
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Terima kasih karena sudah menghadirkan Elena dalam kehidupanku...
Angin yang sepoi-sepoi seakan menggambarkan perasaan Erlang sekarang. Erlang mengemudikan mobilnya membelah kota dengan perasaan yang senang. Ia berharap semoga ginjal pendonor cocok dengan ginjal Elena.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan padatnya kota Jakarta, akhirnya Erlang sampai di rumah sakit tempat Elena dirawat.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Erlang melewati satu persatu ruangan rumah sakit dan berhenti tepat di depan ruangan Elena.
Terlihat ada beberapa orang yang sedang berbicara, terlihat dari raut wajah mereka bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Mungkin membicarakan tentang pendonoran ginjal pikir Erlang.
Erlang membuka pintu dengan perlahan dan menundukkan kepala sambil menyisipkan sebuah senyuman diwajahnya saat beberapa orang yang sedang berdiskusi itu menatapnya.
Kaki Erlang melangkah perlahan mendekati ayahnya Elena. Tersirat sebuh kebahagian yang juga terpancar di wajah tuanya.
"Perkenalkan, ini calon menantu saya. Calon suami dari Elena." ucapnya seraya memperkenalkan Erlang kepada sosok laki-laki yang tak terlalu tua. Umurnya diperkirakan sekitar 34 tahun. Dan juga di sampingnya terdapat seorang wanita, yang merupakan istri dari laki-laki tersebut.
"Erlangga." tangan Erlang dengan otomatis terulur.
"Saya Wahyu dan ini istri saya Halimah." tuturnya sambil menjabat uluran tangan Erlang dan beralih memperkenalkan istrinya.
"Bapak ini yang akan mendonorkan ginjalnya." jelas Theo kepada Erlang. Pandangan Erlang sejenak teralihkan ke arah Theo, lalu ia beralih menatap Wahyu di depannya.
"Apa Bapak yakin ingin mendonorkan ginjal Bapak?" tanya Erlang meyakinkan.
Sejenak Wahyu terdiam sambil menatap istrinya. Pendangannya sejenak tertunduk, lalu sembari mengambil napas iya mengangguk ke arah Erlang.
"Iya, saya yakin." tuturnya.
***
Sudah 2 hari proses pemeriksaan berjalan seperti pemeriksaan Erlang kemarin. Sudah 2 hari juga Erlang merasa was-was dan takut jika hasilnya tidak cocok. Namun kenyataannya sampai sejauh ini hasil pemeriksaan berjalan sesuai kehendak, dan ini adalah pemeriksaan terakhir.
Erlang dan Wahyu sedang duduk di kursi tunggu sambil menunggu hasil pemeriksaan terakhir. Sedangkan Theo berada di ruangan Elena untuk menjaga Elena takut-takut jika terjadi sesuatu.
"Pak Wahyu!" panggil Erlang sambil menatap Wahyu yang sedang duduk di sampingnya.
"Iya Pak Erlangga." jawabnya.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Erlang dengan ragu. Sebenarnya selama ini ada sesuatu yang membuatnya penasaran, hingga mengganjal dipikirannya.
"Boleh Pak silahkan, mau bertanya apa?" jawab wahyu dengan ramah.
"Apa yang membuat Bapak mau mendonorkan ginjal Bapak?"
Sejenak Wahyu terdiam, kemudian menatap Erlang yang saat ini masih memperhatikannya seakan meminta jawaban.
"Anak saya sakit Pak Erlangga, dan perlu biaya yang banyak untuk berobat." ucap Wahyu sambil menatap lurus mengalihkan pandangannya dari Erlang. Terlihat kesedihan yang mendalam jika mengingat kondisi anaknya.
"Anak Bapak sakit apa?" tanya Erlang lagi.
"Sakit tumor Pak dan harus segera dioperasi, jadi saya perlu banyak biaya." jelasnya sambil mengulas senyum ke arah Erlang.
__ADS_1
"Terima kasih karena Bapak telah mau membantu saya." sambungnya lagi.
Erlang tertegun mendengar perkataan Wahyu.
"Membantu?" ralat Erlang.
"Iya, dengan melakukan pendonoran ini, saya jadi bisa membiayai pengobatan anak saya. Saya tidak perduli dengan keadaan saya kedepannya. Yang penting anak saya bisa sembuh."
"Saya yang seharusnya berterima kasih." ucap Erlang dengan tulus.
Lama mereka berbincang mengenai kehidupan masing-masing sampai tak menyadari jika mereka telah bertukar cerita terlalu lama. Hanya panggilan dari dokter yang menghentikan aktivitas mereka.
"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Erlang yang sudah duduk di sebuah kursi dalam ruangan dokter tersebut.
"Selamat Pak, hasilnya cocok." ucap dokter sambil menampilkan senyum diakhir kalimatnya.
Erlang benar-benar senang, ia sampai memeluk Pak Wahyu di sampingnya.
"Terima kasih Pak, terima kasih." ucapnya di sela-sela pelukannya.
***
Proses transfalasi pun dilakukan. Sudah 2 jam proses transfalasi berlangsung, Erlang tak henti-henti nya berdoa, lalu ia mondar-mandir di depan ruangan. Tersirat rasa khawatir di wajahnya.
"Nak tenanglah, ayo duduk." ucap Theo yang berusaha menenangkan Erlang. Ia menepuk sisi kursi kosong di sampingnya.
Erlang pun menuruti perkataan Theo, ia duduk sambil terus menatap pintu ruangan yang sampai saat ini masih tertutup rapat.
"Nak." panggil Theo membuyarkan lamunan Erlang yang sedari tadi sibuk memikirkan Elena.
"Om sudah memberikan sejumlah uang pada keluarga Pak Wahyu, jadi kamu tidak perlu mengeluarkan uang untuk itu." ucap Theo.
"Om kenapa tidak memberitahuku. Aku punya uang untuk membayarnya Om."
Theo tersenyum tipis ketika melihat raut wajah panik Erlang.
"Elena itu anak Om." jawab Theo.
"Tapi Elena juga tanggung jawabku Om." ralat Erlang.
"Nanti, jika ia sudah menjadi istri sah kamu, maka akan Om serahkan semua tanggung jawab kepada kamu Nak. Tapi untuk sekarang biar Om yang bertanggung jawab atas Elena."
"Tapi Om..."
"Terima kasih sudah mencintai anak Om sebesar ini." ucap Theo sambil mengelap sudut matanya yang sudah mengeluarkan cairan bening.
"Terima kasih karena sudah menghadirkan Elena dalam kehidupanku Om."
***
Proses transfalasi sudah berakhir dan berjalan dengan lancar, namun Elena tetap masih tidak sadarkan diri. Erlang melangkahkan kaki menuju ruangan tempat Wahyu dirawat.
"Pak Erlangga." ucap istri Wahyu yang bernama Halimah. Ia menyapa dengan sopan saat melihat Erlang berada di ambang pintu.
__ADS_1
"Silahkan masuk Pak." sambungnya lagi sembari berjalan mendekati Erlang dan mempersilahkan Erlang untuk masuk.
Erlang mendekati sisi ranjang Wahyu yang sudah sadar dan tersenyum ke arahnya.
"Syukurlah Bapak sudah sadar." ucap Erlang sambil tersenyum membalas senyuman dari Wahyu.
"Iya Pak." sahutnya.
"Bagaimana dengan calon istri Bapak?" tanya Halimah yang saat ini sudah berada di samping Erlang.
"Masih belum sadar Bu." jawab Erlang, terlihat perubahan raut wajah dari Erlang. Halimah menyadari perubahan raut wajah dari Erlang dan langsung mengusap pundak Erlang.
"Semoga cepat sadar ya Pak." ucapnya berusaha memberikan kelegaan di hati Erlang.
"Iya Bu."
"Oh ya ini Bu, saya ada sesuatu untuk Bapak dan Ibu." ucap Erlang setelah menyadari alasannya mendatangi ruangan tersebut. Ia menyerahkan sebuah kunci, membuat Wahyu dan Halimah saling memandang karena tidak memahami keadannya.
"Kunci apa ini Pak Erlangga." tanya Bu Halimah.
"Ini kunci toko untuk Pak Wahyu dan Bu Halimah." jelas Erlang namun masih menyisakan kebingungan dibenak Wahyu dan Halimah.
"Toko?"
"Iya Bu, saya membelikan sebuah toko sembako untuk Pak Wahyu dan Bu Halimah. Hanya sebuat toko kecil-kecilan dan tempatnya tak jauh dari rumah kalian." ucap Erlang sambil mengulas senyum di wajahnya. Ia mengetahui alamat rumah Wahyu saat mereka melakukan pemeriksaan.
"Jadi Pak Wahyu tidak perlu lagi bekerja sebagai kuli bangunan." sambung Erlang lagi, ia mengingat bahwa Wahyu pernah bercerita tentang pekerjaannya.
"Tapi Pak Erlangga, kami sudah menerima begitu banyak uang dari Pak Theo." Halimah menolak pemberian dari Erlang. Mereka memang sudah banyak menerima uang dari Theo dan mereka tidak bisa menerima pemberian dari Erlang lagi.
"Ini dari saya Bu, anggap saja sebagai ucapan terima kasih, mohon diterima Bu." ucap Erlang sembari kembali menyerahkan kunci tersebut.
"Tapi Pak..."
"Saya mohon Bu." ucap Erlang lagi.
"Terima kasih Pak Erlangga." ucap Halimah sambil meneteskan air mata.
"Dan ini alamat tokonya Bu." ucap Erlang lagi sembari mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya.
"Terima kasih Pak." ucap Wahyu dan Halimah secara bersamaan.
Tak henti-hentinya Wahyu dan Halimah mengucapkan terima kasih. Sambil sesekali Halimah mengelap sudut matanya yang terus saja mengeluarkan cairan bening.
"Semoga anak Bapak dan Ibu bisa secepatnya di operasi." ucapan terakhir Erlang sebelum beranjak meninggalkan ruang rawat Wahyu.
Baru beberapa langkah Erlang keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba handphone-nya berdering.
Hallo Om ucap Erlang setelah mengangkat panggilan dari Theo.
Kamu di mana Nak, cepat ke sini sekarang, Elena sudah sadar !
Benarkah Om, baik aku ke sana sekarang
__ADS_1
Tanpa basa-basi Erlang langsung menutup panggilannya dan segera berjalan dengan cepat ke arah ruangan Elena.