My Chosen Man

My Chosen Man
Liburan berujung badmood


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Perasaan ini datang kembali tanpa bisa aku kendali...


...~Elena...


***


"Apakah semuanya sudah siap?" ucap Erlang sambil berdiri dengan gagahnya menghadap beberapa para karyawan.


"Sudah Pak." sahut karyawan secara bersamaan.


"Ada berapa orang yang ikut?"


"Sekitar 20 orang Pak, sisanya tidak bisa ikut karena alasan pribadi." jelas salah satu karyawan.


"Hanya 20? Padahal saya sudah memesan tiket untuk semua karyawan." ucap Erlang dengan kecewa.


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang."


Ada sekitar 4 buah mobil yang berangkat. Maksimal 1 buah mobil diisi dengan 7 orang. Namun berbeda dengan mobil Erlang, hanya ada Erlang dan Elena saja di sana.


"Erlang." ucap Elena sambil memandang Erlang yang sedang fokus mengemudi. Ia berbicara dengan bahasa informal.


"Kenapa?" Erlang tetap fokus mengemudi.


"Bukankah kamu mempunyai 2 perusahaan?"


"Iya, apa kamu berminat dengan perusahaanku yang satunya?" perkataan Elena membuat Erlang menengok sejenak lalu beralih kembali menatap jalanan.


"Tidak bukan begitu maksudku, bukankah perusahaan Amarta Indi adalah perusahaan yang besar dan sedangkan perusahaan Group A hanyalah perusahaan cabang. Tapi kenapa kamu selalu berada di perusahaan Group A. Bagaimana cara kamu mengurus perusahaan Amarta Indi?"


"Sangat mudah bagiku." tuturnya dengan enteng.


"Benarkah." Elena begitu tidak percaya, bagaimana mungkin Erlang yang dulu bisa mengelola 2 perusahaan sekaligus pikirnya.


"Tentu saja." ucapan terakhir Erlang begitu meyakinkan. Terkekeh sesaat karena kembali teringat wajah lelah Guntur.


Perlu beberapa jam berada di pesawat agar mereka sampai di Surabaya. Hanya awan yang bisa dilihat, begitu membosankan pikir Elena dan akhirnya ia pun memutuskan untuk tidur.


Sesampai di Surabaya, mereka perlu menempuh sekitar 30 menit lagi untuk sampai ke villa.


Dingin, sejuk, dan hijau sejauh mata memandang. Benar-benar pemandangan langka jika berada di Jakarta.


Mereka kembali disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Dua bangunan besar, satu bangunan berwarna biru muda dan yang satunya lagi berwarna putih. Bangunan tersebut terletak berseberangan dan saling berhadapan.


Setelah Erlang memberitahu bahwa Villa yang akan mereka tempati adalah bangunan yang berwarna putih, mereka langsung berhambur sambil melihat seisi villa, ada juga yang mulai melihat kondisi tanah untuk membangun sebuah tenda. Ya, sekitar 12 orang dari mereka memilih untuk membangun tenda, karena ingin merasakan suasana yang berbeda.

__ADS_1


Elena mulai mengangkat kopernya ke arah bangunan yang berwarna putih namun tangannya dicekat oleh Erlang.


"Kenapa?" tanya Elena, namun bukannya jawaban yang ia dapat. Erlang justru langsung mengangkat koper Elena ke dalam bangunan yng berwarna biru muda.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Elena lagi.


"Ini juga villa ku."


"Benarkah, tapi untuk apa kamu mengangkat koperku ke bangunan ini Erlang?"


"Villa yang di sana sudah penuh, tidak akan muat jika kita ke sana juga." tunjuk Erlang ke arah bangunan yang terletak di seberang sana kemudian jarinya beralih ke villa yang sedang mereka pijak.


"Tapi bukannya bangunannya be..." Elena menunjuk ke arah bangunan yang ada di seberangnya kemudian menoleh ke arah Erlang. 


Dilihatnya Erlang yang sudah berjalan mengarah lantai atas.


"Erlang tunggu." ucapnya sambil berlari menghampiri Erlang.


"Ini kamarmu Elle." ucap Erlang sambil membuka salah satu pintu kamar di lantai atas


"Tapi..."


"Sudahlah Elle, aku gerah dan aku ingin mandi sekarang. Kamarku dan kamarmu berseberangan, jadi tidak perlu takut. Kalau ada sesuatu panggil aku." Erlang berlalu menuju ke kamar yang tepat di depan kamar Elena.


"Eee, baiklah." ucap Elena mengalah.


Elena memegang gagang pintu dan memutar benda tersebut. Ia meletakkan koper disisi ranjang. 


Tidur Elena terganggu saat suara-suara kecil keluar dari perutnya. Ia bangun dan memegangi perutnya yang lapar. 


Dilihatnya jam yang melingkar di tangan kirinya. Ternyata sudah hampir sore gumam Elena. Ia melangkahkan kaki keluar kamar untuk mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa lapar di perutnya.


"Erlang." ucapnya terkejut saat melihat Erlang yang sedang mematung di depan pintunya.


"Kamu sudah bangun?" ucapnya sambil menatap Elena.


"Apa kamu menungguku bangun?"


"Menurutmu Elle." ucap Erlang sambil mendekatkan wajahnya. Sehingga jarak mereka sekarang sangat dekat sampai Elena bisa merasakan deru napas yang keluar dari hidung mancung Erlang.


"Ah aku lapar." ucap Elena yang salah tingkah. Dengan cepat ia mengarahkan pandangannya ke segala arah.


"Ayo." ucap Erlang, ia tahu bahwa sekarang Elena sedang salah tingkah. 


Ternyata hobinya tidak berubah, masih sama seperti dulu. Membuat Elena salah tingkah benar-benar sangat menyenangkan bagi Erlang.


"Kemana?" ucap Elena yang terkejut saat Erlang tiba-tiba menghandeng tangannya dan berjalan menuruni tangga."

__ADS_1


"Makan." ucap Erlang simple.


Elena masih heran kemana Erlang akan membawanya. Mereka ke arah belakang villa dengan melewati jalan samping villa. Jalan setapak yang hanya bisa dilalui jika berjalan kaki.


"Kita mau makan kemana? apakah ada tempat makan dengan melewati jalan yang sempit seperti ini?" Elena terus mengoceh namun tak ditanggapi oleh Erlang. Ia terus menarik tangan Elena agar tetap mengikutnya.


"Kita sampai." ucap Erlang saat mereka tiba dipenghujung jalan dan memperlihatkan danau yang luas dan sangat sejuk. Danau tersebut berada di belakang villa yang saat ini Erlang dan Elena tempati.


"Wah indah sekali." ucap Elena sambil menutup mulutnya. Matanya tak henti-henti menatap pemandangan di sekelilingnya.


Erlang kembali menarik tangan Elena ke arah sebuah meja makan bernuansa putih. Meja tersebut mengarah ke arah danau.


Angin sepoi-sepoi sesekali diiringi dengan kicauan burung menambah suasana yang menenangkan.


Elena terus mengamati pemandangan disekitarnya. Tak jarang ia mencuri pandang ke arah Erlang yang sedang membakar daging tak jauh dari tempat duduknya.


Seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati bulan madu mereka pikir Elena. Sesekali ia tertawa sambil memikirkan hal-hal konyol dalam benaknya.


"Sudah matang." Erlang menghidangkan beberapa potong daging yang telah ia masak tadi.


"Wah kelihatannya enak." ucap Elena sambil mengambil satu potong daging dan memasukkan daging tersebut ke dalam mulutnya.


"Tentu saja, kalau daging dipanggang orang ganteng pasti enak." Erlang menyombongkan dirinya sambil menatap Elena dengan wajah yange menyebalkan menurut Elena.


Elena lebih memutuskan untuk memakan daging yang sudah dihidangkan di atas meja daripada harus berbebat dengan Erlang.


"Apa lampu itu masih berfungsi." tunjuk Elena pada lampu hiasa yang mengelilingi danau tersebut.


"Masih, akan terlihat cantik jila dinyalakan pada malam hari."


"Benarkah?"


"Apa kamu mau melihatnya nanti malam Elle?" tawar Erlang.


"Mau." ucap Elena sambil mengangguk cepat.


***


Sesuai perkataan Erlang sore tadi, mereka akan kembali ke danau pada malam hari. Ia benar-benar tidak sabar melihat pemandangan yang sangat jarang ia lihat.


Elena menunggu Erlang di kamarnya, karena laki-laki tersebut memberitahu Elena untuk menunggunya di kamar saja.


Elena mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil sesekali melihat ke arah pintu. Namun tak ia dapat sosok Erlang walaupun hanya bayangnya.


Dengan langkah kesal, ia keluar kamar dan menuju arah kamar Erlang. Dilihatnya pintu kamar Erlang yang terbuka menimbulkan sosok laki-laki dan perempuan yang sedang bercengkrama. 


Sosok perempuan itu serasa tidak asing di mata Elena. Berusaha ia mengingat di mana pernah melihat perempuan tersebut.

__ADS_1


"Lusiana." ucapnya setelah mengingat sosok perempuan itu.


Perasaan ini datang kembali tanpa bisa aku kendali


__ADS_2