingnya Mas, aku juga baru kenal sama orangnya." ia meletakkan tangan di dadanya.


"Baru kenal tapi kamu sudah mau menyibukkan diri hanya untuk membantunya?"


"Orang yang aku tolong itu perempuan yang sedang hamil muda Mas. Apa Mas tau, dia hampir saja tertabrak mobil kalau aku tidak menolongnya." 


Elena bercerita dengan antusias. Seperti anak kecil yang bercerita kepada orang tuanya saat mendapatkan nilai yang bagus di sekolah.


"Benarkah?" Bima duduk menyila di atas kursi dengan tangan yang memangku dagunya dan bertumpu pada sisi kursi.

__ADS_1


"Iya," Elena mengangguk dengan cepat." Tapi, aku merasa kasihan padanya Mas. Disaat hamil muda suaminya malah sibuk dengan urusannya dan membiarkan perempuan itu berbelanja sendirian."


"Tega sekali suaminya sampai berbuat seperti itu."


"Aku jadi ingin tahu seperti apa suaminya." sambil menerawang memikirkan wajah suami dari wanita yang baru saja ia tolong.


"Tidak perlu." ucap Bima dengan tegas sampai mengejutkan Elena yang sedang berkelana dengan pikirannya


"Tidak perlu mengetahui seperti apa suaminya." sambungnya lagi


"Kenapa Mas?"


"Untuk apa mencari tahu soal laki-laki lain. Aku tidak suka." 


Bima mengubah posisi duduknya dengan mengulurkan kakinya sampai menyentuh lantai.


Elena menghela napas, sikap posesif Bima muncul lagi. Entah mengapa laki-laki itu selalu melarang kegiatannya jika berkaitan dengan seorang laki-laki.


"Iya Mas." Elena tak ingin berdebat mengenai permasalahan tersebut.


Hari sudah semakin larut, hawa dingin pun mulai menyeruak melalui pori-pori kecil. 


Elena yang saat itu hanya memakai piyama mulai merasakan angin malam yang menerpa. Digosok-gosoknya telapak tangan untuk menimbulkan hawa panas yang bersifat sementara.


***


Sudah hampir 3 minggu Elena menghabiskan pagi minggu bersama Citra, wanita yang waktu itu ia selamatkan. 


Sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan perempuan tersebut. Namun Bima selalu saja memintanya untuk bertemu walau hanya sekedar minum teh di depan teras rumahnya.


Elena salut dengan Citra yang begitu sabar menghadapi suaminya. 


Suami yang tidak peduli dengan janin yang sedang ia kandung padahal jelas-jelas janin tersebut adalah bayinya.


"Apa yang membuat Mba Citra tetap mempertahankan rumah tangga yang mungkin tidak adil bagi Mba?" tanya Elena sambil mendorong troli ke arah sayuran.


"Bukan tidak adil bagiku Elena, mungkin pernikahan ini juga tidak adil baginya." sambil memilih-milih brokoli yang terpampang di rak sayuran.


"Maksud Mba apa?"


"Pernikahan kami terjadi karena kesalahanku. Kesalahan yang mungkin tidak akan dimaafkan oleh suamiku." 

__ADS_1


Citra menghentikan tangannya yang sedari tadi mengobrak-abrik sayuran. Ia mengambil napas seakan menguatkan hatinya untuk tetap melanjutkn kalimatnya.


"Tapi Elena, semua yang kulakukan karena aku benar-benar mencintainya. Tapi mungkin caraku yang salah."


"Sabar ya Mba, semoga suatu saat suami Mba mau memaafkan semua kesalahan yang telah Mba perbuat." Ia mengelus-elus pundak Citra karena dilihatnya mata perempuan tersebut sedang menahan buliran agar tidak menetes.


"Semoga."


Elena semakin penasaran dengan wajah suami Citra, ia bahkan belum tahu siapa namanya. Karena Citra hanya bercerita tanpa memberi tahu seperti apa bentuk suaminya.


Mereka kembali mendorong troli ke arah berbagai macam roti setelah dirasa cukup untuk memilih sayuran.


"Buat apa Mba membeli begitu banyak roti tawar." ucap Elena karena melihat begitu banyaj roti tawar yang Citra masukkan ke dalam troli belanjaan mereka


"Untuk suamiku," ucapnya sambil membayangkan wajah suaminya.


"Meskipun ia tidak menyukaiku, tapi ia masih mau menghargai masakanku." ucap Citra sambil memeluk sebungkus roti tawar yang baru saja ia ambil lalu meletakkannya bersama beberapa bungkus roti tawar yang sudah ia ambil.


Elena hanya merespon dengan senyuman. Syukurlah jika suaminya masih bisa sedikit menghargai jerih payah Mba Citra.


Karena lelah mereka sejenak beristirahat sambil meminum secangkir kopi di sebuah kedai.


"Elena, terima kasih karena kamu telah mau berteman denganku." Citra menggenggam tangan Elena.


"Apa maksud Mba, aku justru senang bisa mengenal orang sebaik Mba Citra dan bisa berteman dengan Mba." Elena menepuk-nepuk punggung tangan Citra.


"Aku bukan orang baik Elena. Mungkin jika kamu mengetahui masa laluku, kamu akan merasa jijik jika berteman denganku."


"Mba Citra, tidak peduli seberapa buruk kita di masa lalu. Jika Mba Citra sudah berubah lalu untuk apa mempermasalahkan yang lalu."


"Terima Kasih Elena, aku benar-benar tersentuh dengan setiap ucapannya. Kamu benar-benar bersikap sangat dewasa. Pasti beruntung orang yang mendapatkanmu."


"Mba terlalu berlebihan." Elena tersipu dengan kata yang dilontarkan Citra.


"Setelah ini kamu ada kesibukan tidak?" Citra meminum kopi yang sudah mulai mendingin karena mereka terlalu asik dengan pembicaraan.


"Tidak ada Mba."


"Bagaimana jika kita kerumahku, aku ingin kamu mencoba hasil masakanku."


"Beneran Mba." ucap Elena antusias, sebenarnya bukan karena ingin mencoba masakan Citra melainkan ia ingin meihat seperti apa suami dari Citra.

__ADS_1


"Tentu saja." ucap Citra yang juga tak kalah antusias.


__ADS_2