
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
Setelah hampir 20 menit, Elena bergulat dengan macetnya kota Jakarta akhirnya ia sampai di sebuah boutique ternama di Jakarta.
Dilihatnya Erlang sedang berjalan mondar-mandir di depan boutique. Terlihat jika laki-laki tersebut sedang mengkhawatirkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan mengkhawatirkan Elena.
Pandangannya teralihkan saat melihat Elena menuruni mobil. Terlihat raut wajah yang sangat khawatir terukir di wajah tampannya.
"Elle kamu dari mana saja? Apa kamu baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu." tanya Erlang sambil mengecek tubuh Elena.
"Aku baik-baik saja Erlang, maaf sudah membuatmu khawatir." perkataan Elena membuat Erlang bernafas lega. Sedari tadi ia tidak bisa berhenti memikirkan Elena.
"Kamu dari mana saja Elle, ku telphone tidak di angkat. Aku chat tidak di balas, bahkan aku pergi ke rumah kamu dan ternyata tidak ada siapa pun di sana. Aku kira kamu berangkat lebih awal jadi aku langsung berangkat menuju boutique tapi ternyata kamu juga tidak ada di sini. Kamu dari mana Elle?"
Erlang terlihat ngos-ngosan karena berbicara terlalu banyak. Erlang mengeluarkan semua yang ia pendam.
"Aku tadi pergi ke makam mama." jelas Elena, Erlang hanya diam mendengarkan penjelasan dari Elena.
"Aku juga tidak sengaja bertemu dengan Mas Bima."
Erlang mengernyitkan keningnya, seakan tidak suka saat mendengar nama yang Elena sebut. Walaupun ia tahu, Bima adalah masa lalu Elena, tapi tetap ada terbesit perasaan cemburu di hatinya.
"Terus." pinta Erlang.
"Tadi kami berbicara sebentar. Mas Bima banyak bercerita tentang kehamilan Mba Citra."
Wajah Erlang tetap menatap Elena secara datar. Elena paham akan arti dari raut wajah Erlang. Elena merasa suasana yang tidak nyaman sekarang.
"Apa kamu cemburu dengan Mas Bima?" tanya Elena memastikan. Ia tak ingin jika Erlang hanya memendamnya dan itu bisa akan menyebabkan kesalahpahaman lagi di antara hubungan mereka.
Sejenak Erlang terdiam. Ia mengambil napas dan berjongkok menyamaratakan tinggi badan Elena.
"Jujur aku cemburu Elle."
Elena paham karena cemburu tidak bisa dipungkiri. Ia juga sering merasakannya.
"Erlang, tidak ada perasaan di antara aku dan Mas Bima. Sekarang hanya ada kamu di hati aku, percayalah." ucap Elena sambil meyakinkan Erlang. Ia menangkup wajah Erlang dengan kedua tangannya.
Erlang bisa melihat ketulusan di mata Elena. Ia yakin jika perempuan di depannya tidak akan berbohong.
"Dari mana kamu belajar menggombal seperti ini." tangan Erlang mencolek pipi mungil Elena. Ia menepis segala pikiran buruk yang mengganggu.
"Dari kamu Erlang." keduanya pun tertawa bersama.
Semoga apa yang kita yakini benar Elle gumam Erlang.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam boutique untuk fitting baju pengantin.
***
"Panjang lengan 51 cm." ucap designer perempuan yang tak lain adalah teman kecil Erlang. Ia pun menulis ukuran panjang lengan Elena ke dalam buku kecil miliknya.
Dilihatnya Erlang sedang duduk anteng di sebuah sofa sambil terus menatap tajam ke arahnya.
"Erlang bisakah kamu menunggu di luar saja. Aku merasa risih jika ada dirimu di sini." ucap designer perempuan yang bernama Cika.
"Tidak mau, aku mau memastikan agar tidak ada yang terlewat sedikitpun." ucap Erlang masih dengan posisi yang sama.
"Kamu kira aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan benar." ucap Cika kesal.
Tak ada jawaban lagi dari Erlang. Laki-laki itu hanya mengangkat bahunya lalu mengibaskan tangannya sekan meminta Cika meneruskan pekerjaannya.
Cika hanya mengehala napas dan melanjutkan aktivitasnya.
"Maaf Mba." ucap Elena yang merasa tidak bersalah kepada Cika karena sikap Erlang.
"Elena, mau ku beritahu sesuatu." ucap Cika sambil setengah berbisik. Elena mengangguk dengan cepat.
"Apa Mba?" ucap Elena lagi."
"Kamu harus hati-hati sama Erlang, karena dia itu adalah makhluk paling menyebalkan yang pernah ku kenal." ucap Cika sambil berbisik di telinga Elena.
Setelah berbisik, Cika kembali ke posisinya dan menatap Elena sambil menahan tawa.
"Iya Mba, aku akan hati-hati." ucapan Elena diakhiri dengan tawa gelak keduanya. Menimbulkan rasa penasaran dibenak Erlang yang sedang duduk di ujung ruangan.
"Apa kalian membicarakanku?" tebak Erlang sesuai sasaran.
"Apa kamu kira kami kekurangan bahasan jadi harus membicarakanmu." ucap Cika dengan nada mengejek. Ia kembali mengukur tubuh Elena dan mengabaikan Erlang dengan rasa penasarannya.
***
"Terima kasih Mba Cika." ucap Elena ketika proses fitting baju pengantin telah selesai.
"Sama-sama Elena." ucap Cika.
"Ingat, buat yang sesuai permintaan." ucap Erlang mengingatkan.
"Baik Tuan Erlangga." Cika mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Ingat juga yang ku katakan tadi Elena." tutur Cika lagi.
__ADS_1
"Baik Mba Cika." sahut Elena dan mereka pun kembali tertawa.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian rahasiakan?" tanya Erlang yang sedari tadi dibuat penasaran oleh keduanya. Ia menatap Elena dan Cika secara bergantian dan hanya dibalas gelengan oleh keduanya.
"Seharusnya Elena tidak ku biarkan berbicara denganmu." ucap Erlang sambil mengambil tangan Elena dan membawanya ke luar boutique.
"Kami pamit pulang Mba." ucap Elena sambil melambaikan tangannya dan dibalas lambaian kembali oleh Cika.
Cika terkekeh saat melihat pasangan yang baru saja keluar dari boutique-nya itu.
"Kemana?" tanya Elena.
Tangan Erlang masih menarik tangannya dan berhenti di depan mobil Erlang.
"Kita makan sebentar." ucap Erlang sambil melepaskan pegangannya dan beralih memegang perutnya.
Elena hanya terkekeh melihat sikap kekasihnya yang seperti anak kecil pikirnya. Ya, anak kecil tapi bertubuh besar bahkan lebih besar darinya.
Ketika Erlang hendak membukakan pintu untuk Elena. Tiba-tiba dering handphone dari dalam sakunya mengalihkan perhatian Erlang.
Hallo ucap Erlang setelah menggeser tombol hijau di layar handphone nya.
Elena tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena bisingnya suara kendaraan yang sedang berlalu lalang.
Baiklah, saya akan kesana sekarang ucapan terakhir Erlang dan panggilan pun berakhir.
"Ada apa?" tanya Elena setelah Erlang menutup panggilannya. Tergambar perasaan tidak suka dari raut wajah laki-laki itu.
"Aku harus ke kantor sekarang, ada urusan mendadak." ucap Erlang dengan wajah yang bersalah.
Elena menyadari jika laki-laki di depannya sedang kecewa.
"Tidak apa." ucap Elena sambil mengusap lengan kekar Erlang.
"Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut." ucap Erlang dan ditanggapi anggukan ringan oleh Elena.
"Kamu juga." balasnya.
Mereka pun menaiki mobil masing-masing dan beranjak meninggalkan boutique.
***
Elena menyetir dengan pelan karena sebentar lagi ia akan sampai di rumahnya. Sambil mendengarkan lagu kesukaannya, sesekali ia melihat handphone-nya barangkali ada sesuatu yang penting di sana, karena beberapa kali handphone-nya berdering.
Tiba-tiba brugh, mobil Elena seakan dihantam benda keras. Elena tidak bisa mengendalikan mobilnya. Mobilnya tiba-tiba oleng dan menabrak pohon besar. Elena pun kehilangan kesadarannya.
__ADS_1