
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
2 hari setelah pembicaraan kemarin, Elena sudah keluar dari rumah sakit dan sudah dapat berjalan kembali. Dan sekarang Elena sudah di depan cermin sambil memandangi dirinya yang sedang dihias. Dengan balutan baju kebaya berwarna putih serta adat betawi melekat di tubuhnya.
Senyum yang terus mengembang di bibir tipisnya menandakan bahwa ia sedang bahagia meskipun harus menikah dengan pernikahan yang sederhana tanpa dihadiri banyak orang.
Proses pernikahan berlangsung dengan lancar. Meskipun dengan perasaan gugup yang menyelimuti.
Setelah proses pernikahan berakhir, Erlang membawa Elena ke rumah yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu agar tidak menimbulkan kecurigaan pada seseorang yang dianggapnya musuh.
"Elle." ucap Erlang sambil menengok sekilah wajah Elena yang sedang bersandar di kursi penumpang.
Elena memalingkan wajahnya ke arah Erlang yang sudah fokus pada jalanan di depannya.
"Iya Lang." tutur Elena.
"Apa kamu bahagia?" pertanyaan Erlang sejenak membuat Elena tertegun lalu ia mengembangkan senyumannya.
"Tentu saja." kata Elena.
Salah satu tangan Erlang beralih untuk menggenggam tangan Elena.
"Maaf kita menikah dengan cara yang seperti ini." ucap Erlang lagi dengan posisi yang masih sama.
"Pasti ada alasan dibaliknya, aku hanya ingin jika kamu tidak terluka karenanya."
"Jangan khawatir."
Elena menangguk sambil mendekatkan tubuhnya lalu memeluk erat tangan Erlang sambil bergelayut manja. Ia bersandar di bahu Erlang sambil memejamkan mata.
Sudah hampir 4 jam Erlang mengemudi, wajahnya terlihat sangat lelah. Dilihatnya wajah Elena yang sedang pulas tertidur dengan posisi bersandar di kursi penumpang. Karena setelah beberapa saat ia menyandarkan kepala di bahu Erlang, Elena langsung tertidur, lalu Erlang memindahkan posisi yang nyaman bagi Elena untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Mobil hitam milik Erlang mengarah pada sebuah perumahan elite. Ia memutar kemudi setelah sampai pada depan rumah yang baru saja ia beli.
Mobil terparkir tepan di halaman rumah baru mereka. Erlang beranjak melepaskan sabuk pengaman lalu mengalihkan pandangannya ke samping tempat duduknya.
__ADS_1
"Elle, kita sudah sampai." ucap Erlang sambil menepuk pelan pipi Elena. Tak berselang lama, sang pemilik pipi pun menggeliat dan perlahan membuka matanya.
"Kita sudah sampai?" tanya Elena sambil memulihkan kembali penglihatannya.
"Sudah."
Dengan cepat Elena mengarahkan pandangannya ke luar jendela mobil dan benar, mereka sudah sampai. Mata Elena disuguhkan pada sebuah rumah yang lumayan besar berwarna biru muda dengan nuansa klasik. Rumah dengan tingkat 2, serta terdapat taman kecil di depan rumah. Sejuk, pikir Elena.
Elena dan Erlang mulai menuruni mobil dan menapakkan kaki mereka di halaman rumah baru mereka lalu beranjak masuk. Mereka disambut oleh Bi Sumi dan suaminya yang sejak dulu bekerja di rumah lama Erlang. Sampai sekarangpun mereka tetap bekerja dengan Erlang di rumah barunya dengan Elena.
Dengan cepat, kedua orang tersebut menyeret koper milik Erlang dan Elena lalu membawanya ke lantai atas, tempat di mana kamar Erlang dan Elena berada.
Elena mengamati setiap inci dari rumah tersebut. Rumah yang masih tak terlalu banyak perabotan itu cukup membuatnya takjub.
"Suka?" tanya Erlang membuyarkan pandangan Elena. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Erlang yang sedari tadi berjalan di belakangnya.
"Sangat suka." ucap Elena sambil berjalan ke arah Erlang dan memeluk sosok tersebut. Ia mengalungkan tangannya ke leher Erlang dengan menjingkitkan kakinya karena perbedaan tinggi yang mencolok antara keduanya.
"Terima kasih." ucap Elena seraya mengarahkan wajahnya menghadap Erlang.
"Ucapan terima kasihnya nanti, simpan buat nanti malam." tutur Erlang membuat Elena terkejut. Terdapat senyum menyeringai di wajah Erlang. Elena melepaskan pelukan mereka.
"Bagaimana Bi?" tanya Erlang setelah melihat Bi Sumi yang berjalan mendekati mereka.
"Sudah beres Tuan Muda." tutur Bi Sumi sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Terima kasih Bi." ucap Erlang lalu dibalas anggukan oleh Bi Sumi. Sosok perempuan paruh baya itu pun pergi dan perlahan menghilang dari balik pintu arah dapur.
***
Setelah puas melihat ruang tamu di lantai bawah, Erlang mengajak Elena untuk ke lantai atas. Kamar nomor 2 jika dihitung dari arah tangga setelah mereka menaikinya. Kamar yang sekarang akan menjadi kamar mereka.
"Semoga kamu suka." ucap Erlang sambil memegangi tangan Elena.
Perlahan tangan Erlang memutar gagang pintu dan membuka pintu yang sedari tadi menutupi pandangan Elena yang ingin melihat kamar mereka.
__ADS_1
Sebuah kamar dengan warna yang sama dengan kamarnya dulu. Kamar waktu ia semasa di sekolah dasar. Serta foto Erlang dan Elena sewaktu kecil di sebuah taman.
Foto yang di ambil di handphone milik orang tua Erlang, karena semasa itu mereka belum mempunyai handphone. Erlang yang secara diam-diam meminjam handphone tersebut hanya untuk mengambil foto besama Elena. Yang akhirnya ketahuan oleh orang tuanya saat melihat-lihat foto di handphone tersebut.
"Elang ini." tunjuk Elena pada sebuah foto masa kecil mereka yang terletak tepat di dinding tengah ruangan tersebut.
"Iya, itu kita Elle." Erlang tersenyum seraya ikut memandangi foto tersebut.
Elena berjalan mendekati foto tersebut sambil terkekeh melihatnya. Foto anak perempuan dengan senyum memperlihatkan giginya. Serta foto anak laki-laki yang berfose layaknya seorang laki-laki dewasa yang sedang melipat tangannya di dada.
"Elang, aku benar-benar bahagia." tutur Elena seraya kembali memeluk Erlang menunjukkan bahwa ia benar-benar sangat bahagia.
Elena memeluk sangat erat pada laki-laki di depannya. Ia seakan tidak ingin melepaskan sosok tersebut.
Lama pelukan mereka sampai-sampai Erlang merasa sesak napas karena Elena yang memeluknya sangat erat.
Sampai sebuah ketukan membuat Elena melepaskan pelukannya. Dengan cepat ia merapikan bajunya yang terlihat sudah kusut. Sementara Erlang berjalan ke arah depan pintu.
"Makan malam sudah siap Tuan Muda." tutur Bi Sumi.
Erlang mengangkat tangannya seraya melihat jam yang melilit di tangan kekarnya. Benar saja, jam sudah menunjukkan pukul 19.13.
"Baik Bi."
Bi sumi pun menundukkan kepalanya sebelum beranjak pergi.
Keduanya pun turun dan menuju meja makan. Di sana sudah tertata rapi makanan yang menggugah selera.
Erlang dan Elena duduk berhadapan, hanya ada mereka berdua di meja makan. Sementara Bi Sumi dan suaminya sudah masuk ke kamar mereka.
Mereka makan sambil menyuapi satu sama lain. Merasakan nikmatnya menjadi pengantin baru. Sesekali Erlang menjahili Elena dengan pura-pura menyuapi Elena, lalu dengan cepat ia memakan makanan tersebut setelah Elena membuka mulutnya. Hal tersebut membuat Elena kesal namun itu hal yang menggemaskan bagi Erlang.
"Aaaaa Elang." ucap Elena yang terkejut saat Erlang memgangkat tubuhnya setelah mereka selesai makan dan sedang menaiki beberapa anak tangga
Erlang tak menghiraukan ocehan Elena dan terus membopong tubuh tersebut sampai di depan kamar.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Erlang meletakkan tubuh Elena di atas ranjang. Dan menaiki tubuh Elena dengan lutut sebagai tumpuannya agar Elena tidak merasa sakit saat ia berada di atasnya.
"Sudah lama aku menahannya Elle, dan sekarang aku tidak akan menahannya lagi." ucap Erlang sambil menempelkan bibirnya di atas bibir ranaum Elena.