
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Baru pertama kali aku mengenal cinta. Merasakan bagaimana rasanya berbagi perasaan suka maupun duka. ...
...Tapi sekejap semua seakan dirampas paksa. Dirampas oleh orang yang benar-benar aku suka...
...Beginikah cinta?...
...~Elena...
***
Erlang mengemudi dengan kecepatan penuh. Ia mengklakson setiap mobil yang ada di depannya.
Banyak pengemudi lain yang marah dan kesal serta mengumpat kepadanya. Namun tak satupun ia hiraukan.
Elle tunggu aku, kamu enggak boleh pergi. Kamu ngga boleh ninggalin aku.
Sesampai di bandara Erlang segera menemui Passenger Service Assistance (PSA) dan bertanya mengenai keberangkatan ke Canada.
Erlang sedikit lebih tenang karena pesawat akan berangkat sekitar satu jam lagi, berarti masih ada kesempatan bagi Erlang untuk menemui Elena.
Ditekannya lagi nomor bertuliskan Elle pada handphonenya, berulang-ulang namun tak kunjung ada jawaban.
Erlang tidak putus asa, dihampirinya orang-orang sekitar yang sedang berlalu lalang.
Ditampilkannya sebuah foto Elena yang dia ambil sewaktu mereka ke pantai.
"Apa ibu pernah melihat wanita ini ?" tanya Erlang dengan penuh harap pada seorang wanita paruh baya dengan umur sekitar 40 tahunan.
"Maaf saya tidak melihatnya."
"Terimakasih bu, maaf mengganggu."
Erlang kembali menanyakannya kepada setiap orang yang sedang berlalu-lalang disana.
Sudah hampir setengah jam ia mondar-mandir, namun satu orang pun tak ada yang melihat Elena.
Elle, kemana lagi aku harus mencarimu. Ku mohon Elle jangan pergi, jangan tinggalkan aku.
Kamu salah paham sayang.
Biarkan aku menjelaskan semuanya, ku mohon Elle kembalilah. Maafkan aku yang terlalu gengsi terhadap perasaanku.
Kembalilah Elle, akan ku perbaiki semuanya.
Erlang duduk disebuah kursi tunggu di bandara.
Matanya masih melihat-lihat setiap orang yang berlalu-lalang. Berharap menemukan sosok Elena di sana.
***
Elena sedang duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Pandangannya kosong, wajahnya pucat, matanya pun terlihat bengkak. Ia memutuskan untuk menyusul ayahnya ke Canada.
Sudah berpuluh-puluh kali panggilan dari Erlang ia abaikan. Ia terlalu takut mengetahui kebenaran bahwa Erlang tidak menyukainya, begitu pikir Elena.
Elena berpikir Erlang menghubunginya hanya untuk mengataan bahwa semua yang pernah dilakukannya hanya pura-pura.
Ia tak sanggup menghadapi kenyataannya. Bahkan hatinya sudah sangat hancur saat mengetahui bahwa Erlang hanya memanfaatkannya.
Ia membaca kembali pesan dari Salsa.
Hai Elena, apa kabar? ini gue Salsa.
Gue ngga mau berbasa-basi ya, Sebaiknya loe jauhin Erlang. Karena Erlang itu milik gue.
Erlang itu sukanya sama cewek cantik, tinggi kaya gue. Bukan cewek kaya loe yang pendek, hhhh sungguh di luar tipe Erlang.
Loe pasti bertanya-tanya kan kenapa Erlang deketin loe. Sini gue kasih tau.
Erlang itu deketin loe cuma gara-gara disuruh sama bokapnya buat belajar sama loe. Kalau dia ngga mau belajar sama loe, maka semua fasilitasnya akan dicabut sama bokapnya.
Sampai sini loe pahamkan. Jadi jauhi Erlang, karena dia cuma punya gue.
ERLANG CUMA PUNYA SALSA.
Entah darimana Salsa mengetahui semuanya.
Air matanya kembali menetas. Sebenarnya ia tidak mau mempercayai Salsa.
Tapi mengingat perubahan Erlang yang drastis saat ia memintanya untuk menjadi guru les dan memintanya untuk merahasiakan status mereka membuat Elena sadar bahwa yang dikatakan Salsa memang benar.
Sangat berbeda dengan yang dulu.
Dahulu ia mampu melepas keran wastafel hanya dengan satu tangan. Ia terkekeh mengingat kejadian saat menjaili Salsa. Namun sesaat kemudian ia merasa sedih lagi.
Sejenak ia melihat bayangnya dicermin. Sungguh bukan Elena pikirnya.
Baru pertama kali aku mengenal cinta. Merasakan bagaimana rasanya berbagi perasaan suka maupun duka.
Tapi sekejap semua seakan dirampas paksa. Dirampas oleh orang yang benar-benar aku suka
Beginikah cinta?
Tak lama terdengar peringatan dari pramugari bahwa pesawat akan berangkat sekitar 25 menit lagi.
Dengan segera Elena bergegas keluar dari toilet. Saat menuju gerbang keberangkatan, mata Elena tertuju pada sosok laki-laki yang ia kenal sedang duduk di kursi tunggu sambil memijat kepalanya.
Hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat ia duduk tadi.
Erlang, apa itu Erlang? tapi untuk apa Erlang ke sini. Tidak mungkinkan kalau ia sedang mencariku.
Elena hendak menghampiri sosok tersebut, namun langkahnya terhenti.
Sejenak ia berpikir tidak mungkin jika itu adalah Erlang. Ia membatalkan niatnya untuk menghampiri sosok tersebut lalu melangkahkan kakinya menuju gerbang keberangkatan.
__ADS_1
Dengan penuh keyakinan, ia memantapkan akan meninggalkan Jakarta dan mengubur semua kenangan pahit bersama dengan rasanya.
Elena ingin memulai kehidupan yang baru di Canada bersama ayahnya.
Selama ini ayahnya selalu menyuruhnya untuk meninggalkan Jakarta dan pergi ke Canada.
Namun Elena selalu menolak dengan alasan ingin tidak mau meninggalkan mamanya. Ia ingin selalu mengunjungi makam mamanya.
Selamat tinggal Jakarta
Elena duduk di kursi dekat jendela. Ia memandang Jakarta untuk yang terakhir kalinya.
Kota yang menyimpan banyak suka dan duka.
Mama, maafin Elena ya.
Elena enggak bisa nepatin janji Elena untuk selalu bersama Mama.
Elena lemah ma, Elena enggak bisa nerima kenyataan bahwa Erlang menghianati Elena.
Elena ingin memulihkan sakit hati Elena ma.
Elena janji, jika sakit hati Elena sudah pulih. Elena akan mengunjungi mama lagi.
Elena memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya.
Dengan memejamkan mata, ia berharap bisa melupakan masalahnya walau sejenak. Ia memasang earphone dan menyalakan lagu kesukaannya.
Spring day oleh Bts menjadi lagu favoritnya sebagai pengantar tidur.
15 menit lagi pesawat akan segera berangkat, Erlang terlihat putus asa.
Erlang terlihat lemas, wajahnya juga pucat karena seharian ia sibuk mencari Elena sampai lupa bahwa ia belum makan.
Erlang mengambil handphone dari sakunya. Dilihatnya foto Elena yang sedang menikmati suasana pantai sambil tertawa.
Elena tidak tahu jika saat itu Erlang sedang mengambil fotonya. Dan foto tersebut telah menjadi walpaper di handphone Erlang.
"Elle, di mana kamu sekarang? Apa kamu benar-benar akan meninggalkanku? Apa kamu tidak ingat janji kamu? Janji untuk tidak akan meninggalkanku. Tapi kenapa sekarang kamu menjauhiku Elle,"
"Kenapa kamu meninggalkanku lagi. Masih banyak yang ingin ku ceritakan Elle? Rahasia itu pun belum mampu untuk ku ceritakan."
Erlang berbicara pada foto Elena sambil menangis. Ia tak perduli akan orang-orang yang memandangnya dan melihatnya dengan sinis.
Yang ia inginkan hanya Elena kembali padanya, dan menyelesaikan kesalah pahaman.
Tak lama terdengar peringatan bahwa pesawat menuju Canada akan segera berangkat.
Mendengar hal tersebut tubuh Erlang menjadi lemas, harapannya pupus sudah. Ia menelungkupkan kepalanya di paha sebagai tempat bertumpu.
Bagaimana cara ia untuk menemui Elena lagi, sedangkan ia tidak tahu tempat tinggal ayah Elena di Canada.
Tiba-tiba ia dikejutkan ketika ada tangan yang memegang bahunya.
__ADS_1
"Erlang."