
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Tidak ada yang perlu disalahkan. Kamu juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri, karena ini semua diluar kendali...
...~Theo...
"Apa anda yakin Pak?" tanya dokter kepada Erlang dengan wajah serius. Karena donor ginjal bukan hal biasa yang bisa diputuskan dalam sekejap. Perlu pemikiran yang matang sebelum mengambil tindakan tersebut.
"Saya yakin Dok." ucap Erlang dengan tegas. Ia rela jika mendonorkan satu ginjalnya untuk Elena. Jangankan ginjal, hidupnya pun akan ia korbankan jika itu menyangkut Elena.
"Apa anda benar-benar yakin, karena proses transfalasi organ merupakan hal yang tidak biasa." ucap dokter kembali meyakinkan Erlang akan tindakannya.
"Saya yakin dan benar-benar yakin Dok, dan saya ingin melakukannya sekarang." tutur Erlang dengan sangat yakin.
"Baiklah, kalau begitu anda bisa ikut saya, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." tutur dokter sembari berjalan diikuti dengan langkah Erlang dibelakangnya.
Mereka menuju ruang pemeriksaan. Ruangan serba putih dengan berbagai alat kesehatan serta bau obat khas rumah sakit. Timbul rasa gugup di hati Erlang. Bukan gugup karena takut, melainkan gugup jika ginjalnya tidak cocok dengan ginjal Elena.
Proses pemeriksaan dimulai dengan kondisi melalui pemeriksaan fisik, tes darah, pencitraan (seperti Rontgen, CT scan atau MRI).
Dokter meminta identitas Erlang untuk memudahkannya dalam proses pemeriksaan.
"Karena golongan darah Pak Erlangga dengan pasien cocok, jadi kita tidak perlu lagi melakukan tes darah."
Erlang bernafas lega, setidaknya ia mempunyai harapan untuk mendonorkan ginjalnya buat Elena.
"Sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya ingi menanyakan kembali apakah Pak Erlangga benar-benar yakin?"
"100% saya yakin Dok."
Dokter tersebut terdiam setelah mendengar tuturan dari mulut Erlang yang terlihat sangat yakin dan tak dilihatnya keraguan sedikit pun. Dokter tersebut tersenyum, mungkin ini yang dinamakan cinta sejati pikirnya.
"Baiklah kalau begitu kita akan lanjut ke pemeriksaan berikutnya." dokter tersebut beranjak dari posisinya.
Selanjutnya pemeriksaan dengan mencocokan jaringan pendonor dengan resipien yaitu dengan melakukan pemeriksaan Human Leukocyte Antigen (HLA).
Sambil menunggu hasilnya keluar, Erlang membayar tagihan administrasi dan kembali ke ruangan Elena.
Karena sedari tadi Erlang hanya memikirkan Elena, ia sampai lupa mengabari ayahnya Elena. Erlang beranjak ke arah jendela dan mencari nomor yang bertuliskan ayah mertua di sana.
Tak berselang lama, panggilan pun terhubung. Terdengar suara serak dari laki-laki paruh baya di seberang sana.
Hallo, ada apa Nak Erlang? ucapnya dengan suara yang lembut.
__ADS_1
Hallo om Erlang terdiam sejenak. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal yang begitu buruk baginya.
Ada apa Nak? tanya Theo lagi karena Erlang hanya diam setelah beberapa saat menyapanya.
Maafin aku Om tutur Erlang dengan suara yang memberat.
Kenapa kamu minta maaf Nak, apa ada terjadi sesuatu?
Maafin aku karena tidak bisa menepati janjiku sama Om. Maaf karena telah membiarkan Elena celaka.
Ada apa dengan Elena Nak?
Elena kecelakaan Om dan sekarang kondisinya kritis, maafin aku Om.
Kirim alamat rumah sakitnya sekarang Nak.
Baik Om.
Panggilan pun berakhir, Erlang merasa sangat bersalah karena tidak bisa menepati janjinya dengan ayah Elena agar menjaga Elena dengan baik.
Setelah menelphone ayahnya Elena, Erlang juga menelphone ayahnya sendiri untuk memberitahu kondisi Elena.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.25. Erlang masih terjaga sambil duduk di kursi samping ranjang Elena. Ia tak henti-hentinya menatap wajah perempuan di sampingnya itu. Menatap lekat mata yang terpejam itu dan berharap bahwa mata itu akan terbuka secepatnya.
Setelah lama mengoceh tanpa ada balasan, Erlang pun akhirnya tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang terbaring di sisi kanan tubuh Elena.
***
Matahari sudah menyambut dengan cahaya terangnya yang menelisik masuk melalui celah horden. Membuat mata Erlang yang sedari tadi terpejam menjadi terbuka. Dilihatnya sosok perempuan di sampingnya, ternyata masih tetap sama, masih setia memejamkan matanya.
"Om Theo." ucap Erlang saat mendapati Theo di depan pintu ruangan Elena. Sosok tersebut tediam sambil menatap lurus ke arah Elena.
Theo berjalan perlahan mendekati Erlang dan Elena. Erlang tak dapat menebak apa yang akan terjadi sebab wajah Theo menunjukkan ekspresi yang datar.
"Maafin aku Om." hanya itu kalimat yang dapat Erlang lontarkan. Ia tertunduk tak berani menatap Theo yang beralih melihatnya setelah beberapa saat melihat Elena.
Erlang memejamkan mata saat Theo mengangkat tangannya. Ia siap dan rela jika ayah dari calon istrinya itu menamparnya. Namun ternyata Erlang salah, Theo malah memeluknya sambil tangannya menepuk-nepuk pundak Erlang.
"Tidak apa-apa Nak, ini semua sudah takdir. Tidak ada yang perlu disalahkan. Kamu juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri, karena ini semua diluar kendali." tutur Theo.
"Tapi Om, aku gagal menjaganya." ucap Erlang dengan penuh penyesalan.
"Kamu tidak gagal Nak." Theo berusaha menenangkan Erlang dengan kembali menepuk-nepuk pundak Erlang.
__ADS_1
"Kamu sudah berusaha." ucap Theo lagi membuat Erlang sedikit lega. Theo pun melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Om."
"Tidak perlu mengatakan seperti itu." ucap Theo sambil mengulas senyum.
"Apa ada masalah yang serius lagi mengenai kondisi Elena." ucap Theo sambil menatap putri kesayangannya terbaring tak berdaya.
"Terjadi kerusakan pada salah satu ginjal Elena Om." ucap Erlang sambil kembali menundukkan kepalanya. Tergambar ekspresi yang terkejut dari raut wajah Theo.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Om mengenai hal sebesar ini Nak."
"Maaf Om, tadinya aku mau memberitahu Om saat hasil dari pemeriksaanku keluar." tutur Erlang sambil mengangkat kepalanya. Ia memberanikan diri menatap ayah dari calon istrinya.
"Kamu mau mendonorkan ginjalmu untuk Elena?" tanya Theo.
Erlang mengangguk, terlihat raut wajah serta mata yang sendu di wajah tampannya.
"Kamu tidak perlu melakukannya Nak. Om bisa mencari pendonor untuk Elena.
"Biarkan aku melakukannya Om, dan semoga ginjalku cocok." ucap Erlang dengan penuh harap.
Theo menghela napas menanggapi perkataan calon menantunya, "Pergilah ke kamar mandi dan bersihkan wajahmu." ucap Theo dan beranjak mendekati Elena.
Erlang pun merasa lega, ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dan tak lupa juga, ia menelphone asisten rumah tangganya untuk membawakan baju ganti.
Sedangkan Theo, setelah sejenak melihat kondisi Elena, ia pergi ke luar untuk mencari makan karena dilihatnya wajah Erlang sangat pucat. Dan ia tahu pasti calon menantunya itu belum makan.
Lumayan lama Erlang di dalam kamar mandi sampai tak menyadari bahwa sudah ada dokter yang datang untuk mengecek kembali keadaan Elena.
"Bagaimana keadannya Dok?" tanya Erlang yang keluar kamar mandi dan mendapati dokter telah selesai dengan tugasnya.
"Tidak ada perubahan dari kondisi pasien." ucapan dari mulut dokter tersebut membuat semangat Erlang menghilang sejenak.
"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan saya kemarin Dok?" tanya Erlang lagi dengan antusias, setidaknya ia ingin mendengar kabar baik pagi ini.
"Bisa kita bicarakan di ruangan saya?" pinta dokter tersebut dan dituruti oleh Erlang.
Setelah sampai di ruangan yang dituju, Erlang sejenak duduk sambil menunggu hasil dari pemeriksaan kemarin.
"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Erlang dengan tidak sabar.
"Ini hasilnya." ucap dokter tersebut sambil menyerahkan amplop berisikan beberapa kertas hasil pemeriksaan kemarin.
__ADS_1
"Jadi..." tutur Erlang setelah membuka isi dari amplop tersebut. Ia menatap ke arah dokter di depannya dan dokter tersebut pun mengangguk.