
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
Angin malam berhembus, menelisik masuk melalui pori-pori. Memberikan kesan pada insan yang saat ini sedang duduk di atas kasur. Sambil memegang handphone, ia berkali-kali mencoba menelphone seseorang di seberang sana.
Sambil bersandar di ujung ranjang, Elena kembali mengetik nomor ayahnya di layar handphone miliknya. Namun tetap tidak ada jawaban di seberang sana.
Elena pun memutuskan untuk tidur, ia akan kembali menghubungi ayahnya nanti pagi, pikirnya.
***
Drttt drttt drttt
Sebuah getaran pada handphone membuat mata Elena yang awalnya terpejam menjadi terbuka sempurna. Dengan cepat tangannya mencari sumber getaran.
"Ayah." ucapnya setelah melihat nama yang tertera di handphone-nya.
Elena mengambil posisi duduk di atas kasur dan ia menggeser tombol hijau lalu meletakkannya di kuping sebelah kanan.
Hallo Ayah, seru Elena membuat yang di telpon terkejut sekaligus terkekeh karena ke antusiasan Elena.
Ada apa? tumben kamu menelphone Ayah sampai berpuluh-puluh kali.
Aku merindukan ayah ucap Elena dengan manja.
Ayah kira kamu sudah tidak ingat dengan laki-laki paruh baya ini karena sudah mendapatkan laki-laki yang jauh lebih tampan dari Ayah. ucap Theo
Sampai kapan pun Ayah tidak akan tergantikan.
Apakah Ayah bisa mempercayaimu?
Tentu saja tawa keduanya pun menggelegar.
Ayah ucap Elena lagi setelah hening beberapa saat.
Menurut Ayah bagaimana?" tanya Elena sambil memeluk bantal dipangkuannya.
Erlangga? ucap Theo yang seakan tahu apa yang ingin putrinya tanyakan.
Iya, menurut Ayah bagaimana?
Apa kamu mencintainya? tanya balik Theo.
Sangat sangat dan sangat mencintainya Ayah. jelas Elena dengan antusias.
Kalau begitu Ayah hanya berharap kebahagiaan selalu mengiringi kalian.
__ADS_1
Pembicaraan mereka pun berakhir setelah Theo memberitahu bahwa ia ada pertemuan bersama klien pagi itu.
Karena mereka akan menikah 2 minggu lagi, jadi Erlang meminta Elena untuk sementara tidak bekerja karena harus fokus dengan rencana pernikahan mereka.
Karena rencana fitting baju pengantin jadwalnya siang hari, jadi Elena memutuskan untuk pergi ke makam mamanya. Sebelum ke makam ia membeli bunga kesukaan mamanya.
Di makam mamanya, Elena bercerita banyak tentang Erlang. Mulai dari masa SMA mereka dan berbagai macam kesalahpahaman hingga mereka terpisah dan dipertemukan lagi seperti sekarang ini.
"Nanti aku akan bawa laki-laki itu Mah. Tapi tidak sekarang, ia sedang sibuk jadi aku tidak bisa membawanya sekarang." perkataan terakhir Elena. Lalu ia beranjak meninggalkan makam tersebut karena hari pun sudah semakin panas hingga seakan membakar kulit.
Seperti biasa, setelah ke makam mamanya, Elena selalu menyempatkan untuk beristirahat sejenak di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari makam yang mamanya.
Melihat anak kecil berlarian kejar-kejaran hingga bermain ayunan seakan membuat kesan tersendiri dibenak Elena. Seakan ada sesuatu yang tak bisa ia ingat.
"Elena." ucap seorang laki-laki sambil berjalan mendekat ke arah Elena. Laki-laki yang akhir-akhir ini jarang sekali ia lihat. Bahkan tidak pernah ia lihat lagi semenjak kejadian waktu itu.
"Mas Bima." sahut Elena setelah melihat sosok tersebut.
Bima duduk di kursi sebelah Elena. Ia mengarahkan pandangannya ke wajah Elena yang sedang terlihat kaku.
"Mas Bima sedang apa di sini?" tanya Elena sambil berusaha menutupi suasana canggung di antara mereka.
"Aku tidak sengaja lewat dan melihatmu duduk sendirian di sini." ucap Bima sambil memandang wajah Elena lalu beralih memandang anak kecil yang sedang bermain di depannya.
Hening beberapa saat, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah kenapa Elena merasa sangat canggung. Ia berusaha mengalihkan pikirannya menatap orang-orang yang sedang berlalu lalang di sana.
"Maaf jika kehadiranku membuat kamu tidak nyaman." ucap Bima membuyarkan pandangan Elena. Elena segera mengarahkan pandangannya ke arah Bima. Ia terkejut saat Bima tiba-tiba melontarkan kalimat tersebut.
"Eee bukan begitu." ucap Elena yang merasa bersalah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku akan pergi jika kamu merasa tidak nyaman." Bima hendak berdiri dari posisinya.
"Mas Bima bukan begitu." ucapan Elena menghentikan pergerakan Bima. Ia menatap lekat perempuan yang pernah menetap di hatinya.
"Maaf." ucap Elena sambil tertunduk.
"Aku masih merasa canggung." sambungnya lagi dengan jujur, Ia beralih menatap Bima.
"Tidak apa, aku memakluminya. Seharusnya aku yang meminta maaf karena..."
"Biarlah yang lalu tidak perlu diungkit lagi Mas. Aku hanya sedikit canggung karena kita sudah lama tidak bertemu." ucap Elena menghentikan perkataan Bima, ia tidak ingin lagi mengungkit kejadian yang dulu. Karena sekarang ia sudah memiliki Erlang, jadi buat apa mengungkit kejadian yang sudah terjadi pikirnya.
"Bagaimana keadaan Mba Citra dan kandungannya?" tanya Elena lagi berusaha mencairkan suasana.
"Citra baik, kandungannya juga sehat. Kami akan memiliki bayi laki-laki." ucap Bima.
__ADS_1
"Benarkah, wah aku turut senang mendengarnya Mas."
Lama mereka berbincang sampai Elena tidak menyadari hari semakin siang dan seharusnya ia ada jadwal fitting baju pengantin.
"Ini untukmu Elena." Bima menyodorkan satu cap ice cream yang baru saja dibelinya di kedai dekat taman.
"Makasih Mas." ucap Elena sambil mengambil ice cream tersebut.
"Kalau kamu bagaimana Elena?" tanya Bima sambil membuka bungkus ice cream miliknya.
"Apanya yang bagaimana Mas?"
"Kamu bagaimana, kapan mau memberiku undangan." ucap Bima sambil bercanda. Ia tidak mengetahui jika Elena dan Erlang sebentar lagi akan menikah.
Elena berhenti memakan ice creamnya, karena ucapan Bima mengingatkannya pada jadwal fitting baju pengantinnya yang seharusnya dilaksanakan siang ini.
"Ahh aku baru ingat." ucap Elena dengan setengah berteriak membuat Bima tersedak.
"Ada apa Elena?" ucap Bima sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. Ia terkejut saat Elena tiba-tiba berteriak.
"Aku baru ingat seharusnya siang ini jadwal fitting baju pengantinku Mas." ucap Elena dengan segera mengambil tas selempang di sampingnya.
"Kamu mau menikah Elena?"
"Iya Mas, 2 minggu lagi. Aku tidak bisa memberikan undangannya sekarang karena belum selesai dicetak. Kalau begitu aku permisi ya Mas." pamitnya kepada Bima.
"Elena tunggu." panggil Bima namun tidak direspon oleh Elena. Ia tetap berlari dan bayangnya pun menghilang dari pandangan Bima.
"Dengan siapa Elena akan menikah?" Bima benar-benar penasaran dibuatnya.
Elena setengah berlari ke arah mobil yang sedang terparkir rapi.
Bisa-bisanya aku melupakan hal penting seperti ini. Semoga saja Erlang tidak marah. gumamnya sambil terus berlari.
Setelah di dalam mobil, ia mengambil handphone. Dilihatnya berpuluh-puluh kali panggilan tak terjawab dari Erlang. Dan ada beberapa pesan masuk dari Erlang. Dibacanya pesan tersebut.
Elle, kamu tidak melupakan jadwal fitting baju pengantin kita kan?
Elle, kamu di mana?
Elle, apa kamu baik-baik saja?
Elle jawab aku
Dan masih banyak lagi pesan yang Erlang kirimkan. Dengan cepat Elena melajukan mobilnya ke arah tujuan dan berharap Erlang tidak akan marah.
__ADS_1